
Setelah Cafe tutup mendekati Rasya yang sedang bersiap untuk pulang karena jam kerja yang sudah selesai, "Pak, mohon maaf! Apakah saya boleh mengganggu waktu Bapak, sebentar? Saya ingin bicara mengenai permasalahan tadi siang. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Bapak, yang sudah membela kehormatan saya, sebagai seorang wanita maupun sebagai seorang manusia!" ucap Yuke penuh dengan penekanan terhadap Rasya, yah, intinya dia merasa sangat berterima kasih atas bantuan Rasya.
"Sudahlah, enggak usah berlebihan! Lagi pula kan itu memang tugas saya. Tadi saya sudah memeriksa CCTV cafe kita, di sana, saya jelas-jelas melihat kok, kalau memang ibu itu yang salah. Sudahlah enggak usah diperpanjang lagi! Udah sana pulang, tidak baik seorang perempuan pulang malam-malam begini!" Rasya lalu meninggalkan Yuke seorang diri. Bukannya tega, membiarkan seorang wanita pulang sendirian. Tapi Rasya berusaha semaksimal mungkin, untuk membuat batasan sebagai seorang pemilik dengan karyawannya.
Rasya tidak ingin membuat permasalahan, yang tidak penting. Yang akhirnya malah menghancurkan profesionalitas antara atasan dan karyawannya.
"Baiklah, Pak! Terima kasih sekali lagi atas bantuannya! Semoga Bapak selamat sampai tujuan! Hati-hati ya, Pak! Saya juga pulang dulu!" Yuke kemudian pergi dan meninggalkan Rasya, yang masih bengong tercengang, melihat dirinya ditinggalkan begitu saja.
"Perempuan itu sangat lucu! Berani-beraninya, dia berperilaku semacam itu! Pergi di hadapanku, sebelum aku meninggalkan dia! Hanya dia yang berani melakukan itu padaku! Siapa sebenarnya perempuan itu? Kalau dilihat dari penampilannya, aku yakin benar, kalau dia bukanlah orang yang tidak punya. Dia termasuk orang kaya! Ternyata, cafe ku ini, menyimpan hal yang semenarik ini! Aku pasti akan menyelidiki perempuan itu! Jangan sampai, ada mata-mata, dari pihak lain yang akan menghancurkan usaha keluargaku ini!" ucap Rasya kepada dirinya sendiri.
Rasya kemudian naik ke mobilnya dan mengikuti taksi yang tadi membawa Yuke. Yuke ternyata berhenti di sebuah kontrakan sederhana. Aeketika Rasya menautkan kedua alisnya, merasa heran, mendapatkan penemuan ini. Ternyata, analisisnya tadi salah. Yuke ternyata hanyalah gadis biasa yang hidup di kontrakan sederhana.
__ADS_1
"Ah sial! Kenapa begitu banyak ternyata? Bisa-bisanya, aku salah dalam menganalisis perempuan itu! Hah! Aku sebaiknya pulang, sedang apa Aku di sini? Seperti orang bodoh saja!" rutuk Rasya terhadap dirinya sendiri.
Sementara itu, Yuke membuka jendela kontrakannya, dari kejauhan yuk Yuke bisa melihat sebuah mobil sport, yang sejak tadi mengikutinya dari gang depan, ketika dia turun dari taksi. "Siapa orang yang mengikuti aku, ya? Apakah itu anak buahnya Papah?" tanya Yuke pelan.
Setelah merasa yakin, bahwa orang yang mengikutinya sudah pergi, Yuke kemudian bersiap-siap untuk tidur. Tapi sebelumnya, Yuke sudah membereskan semua barang-barangnya. Bersiap untuk pindah besok! Yuke merasa takut, kalau orang tadi adalah anak buah suruhan ayahnya. Yang ingin mengajak dia kembali ke rumah.
"Pokoknya, besok pagi, aku harus sudah pindah dari rumah ini! Jangan sampai, Aah berhasil menemukan Aku! Aku nggak mau, harus kembali ke rumah! Aku nggak suka! Aku lebih suka hidup bebas, hidup mandiri, tanpa tekanan mereka, tanpa pengaturan mereka!" ucap Yuke.
Yuku kemudian mencari tasnya yang tadi semnarangan dia lemparkan. Yuke kemudian mencari ponsel di dalam sana. Yuke berusaha untuk menghubungi Syifa, yang sejak 5 hari ini, belum pernah menghubunginya lagi. Entah bagaimana keadaan sahabatnya itu saat ini.
