
Adrian kemudian meminta kedua orang tuanya untuk bicara secara pribadi dengannya. Cakra kembali tidur. Untung hari ini hari libur, dia bisa tidur sesuka hatinya. Kalau waktu bekerja pasti Cakra akan dimarahi oleh Adrian karena kembali tidur setelah salat subuh.
Adrian menemui kedua orang tuanya kemudian dia menarik nafas dalam-dalam, perasaannya sangat berat untuk membahas masalah pernikahannya dengan Asyifa. Namun waktu yang semakin sempit membuat Adrian harus segera mendiskusikan hal tersebut.
"Pah, Mah, ada hal yang sangat penting yang harus Adrian bicarakan masalah pernikahan Adrian dengan Asyifa!" ucap Adrian tampak sangat berat sekali, Andika bisa membaca hal itu dari raut wajah putranya.
"Katakanlah kepada kami, ada masalah apa denganmu? Agar kita bisa mendiskusikan hal itu bersama. Jangan sampai masalah itu malah mengganggu pikiran kamu dan mengganggu fokusmu dengan rencana pernikahan ini!" ucap Andika sambil mengelus tangan putranya yang terasa sangat dingin.
"Tadi malam, Adrian tidak sengaja bertemu dengan Syifa di taman.Dan, di sana, tiba-tiba saja Syifa pingsan. Lalu Adrian membawa dia ke rumah sakit. Tetapi ketika diperiksa oleh dokter, dokter mengatakan bahwa dia tidak sakit, dia hanya kelelahan saja. Setelah melakukan, setelah melakukan (Adrian tampak ragu untuk mengatakan hal itu) hal-hal seperti itu dan setelah saya tanyakan padanya, Asyifa membuat pengakuan bahwa dia telah diperkosa oleh temannya, Pah!" ucap Adrian lalu menundukkan kepalanya. Bimbang dan sedih.
"Astagfirullah! Malang sekali nasib dia!" Kesya berteriak secara repleks. Andika tampak berpikir keras, sebelum mengutarakan pendapatnya.
"Ada kemungkinan juga, itu hanyalah cerita fiktif. Kamu lihat sendiri kan, kalau kemarin Asyifa begitu menentang masalah Perjodohan ini. Kita perlu untuk menyelidiki hal ini secara benar. Jangan sampai kita malah disesatkan dan kita malah jadi korban permainan dari anak itu!" ucap Andika sambil menatap putranya yang tampak bingung.
"Apa dia sanggup melakukan hal seperti itu, Pah? Merusak namanya sendiri, hanya untuk menghindari perjodohan ini? Sungguh sangat konyol!" Adrian sungguh marah jika hal itu benar-benar dilakukan oleh Asyifa.
"Sebaiknya, kita bicarakan ini dengan Mas Ilham dan istrinya. Masalah ini bukan hanya masalah kita, tetapi masalah dua pihak keluarga!" ucap Kesya pelan.
__ADS_1
"Mama dan Papa benar! Ayo kita segera temuin Om Ilham. Apa kita panggil beliau ke sini aja? Atau gimana menurut Papa?" tanya Adrian mulai panik.
Andika diam sesaat, tampak kedua alisnya mengkerut. Berpikir keras! Bagaimana baiknya mereka harus menyikapi hal ini. Hal yang sangat sensitif bagi kedua belah pihak keluarga.
"Mah, bukannya hari ini kita ada janji untuk pemilihan gedung pernikahan ya? Mungkin, kita bisa bertemu di sana dengan Mas Ilham dan istrinya!" ucap Andika sumringah ketika dia ingat dengan janji tersebut.
"Papa benar juga! Hampir saja, Mama melupakan itu! Baiklah Adrian, segera kau bersiap-siap! Kita akan langsung bertemu di gedung pernikahan yang akan kita lihat bersama nanti!" Kesya lalu bangkit dan mempersiapkan dirinya untuk pertemuan itu.
Di dalam mobil, Adrian lebih banyak diam. Merenungkan apa yang akan dia lakukan. Jika benar-benar hal itu terjadi terhadap diri calon istrinya. Apakah dia sanggup untuk menanggung aib itu? Adrian menarik nafas dalam-dalam lalu melepaskan dengan kasar.
