
Ayo kita tengok Amira dan Fathu. Sudah lama kita meninggalkan mereka. Apa yang terjadi dengan mereka saat ini? Yuk kita lihat bersama.
Siang itu, Amira tampak bersiap akan pergi keluar bersama sang suami. "Apa sudah siap?" tanya Fathu, sambil menggenggam tangan istrinya.
"Sudah. Oh, ya. Umy katanya tadi mau ikut. Kita ke rumah Umy dulu!" ucap Amira.
Yah! Amira dan Fathu sekarang memang tinggal di rumah yang dihadiahkan oleh Adrian.Sebagai hadiah pernikahan mereka berdua. Sehingga mereka sekarang tidak tinggal di pondok lagi. Tetapi agak jauh sedikit dari lokasi pondok. Sehingga mereka harus ke sana apabila ingin bertemu dengan kedua orang tuanya Fathu.
"Apa kamu sudah melakukan test sendiri?" tanya Fathu sambil fokus menyetir. Amira hanya tersenyum.
"Ko malah tersenyum?" tanya Fathu tampak bingung.
Amira kemudian mengambil sesuatu di dalam tasnya dan menunjukkan kepada suaminya. "Lihatlah!" ucap Amira.
Fathu melirik sekilas, tetapi ketika melihat apa yang ditunjukkan oleh istrinya. Seketika Fathu mengerem mobilnya. Sangking terkejutnya. Untung saja suasana jalanan saat ini sedang sepi, sehingga tidak ada yang mengklakson mereka. Karena merasa terganggu dengan kelakuan Fathu yang tiba-tiba berhenti itu.
"Jadi, kamu sudah hamil lagi?" tanya Fathu Seakan tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan oleh Amira.
"Iya, Mas! Aku sudah ngecek dua hari yang lalu. Hanya saja, aku melihat Mas tampaknya sangat sibuk sekali dengan urusan kampus. Makanya, aku nggak tega mau mengganggumu. Jadi, Yah! Begitulah. Aku menunggumu senggang dan mempunyai waktu untuk mengantarku ke rumah sakit!" ucap Delia sambil tersenyum.
Fathu langsung memeluk istrinya, menciumnya dengan lembut. Tampak kebahagiaan yang ada di wajahnya. Ya, Fathu memang sudah sangat lama menunggu kehadiran buah cinta mereka. Anak pertama mereka yang keguguran, sungguh membuat dirinya masih merasa bersalah hingga saat ini. Masih sering membuat Fathu menangis dalam doanya. Mengirimkan doa untuk calon bayinya yang ada di surga sana. Agar memaafkan kesalahannya.
"Kita harus belajar dari masa lalu, ya? Kita harus menjaga anak kita. Jangan sampai terulang lagi kesalahan yang sama seperti dulu. Kamu harus ingat, kalau ada masalah, apapun itu, harus dibicarakan dengan Mas! Kamu jangan main pergi-pergi aja. Oke? Semua masalah, pasti bisa diselesaikan baik-baik. Kalau kita berunding dengan baik, dengan hati yang dingin! Gak pakai emosi!" ucap Fathu.
"Kan Mas, yang pakai emosi. Tanpa tahu duduknya permasalahan, Mas main marah dan nuduh aku macam-macam. Aku pergi hanya karena tidak ingin ribut. Aku tidak suka keributan, Mas! Tapi, siapa yang menduga, kalau kepergianku, malah menjadi bencana untuk anak kita!" ucap Amira mulai sedih lagi.
"Ya udah, kita lupakan masa lalu. Kita mulai menata masa depan kita. Jangan sampai kita nanti mengulanginya lagi. Kesalahan yang sama." ucap Fathu.
__ADS_1
Mereka sekarang sudah sampai di pondok dan Uminya Fathu, sudah menunggu di sana. Beliau ingin pergi bersama dengan mereka. Untuk mengecek kehamilan Amira saat ini. " Apakah Umi sudah tahu mengenai kehamilanmu?" tanya Fathu.
"Iya Mas, 2 hari yang lalu, kan, pas aku tes, bersama dengan Umi. Karena waktu itu, aku hampir pingsan, Mas! Sehingga Umi memanggilkan dokter untuk memeriksa. Dan akhirnya, dokter menyarankan untuk Aku melakukan tespeknya. Begitulah, saat itu Umi sedang main ke rumah kita, Mas! Jadi, Umilah orang pertama yang mengetahui kehamilanku ini!" ucap Amira tampak bahagia.
"Jadi, di sini adalah aku, orang terakhir yang mengetahui berita bahagia ini? Ah, kau sungguh jahat sekali! Aku jadi tampak seperti ayah yang buruk untuk anak kita!" ucap Fathu tampak misuh misuh.
"Udah, dong! Jangan marah kayak gitu. Bukannya Mas harus bersyukur, ya? Atas kehamilan aku?" tanya Amira.
"Ya, sayang! Mas bersyukur, ko! Mas hanya sedih, karena menjadi orang terakhir yang mengetahui hal ini!" ucap Fathu dengan suara sendu.