"Tidak, tidak, tidak! Syifa pasti sekarang sedang sibuk melayani suaminya. Bukankah waktu itu, orang tuanya mengatakan bahwa pernikahannya adalah dua hari yang lalu? Syifa benar-benar marah terhadap ku, rupanya. dia sampai tidak mengundangku ke acara pernikahan dia! Wah, ga Friends ini!" Yuke seketika hatinya merasa mencolos. Ada perasaan takut, kalau dia akan kehilangan Syifa. Karena selama ini, hanya Syifa yang selalu mengerti perasaannya.
__ADS_1
"Gimana ya? Aku juga bingung! Mau mencari Syifa ke mana sekarang, ya? Selama ini kan, cuman dia yang selalu mencariku! Dia juga sudah nggak kerja lagi di cafe! Aduh! Gimana ini ya? Tampaknya Syifa sudah memblokir nomorku. Aduh gimana ini? Kenapa persahabatan kami jadi seperti ini? Semua gara-gara Adrian! Mengapa juga sih, dia pakai acara pegang tanganku? Jadinya, Syifa salah paham kan sama aku?" semalaman itu Yuke tidak bisa tidur karena memikirkan Syifa.
"Ih, aneh deh! Dulu, waktu Syifa sering ganggu ke sini, rasanya nggak nyaman banget! Tapi sekarang, setelah tidak ada gangguan dari dia. Kenapa rasanya hatiku hampa sekali ya!? Seakan ada yang hilang dalam hidupku!" ya, itulah yang semalaman ini dilakukan oleh Yuke! Terus bermonolog terhadap dirinya sendiri. Mengenai Syifa, sahabat yang sudah sangat lama menemaninya.
”Walaupun selama ini, aku selalu menutupi identitasku, tetapi aku tulus bersahabat dengan Kamu,Syifa! Aku hanya tidak mau kalau kamu meninggalkan aku! Kalau aku mengakui, bahwa aku adalah anak dari mantan istri ayahmu! Aku sama sekali nggak bermaksud untuk berbuat jahat padamu, Syifa!" banyak penyesalan yang ada di dalam hati Yuke saat ini. Kenapa saat bersama dengan Syifa, dirinya tidak berusaha untuk menjelaskan keadaannya. Sekarang, setelah Syifa menghilang dalam hidupnya, Yuke rasanya sedih dan kehilangan.
"Udah ah! Besok aku akan mencoba untuk menghubungi Syifa! Aku akan menggunakan nomor telepon teman lain di cafe! Siapa tahu, Syifa mau berbicara dan bertemu denganku! Jadi, aku bisa menjelaskan semua yang terjadi dan semua permasalahan ini! Bahwa semua itu, hanyalah salah paham saja!" setelah memutuskan hal tersebut, Yuke, akhirnya memutuskan untuk tidur saja. Karena rasanya, Dia tidak sanggup lagi untuk menahan kantuknya.
Sementara itu, di kediaman Adrian, tampak serius sekali, Adrian menatap ponselnya. Di mana di situ, terlihat Syifa sedang bersama dengan seorang pria yang sangat tampan. Syifa sedang bicara serius di sebuah Cafe bersama pria asing yang tidak pernah di lihat oleh Adrian.
Foto itu diambil oleh Adrian sendiri, sekitar 2 hari yang lalu, pas di waktu menjelang hari pernikahannya bersama Syifa. Yaitu keesokan harinya. Adrian benar-benar merasa sakit hati, ketika melihat itu. Karena calon istrinya, ternyata menemui pria lain, di malam pernikahannya.
__ADS_1
Adrian kemudian menemui orang tuanya waktu itu, memperlihatkan foto tersebut kepada mereka. Tetapi, orang tua Adrian hanya menanggapinya biasa saja. Mengatakan bahwa mungkin, laki-laki yang ada di foto tersebut, adalah temannya, ataupun mungkin atasannya di tempat kerja. Adrian pun, sempat berpikir seperti itu. Tetapi, melihat gesture yang ditunjukkan oleh Syifa, menunjukkan bahwa Syifa menyukai pria tersebut. Adrian seketika hatinya merasa panas, dadanya sesak. Tampaknya, Adrian belum menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada calon istrinya itu.