Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
61. Adrian dan Syifa


__ADS_3

Adrian dan Syifa yang sudah berjanji akan melanjutkan rencana pernikahan mereka sebelumnya. Akhirnya memutuskan untuk mempersiapkan segalanya oleh mereka berdua. Agar mereka nantinya bisa memberikan surprise kepada kedua orang tua masing-masing. Yang sudah merasa kecewa dengan keputusan mereka sebelumnya.


"Adrian! Apakah kau sungguh-sungguh sudah yakin akan benar-benar menikah denganku? Aku takut kalau nanti kamu menyesalinya!" tanya Syifa, ketika mereka berdua beristirahat di sebuah kafe, setelah seharian berkeliling dalam rangka mempersiapkan pernikahan mereka.


"Gedung sudah siap, semuanya sudah siap. Bahkan pakaian serta gaun pengantin, yang dulu sudah dipesan oleh kedua orang tuaku pun, sudah siap. Kita tinggal menunggu hari H saja. Kapan kau ingin pernikahan ini dilanjutkan?" tanya Adrian. Menggengam tangan Syifa.


"Kamu kenapa sih? Sekarang selalu begitu! Suka pegang-pegang terus tanganku. Kita di depan umum loh, malu tahu!" Syifa protes dengan kelakuan Adrian yang belakangan ini tampak begitu posesif terhadap dirinya.


"Aku kan menggenggam tangan calon istriku sendiri, siapa yang mau protes?" sanggah Adrian. Syifa jadi tersipu dengan ucapan Adrian. 'Calon istri?' bathin Syifa malu-malu.


"Sebaiknya kita hubungin kedua orang tua kita, agar mereka nantinya tidak merasa dilangkahi. Walaupun aku tahu, kalau kita sudah terlalu mengecewakan mereka berdua!" ucap Syifa.


"Tadi malam aku sudah menghubungi ayahku mereka dalam perjalanan ke Indonesia. Mungkin sudah sampai sekarang. Kau tenang sajalah, semuanya sudah aku atur. Kamu hanya tinggal duduk manis di pelaminan dan bersiaplah untuk malam pertama kita!" bisik Adrian di telinga Syifa.


"Ih, apaan?" protes Syifa menahan malu. Syifa akhirnya menarik tubuhnya agar menjauh dari Adrian. Tetapi Adrian menolak, dia kini malah menarik tangan Syifa untuk keluar dari cafe tersebut.


Syifa awalnya berontak, berusaha menolak untuk pergi. Karena makanannya belum habis tetapi Adrian memaksa untuk Syifa mengikuti langkah kakinya.


"Mau ke mana? Makananku belum habis!" protes Syifa, ketika mereka sudah berada di mobil Adrian. Adrian yang sedang memasang seatbelt untuk Syifa kemudian berbisik di telinganya, "Kita akan pergi ke hotel, tempat di mana kita nantinya akan melakukan malam pernikahan kita!" demi mendengar apa yang diucapkan oleh Adrian Syifa langsung untuk memukul dada Adrian.


"Ih, apaan, sih? Ko sekarang kamu makin genit saja, sih?" Adrian hanya tertawa mendapatkan protes dari Syifa.


"Tidak apa-apa kan, genit terhadap calon istri sendiri. Aku kan tidak genit terhadap wanita lain!" kelit Adrian dan memberikan kecupan ringan di bibir Syifa.


Tapi walaupun begitu, sukses memberikan kejutan listrik terhadap Syifa yang seumur hidupnya. Belum pernah bersentuhan dengan seorang laki-laki sedekat itu.


Entah kenapa Adrian sekarang begitu agresif dan selalu berusaha untuk melakukan kontak fisik dengan dirinya. Sehingga membuat Syifa merasa kalang kabut dan ketar-ketir. Takut kalau nantinya akan melakukan hal yang lebih dari itu.


