
"Adrian daripada kau mondar-mandir seperti itu, lebih baik kamu mengaji dan murojaah. Bukankah, nantimertuamu meminta kamu untuk setorin hafalan kamu?" tanya Kesya yang akhirnya hanya menerima anggukan dari Adrian.
"Ya sudah Mah! Adrian murojaah dulu di kamar!" Adrian pun kemudian masuk ke kamarnya. Dan Mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang mengganggunya.
Kemudian Kesya mendengar sayup-sayup Adrian yang tengah bermurojaah. Menghafal kembali hafalan yang sudah dia kuasai.
"Mana Adrian, sayang?" tanya Andika mencari putranya.
"Sedang bermurojaah, Pah! Kan kemarin Kyai Ilham meminta agar Adrian menyetorkan kembali hafalannya ketika ijab kabul nanti!" ucap Kesya sambil berlalu dari hadapan suaminya.
"Mah kenapa sih? Tidak dilakukan persiapan di rumah utama aja di sini kan sempit!" protes Cakra karena melihat seisi apartemen, yang kini penuh dengan barang-barang yang akan dikemas untuk seserahan pernikahannya Adrian dan Syifa.
"Sudah! Biarkanlah! Daripada repot kita bawa-bawa lagi ini semua. Toh, setelah ini juga akan langsung dibawa ke kediamannya mempelai perempuan!" ucap Kesya menolak ide daripada Cakra.
Cakrakemudian memilih untuk masuk ke kamarnya. Dan menelepon Sulis untuk datang ke situ. Untuk membantu segala persiapan karena merasa kasihan kepada mamanya yang sibuk sendiri.
Ayahnya memang sudah mengirimkan beberapa karyawan perempuan dari perusahaan Abimana grup, untuk membantu sang istri dalam menyiapkan segala kebutuhan pernikahan. Tapi tetap saja tampak mamanya ity kerepotan dan kesusahan untuk mengatur segalanya sendiri.
"Sayang kok kamu nggak ke sini sih? Bantuin Mama dong Kasihan Mama!" ucap Cakra ketika sambungan teleponnya sudah tersambung dengan Sulis.
"Ya maaf ya. Ini Papa baru saja datang dari luar negeri. Jadi ya ngurusin Papa dulu!" ucap Sulis sambil mempersiapkan makan siang untuk ayahnya.
"Ya sudah, yah! Aku lagi nyiapin makan siang nih untuk papa. Nanti aku ke situ setelah selesai ngurusin Papaku!" ucap Sulis kemudian menutup panggilan teleponnya.
"Siapa sayang? Kenapa Kau tampak serius sekali?" tanya Bayu sambil duduk di meja makan.
"Cakra Pah! Dia meminta Sulis untuk ke apartemennya Adrian untuk membantu orang tuanya mempersiapkan pernikahan Adrian." ucap Sulis sambil mempersiapkan makan siang Ayahnya.
"Pernikahan Adrian? Apakah jadi?" tanya Bayu tampak terkejut.
"Jadilah, Pah! Besok acaranya!" ucap Sulis.
Bayu tampak melebarkan matanya. Seakan tidak percaya bahwa pernikahan Adrian adalah besok. Padahal dia belum mendengar kabar dari sahabatnya itu, Andika.
__ADS_1
"Ini kartu undangan Papa. Kemarin kan, waktu kartu undangan ini datang, Papa lagi di luar negeri!" ucap Sulis, sambil menyodorkan kartu undangan tersebut kepada ayahnya.
"Tidak nyangka, beneran ini Adrian mau menikah?" tanya Bayu seakan tidak percaya.
"Iya Pah, kemarin waktu pertemuan keluarga. Mereka bertanya tentang rencana pernikahan Sulis dan Cakra!" ucap Sulis tampak tertekan.
"Apakah Cakra sudah melamarmu?" tanya Bayu kepada putrinya. Sulis menggeleng.
"Sulis pernah bilang kepada Cakra. Kalau Sulis ingin kuliah dulu. Ingin konsentrasi menyelesaikannya!" jawab Sulis.
"Lalu masalahnya apa?" tanya Bayu sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Masalahnya kedua orang tua Cakra, tidak suka. Kalau kami berpacaran lama-lama!" uca Sulis sambil menunjukkan kepala.
"Papa bisa mengerti pemikiran mereka karena Papa tahu karakter dan sifat mereka!" ucap Bayu dengan tenang.
"Jadi bagaimana dong, Pah? Sulis belum siap untuk menjadi seorang istri!" ucap Sulis.
