
Seketika Thomas merasa terkejut, ketika mendapatkan calon ibu mertuanya sudah ada di ruangan tersebut dan kini sedang menatap tajam ke arahnya.
"Bukan seperti itu maksud saya tante, saya bisa jelaskan semuanya!" ucap Thomas sambil tergagap, karena dia ketakutan dengan calon mertuanya itu.
Bagaimanapun Thomas sudah mulai menyukai Yuke. Dan berharap untuk menikahi perempuan itu. Oleh karena itu, Thomas berusaha untuk menarik perhatian kedua orang tuanya Yuke. Agar mereka bisa merestui pernikahannya dengan Yuke.
"Apa yang bisa kau jelaskan? Jelas-jelas Tante tadi melihat, kalau kamu mengancam Rasya untuk tidak menemui Adiknya lagi. Perilaku macam apa itu, Thomas?" tanya Laila dengan nada tidak senang. Bagaimanapun Rasya tetaplah anak dari suaminya. Dia akan berusaha untuk melindungi Rasya dari orang yang ingin menyakitinya.
"Tidak apa-apa, Tante. Thomas dan Rasya memang sejak dulu selalu seperti itu. Rasya bisa mengerti dengan tabiat dan perilakunya!" ucap Rasya berusaha membantu Thomas yang saat ini tampaknya sedang kesulitan menjawab pertanyaan Laila.
"Benar Tante, saya dan Rasya sejak dulu memang selalu ribut dan tidak akur. Tetapi kami berdua adalah teman betulkan Rasya?" ucap Thomas gugup sambil melirik ke arah Rasya yang saat ini sedang menatap lekat kepada dirinya.
Rasya memberikan kode kepada Thomas untuk meninggalkan ruangannya. Thomas mengerti dengan kode tersebut. Akhirnya Thomas pun berpamitan kepada Laila, Karena Thomas tidak ingin ada masalah dengan rencana pernikahannya bersama Yuke, kalau terus bertentangan dengan ibunya Yuke.
"Baiklah Tante, Saya permisi dulu, kebetulan tadi papa sudah menelpon saya, bahwa ada rapat di kantor!" setelah berpamitan kepada Laila Thomas pun langsung pergi dari ruangan Rasya.
Kini tinggal Laila bersama Rasya di ruangan itu. Laila terus menatap Rasya dengan berjuta pertanyaan yang ada di dalam hatinya. Tetapi dia merasa tidak enak untuk menanyakannya.
'Apa mungkin?' tanya Laila dalam hatinya.
Laila terus melihat Rasya yang saat ini terus menundukkan kepalanya, tidak berani melihat ke arahnya.
"Rasya, apakah kau bisa menjelaskan, Kenapa Thomas sampai mengancam kamu seperti itu pada tante?" tanya Laila tidak sanggup lagi menahan rasa penasaran yang ada di dalam hatinya saat ini.
Rasya menatap Laila, kemudian Dia memalingkan wajahnya ke arah luar kamarnya. Karena Rasya tidak berani untuk menatap Laila berlama-lama.
__ADS_1
"Kan tadi sudah Rasya jelaskan tante, saya dan Thomas, sejak Sekolah Dasar dulu, memang selalu ribut. Bahkan ketika kami kuliah di Luar negeri pun, dia selalu menjadi Rival saya. Jadi saya tidak heran, kalau dia berperilaku seperti itu!" Rasya mencoba menjelaskan tentang situasi saat ini kepada Laila. Laila tampak mengerutkan keningnya seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rasya saat ini.
"Tante harap, tidak ada yang kamu sembunyikan dari tante. Tante harap, ada kejujuran dalam omongan kamu!" ucap Laila kemudian meninggalkan Rasya sendiri di kamarnya.
Saat di luar ruangan, Laila terus mondar-mandir di depan pintu kamar Rasya. Saat ini, banyak pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalanya.
"Aku harus menyelidiki semua ini, aku tidak melihat ada kejujuran di mata Rasya maupun Thomas. Aku yakin sekali, pasti mereka sudah menyembunyikan sesuatu!" ucap Laila.
Laila kemudian mencari ponselnya di dalam tas dan mencari nomor telepon suaminya.
