
Mereka berangkat ke cafe yang dekat dengan perusahaan agar nanti memudahkan mereka saat kembali. Maklum saja, waktu makan siang mereka sempit.
"Wah, mimpi apa aku tadi malam, ya? Bisa makan malam dengan para sultannya Abimana Group dan Iswara Group!" cicit Fathu sambil melirik ke arah Sulis yang sudah salah tingkah. Cakra dan Adrian hanya tersenyum simpul ketika Fathu mengucapkan hal itu.
"Kami loh, yang beruntung, karena bisa makan siang dengan calon Kiai besar! Calon Ulama! Ah, tidak ada yang lebih mulia dari statusmu! Gus Fathu!" ucap Sulis dengan senyum sumringah.
Fathu hanya bisa tersenyum simpul mendengarnya, "Kita semua orang hebat! Ok? Ayo kita makan!" seru Adrian.
"Fathu, yang aku dengar, kamu sudah menikah ya? Ko kamu gak asyik banget sih, gak undang-undang aku! Kesal jadinya! Ga Friends ah, kita!" Adrian pasang wajah judes. Yang malah membuat Fathu merasa lucu dengan sahabat nya itu.
"Kami baru akad nikah doanh kok, belum adakan resepsi. Waktu itu menikah karena terpaksa, desakan ayah istriku yang sedang sakaratul maut! Setelah menikah malah banyak masalah, bahkan istriku kemarin sempat keguguran, ah, kami belum ada waktu untuk mengadakan resepsi pernikahan!" ucap Fathu sendu.
Ketika mengingat kembali kejadian keguguran itu, hati Fathu jadi sedih sekali. Adrian yang melihat mendung di wajah sahabatnya jadi merasa bersalah karena sudah membuat mood Fathu hancur.
"Maafkan, ya, Bro! Aduh malah jadi bikin sedih begini! Ayo kita kembali ke kantor saja! Nanti malam aku undang kamu dan istrimu untuk makan malam di restoran aku, bagaimana?" usul Adrian agar membuat Fathu jadi bersemangat lagi.
"Istriku masih sakit, dia gak bisa pergi jauh-jauh. Lain kali saja!" ucap Fathu masih sedih.
"Maafkan gue, ya Bro! Gue gak tahu kalau loe lagi sedih kehilangan anak loe! Semoga Allah menjadikan anakmu yang kini di surga sebagai malaikat yang kelak akan memohonkan ampunan bagi kedua orangtuanya ketika Yaumil akhir nanti, Amien!" doa Adrian yang di ameinkan oleh semua orang yang hadir disana.
Ya, Adrian dan Fathu sudah biasa bicara non formal, Cakra dari tadi hanya mendengarkan saja, obrolan duo ganteng itu, Cakra lebih tertarik memperhatikan Sulis. Ya, Cakra masih belum bisa melupakan Sulis. Hari-harinya selalu berisi gadis belia itu. Apalagi saat mengetahui bahwa Sulis adalah anak dari Bayu Iswara, hati Cakra klepek-klepek.
"Mas, seorang anak pemilik perusahaan, malah kerja sebagai staf biasa di personalia, itu artinya dia itu gadis special, Mas! Idamanku!" ucap Cakra ketika mereka membicarakan soal Sulis.
__ADS_1
Ya, Adrian tahu bahwa Cakra telah jatuh cinta dengan Sulis. Adrian bangkit dan menuju ke kasir, saat akan membayar, tiba-tiba saja Adrian tanpa sengaja menabrak seseorang gadis cantik yang sedang menyuguhkan minuman di meja yang dilewati oleh Adrian.
Minuman yang di bawa pecah, pakaian Adrian basah, dan gadis yang di tabrak oleh Adrian kepalanya berdarah karena tadi waktu jatuh kepalanya terbentur oleh sudut meja. Darah segar terus mengalir, Adrian sudah panik luar biasa. Pengunjung yang datang ikut heboh.
"Eh, kakak loe kenapa, tuh?" tanya Sulis kepada Cakra.
"Gak tahu! Ayo kita kesana!" ajak Cakra. Mereka bertiga akhirnya pergi melihat keadaan Adrian dan seorang waiters yang kini sedang memegang kepalanya yang berdarah. Manager cafe sudah datang dan meminta seseorang untuk mengantarkan Waiters yang terluka itu.
"Mas, ayo kita anterin! Itu darahnya makin banyak!" Cakra ikutan panik, ketika melihat jilbab pashmina yang digunakan oleh waiters tersebut sudah merah karena darah makin deras.