"Apakah kamu siap kalau kehilangan Cakra?" tanya Bayu tiba-tiba.
"Iya kalau kamu tidak siap untuk menikah dengan Cakra. Berarti kamu harus mempersiapkan dirimu untuk kehilangan Cakra!" ucap Bayu sambil menatap putrinya.
"Sulis mencintai Cakra, Pah! Kayaknya akan sulit kalau sulit kehilangan dia!" ucap sulis menundukkan kepala.
"Berarti kamu harus mempersiapkan dirimu, untuk menikah dengan Cakra. Setelah pernikahan Adrian!" ucap Bayu to the point.
"Apa itu tidak terlalu cepat?" tanya Sulis terkejut. Dengan kemungkinan yang diutarakan oleh ayahnya.
"Papa hanya menganalisis kedua calon mertuamu. Kemungkinan akan seperti itu. Karena Papa kenal dengan mereka sejak dulu!" ucap Bayu.
Sulis tampak melamun, dia tidak mendengar bahwa sejak tadi ponselnya terus berdering. Cakra terus memanggilnya.
"Ke mana sih Sulis? Kenapa dari tadi tidak diangkat juga?" tanya Cakra yang terus mondar-mandir di kamarnya.
__ADS_1
"Kamu sedang apa Cakra? Bukannya kamu membantu papamu di luar. Begitu banyaknya tamu yang datang!" ucap ibunya.
"Cakra sedang menunggu Sulis, mah! Sejak tadi dia dihubungin tidak mau diangkat juga!" ucap Cakra tampak frustasi.
"Ya sudah biarkan saja. Mungkin masih sibuk di rumahnya. Yang penting sekarang kamu temani Ayahmu itu menemui tamu-tamu!" perintah Kesya tidak mau di bantuan.
Dengan malas Cakra pun akhirnya mengikuti perintah Ibunya dan pergi keluar kamar. U tuk menemani ayahnya yang sedang menemui para koleganya.
"Acaranya besok, tapi tamu sudah banyak jam segini!" Cakra terus menggerutu.
"Kan Kita mau mengadakan pengajian, Cakra! Kamu kenapa sih? Tinggal temani Papamu menyambut para tamu!" ucap Kesya kesal.
Sementara itu di kediaman Syifa tidak kalah sibuk dengan di kediaman Adrian. Acara siraman dan juga pengajian sudah digelar di sana. Walaupun resepsi pernikahan akan dilaksanakan di gedung yang sudah dipesan. Tetapi ijab kabul akan dilaksanakan di kediaman mempelai perempuan.
Oleh karena itu kesibukan di sana sangat luar biasa. Syifa tampak sedang dipasangkan mehendi di jari tangannya dan juga jari-jari kakinya. Supaya cantik.
"Ingat Syifa. Kamu harus berpuasa ya hari ini Supaya besok jadi pangling!" ucap ibunya.
Keluarga Kyai Hamid yang dari Indramayu sudah datang di kediaman kyai ilham. Hanya Rasyid yang sudah meluncur ke kediaman Kesya. Membantu keponakannya yang akan menikah.
Marry dan Alvian juga sebetulnya sudah datang, bersama anak dan juga keluarganya Alvian. Tetapi mereka sedang beristirahat di rumah utama kediaman Abimana. Karena mengingat di apartemennya Adrian saat ini sangat ramai orang.
Mereka akan datang ke pernikahan Adrian besok, ketika akan dilaksanakan ijab kabul dan resepsi pernikahan mereka di kediaman mempelai wanita.
"Tampaknya sangat ramai ya, pernikahannya Adrian ini!" ucap Alvian kepada Merry.
"Maklumlah, namanya juga pernikahan seorang pewaris. Pewaris Abimana grup!" ucap Merry dengan senyuman manisnya.
"Semoga pernikahan mereka langgeng dan bahagia!" doa Alvian.
Mereka semua baru saja sampai dari Pontianak. Oleh karena itu, mereka masih sangat lelah sekali dan memutuskan untuk beristirahat dulu. Agar besok fresh dan sehat.
Anaknya Merry seorang laki-laki, yang kini sedang aktif-aktifnya dan sangat senang bermain. Kakek dan neneknya tampak begitu menyayanginya. Mengingat Aldo adalah cucu pertama di keluarga mereka.
__ADS_1
"Aldo hati-hati mainnya! Jangan berlari-lari nanti kau jatuh!" ucap neneknya sambil mengawasi Aldo yang masih saja asik berlarian ke sana kemari.