"Maafkan aku, Mas! Aku hanya tidak mau mengganggu fokus kerja kamu. Kemarin kan, Mas sedang sibuk sekali mempersiapkan ujian untuk para mahasiswa, Mas. Maafkan aku, ya?" Ucap Amira dengan puppy eyesnya. Yang sungguh menggemaskan.
"Ya udah, nggak papa! Tapi nanti-nanti lagi, sesibuk apapun Mas, kamu harus memberitahukan Mas! Tak perduli sesibuk apapun itu, kamu harus kasih tahu! Ingat ya?" ucap Fathu, mewanti-wanti istrinya.
"Ya, Mas! Amira janji. Udah, sana jemput Umy!Amira di mobil saja." ucapnya, Fathu lalu turun dan menyalami Umu dan Abynya. Yang tampak sudah siap, untuk ikut ke rumah sakit. "Assalamualaikum, Aby, Umy! Ayo, Kita berangkat!" ucap Fathu dengan senyuman yang tersemat di bibirnya.
"Tidak Umi, karena kita buru-buru. Kita harus segera ke rumah sakit. Kalau Amira turun, pasti nanti jadinya lama. Ngobrol sana sini. Ayo cepat! Soalnya waktu Fathu sedikit. Sekarang, di kampus sedang ujian. Jadi hanya bisa izin setengah hari saja!" ucap Fathu.
Fathu kemudian membukakan pintu untuk kedua orang tuanya. Setelah itu, dia langsung melajukan kendaraannya menuju rumah sakit yang jaraknya agak jauh dari Pondok.
"Bagaimana Amira? Apakah kamu merasakan hal-hal yang tidak nyaman untuk kehamilanmu kali ini?" tanya Abynya Fathu dengan tenang.
"Ya, Aby! Amira baik-baik saja. Alhamdulillah, untuk kehamilan saat ini, dia gak rewel, mungkin, karena dekat dengan ayahnya!" ucap Amira sambil melirik ke arah suaminya, yang tampak fokus menyetir.
"Memang sebenarnya, harusnya seperti itu. Kalau wanita hamil itu, harus dekat dengan suaminya. Agar si anak, merasakan nyaman dan juga tenang. Walaupun, ibaratnya masih di dalam perut. Tetapi dia bisa merasakan perasaan ibunya seperti apa!" ucap Umi.
"Ya, Umy!" jawab Amira.
__ADS_1
Setelah mereka sampai di rumah sakit, mereka Langsung mendaftar ke bagian Obgyn, untuk bisa memastikan kehamilan Amira saat ini. Ketika mereka mendaftar, malah bertemu dengan Sulis.
"Sulis, sedang apa kamu di sini?" tanya Amira kaget.
"Eh, Amira? Kamu sedang apa?" tanya Sulis balik nanya.
"Kamu ini, selalu kayak gitu! Di tanya, malah nanya balik!" ucap Amira gemes. Sulis hanya nyengir kuda. Salah tingkah dengan Amira.
"Assalamualaikum, Aby dan Umy! Saya Sulis,sahabatnya Amira. Apa kalian masih ingat?" tanya Sulis tampak melawak, yang malah mengundang tawa mereka.
"Tentu saja kami masih ingat, sahabatnya Amira, Kan cuma kamu. Siapa lagi memangnya? Apa kabarmu, Nak?" tanya Umynya Fathu sambil mencium pipi Sulis.
"Kabar Sulis baik, Umy!" jawabnya.
"Udah dijawab, Lu ngapain datang ke sini? Loe nggak lagi hamil kan?" tanya Amira dengan menatap mata Sulis dengan tatapan horornya.
"Astaghfirullahaladzim, Besti! Jangan kau ini, bicara sembarangan! Begini-begini, saya ini masih "segelan" aku masih menjaga martabat dan harakatku, sebagai seorang wanita. Oke?" ucap Sulis, sambil memberikan tanda kutip dalam kata "Segelan" yang tadi dia katakan.
"Ya, terus, loe ngapain datang ke sini? Ini kan buat periksa kehamilan, bestie!" ucap Amira gemes banget sama Sulis.
Sulis hanya tersenyum saja, mendengar pertanyaan dari Amira. Yang semakin membuat Amira jadi tambah gemas dengan sahabatnya itu. Yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.
Ya, sejak Sulis berhubungan dengan Cakra. Sulis memang lebih sibuk dengan kekasihnya itu. Daripada bertemu dengan Amira. Apalagi, Amira juga menjaga perasaan suaminya, untuk sedikit berinteraksi dengan Sulis maupun ayahnya. Karena suaminya tidak suka kalau melihat dia dekat-dekat dengan ayahnya Sulis. Yang seorang duren itu, alias duda keren. wkwkwk.
"Gue datang hanya untuk memeriksa kesehatan reproduksi gue aja!" ucap Sulis tampak termenung.
"Kenapa? Apakah ada masalah?" tanya Amira tampak cemas melihat Sulis yang menarik nafas berat.
__ADS_1
Apa ya, yang kira-kira terjadi dengan Sulis? Kenapa Sulis tampaknya sangat berat sekali, untuk menyampaikan hal tersebut kepada Amira. Yo, saksikan di bab berikutnya ya? Jangan lupa untuk like, vote, komentar dan kasih tips seikhlas kalian. Agar Author semakin semangat untuk mengupdate novel ini.