Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
74. Dilema


__ADS_3

Rasya sekarang berada di kamarnya merenungkan kembali kejadian hari ini yang telah menguras begitu banyak emosi dan tenaganya.


"Apakah benar aku akan sanggup melihat Yuke menikah dengan laki-laki lain?" tanya Rasya kepada dirinya sendiri.


"Ya Tuhan! Ini benar-benar sebuah dlema untukku. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta kepada adikku sendiri?" tanya Rasya kembali rupanya rasa sudah benar-benar terpesona kepada Yuke, Adiknya sendiri yang baru dia ketahui selama beberapa jam.


"Aku akan mengenalkannya kepada temanku. Semoga saja dengan begitu akan bisa menghapuskan perasaan yang tidak boleh ini! perasaan cinta terlarang ini tidak boleh terus berkembang kalau tidak akan menjadi dosa untukku sendiri maupun untuk Yuke!" tidak ada habisnya Rasya terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Tiba-tiba pintu kamar Rasya terbuka dan ternyata ibunya yang datang.


"Kamu sedang apa, Nak? Kenapa sudah sangat malam begini, kau masih saja belum istirahat?" tanya Siapa menatap putranya.


Sejak diusir oleh Firman dari kediamannya sekarang Syafa tinggal bersama dengan Rasya di apartemennya. Karena Rasya tidak tega melihat ibunya tidak memiliki tempat tinggal lagi setelah diusir oleh ayahnya.


"Nggak papa mah! Rasya hanya sedang berpikir sedikit sebentar lagi. Rasya akan tidur sebentar lagi. Kenapa Mama sendiri belum tidur?" tanya Rasya kepada ibunya yang kini duduk di samping dirinya.


"Mama tidak bisa tidur memikirkan secara resepsi pernikahan Adrian tadi. Kau tadi melihat kan ayahmu datang bersama istrinya?" ucap Syafa dengan penuh emosi.


" Ayolah Mah! Kalian sudah bercerai lebih dari 10 tahun. Apakah Mama tidak bisa move on dan mulailah membuka lembaran hidup barumu. Mama nggak lihat Papa sekarang hidup bahagia bersama istrinya!" ucap Rasya menggeram dengan kesal.


"Mama masih tidak terima. Karena ayah kamu lebih memilih Laila itu dan meninggalkan kita semua, bahkan nenekmu saja sampai meninggal gara-gara hal ini!" ucap Syafa dengan mata berkaca-kaca

__ADS_1


"Bukankah mama dulu yang meminta bercerai? Papa sudah memberikan kan opsi kan untuk poligami. Lalu kenapa sekarang mama menyesali apa yang sudah terjadi? Sekarang lebih baik Mama memulai hidup baru, dan mendapatkan kebahagiaan Mama sendiri!" ucap Rasya sambil menatap tajam ibunya.


"Bagaimana mama bisa berbagi hati dengan perempuan itu? Jelas-jelas kalau papamu itu tidak adil dan sekarang kau membelanya. Apa kau yakin bahwa kau adalah Putraku?" ucap siapa menggeram menata putranya dengan mata yang berapi-api.


"Sudahlah, Mah! Rasya malas bicara dengan Mama. Mama tidur saja! Besok Rasya ada rapat penting. Tidak bisa melayani kemarahan Mama yang tidak pernah ada habisnya!" ucap Rasya mengusir ibunya dari kamarnya.


"Bahkan kau sekarang sudah tidak mau bicara lagi dengan Mama. Lalu dengan siapa Mama bisa membagikan perasaan ini?" ucap Syafa dengan berderai ir mata.


"Bukannya Rasya tidak ingin mendengarkan keluh kesah Mama. Hanya saja Rasya sendiri sedang pusing, Mah! Banyak masalah yang sedang dihadapi oleh Rasya saat ini. Apakah mama tidak bisa mengerti sedikit saja?" Rasya sambil menggenggam tangan ibunya.


"Mama merasa kesepian,Rasya! Mama membutuhkanmu juga. Rasya, luangkanlah sedikit waktumu untuk Mama. Mama juga butuh kamu!" ucap Syafa sambil menatap wajah putranya.


