
Melihat Adrian yang membeku, Asyifa menatap curiga kepada Adrian, "Ayo jujur! Apa yang sudah kau lakukan kepadaku?" Asyifa matanya tiba-tiba fokus ke bibir Adrian yang ada noda lipstiknya, Asyifa dan Adrian auto menyentuh bibir masing-masing.
"Kau menciumku, huh?" Asyifa histeris. Adrian langsung membekap mulut Asyifa yang hampir berteriak.
"Ini rumah sakit! Apa kau mau kita di usir dari sini, huh?" tanya Adrian panik. "Kenapa aku kau bawa ke rumah sakit?" tanya Asyifa keheranan.
"Tadi kamu tiba-tiba pingsan! Aku panik, karena kamu, aku bangunkan lama sekali tidak mau bangun juga!" Asyifa kini sudah tenang, jadi Adrian melepaskan tangannya.
"Tadi waktu aku mau pergi, tiba-tiba kepalaku pusing!" ucap Asyifa kini memegang kepalanya lagi.
"Kita periksa kesehatan kamu, mumpung kita sudah disini!" ucap Adrian sambil menggamit lengan Asyifa.
Mereka melangkah ke bagian admistrasi, untung saja masih ada yang berjaga, sekarang sudah pukul 22.00 soalnya, cukup larut malam bagi pasangan muda mudi itu untuk ada di luar rumah, tanpa pengawasan orang tua mereka, dengan bergandengan tangan semesra itu.
"Lepaskan tanganku! Aku malu tahu, jadi tontonan orang-orang!" Asyifa berusaha melepaskan tangannya, tapi Adrian tidak mau melepaskan tangannya dari Asyifa yang kini mulai protes lagi.
"Aku pegang tangan kamu, supaya kamu tidak lari! Jangan GR!" ketus Adrian, melihat Asyifa yang menatap tajam ke arahnya, Adrian jadi salah tingkah. Dengan cepat Adrian menemui bagian administrasi, sehingga bisa menghindari tatapan mata Syifa yang langsung menusuk jantungnya membuat hatinya terasa berdebar-debar.
__ADS_1
"Maaf, Suster! Saya ingin melakukan pemeriksaan terhadap wanita ini!" tunjuk Adrian kepada Asyifa yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan masam. Kesal dengan Adrian yang hobby sekali mencampuri urusan dirinya. "Sus, dia itu orang yang tidak penya pekerjaan! Hobbynya usil dengan hidup orang lain! Masa saya cuma pingsan sedikit saja, dia sudah heboh seakan-akan saya ini mau mati besok saja!" ucap Asyifa menatap horor kepada Adrian.
Adrian memutar bola mata Malas karena tidak mau berdebat dengan Asyifa yang dia tahu adalah wanita yang keras kepala dan susah diatur. suster tersebut tersenyum melihat pertengkaran muda-mudi tersebut kemudian dia berdiri meminta identitas Adrian dan Asyifa.
"Mbak harusnya bersyukur, diperhatikan oleh suaminya. Banyak loh, wanita di luar sana, yang merasa galau karena suaminya tidak peduli dengan kesehatannya. Mbak harus merasa senang, karena mempunyai seorang suami, sudah tampan, juga peduli dengan kesehatannya Mbak!" ucap suster tersebut sambil menulis identitas yang tadi diserahkan oleh Syifa dan Adrian.
"Dia bukan suamiku suster, Suster jangan asal bicara! Dia cuma orang usil ya nggak punya kerjaan! Yang hidupnya cuma mencampuri uruasan orang lain!" sengit Asyifa.
"Dia calon istri saya, suster!" ucap Adrian pelan.
"Ih, PD! Siapa juga yang mau jadi calon istri kamu? Dalam mimpimu! Aku tidak pernah bilang, kalau aku setuju untuk menikah denganmu! Nggak usah kegeeran!" ucap Asyifa dengan sengit. Suster yang melihat mereka berdua malah tersenyum manis.
"Siapa yang bilang kami saling mencintai" ucap keduanya kompak sehingga mengundang tawa suster yang sedang mengurusi pendaftaran Assyifa untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit tersebut.
