
Fathu kembali ke rumah, tapi saat dia tiba, tidak didapatkan Amira, istrinya. Kedua orangtuanya juga tidak ada. Fathu kemudian mencari Ustadz Razak yang selama ini menjadi orang kepercayaan Abynya. "Dimana Aby sama Umy, ustadz?"
"Kanjeng Kiai sareng Ibu Nyai sedang ke lokasi pembangunan pondok pesantren yang baru, Gus Fathu!" ucap Ustadz Razak khidmat.
"Istri saya juga di ajak?" tanya Fathu sambil melinting kemejanya.
"Enjih, tadi Istri Gus Fathu yang meminta, katanya bosan tinggal di rumah terus, jadi di ajak sekalian oleh ajengan, Gus!" Fathu mengangguk lalu memberikan ijin ustadz rajak untuk melaksanakan tugas-tugas yang lain.
"Kenapa istriku tidak mengabari dulu?" Fathu merasa kesal karena Amira pergi tanpa ijin darinya. Fathu mencari-cari kontak istrinya di ponsel, tapi kemudian dia menggeram kesal.
"Aku lupa belum meminta nomor handphone istriku, suami macam apa aku ini? Sampai nomor istriku sendiri tidak tahu!" Fathu lalu bergegas ke kamar mandi, niatnya akan menyusul Umy dan Abynya ke lokasi pembangunan pondok pesantren yang baru. Lokasinya Fathu sudah tahu.
"Aku akan memberikan kejutan kepada istriku." Fathu tampak bersemangat sekali, setelah mandi dan makan sore, dirinya hendak pergi menyusul tapi saat dia hendak masuk ke mobilnya, Fathu melihat sang istri turun dari sebuah mobil yang asing baginya. Fathu menatap interaksi Amira dan pengendara yang mengantarkan istrinya.
"Kenapa Bayu masih juga mendekati istriku? padahal sudah berkali-kali aku ingatkan untuk menjauhi istriku, masih saja nekat! Dasar gak punya akhlak!" sudah kesal sekali rasa hati Fathu.
"Terima kasih, Om! Sudah berbaik hati anterin Amira, kalau gak, pasti Amira masih Luntang lantung di jalan, tadi Amira sudah menunggu taksi hampir satu jam, tapi gak dapat juga," ucap Amira sebelum masuk ke kompleks pondok.
"Kamu kenapa gak menelpon suami kamu? Minta di jemput sama dia!" cicit Bayu heran.
"Amira gak punya nomor Mas Fathu, Om!" ucap Amira, demi mendengar apa yang Amira sampaikan Bayu sampai geleng-geleng.
"Kok bisa, gak punya nomor suami kamu?" tanya Bayu keheranan. Amira hanya tersenyum.
"Keasyikan bulan madu, Om! Jadi sampai lupa minta nomor suamiku!" ucap Amira sambil menunduk, malu rasanya.
__ADS_1
"Kamu ada-ada aja, udah sana masuk. Sudah mau malam! Om pulang dulu, takut Sulis cariin!" Bayu lalu berlalu dari hadapan Amira.
Amira lalu berjalan kaki menuju kediaman mertuanya. Ya, untuk sementara mereka tinggal bersama mertua Amira. Karena pondok pesantren yang akan di kelola oleh Fathu masih dalam proses pembangunan. Baru 50% progressnya. Tadi Amira sudah melihat lokasinya. Tempatnya bagus dan sejuk. Amira suka tempat itu.
"Bukankah tadi ustadz Razak bilang kalau Amira ikut bersama Aby dan Umy? Kenapa malah di antar oleh Bayu?" Fathu terus menatap nyalang kedua insan tersebut. Hatinya di bakar cemburu. Istrinya telah dua kali melanggar aturan yang sudah dia buat. Emosi sudah naik ke ubun-ubun, tapi Fathu masih menunggu sang istri sampai ke tempat dirinya sekarang.
"Assalamualaikum, Mas! Ko udah ganteng aja. Mau kemana?" tanya Amira dengan senyum merekah, senang kedatangannya di sambut Suaminya. Tapi saat melihat sang suami yang berwajah masam, hati Amira seketika kecut.
'Salah apa lagi aku?' bathin Amira.
"Masuk!" ucap Fathu keras. Dirinya sudah tidak mampu menahan rasa kesal di hatinya. Salam dan jabat tangan sang istri saja dia abaikan.
"Apa saya bikin salah, Mas?" tanya Amira heran.
