
Andika menghubungi detektif yang biasa dia gunakan untuk menyelidiki perusahaan- perusahaan yang selalu nakal dan mencari permasalahan dengan perusahaannya.
"Segera kau berikan laporannya kepadaku karena aku sangat membutuhkannya!" ucap Andika memberikan perintah kepada detektif yang saat ini ada di Dubai.
"Semoga permasalahan ini cepat selesai. Karena aku tidak bisa berpikir dengan tenang kalau perusahaan di sana bermasalah!" ucap Andika.
Andika kemudian menaruh kembali laporan yang diberikan oleh asistennya yang ada di Dubai. Andika menatap laporan itu dengan serius dan tampak Andika mendesah frustasi. Dia merasa pusing dengan perusahaan yang selalu saja mendapatkan serangan dari perusahaan asing yang berasal dari Jerman yang masih misteri baginya.
"Aku harap Adrian sudah siap untuk aku serahkan tampuk kepemimpinan perusahaan yang ada di Indonesia! Kalau saja Amanda tidak meninggalkan perusahaan yang ada di Dubai, mungkin aku tidak sepusing ini sekarang!" Andika jadi mengingat tentang putrinya yang sekarang tinggal di Prancis dan kini mengelola perusahaan fashion yang dahulu diniatkan oleh ayahnya untuk diberikan kepada Merry, kakaknya.
Merry menolak perusahaan itu. Karena dia merasa bahwa dia tidak berhak untuk memiliki perusahaan yang telah dibangun oleh ibunya Andika, yang sebetulnya bukan ibu kandungnya Merry.
Merry diberikan sebuah perusahaan sawit oleh ayahnya yang ada di Kalimantan dan sekarang dikelola oleh Merry dan Alvian.
Perusahaan itu bahkan sekarang sudah berkembang dan sudah memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia bahkan sudah merambah ke negara ASEAN.
Keluarga Abimana memang memiliki semangat sebagai seorang pengusaha sukses dan memiliki bakat untuk mengembangkan potensi terbaik mereka sehingga bisa mengembangkan perusahaan yang diberikan oleh ayah mereka.
Tiba-tiba kan pintu ruangan Andika diketuk oleh seseorang, "Masuklah!" ucap Andika mengijinkan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Adrian? Papa senang sekali kau datang ke sini. Karena ada sesuatu yang ingin Papa didiskusikan denganmu. Bagaimana dengan Cakra? Apakah dia masih belum bersemangat juga?" tanya Andika sambil duduk di sofa yang ada di hadapannya sementara Adrian hanya mengikuti sang ayah.
__ADS_1
"Cakra semakin gila dalam bekerja tapi biarkanlah daripada dia lari kepada hal yang negatif mungkin saja pekerjaan akan bisa membantunya untuk lebih berpikir sehat dan positif!" ucap Andika melaporkan keadaan adiknya Saat ini sejak kepergian Sulis ke Inggris untuk melanjutkan kuliahnya.
"Adrian! Apakah kalau kamu Papa berikan kepercayaan untuk mengurus grup kita di Indonesia, Apakah kau sudah siap?" ucap Andika berhati-hati. Karena dia takut kalau Adrian merasa tersinggung atau tidak bersedia dengan tanggung jawab yang akan dia berikan kepada putranya.
"Kenapa Pah? Bukanya selama ini kan juga Papa menghandlenya dengan baik. Saya ini masih belajar. Apalagi permasalahan saya dengan Syifa baru saja beres. Takutnya belum bisa konsentrasi untuk mengurus perusahaan yang begini besar di tangan saya!" ucap Adrian sambil menatap tajam kepada ayahnya yang tampak lesu dan lelah.
Usia tua telah membuat Andika semakin loyo. Apalagi setelah kepergian Kesya, sang istri tercintanya. Hidup Andika seakan hampa karena tidak ada lagi yang menghiburnya ketika dia pulang bekerja.
Adrian bisa melihat bahwa sekarang ayahnya semakin terlihat lebih tua dari biasanya garis-garis di keningnya semakin banyak dan keriput di wajahnya setiap hari bertambah.
"Apakah ada masalah Pah? Katakanlah semoga saja Adrian bisa membantu papa!" ucap Adrian sambil menatap lurus kepada ayahnya dia sebetulnya merasa prihatin dengan ayahnya sekarang yang hanya tinggal sendiri di Mansion keluarga Abimana.
