
Dengan tubuh gemetar. Adrian mendekati jenazah ibunya yang sedang terbaring kaku di kamar hotel itu.
"Mah, bangunlah, Mah! Tolong jangan Mama tinggalin dan Adrian! Bagaimana mungkin mama meninggalkan Adrian? Bukankah Mama menginginkan Cucu dari Adrian? Lalu, kenapa Mama pergi sebelum Adrian memberikan apa yang ingin mama miliki?" ucap Adrian dengan suara gemetar, sambil mengguncangkan tubuh sang ibu yang kini telah terbaring ke aku tak bernyawa.
Andika mendekati Adrian yang kini lemah Luruh di bawah ranjang yang ditempati oleh istrinya. "Adrian kau tidak boleh lemah seperti ini atau ibumu akan sedih di alam sana. Ayo cepat kita harus segera mengurus pemakaman ibumu. Kita tidak bisa menunda lagi. Sebentar lagi sudah waktunya subuh, kita harus segera meninggalkan hotel!" ucap Adrian dengan suara gemetar.
Andika berusaha untuk menenangkan Adrian yang saat ini sedang menangisi kepergian istrinya yang tiba-tiba.
"Pah, Syifa akan menghubungi orang rumah dan juga kedua orang tuaku agar mereka bersiap-siap di sana!" ucap Syifa dengan suara gemetar dan air mata yang terus menetes pipinya.
Andika hanya mengangguk saja. Karena sejujurnya, ada perasaan tidak suka dan sesal di dalam diri Andika kepada Syifa. Yang telah memberikan waktu terburuk di akhir hidup sang istri yang sangat dia cintai.
Namun mendemi menghormati waktu sakral saat ini. Andika hanya menahan semua itu di dalam hatinya. Andika juga dia tidak ingin menyakiti hati Kesya karena dia tahu, bahwa Kesya sangat menyayangi Syifa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Syifa ketika panggilannya kepada ayahnya diterima.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Syifa! Kenapa kamu baru menghubungi kami? Kami sangat khawatir sekali dengan keadaanmu!" ucap Kyai Ilham dengan suara yang begitu kentara kalau dia saat ini sedang mengkhawatirkan putrinya.
"Maafkan, Syifa Abi!Syifa menghubungi Aby hanya ingin menyampaikan berita buruk untuk Aby dan juga seluaruh keluarga besar Abimana. Bahwa Mama Kesya hari ini telah meninggal dunia. Sekarang kami sedang berusaha untuk membawa jenazah beliau ke kediaman Abimana!" ucap Syifa dengan suara gemetar dan tersekat di tenggorokannya.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Ya Allah! Semoga Kesya engkau tempatkan di sisinya dan kau berikan amal dan kesalehan di perjalanannya menuju ke haribaanmu ya Allah!" ucap Kyai Ilham dengan suara gemetar air matanya sudah tidak mampu dia mendung lagi mendengarkan kabar berita yang begitu buruk hari ini.
"Baiklah Syifa! Abi dan Umi akan segera menuju ke kediaman Abimana, kami akan menunggu kalian di sana!" akhirnya Kyai Ilham pun menutup panggilan telepon.
__ADS_1
Kyai Ilham yang saat ini sedang bersholat tahajud di ruangan salatnya. Dia kini hanya bisa menangis terisak dalam diamnya.
Kiai Ilham kembali mengingat masa-masa di mana dia dulu pernah begitu dekat dengan Kesya. Bahkan mereka hampir saja menjadi suami istri. Kalau bukan karena bencana yang terus-menerus melanda hubungan mereka. Mungkin mereka telah memiliki kehidupan yang bahagia bersama-sama.
Dengan langkah gontai, akhirnya Kyai Ilham pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar.
Dia membangunkan istrinya untuk segera bersiap menuju kediaman Abimana untuk menyambut jenazah Kesya yang saat ini masih diurus oleh Andika di hotel tempat dia menginap saat ini.
"Umi, bangunlah sayang! Ayo kita berdua harus segera bersiap untuk pergi ke kediaman Abimana!" ucap Kyai Ilham berusaha untuk membangunkan istrinya dengan mengguncangkan tubuh wanita secara perlahan dan lembut.