Amira sudah bergetar, ketakutan. Tanpa terasa air matanya lolos begitu saja. "Aku tadi ikut sama Aby dan Umy, tapi kemudian mereka memintaku untuk pulang duluan. Aku bosan di rumah, makanya aku tadi mencari pekerjaan bagi diriku sendiri. Saat akan pulang, tanpa sengaja bertemu dengan Om Bayu. Sama sekali tidak ada niat berduaan dengan Om Bayu. Kami juga tidak janjian seperti yang Mas kita. Pertemuan kami murni kebetulan saja!" suara Amira bergetar. Merasa sakit hati dengan bentakan sang suami. Tanpa tahu duduknya perkara, dia sudah marah-marah gak jelas.
Amira sudah mengorbankan dirinya demi sang suami, bahkan rela mengorbankan impiannya untuk kuliah bersama Sulis. Demi memenuhi keinginan sang suami yang ingin fokus bikin Baby. Tapi apa Suaminya lakukan sekarang? Menuduh dirinya main gila dengan ayahnya Sulis. Sungguh keterlaluan! Amira tidak bisa memaafkan suaminya yang sudah merendahkan dirinya.
Amira pergi ke kamarnya, gak perduli dengan panggilan suaminya. Amira mengambil koper kecil yang dia bawa waktu itu dari rumah sakit.
"Untung aku belum membawa banyak barang ke sini. Untung juga aku belum tandatangani kontrak dengan pasangan yang akan menempati rumahnya ayah. Alhamdulillah!" setelah barang-barang sudah masuk, Amira langsung keluar dari kamarnya dan pergi dari rumah suaminya.
Fathu yang melihat istrinya membawa koper kecil miliknya, merasa heran dan tambah emosi.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya masih kesal.
__ADS_1
"Mas, gak baik bicara dalam keadaan emosi. Aku akan tinggal di rumah ayahku, nanti kalau hati Mas sudah lega, Mas bisa mencariku. Aku permisi!" Amira langsung ambil langsung seribu dan tidak memperdulikan panggilan suaminya.
Fathu mengambil kunci mobilnya, niatnya akan mengejar Amira, tapi Amira sudah duluan pergi dengan taksi yang kebetulan melintas di depan kompleks pondok pesantren.
"Sial, tidak tahu nomor telepon istriku lagi!" Fathu ingin mengejar istrinya ke rumah almarhum mertuanya. Tetapi suara adzan Maghrib berkumandang, Fathu berhenti dulu di masjid terdekat. Melaksanakan sholat di sana.
Sementara itu, Amira yang sudah sampai di rumah ayahnya mendapatkan kenyataan bahwa pasangan yang dua hari lalu bilang akan pindah ke rumah ayahnya sudah datang. Membawa barang-barang mereka. Setelah perjanjian sewa menyewa di tandatangani. Amira menerima pembayaran dari pasangan tersebut. Rumah itu di sewa selama tiga tahun dan sudah dibayar lunas oleh mereka. Barang-barang Amira di simpan di ruang tamu. Nanti dia akan ambil setelah menemukan tempat yang lebih kecil untuk tempat tinggal dirinya. Rumah ayahnya memang sangat besar. Amira merasa takut kalau hanya tinggal sendirian di sana. Banyak kenangan disana yang membuat Amira akhirnya mau setuju dengan kontrak yang di ajukan tersebut. Amira akan menggunakan uang tersebut untuk membeli rumah kecil untuk dirinya di dekat tempat kerja yang tadi siang di dapatkan.
Disinilah Amira, Setelah bicara dengan pemikiran restoran, pemiliknya mengusulkan Amira untuk tinggal di mess karyawan saja. Amira setuju, karena lumayan juga kalau dia kontrak atau Belu. pasti butuh uang banyak.
Uang yang tadinya akan dia belikan rumah kecil, dia tabung untuk daftar kuliah saja. Amira sudah tidak memikirkan masalah pernikahannya dengan Fathu. Hatinya masih sakit dengan tuduhan tidak mendasar dari suaminya.
"Welcoming my world! Aku pasti bisa hidup sendiri walaupun tanpa suami!" Amira terus menyemangati dirinya sendiri.
Amira membuka ponselnya, mencari-cari informasi tempat kuliah yang menyediakan ekstensi. "Aku akan kuliah sambil bekerja!"
"Kamu anak baru, ya?" tiba-tiba seseorang menyapa Amira, Amira yang masih syock hanya bisa menatap ke arah sumber suara.
"Kak Erik? Kok kakak ada di sini?" tanya Amira bingung. Erik tersenyum melihat pujaan hatinya ada di hadapannya saat ini.
"Ini restoran milik keluarga aku!" jawab Erik.
"Oooooooooo!" Amira tidak bisa menyembunyikan kekagetan dirinya.
"Mati aku!" rutuk Amira mulai menyesali keputusannya untuk kerja di restoran tersebut.
__ADS_1