"Ayo, naik mobil saya saja!" ucap Fathu.
Adrian langsung menggendong Waiters itu, yang wajahnya sudah pucat. Hampir pingsan. Tampaknya lukanya lumayan dalam, sehingga darah masih belum berhenti.
"Sabar, Pak Adrian! Kita sudah mau sampai kok, ke rumah sakit!" Sulis yang menemani gadis yang kini sudah hampir pingsan. Fathu jadi supir. Adrian duduk di samping Wanita yang terluka itu. Dari nama yang tertulis di name tag, nama gadis itu Asyifa Latief. Adrian terus berusaha mengingat nama itu. Ya, karena Adrian sangat ketakutan.
"Maafkan, gue ya! Gue gak sengaja nabrak, loe!" ucap Adrian sambil memegang tangan gadis itu, Addian mencoba memberikan kekuatan agar gadis itu jangan drop. Darah sepertinya sudah mulai berhenti. Tapi jilbab dan wajah gadis itu sudah full darah. Kasihan sekali.
"Cakra, ambilkan tissu itu di atas dashboard!" ujar Adrian, lalu Adrian mengelap darah yang mulai kering di wajah gadis itu menggunakan tissue basah.
"Mba, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Sulis, mencoba mengajak bicara.
"Aku pusing, Mba!" jawabnya lemas.
__ADS_1
"Kamu kehilangan banyak darah, wajar kalau pusing!" ucap Adrian. "Hubungi orang tua kamu!" ucap Fathu cemas.
"Orang tuaku jauh, tidak disini!" aku sejak SD tinggal bersama Nenekku, jadi aku biasa mandiri!" ucap gadis itu.
"Kita hubungi nenek kamu. Ok?" tanya Sulis.
"Jangan, Kak! Nenek akan syock kalau tahu aku masuk rumah sakit. Nenek tidak tahu kalau aku bekerja part tims di cafe. Aku hanya ingin mencari pengalaman!" ujar gadis itu makin lemah.
"Jangan di ajak bicara terus, Lis! Kasihan itu, pasti lemes badannya! Kehilangan darah banyak sekali!" ujar Cakra menegur Sulis yang dari tadi nyerocos terus.
"Gue ngajak ngobrol biar dia gak jatuh pingsan! Kau pikir aku gak punya perasaan?" Sulis mulai lagi mode beringas. Cakra langsung menutup mulutnya, kalau sudah melihat Sulis mode galak. Mau tidak mau, Adrian jadi tertawa melihat adiknya sudah bertemu dengan pawangnya.
"Fathu, masih jauh rumah sakitnya?" tanya Adrian lagi.
"Itu di depan!" Fathu lalu memarkirkan mobilnya.
Kalau Fathu dan Adrian tahu bahwa gadis yang sedang dia tolong adalah anak gadis dari Kiai mereka, apakah mereka akan terkejut? Saksikan nanti ya, ada partnya tersendiri, ketika mereka berdua tahu siapa gadis yang saat ini mereka bawa ke rumah sakit.
Kok bisa? Mereka tidak kenal dengan anaknya Ilham? padahal mereka mondok di pondok pesantren yang Ilham pimpin cukup lama. Kok gak kenal dengan Asyifa?
Jadi gini ceritanya, sewaktu Asyifa SD, dia pindah ke Banten dan tinggal bersama neneknya. Yang merasa sayang kalau rumah orang tuanya dikosongkan begitu saja. Jadi saat istrinya Ilham yang kedua punya anak, Umy pindah ke Banten bersama Asyifa untuk menemani dirinya di sana, supaya gak kesepian.
Pada saat Asyifa kelas 1 SD, Adrian sudah masuk kelas dua SMP. jadi usia mereka terpaut 8 tahun. Sewaktu kecil, sebelum pindah bersama neneknya, Asyifa selalu main bersama Adrian dan Fathu. Karena kejadian sudah lama sekali, jadi mereka bertiga tidak ada yang ingat lagi. apalagi Asyifa yang pada waktu itu memang masih BoCil.
__ADS_1
Kehidupan masa kecil mereka nanti bisa di baca di novel Assalamualaikum ustadz ku. Saat ini masih on going ya.. Hehehe.. Author ga sabar nunggu novel itu tamat, jadi langsung bikin novel ini, dan mengisahkan kisah cinta mereka disini. Pasti seru pokoknya! Ilham dan Kesya akhirnya nanti malahan jadi besan! pantengin terus novel ini dan novel Assalamualaikum ustadz ku, jadilah saksi sejarah kisah percintaan mereka semua!!!! Pasti seru deh!