"Udah! Jangan berantem lagi! Ini, bawa calon istri Anda ke ruangan Anggrek Nomor 40! Udah sana! Jangan berantem di sini! Ini adalah rumah sakit, jangan buat kerusuhan, nanti kalian bisa-bisa diusir oleh satpam!" ucap suster tersebut mulai merasa terganggu dengan kelakuan Adrian dan Syifa yang sejak tadi, mereka terus bersitegang.
"Kamu nurut aja sih! Kenapa sih? Kita periksa kesehatan kamu untuk mengantisipasi. Siapa tahu kamu memiliki penyakit yang berbahaya. Kalau kita mengetahuinya sejak dini, kita bisa melakukan ambil tindakan yang tepat untuk menyembuhkannya. Kamu paham tidak?" Adrian lalu menarik tangan Syifa ke ruangan yang disebutkan oleh suster tadi. setelah mereka sampai di ruangan tersebut datanglah seorang suster dan Dokter yang akan memeriksa keadaan Syifa.
__ADS_1
Adrian Hanya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut melihat calon istrinya sedang diperiksa oleh dokter. Dokter kemudian mendekati Adrian.
" Istrinya baik-baik saja, Pak! Mungkin dia hanya kelelahan saja. Oleh sebab itu, dia tiba-tiba pingsan. Makanya Pak, kalau main itu, jangan kasar-kasar, itu istrinya jadi kelelahan begitu! Ya udah karena udah terlanjur kalian mendaftar, istirahat aja ya? Anggap aja sedang piknik atau sedang bulan madu di rumah sakit ini!" goda Dokter tersebut sambil melihat Adrian yang mukanya merah seperti kepiting rebus.
"Main kasar bagaimana maksudnya, Dok?" tanya Adrian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ah, masa bapak tidak tahu!" Seketika Adrian menatap Asyifa dengan tatapan curiga. Asyifa yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka berdua, hanya bengong saja. Melihat mereka tampak serius membicarakan sesuatu yang baru dia dengar.
Setelah Dokter dan Suster itu meninggalkan ruangan, Adrian mendekati Syifa dengan tatapan horornya, dia melihat Syifa dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Heh! Apa kau gila atau hilang akal? Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa ada masalah denganku?" tanya Asyifa mulai ketakutan melihat Adrian yang menatap kearah dirinya dengan mata elangnya.
"Kamu, jujur padaku! Apa yang sudah kamu lakukan seharian ini? Sampai kamu kelelahan dan dokter mengatakan hal-hal aneh kepadaku! Cepat ngaku jujur sama aku! Bagaimanapun aku ini adalah calon suami kamu! Dan 5 hari lagi kita akan resmi menjadi sepasang suami istri!" ucap Adrian dengan nada tegas dan keras. Asyifa seketika menatap Adrian dengan ketakutan, tiba-tiba air matanya berderai, sehingga membuat Adrian mulai panik dan bingung.
"Heh, kenapa kok malah menangis! Aku kan cuma bertanya! Sudah! Jangan menangis! Nanti dikira orang lain, aku sudah mengeaniaya kamu! Sudah, cepat! Ceritakan apa yang terjadi dengan kamu seharian ini?" ucap Adrian.
Siapa yang menduga, Asyifa malah menangis semakin kencang! Sehingga membuat Adrian kelimpungan, tidak mengerti harus berbuat apa. Adrian kemudian mendekati Syifa dan menggenggam tangannya. Mengelus-elus punggung Syifa untuk membuat Asyifa merasa lebih tenang pikirannya.
__ADS_1
"Sudah! Jangan menangis! Udah, nggak usah dijawab kalau kamu tidak mau menjawabnya. Udah ayo, lebih baik istirahat saja!" Adrian lalu menutupi tubuh Syifa dengan selimut. Tiba-tiba Asyifa berkata dengan sendu.
"Aku diperkosa oleh temanku, tadi aku melarikan diri, saat aku bertemu dengan kamu! Hiks hiks!" ucap Asyifa yang mulai menangis dengan pilu. Hati Adrian mencelos seketika, mendengar cerita Asyifa. Adrian hilang kata-kata.