
Adrian diam saja, ketika dinasehati oleh ayahnya. Adrian sadar, bahwa dia terlalu keras terhadap Syifa. Karena memang saat ini hatinya sedang merasa cemburu, karena istrinya ternyata masih memikirkan Rasya.
Adrian tidak mengerti, kenapa hatinya selalu merasa jengkel setiap Syifa menyebutkan nama Rasya di hadapannya. Padahal Adrian tahu betul, bahwa Syifa dan Rasya tidak mempunyai hubungan apapun dalam artian kata "spesial".
"Baiklah Pah Adrian akan mencoba untuk bisa mengerti tentang Syifa yang mungkin lebih mementingkan sahabat daripada suaminya!" ucap Adrian dengan nada lemas.
"Memangnya kapan aku mementingkan sahabatku daripada suamiku? Buktinya Aku ada di sini menemani kamu. Bukannya bersama Pak Rasya, sahabatku! Kau sungguh betul-betul hilang akal dan logika kamu nggak mau digunakan!" sengit Syifa tidak peduli lagi walaupun di situ ada kedua mertuanya.
Syifa saat ini benar-benar sangat terluka melihat Adrian yang tampaknya tidak menghargainya sebagai istrinya.
Padahal pernikahan mereka baru saja 1 bulan tetapi seakan rasanya setahun.
"Sabar Syifa jangan terbawa emosi. Segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik-baik dengan kepala dingin. Bukan dengan kepala panas dan mendidih semacam itu!" kembali Kesya mengingatkan menantunya agar jangan sampai terbawa emosi.
Shifa menarik nafasnya dengan berat kemudian dia melirik kepada Kesya lalu Syifa menundukkan kepalanya. Syifa merasa malu karena dia sudah membentak Adrian di depan kedua orang tuanya.
"Maafkan, Mah! habisnya Ardian tuh ngeyel sekali. Dia nggak bisa diomongin dari tadi dia selalu saja bikin emosi!" ucap Syifa dengan suaranya yang mulai pelan. Syifa merasa tidak enak kepada kedua mertuanya.
"Tidak apa-apa kami mengerti perasaanmu saat ini. Memang kalian masih harus banyak belajar untuk mengerti satu sama lain!" ucap Kesya sambil mengelus kepala Syifa.
"Adrian, Ingat pesan Papa! Jangan kau tunjukkan wajah cemberutmu itu di hadapan kedua mertuamu. Jangan sampai mereka tidak tenang dan tidak nyaman, ketika mereka memberikan putrinya ke dalam tanggung jawabmu!" pesan Andika kepada Adrian.
"Ya, Pah! Adrian pasti akan berusaha semampunya Adrian untuk bisa menahan perasaan ini agar tidak marah terhadap Syifa!" mendengarkan apa yang dikatakan oleh Adrian Syifa benar-benar merasa tersinggung.
"Kau mengatakan hal seperti itu, seakan-akan Aku ini adalah seorang pendosa besar yang tidak pantas kau maafkan!" ucap Syifa kemudian dia menatap kepada Kesya.
"Maafkan Syifa Mah! Kalau Syifa dianggap tidak sopan oleh Papa dan Mama. Tapi saat ini, Syifa tidak sanggup untuk bisa bersama dengan Adrian. Syifa minta izin untuk keluar dari mobil ini!" kemudian Syifa meminta kepada sopir mertuanya untuk berhenti di pinggir jalan agar dia bisa turun dari mobil itu.
Adrian terkesiap dengan apa yang dilakukan oleh istrinya. Adrian tidak menyangka kalau Syifa akan bersikap nekat seperti itu.
"Kamu mau ke mana Syifa? Aku sebagai suami kamu, tidak mengizinkanmu untuk keluar dari mobil ini!" ucap Adrian dengan nada lantang.
"Kau tanyalah kepada dirimu sendiri! Apakah Kau layak menjadi seorang suami? Maafkan sekali lagi Mah, Pah! Syifa pergi dulu!" Syifa kemudian langsung meninggalkan mobil tersebut, tanpa mengingat kopernya yang ada di mobil tersebut.
Adrian kemudian turun dari mobil, kemudian dia mengejar Syifa.
__ADS_1
"Maafkan aku, Adrian! Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan untuk menjadi istrimu. Mari kita batalkan saja pernikahan kita!" ucap Syifa sambil berderai air mata.
Adrian terus menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan apa yang diinginkan oleh Syifa saat ini.
"Apa maksudmu dengan membatalkan pernikahan kita? Jangan bersikap konyol seperti itu Syifa!" ucap Adrian sambil mencekal kedua tangan Syifa dan berusaha untuk menariknya masuk ke dalam mobil.
Sementara itu, Andika dan Kesya yang menatap Adrian dan Syifa saat ini sedang bertengkar di tengah jalan.
Akhirnya ikut turun dan mencoba untuk membuat mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil.
"Syifa sayang! Tolong dengarkan mama ya?Ayo kita cari hotel terdekat. Agar kita bisa berdiskusi secara kepala dingin. Jangan sampai nanti kalian berantem seperti ini di depan kedua orang tuamu. Mereka pasti akan tidak senang, tidak akan tenang menyerahkan kamu kepada kami?" ucap Kesya dengan suara lembut mencoba untuk membujuk Syifa. Andika menatap Syifa dengan tajam.