"Adrian hanya sedang memikirkan, bagaimana kalau benar-benar hal itu terjadi? Apakah kita akan melanjutkan pernikahan ini, ataukah membatalkannya. Hanya saja, kasihan Om Ilham, pasti ini akan menjadi aib besar bagi keluarga mereka. Keluarga seorang kyai besar! Adrian benar-benar pusing memikirkan ini, Mah!" Adrian meraup wajahnya dengan kasar.
Andika dan Kesya hanya bisa saling menatap satu sama lain. Merekapun sama-sama memikirkan masalah tersebut dengan baik, dengan serius. Memikirkan dampak baik dan buruknya, apabila hal itu benar-benar terjadi terhadap calon menantunya.
"Tenanglah! Berpasrah kepada Allah! Insya Allah, Allah akan memberikan jalan yang terbaik untuk keluarga kita, Oke? Adrian?" Kesya menepuk bahu Adrian.
" Ya, Mah!" ucap Adrian lesu.
__ADS_1
Kasihan sekali pria baik itu menjadi ajang permainan seorang Asyifa, anak perempuan bengal yang sulit diatur oleh kedua orang tuanya itu. Asyifa malah sekarang sedang asyik-asyik menonton televisi bersama sahabatnya, di kontrakannya.
"Loe nggak mau balik sif? Kasihan loh Nyokap sama Bokap lu! Jauh-jauh dari Jawa Timur, datang ke Jakarta buat nemuin elu! Eh loe nya malah sibuk di sini!" ucap sahabatnya. Tapi Syifa malah cuek saja. Entah salahnya di mana. Bagaimana mungkin, seorang Kiai besar dan seorang hafizah memiliki anak bengal macam Asyifa. Sungguh, semua orang tidak akan percaya dengan asal usul wanita satu itu.
"Mereka itu, datang ke Jakarta, bukan buar gue! Tapi demi maksa gue biar kawin sama anak orang kaya itu! Dasar menyebalkan!" cicit Asyifa dengan kesalnya.
"Kalau lu nolak, lo bilang dong baik-baik MA bokap dan nyokap loe! bukan kayak gini caranya! Namanya lu mau bunuh orang tua lu pelan-pelan! Tahu gak sih, dosa lo jadi anak durhaka itu! Apalagi kamu ini anak seorang Kyai, anak seorang Hafizah! Harusnya kamu tuh bisa jadi contoh teladan! Nih gue, nih orang awam! Harusnya gue tuh teladanin lu! Bukannya nasehatin lu di sini! Ah, memang dunia ini sudah terbalik! Udah mau kiamat kayaknya!" ucap sahabatnya Asyifa dengan frustasi.
Asyifa hanya memutar bola mata malasnya, cuek dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Hatinya benar-benar sudah tertutup! Tidak perduli dengan permasalahan orang lain. Walaupun itu menyangkut nama baik kedua orang tuanya.
Yang penting saat ini, dirinya bisa melarikan diri dari Perjodohan yang tidak dia inginkan.
"Gue heran banget deh, sama lu! Masa dijodohin sama cowok keren, kayak Adrian Abimana! Seorang konglomerat muda, calon pewaris Tahta! Gue aja nih, yang nggak ditawarin, pengen banget! Wah! Seandainya gue yang di suruh kawin sama tuh, cowok tajir, gue pasti mau banget! Tapi sayang, nasib gue nggak sebagus nasib loe!" Syifa hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang dia nilai berkeinginan dalam menilai seorang Adrian Abimana.
"Ya udah! Mau nggak, lu gue rekomendasiin ke nyokap nyokap gue, buat gantiin gue nikah sama tuh anak konglomerat?" tanya Asyifa asak jeblak saja.
"Asal bunyi aja, lo! Lo mau ngerusak nama baik keluarga lu? Udah, jangan melakukan hal seperti itu! Setidaknya, pikirin perasaan kedua orang tua lu! Kenapa sih? Lu egois banget jadi anak? Gue kecewa tahu nggak sih sama lue?" semprot sahabatnya lalu meninggalkan Asyifa yang kini malah bengong melihat sahabatnya yang mengamuk.
__ADS_1