
Cakra akhirnya keluar dari kamar mandi, dia terus tersenyum melihat sang kekasih yang sudah berlari pontang panting karena malu kepada dirinya.
"Sulis sungguh menggemaskan!" ucap Cakra tanpa dia sadari. Adrian yang baru kembali dari meeting, merasa heran melihat adiknya yang bicara dan tersenyum sendiri.
"Apa kau kesambet setan, di toilet?" tanya Adrian.
"Mas baru pulang?" Cakra sama sekali tidak menggubris apa yang tadi ditanyakan oleh Adrian.
"Ditanya malah nanya!" Adrian memukul dada adiknya dengan kesal. Cakra hanya tersenyum melihat Kakaknya sekarang malah meninggalkan dirinya.
"Mas, tadi Papah kita kesini." Adrian berhenti, lalu menengok ke arah Cakra, karena berhenti tanpa aba-aba, Cakra auto menabrak tubuh kakaknya yang tinggi besar.
"Berhenti kok gak bilang!" sungut Cakra kesal, kepalanya bejol karena menabrak dada kakaknya tanpa sengaja.
"Kamu bilang, Papah kita?" tanya Adrian masih tak percaya. Cakra auto melotot melihat keheranan kakaknya.
"Lah, emang kita punya berapa Papah?" Cakra malah membuat Adrian tambah senewen dengan kebodohan dia.
"Mau apa, Papah kesini?" tanya Adrian serius.
"Kata Om Bayu, Papah mau memberikan undangan pernikahan Mas dan putrinya Kiai Ilham!" Adrian menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan nafasnya dengan kasar. Cakra tampak bingung melihat Kakaknya.
"Mereka serius mau maksa aku menikah dengan wanita kekanak-kanakan itu!" Adrian tampak geram.
"Kenapa, kan cantik, Mas!" ucap Cakra dengan senyum menggodanya. Adrian melotot ke arah Cakra, kesal!
"Urus saja, urusan kamu!" Adrian memukul Cakra dengan berkas yang tadi dia bawa dari ruang meeting.
"Dasar Kakak durhaka!" Teriak Cakra senewen dengan kelakuan kakaknya yang suka menganiaya dirinya.
Dari jauh, Cakra melihat Sulis yang tampaknya akan pergi ke kantin kantor. Cakra melihat jam tangan Rolex miliknya, "Jam makan siang, ternyata!" Cakra kemudian menyusul kekasihnya yang baru satu hari resmi jadian.
Ada senyum bahagia di wajah Cakra. Manager nya saja sampai bingung, melihat Cakra yang senyam-senyum sendiri. "Apa kamu sedang kesambet?" tanya dia.
__ADS_1
"Iya, Bu! Kesambet cinta!" Cakra tertawa gak jelas.
Managernya sampai bergidik ngeri. Lalu berlalu dari hadapan Cakra. "Mending ke kantin saja! Dari pada ketularan edan!" Cakra tidak mempedulikan kata-katanya.
Saat melihat Sulis, Cakra langsung duduk di sampingnya. "Hallo sayang, ko makan sendiri aja? Gak ajak-ajak sih?" Sulis auto melotot, dia masih malu, ketika mengingat kejadian di mobil dan juga di toilet tadi.
Tanpa banyak kata, Sulis langsung bangkit, berniat mau meninggalkan Cakra, tapi Cakra langsung menggamit tangan Sulis, mulai kesal dengan kelakuan kekasihnya.
"Duduk, atau aku cium kamu di sini!" ancam Cakra.
Sulis auto menutup bibirnya, menggeleng pelan, mata kelincinya tampak ketakutan.
"Kamu kenapa, sih? Lihat aku kayak lihat hantu!" Cakra protes tidak suka.
"Kamu lebih menakutkan daripada hantu!" ceplos Sulis.
"What the hell?" Cakra benar-benar hilang akal.
"Aku sudah selesai makan, aku balik duluan!" tanpa menunggu jawaban Cakra, Sulis langsung lari dari kantin.
Cakra lalu mengambil makanan yang akan dia makan, Adrian tampaknya tidak makan siang, terlihat dari tadi masih asyik membaca dokumen yang tadi dia bawa dari ruang meeting. Serius sekali seperti biasanya.
Tiba-tiba ruangan Adrian di ketuk oleh seseorang. "Masuk!" Adrian masih serius membaca dokumen itu, tidak melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum!" ucap seseorang dari luar. Demi mendengar suara itu, Adrian mengangkat kepalanya, menatapnya bingung, "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Adrian bingung karena melihat Asyifa Latief kini berdiri di hadapannya lengkap dengan makanan ditangannya.