Qonita pun menggeliatkan tubuhnya dan menguap karena rasa kantuk yang masih menyerang dirinya.
"Adaapa Aby? Ini masih larut malam. Kenapa kita harus mendatangi kediaman Abimana? Mereka juga pasti sedang pada tidur!" ucap Qonita sambil memeluk guling yang ada di sampingnya. Qonita berniat untuk kembali tidur, karena dia masih mengantuk.
Suaranya tersekat di tenggorokan. Karena terasa begitu menyedihkan untuk menyebut periahal kematian wanita yang pernah dia cintai sepenuh hati.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Bagaimana bisa Abi? Tadi siang kita masih mau ngobrol dengannya di telpon, bicara perihal tentang anak-anak Kita. Abi mendapatkan berita ini dari mana?" tanya Qonita seakan tidak percaya dengan berita yang disampaikan oleh suaminya baru saja.
"Syifa yang tadi menelpon Abi. Saat ini mereka sedang bersiap untuk segera membawa jenazah Kesya ke kediaman Abimana. Cepatlah Umi! Kita berdua harus segera sampai di sana.Jangan sampai kita terlambat!" ucap Kyai Ilham dengan terus terisak dan air matanya terus mengalir tanpa henti. Dadanya naik turun menahan tangis yang membuncah di dadanya.
Bagi Reader yang penasaran dengan hubungan Kyai Ilham dan Kesya di masa muda mereka, bisa membacanya di novel Author yaitu "Assalamualaikum ustadz ku"
__ADS_1
Qonita memeluk tubuh Kiai Ilham yang gemetar saat ini. Isak tangisnya saat ini begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Qonita berusaha untuk memberikan hiburan terbaik untuk suaminya.
"Abi, Allah lebih menyayangi Kesya dari pada kita, mahkluknya! Kita harus mendoakan yang terbaik untuk perjalanan Kesya menuju keharibaan Allah." ucap Qonita.
Qonita terus memeluk Kiai Ilham, sambil mengelus punggung suaminya. Qonita berusaha menenangkan Kyai Ilham yang masih belum bisa menguasai kesedihan yang saat ini dia rasakan. Karena meninggalnya Kesya yang begitu tiba-tiba.
"Untung saja kita berdua belum kembali ke Jawa Timur. Kalau tidak, kita pasti tidak akan melihat prosesi pemakamannya Kesya!" demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Qonita. Seketika Kyai Ilham langsung bangkit dari duduknya. Seakan dia tengah mengingat sesuatu yang telah dia lupakan.
Dia teringat bahwa dia harus segera berangkat ke kediaman Abimana untuk menyambut jenazah Kesya.
"Ayo Umi, kita tidak boleh terlambat untuk sampai ke sana. Jangan sampai Kesya duluan yang datang di sana sebelum kita!" Kemudian Kyai Irham menyiapkan dirinya sebaik mungkin. Untuk bertemu terakhir kali bersama Kesya, wanita yang pernah bertahta di tempat tertinggi di dalam hatinya.
Mereka berdua pun kemudian langsung bersiap-siap untuk berangkat dan langsung tancap gas menuju kediaman keluarga Abimana. Yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kediaman mereka.
Sementara itu Adrian kini sedang sibuk menghubungi keluarga besarnya mengenai kematian sang ibu.
Cakra seperti terkena sambaran petir di siang bolong, ketika mendapatkan berita mengejutkan itu. Dia seketika pingsan. Untung saja, saat itu Cakra sedang berada di kediaman Abimana.
Farhan yang melihat Cakra pingsan. Dia segera mengambil alih ponsel yang masih berbunyi. "Halo Adrian! Ada apa? Kenapa ini di sini Cakra pingsan?" tanya Farhan dengan panik karena dia terkejut ketika mendapatkan cucunya sudah ambruk di ruang tamu.
Tadinya dia turun dari kamarnya di lantai tiga adalah untuk mengambil air minum. Tidak disangka, malah melihat Cakra yang pingsan di bawah meja.
__ADS_1
Ketika didekati, ternyata layar ponsel Cakra masih menyala dengan pemanggil adalah Adrian cucunya sendiri.