"Kayaknya lebih bagus, kalau kita nggak usah ketemu deh, bahaya ini!" pinta Syifa.


"Bahaya bagaimana, Sayang?" tanya Adrian keheranan. Demi mendengarkan Adrian memanggilnya dirinya dengan kata "sayang" Syifa sampai merinding dibuatnya.

__ADS_1


"Oh, Ayolah, Adrian! Tolong bersikaplah seperti biasa saja. Apa kau tahu? Mendengarmu mengatakan memanggilku "sayang" seluruh bulu kuduku rasanya merinding semuanya. Kau Lihatlah!" Syifa pun memperlihatkan kedua tangannya yang bulunya gini tampak berdiri semuanya


Sontak Adrian pun menggenggam tangan Syifa tersebut dan menciumnya dengan penuh cinta.


Syifa buru-buru menarik kedua tangannya dari genggaman Adrian. Adrian hanya tertawa melihat reaksi Syifa. Calon istrinya yang begitu malu-malu dengan apa yang dia lakukan terhadapnya.


"Tolong Adrian! Bersikaplah biasa aja, seperti dulu. Aku betul-betul ketakutan denganmu sekarang. Kau tahu nggak sih?" ucap Syifa lagi.


"Ketakutan padaku?" tanya Adrian. Syifa mengangguk, siapa menyangka Adrian malah berbisik di telinganya.


" Jangan katakan, kalau kau saat ini, sedang memikirkan yang tidak-tidak bersamaku! Ayo ngaku!" goda Adrian dengan senyum manisnya. Yang sukses melelehkan hati Syifa yang jadi tambah kepincut dengan pesona dan ketampanan calon suaminya.


'Kenapa aku nggak memperhatikan Adrian sejak dulu, ya? Kalau Adrian sangat tampan. Kalau sejak dulu aku sadar, mungkin sekarang kami sudah resmi jadi suami istri. Aku benar-benar bodoh!' rutuk Syifa.


"Hayo, mikirin apa?" tiba-tiba Adrian sudah mengagetkan Syifa dari lamunannya.


"Ih mikirin apa? Aku kan bilang, Aku bilang, kalau aku takut sama kamu. Aku nggak mikirin apa-apa kok. Kau jangan main Fitnah deh!" kelit Syifa dengan gugup.


"Ayo, ngaku! Kalau sedang memikirkannya, ya, ya betul kan? Lihatlah pipimu bersemu merah! Aku tahu kalau kamu sedang memikirkan hal seperti itu. Sayang, aku betulkan? Ayo deh, ngaku saja sama aku!" Adrian terus saja menggelitiki Syifa sehingga Syifa akhirnya tertawa kegelian.


"Ayolah dihentikan! Apa yang kau lakukan lagi Adrian!" tapi Adrian tidak juga berhenti mengklitiki calon istrinya itu.


Tanpa mereka sadari, sekitar 10 meter dari mobil yang diparkirkan oleh Adrian. Tampak seorang wanita yang sedang menatap mereka berdua dengan perasaan amarah. Ketika melihat kemesraan dan keintiman Adrian dan juga Syifa.


"Siapa ya, perempuan yang begitu mesra bersama dengan Adrian? Sehingga membuat Adrian bisa tertawa lepas seperti itu?" tanyanya dengan mata berapi-api.


"Tampaknya aku harus melaporkan hal ini kepada Om Andika. Agar Om Andika bisa menegur tegas kelakuan Adrian yang terlalu berlebihan bersama seorang perempuan!" ucapnya penuh iri dengki.


"Halo om! Ini saya Amelia! Temannya Adrian ketika kuliah di Mesir dulu. Saat ini saya sedang melihat Adrian sedang bermesraan dengan seorang perempuan di parkiran sebuah mall di Jakarta!" ucapnya.