"Pah kamu ada di mana? Kapan kau datang ke rumah sakit?" tanya Laila dengan buru-buru. saat ini hatinya sedang gelisah menebak sesuatu yang membuat dirinya merasa ketakutan.
'Tidak mungkin kan, kalau Rasya mencintai Yuke? Bagaimana mungkin? Rasya mencintai Adiknya sendiri?' bathin Laila cemas.
Pertanyaan itu terus berkecamuk di dalam pikiran Laila. Sudah seperti sebuah kaset rusak yang terus berputar tidak mau berhenti sehingga membuat Laila merasa terganggu.
"Tapi sebentar lagi ada rapat Mah! Bagaimana mungkin Papa bisa meninggalkan pekerjaan di sini?" ucap Firman seakan keberatan untuk memenuhi panggilan istrinya untuk segera datang ke rumah sakit.
"Tinggalkan dulu pekerjaanmu! Apakah kau akan mati kalau tidak bekerja, huh? Di sini istrimu sedang membutuhkanmu! Cepat kau ke sini!" Laila habis kesabaran dengan suaminya yang dari tadi terus saja berputar-putar membuatnya jengkel.
"Ya, sudah Mah! Mama tunggu sebentar. Papa mau kasih tugas dulu kepada sekretaris dan asisten Papa. Untuk mewakili Papa dalam rapat tersebut. Mama tunggu ya?" ucao Firman pada akhirnya.
Firman mengalah dengan keinginan istrinya, karena tidak mau ribut. Firman paling tahu, kalau Laila paling tidak senang kalau keinginannya dibantah.
Setelah mendapatkan kepastian bahwa suaminya akan datang ke rumah sakit, Laila kemudian menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
Dari jendela rumah sakit, Laila terus memperhatikan Rasya yang saat ini sedang melamun seorang diri di dalam sana. "Entah apa yang sedang dipikirkan oleh anak itu?" tanya Layla kepada dirinya sendiri.
Sikap Rasya, Thomas dan Yuke. Benar-benar membuat Laila sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi di antara mereka bertiga. Mereka yang bersikap penuh dengan misteri.
"Aku harus menyelidiki semua ini sampai tuntas! Jangan sampai ada kesalahan di dalamnya!" ucap Lala kepada dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, tampak Laila sedang menghubungi seseorang.
"Halo, Apa yang sedang kau lakukan saat ini?" tanya Laila kepada seseorang yang berada di seberang sana.
"Ada apa? Tidak biasanya kau mencariku tumben banget!" tanya suara seorang laki-laki.
"Aku punya pekerjaan untukmu! Apakah kau mau?" tanya Laila to the point.
"Pekerjaan apa dulu? Jangan sampai kau kasih aku kerjaan, yang bikin aku masuk penjara!" ucap pria itu.
"Kurang ajar! Kau kira saya ini penjahat, huh? Sehingga mau ngasih kamu kerjaan yang bikin kamu masuk penjara?" ucap Laila sengit, tidak terima dengan ucapan teman yang ada di sebrang teleponnya.
"Sabar sister jangan cepat-cepat marah nanti kau tambah tua! sudah tua jadi tak cantik lagi nah?" ucap laki-laki itu kepada Laila, sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sudah! Hentikan semua omong kosongmu! Kau bersedia tidak menerima pekerjaan yang kuberikan?" tanya Laila kepada pria itu dengan kehilangan kesabaran.
"Ya oke deh, nggak apa-apa, kalau memang pekerjaannya halal, saya mau! Yang penting kamu jangan bikin saya melakukan dosa ya?" ucap pria itu sekali lagi.
"Udahlah! Nggak jadi gue kasih kerjaan buat lu! Lu bikin gue emosi dari tadi!" ucap Laila marah. Lalu dengan perasaan kesal, Laila pun mengakhiri panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, ada notifikasi SMS dari teman yang tadi dihubungi oleh Laila.
" Yaelah sister! Kamu semakin tua sekarang semakin emosian aja! Kamu kayak nggak kenal aku aja, sih? Aku kan cuma bercanda doang!" tulis pria itu di dalam sms-nya.