Syifa menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian dia pun masuk ke dalam mobil kembali dan mengikuti saran Kesya untuk berbicara di hotel terdekat bersama dengan Adrian.
Syifa hanya diam di perjalanan menuju hotel. Syifa tetap diam. Sama sekali tidak mau memandang kepada Adrian. Hatinya saat ini benar-benar sedang sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh Adrian. Seakan Adrian tidak menghargainya sama sekali sebagai seorang istri.
Setelah sampai di hotel yang terdekat. Mereka pun langsung menyewa satu buah kamar agar mereka bisa berbicara secara privat. Agar pembicaraan mereka bisa berlangsung dengan tenang tanpa gangguan dari siapapun.
Tidak lama kemudian, terdengar panggilan telepon yaitu berasal dari Kyai Ilham yang menanyakan keberadaan Syifa dan Adrian.
"Sebentar lagi kami akan segera sampai di sana, tolong tunggu sebentar ya!" Kesya kemudian menutup panggilan telepon tersebut.
Kesya menatap kedua orang yang saat ini sedang berantem. Adrian dan Syifa.
"Maafkan saya Mah! Tapi apakah bisa kalau kita batalkan saja pernikahan ini?" ucap Syifa begitu mereka semua sudah masuk ke dalam kamar tersebut.
"Sabarlah, Sayang! Ayo kita bicara dulu ya? Kamu duduk dulu yang tenang. Tarik nafas, ok?" menuruti apa yang dikatakan oleh Kesya.
Adrian menatap Syifa dengan nyalang. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ada dalam pikiran Syifa saat ini.
"Aku tidak mau membatalkan pernikahan kita!" keukeuh Adrian.
"Tapi aku akan tetap mengajukannya ke pengadilan agama. Untuk membatalkan pernikahan kita berdua. Aku tidak sanggup untuk menjadi istri seorang laki-laki posesif seperti kau!" ucap Syifa dengan penuh kemarahan.
Ketika Adrian akan menjawab apa yang dikatakan oleh Syifa. Tangan Adrian sudah dipegang oleh Andika dan meminta Adrian untuk duduk.
__ADS_1
"Syifa! Tolong dengarkan apa yang akan disampaikan oleh papa! Semoga kau bisa menghargai kami berdua yang ada di sini?" ucap Andika dengan suara baritonnya.
"Pernikahan itu bukan sebuah permainan yang ketika menginginkannya harus dilaksanakan secepatnya. Dan ketika sudah tidak menginginkannya, maka harus dilepaskan begitu saja. Berpikirlah secara dewasa! Karena kau bukan lagi anak kecil!" ucap Andika sambil menatap tajam kepada Syifa. Sejak tadi Adrian terus diam karena dia menghormati ayahnya Syifa, sahabatnya.
Tetali apa yang dilakukan oleh Syifa memang terlalu berlebihan. Bagaimana mungkin hanya karena masalah kecil seperti itu. Sampai ingin membatalkan pernikahan mereka berdua yang baru berjalan satu bulan lamanya.
"Maafkan saya Pah! Kalau Papa menganggap bahwa saya kurang ajar. Tapi saya sudah yakin, bahwa saya akan membatalkan pernikahan saya bersama dengan Adrian!" sudah bangkit dari kursi dan bersiap untuk meninggalkan kamar hotel tersebut.
Sampai akhirnya Adrian menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari sana. Untuk meninggalkan kedua orang tuanya yang saat ini sedang bingung menghadapi pertengkaran mereka berdua.
Adrian kemudian memesan kembali satu buah kamar untuk mereka berdua bisa bicara secara pribadi.
Yuk baca novel terbaru author, yang berjudul
" Ketika Cinta Mulai Di Pertanyakan" masih anget, baru publish hari ini. Terimakasih ya..
Deskripsi sekilas tentang novel baru
Hilya menggantikan kakaknya untuk menikah dengan seorang Zaki, putra dari Kiai tempat dia mondok saat ini.
Menjadi pengantin pengganti sang kakak di usianya yang masih 20 tahun. Hilya harus menerima status barunya sebagai istri seorang Zaki. Dosen muda yang mengajar di kampus tempatnya kuliah.
Ketika sebuah cinta mulai di pertanyaan, apakah Hilya akan sanggup melalui pernikahan dengan kondisi semacam itu?
Dimana satu sama lain sudah tidak saling menghargai dan tidak saling membutuhkan keberadaan satu sama lain.
Mampukah Zaki dan Hilya membina pernikahan mereka yang mulai di pertanyaankan rasa cinta terhadap pasangan nya masing-masing?
Bagaimana keduanya akan sanggup bertahan dalam rumah tangga yang dari awal memang tanpa cinta terhadap satu sama lain?
Yuk saksikan kisah mereka sampai akhir dan jadilah saksi, bagaimana Hilya akan bertahan dalam pernikahan tanpa cinta bersama Zaki.
Sanggupkah Hilya membuat suaminya jatuh cinta kepada dirinya??
__ADS_1