Seiring berjalannya waktu, Rasya bisa menerima pernikahan antara ayahnya bersama dengan Laila. Apalagi mengetahui bahwa Laila adalah seorang perempuan yang baik. Yang bisa merubah ayahnya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap perusahaan.


"Rasya mohon Mah! Mulailah hidup baru Mama. Dan coba untuk melupakan Papa. Karena Papa tidak akan pernah mungkin bisa kembali lagi sama Mama. Karena hati papa sudah 100% bersama tante Laila!" Rasya menatap sendu kepada ibunya.


" Mama sudah berusaha keras untuk melakukannya, Rasya! Tetapi selalu gagal karena mama selalu mencintai papamu!" ucap Syafa kembali menangis.


Rasya kemudian bangkit dari duduknya dan menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya. Rasya menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan begitu berat. Ya! Permasalahan Ibunya dan ayahnya sampai sekarang masih menjadi momok besar dalam kehidupannya.


"Maafkan Rasya, Mah! Tapi bisakah Mama meninggalkan Rasya sekarang? Rasya capek Mah, benar-benar ingin sekali tidur. Rasya besok betul-betul ada rapat pagi dan tidak bisa meninggalkannya!" ucap Rasya sambil menatap tajam ke arah ibunya.

__ADS_1


Syafa kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu kamar Rasya dan keluar dari sana.


"Jangan minum alkohol lagi, Mah! Atau Rasya tidak akan mengizinkan Mama untuk tinggal di sini lagi. Rasya paling benci mencium bau aromanya, yang benar-benar terasa sangat mengganggu!" ucap rahasia sebelum Ibunya benar-benar meninggalkan kamarnya.


" Iya akan Mama usahakan untuk tidak menyentuhnya!" ucap Syafa sambil meninggalkan putranya seorang diri.


Setelah ibunya meninggalkannya, kini Rasya berdiri di hadapan jendela kamarnya. Rasya menatap kelap-kelip lampu malam di Ibukota, yang sangat indah dan memanjakan matanya.


"Aku sendiri sangat bingung untuk menghadapi perasaanku dengan Yuke. Apakah betul, aku akan sanggup melihat dia menikah dengan pria lain? Ya Tuhanku! Ini pertama kalinya aku jatuh cinta, tetapi kenapa harus Kepada adikku sendiri?" Rasya menggeram frustasi dan kemudian memutuskan untuk tidur. Karena besok dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan rapat penting di kantornya.


Keesokan paginya, Rasya melihat ibunya yang tertidur di sofa. Tampak beberapa botol kosong minuman beralkohol, yang telah bergeletakan di lantai apartemennya.


Rasya menggeram marah melihat ibunya yang tidak mengindahkan peringatannya tadi malam. Dengan perasaan kesal Rasya memunguti botol-botol kosong itu, dan membuangnya ke tempat sampah. Kemudian dia sendiri pergi ke kamar mandi dan langsung bersiap untuk pergi ke kantor.


Sebelumnya Rasya melaksanakan tugasnya sebagai seorang muslim, yaitu menjalankan salat subuh. Rasya meninggalkan waktu sarapannya, karena perasaannya sangat kesal melihat ibunya yang kini tengah tertidur dalam keadaan mabuk. Setelah tadi malam mengkonsumsi minuman beralkohol begitu banyak. Ibunya benar-benar tidak mengindahkan peringatannya tadi malam.


"Aku akan sarapan di cafe saja. Mungkin itu lebih baik. Daripada aku harus melihat mama yang terus mabuk seperti itu!" Rasya kemudian pergi meninggalkan apartemen tempat tinggalnya.


Begitu sampai di Cafe, Rasyalangsung meminta untuk dipersiapkan menu sarapan untuk dirinya sendiri. Sebelum melaksanakan rapat bersama anak buahnya.


Setelah selesai bersarapan, Rasya kemudian langsung masuk ke ruang rapat dan memulai aktivitasnya pagi itu, dengan memberikan beberapa arahan kepada bawahannya. Untuk meningkatkan manajemen dalam rangka meningkatkan pendapatan di kafe maupun cabang yang mereka miliki.

__ADS_1


__ADS_2