"Papa hanya merasa kesepian saja. Sejak kepergian mamamu, tidak ada lagi yang membuat papa bahagia. Apakah kau tidak ingin memberikan cucu untuk papa? mungkin kehadiran seorang cucu akan bisa menjadi Semangat bagi Papa setiap harinya?" ucap Andika menatap serius Adrian yang tampak salah tingkah dengan permintaan ayahnya.
"Saat ini rumah tangga Adrian baru mulai membaik sedikit Pah! Tolong doakan saja segera akan ada kabar baik dari kami untuk papa!" ucap Adrian sambil tersenyum kepada ayahnya yang kini tampak murung kembali.
"Katakanlah kepada Andrian Pah! Barangkali Adrian bisa membantu permasalahan Papa!" Adrian terus mendesak agar ayahnya mau untuk membicarakan permasalahan yang sedang dalam pikirannya.
"Kau bacalah laporan itu! Maka kau akan mengerti, kepusingan macam apa yang ada di dalam kepala ayahmu!" siap Andika sambil menyerahkan file-file yang dilaporkan oleh asistennya di Dubai.
Adrian kemudian menerima file tersebut dan membacanya dengan serius dan teliti tampak Adrian mengerutkan keningnya merasa heran dengan laporan tersebut.
__ADS_1
"Tampakny banyak sekali masalah di Dubai. Apakah Papa berniat untuk pergi ke sana untuk menyelesaikan permasalahan ini?" tanya Adrian sambil menatap kepada ayahnya. Adrian berusaha menyelami perasaan ayahnya saat ini.
"Kalau papa ada niat untuk kembali ke Dubai, lakukanlah Pah! Tidak apa-apa. Adrian dan Cakra akan berusaha semampunya untuk menghandle perusahaan yang ada di Indonesia!" ucap Adrian sambil memegang tangan ayahnya yang terasa dingin baginya.
"Kenapa tangan Papah dingin sekali? Papa tidak sakit kan? Papa sudah check up belum untuk kesehatan Papa beberapa waktu ini?" tanya Adrian sambil menatap ayahnya yang kini menundukkan kepalanya.
Memang sejak kepergian ibunya. Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup. Andika selalu murung dan juga tampak selalu sedih. Andika hanya tampak bisa tertawa kalau sedang berkumpul dengan Bayu sahabatnya.
"Pah, mau Adrian temani ke rumah sakit untuk check up? Jangan sampai ada penyakit yang tidak kita ketahui!" pinta Adrian karena dia khawatir dengan kondisi kesehatan ayahnya yang rasa-rasanya semakin drop sejak kematian ibunya.
"Papa tidak apa-apa Adrian! Papa hanya kelelahan saja dan merasa sangat kesepian. Cepatlah kau berikan Papa cucu, supaya Papa punya kegiatan dan juga semangat hidup!" ucap Andika lagi.
"Atau Papa mungkin ingin menikah lagi? Biar Adrian carikan calon istri untuk papa!" ucap Adrian dengan hati-hati khawatir kalau Papanya merasa tersinggung dengan apa yang dia sampaikan.
"Papa tidak membutuhkan wanita lain dalam kehidupan papa. Mamamu adalah wanita terbaik yang pernah Papa miliki. Dan tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun!" ucap Andika sambil menatap tajam kepada Adrian yang kini jadi bingung harus bagaimana untuk membuat ayahnya bisa bersemangat kembali.
"Jangan memikirkan hanya aneh-aneh Adrian! Cukup kau berikan Papa seorang cucu saja, itu sebelah membuat Papa sangat bahagia!" ucap Andika sambil menepuk bahu Adrian yang kini tersenyum ke padanya.
"Baiklah Pah, kalau begitu Adrian pulang dulu. Adrian akan berusaha untuk memberikan cucu kepada Papa secepatnya dan Ardian harap setelah itu Papa kembali bersemangat dan bisa hidup bahagia lagi!" ucap Adrian sambil tersenyum kepada ayahnya.
"Adrian papa akan segera berangkat ke Dubai. Besok papa akan menyerahkan semua kepemimpinan perusahaan Abimana group yang ada di Indonesia kepadamu. Papa harap kamu bisa memegang kepercayaan papa! Cakra akan bertindak sebagai wakilmu dan kalian bisa bekerja sama untuk sama-sama mengembangkan perusahaan ini menjadi lebih baik" ucap Andika sambil tersenyum kepada Adrian yang sudah bersiap untuk meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Kalau Maria tahu rencana Andika yang akan meninggalkan Indonesia. Pasti dia merasa sangat kecewa karena usahanya untuk masuk ke perusahaan itu sia-sia.