"Benarkah? Apakah kau bisa mengirimkan foto mereka berdua? Agar Om tahu siapa perempuan yang kamu maksud itu!" Jawab Andika bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Baik Om, sebentar ya! Amelia ambil dulu fotonya, karena tadi Amelia tidak sempat melakukannya!" ketika Amelia hendak mengambil foto, ternyata mobil Adrian sudah meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut.


"Wah aku terlambat! Bagaimana mungkin aku bisa memberikan laporan kepada om Andika, kalau seperti ini? Sial!" umpat Amelia dengan kesal. Kemudian Amelia menelepon Andika kembali.


"Halo Om! Maafkan Amelia, mobil mereka sudah meninggalkan parkiran! Jadi Amelia tidak bisa mengambil fotonya. Maafkan Amelia ya, Om!" ucapnya menyesal.


"Yah tidak apa-apa. Nanti Om akan bertanya sendiri kepada Adrian. Ya sudah, terima kasih atas informasinya ya!" ucap Andika kemudian menutup panggilan tersebut.


Amelia pun kemudian meninggalkan pusat perbelanjaan tersebut dan kembali ke apartemen miliknya.


"Selama di Mesir. Aku berusaha untuk mendekatimu. Aku berusaha untuk meraih hatimu, tetapi kamu selalu saja acuh dan tidak peduli terhadapku!" ucap Amelia, sambil menatap foto Adrian.


Banyak sekali foto-foto Adrian yang ditempel di dinding kamar apartemennya. Tampaknya Amelia selalu mencuri foto-foto Adrian dalam hampir setiap aktivitas yang dilakukan oleh Adrian selama berada di Mesir.


"Aku mencintaimu begitu lama, Adrian! Tetapi kamu selalu acuh padaku. Tapi hari ini, aku melihat kamu tertawa begitu bahagia bersama perempuan itu. Aku tidak terima!" kesalnya sambil menangis lalu tertawa.


"Aku pasti akan berusaha untuk mencari informasi tentang perempuan itu. Dan aku tidak akan membiarkan perempuan itu bisa memilikimu, Adrian! Karena kamu hanya akan menjadi milikku, Amelia Subroto!" ucapnya dengan senyum licik.


Sementara itu, Andika yang kini sudah sampai di apartemen milik Adrian pun, menunggu kedatangan Adrian yang katanya akan datang bersama Syifa.


"Siapa tadi Pah, yang menelpon? Tampaknya serius sekali!" tanya Kesya sambil menaruh beberapa potong buah di atas meja yang kemudian dimakan oleh Andika.


"Itu Amelia, yang dulu pernah kuliah bersama dengan Adrian juga di Mesir. Dia mengatakan katanya Adrian sedang bermesraan dengan seorang perempuan. Tapi, ketika Papa bilang untuk mengambil fotonya. Dia bilang katanya mobil Adrian sudah pergi dari parkiran tersebut!" ucap Andika sambil mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Kesya.


Kedua suami istri itu, selalu bermesraan di manapun berada, kadang, Adrian dan Cakra suka cemburu dan iri melihat mereka berdua. Yang selalu penuh dengan cinta dan kasih syang. Walaupun usia mereka tak muda lagi.


Tampaknya Andika adalah poros terdepan bagi Adrian maupun Cakra dalam hal memperlakukan pasangan mereka. Itulah yang menjadi sebab, kenapa sekarang Adrian begitu mesra terhadap Syifa. Adrian sedang belajar dan membiasakan diri, apabila nanti sudah menjadi seorang suami.


"Mama rasa, perempuan yang dimaksud itu mungkin adalah Syifa. Bukankah Papa bilang, kalau Adrian yang saat ini sedang bersama Syifa?" ucap Kesya sambil memeluk suaminya.


"Yah! Papa juga berpikir hal yang sama. Mari kita tunggu saja Adrian pulang. Ayo kita makan malam dulu saja. Bagaimana ya? Papa sudah lapar sekali ini!" ajak Andika. Yang akhirnya di setujui oleh Kesya.

__ADS_1


__ADS_2