"Mamah kamu, menyuruh aku bawa ini!" Syifa lalu menyodorkan apa yang dia bawa.
"Aku balik ya, selamat menikmati! Itu makanan, Mamah kamu yang buat, aku cuma disuruh anterin doang. Jangan salah paham!" tanpa menunggu jawaban Adrian, Asyifa langsung pergi dari ruangannya.
Adrian berdiri di depan jendela, berusaha menelpon mamahnya. "Assalamualaikum, Mah! Betul, ini makanan mamah yang bawa?" tanya Adrian to the point.
Dari jendela, Adrian bisa melihat Asyifa yang pulang dengan taksi. "Ya, sayang! Tadi Asyifa bersama Mamahnya bertemu kami, mau membicarakan masalah pernikahan kamu dan Syifa. Jadi Mamah suruh dia untuk antar makanan buat kamu. Itu Mamah yang masak, sayang!" Kesya tampak bahagia.
__ADS_1
"Kalian serius dengan ide gila itu?" tanya Adrian mulai frustasi dengan rencana pernikahan dirinya.
"Ide gila bagaimana, sayang?" tanya Kesya bingung. Saat ini Kesya, Andika, Kiai Ilham dan Ibu Nyai Qonita sedang berunding masalah pernikahan putra dan putrinya.
Ilham tampak menyimak pembicaraan Adrian dan Kesya. Kesya memang menggunakan loudspeaker. Jadi semua orang di ruangan bisa mendengarkan suara Adrian.
"Itu cuma kesalahpahaman, Mah! Adrian dan Syifa tidak ngapa-ngapain!" ucap Adrian frustasi.
"Adrian, jadi kamu tidak mau menikah dengan Putri Om?" tiba-tiba Ilham ikut nimbrung dalam pembicaraan tersebut. Adrian gelagapan, demi mendengar suara Ilham.
"Om Ilham?" suara Adrian bergetar.
"Katakan, kamu keberatan? Kalau ya. Om dan Tante akan langsung kembali ke Jawa Timur sekarang, kita tidak akan pernah bertemu selamanya!" ancam Ilham mulai kesal.
"Om, bukan begitu maksudku! Maafkan Adrian, Om! Baiklah, Adrian menerima kenyataan bahwa Adrian akan menikah dengan Asyifa!" akhirnya Adrian mengalah juga.
"Om tidak mau kamu terpaksa dengan pernikahan ini. Cepat katakan, sebelum semuanya terlambat!" Suara Ilham mulai hilang sabar.
"Sabar, Aby!" itu adalah suara Qonita. Wanita yang dahulu di jodohkan oleh Adrian ketika masih berusia 7 tahun.
Adrian menggeram kesal, "Om, kasih Adrian waktu! Ini terlalu mendadak! Bukan maksud Adrian tidak menerima Putri Om Ilham, hanya saja, bagi Adrian, Syifa udah kayak adik sendiri. Gimana caranya, Adrian bisa menikah dengan dia?" Adrian benar-benar hilang akal.
Adrian sangat ingat, dahulu, sewaktu dia masih kecil, pernah memaksa Om Ilham nya itu, untuk menikah dengan ustazah Qonita, yang sekarang menjadi Mamahnya Asyifa.
"Dulu Adrian yang jodohin Om sama Tante, eh, sekarang Om malah jodohin Adrian dengan Syifa!" ucap Adrian.
"Kami berdua mau balas dendam kepadamu! Biar kau tahu gimana rasanya di jodohkan dengan orang asing yang baru kamu temui!" itu adalah suara Mamahnya Asyifa.
"Ya Ampun, Tante! Kejadian sudah lama sekali, Tante masih ingin menuntut balas? Pendendam sekali!" Adrian mendesah frustasi. Terdengar suara tawa di sebrang sana. Tampaknya Mamahnya dan Mamah Ayifa sedang berbicara tentang dirinya.
"Mamah! Jangan coba-coba menistakan putramu!" Adrian lalu menutup telponnya tanpa menunggu jawaban Mamahnya. "Sial!" Adrian menatap makanan yang tadi di bawa oleh Asyifa. Tampak ragu mau memakannya.
"Bagaimana kalau gadis urakan itu, memasukkan hal aneh-aneh kedalam makanan itu?" Adrian bergidik ngeri.
__ADS_1
Makanan itu hanya dia biarkan saja, tidak berani untuk menyentuh ataupun memakannya. Sampai akhirnya Adrian pulang ke apartemen. Makanan itu masih utuh.