Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
95. Cakra Drop Total


__ADS_3

"Baik Tuan Andika! Anda jangan khawatir! Saya pasti akan membantu Anda untuk bisa menemukan dalang dari pembunuhan istri anda. Saya pastikan pihak hotel pasti akan bekerja sama dengan pihak keepolisian untuk menyelidiki kematian istri Anda!" ucap manajer hotel dengan gemetar. Dia sangat takut ketika melihat wajah Andika saat ini yang begitu menakutkan.


"Bagus! Kalau kau bisa melakukan itu, akan kupastikan kau akan mendapatkan hadiah besar dariku!" ucap Andika sambil melirik sejenak kepada manager tersebut.


Andika lalu langsung meninggalkan hotel menuju kediaman Abimana untuk mengurus pemakaman istrinya.


Setelah sampai di kediaman Abimana, Andika langsung mendatangi Adrian yang saat ini sedang sibuk mengurus pemakaman ibunya.


"Bagaimana Adrian? Apakah semuanya sudah beres?" tanya Andika kepada putranya yang saat ini sedang duduk di hadapan jenazah ibunya, tampak Adrian penampilannya sangat lecek dan berantakan.


"Sudah, Pah! Kita hanya tinggal menunggu Kak Merry dan Kak Alvian. Mereka dalam perjalanan menuju kemari. Mereka meminta untuk kita menunggunya, karena mereka juga ingin menghadapi pemakaman mama!" ucap Adrian sambil terus menutup lurus ke depan mana jenazah ibunya yang sudah selesai dikafani dan siap untuk dibawa ke makam.


Andika membuka kain penutup jenazah Kesya, istrinya. Dia menatap wajah istrinya untuk yang terakhir kali sebelum di bawa ke pemakaman dan istirahatkan disana untuk selamanya. Tampak air mata berderai di mata Andika saat ini.


Begitu besar rasa cinta Andika terhadap Kesya. ( Ya Allah susah sekali mau nulis part ini, sesek author rasanya) Andika memeluk tubuh Kesya dengan erat. Di ciumnya wajah sang istri yang begitu cantik. Tampak senyum dan bersinar di wajah sang istri tercinta.


Di kejauhan, tampak Kiai Ilham juga kini sedang menangis, air matanya tak berhenti berderai ( Author juga nangis pak Kiai, gemetar jari saya ketika menulis part ini😭😭😭 sesek dada author juga, bagaimana dengan reader? Apakah sama? Juga dapat merasakan kesedihan kami karena hari ini Kesya meninggal? Kalau kalian baca kisah hidup dan kisah cinta antara Kesya, Andika dan Kiai Ilham, di "Assalamualaikum ustadz ku" kalian pasti ikut sedih juga dengan meninggalnya Kesya dan bisa mengerti kenapa Andika begitu mencintai wanita sholehah ini)


"Semoga Allah menempatkanmu di sisinya! Kau wanita yang baik, Kesya!" lirih Kiai Ilham.


Tampak Qonita di sampingnya. Qonita bisa mengerti dengan kesedihan suaminya saat ini. Yang merasa sedih dengan kepergian Kesya, orang telah berstatus sebagai mertua dari putrinya, Syifa.


Tampak Syifa menatapnya nyalang ke jenazah Kesya yang sudah siap untuk dimakamkan.

__ADS_1


Syifa melirik sekilas kepada Adrian suaminya. Tampak ada penyesalan di hatinya. Karena di hari terakhir Ibu mertuanya. Dirinya telah memberikan waktu terberat untuknya. Dengan meminta pembatalan pernikahannya bersama Adrian, sang suami.


Syifa tidak berani untuk mendekati Adrian saat ini. Karena dia pun masih merasa bersalah karena sudah memberikan waktu yang buruk untuk Adrian sebelum Ibunya meninggal.


"Syifa kau dekatilah Adrian! Hiburlah dia, dia pasti saat ini sangat sedih karena ibunya meninggal!" bisik Qonita di telinga putrinya.


"Iya Umi, nanti biarkan Mas Adrian memiliki waktunya sendiri. Mungkin dia masih ingin melepaskan kerinduannya bersama ibunya sebelum pemakaman!" ucap Syifa dengan suara gemetar.


Padahal, sesungguhnya Syifa tidak memiliki nyali untuk mendekati Adrian saat ini.


Jarak Syifa dan Adrian memang lumayan jauh. Karena Syifa berada di antara para pelayat yang lain. Sementara Adrian berada tepat dihadapan jenazah ibunya yang sudah siap untuk dibawa ke pemakaman.


Cakra hingga saat ini masih pingsan di dalam kamarnya. Dia belum juga sadar. Sejak tadi dokter sudah berusaha untuk mengobati Cakra tetapi masih belum berhasil.


Setiap kali sadar, Cakra selalu menangis dan kemudian pingsan lagi. Sehingga membuat Sulis menjadi sangat prihatin dengan keadaan tunangannya tersebut.


Ketika akan keluar dari kamar Cakra, tiba-tiba ada seorang yang menabrak Bayu.


"Ya ampun! Kalau jalan tuh hati-hati ya, Om! Jangan sembarangan nabrak-nabrak orang!" ucap sebuah suara yang familiar di telinga Bayu. Sekilas Bayu melihat suara tersebut dan dia terkejut ketika mendapatkan sebuah kenyataan bahwa wanita itu adalah seseorang yang pernah dia temui di bandara.


"Kamu? Bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Bayu tampak terkejut melihat Amanda yang saat ini melihatnya dengan rasa penasaran.


"Ya ampun Om! Seharusnya saya yang bertanya, kenapa Om bisa ada di rumah keluarga saya?" ucap Amanda sambil memutar bola matanya dengan malas.

__ADS_1


"Rumah keluargamu Apa maksudmu?" tanya Bayu merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Amanda.


"Mama Kesya itu Mamaku dan Papa Andika itu ayahku! Jadi jelaslah, ini adalah rumahku! Anda nggak usah sok bodoh deh!" ucap Amanda dengan jutek lalu kemudian dia masuk ke dalam kamar Cakra.


"Cakra bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah lebih baik?" Amanda mendekati adiknya, kemudian memeluk Cakra yang saat ini sedang lemah karena meninggalnya Kesya, ibu yang sangat dia sayangi.


"Kak Amanda, kenapa Mama harus pergi secepat ini? Tanpa pemberitahuan maupun peringatan kepada kita. Padahal tadi pagi, kita masih ngobrol sama-sama Mama! Kenapa tiba-tiba sekarang mama Udah nggak ada kak?" ucap Cakra sambil memeluk Amanda.


"Sabarlah ya Dik! Ayo kita bergabung dengan yang lain. Daripada kau menangis seperti ini terus, lebih baik kita mengaji untuk mama. Kirimkan doa terbaik untuk beliau. Hadiah terakhir kita untuk mama kita!" ucap Amanda mencoba untuk memberikan nasehat kepada adiknya yang kini menangia tersedu-sedu.


"Cakra nggak kuat Kak! Setiap kali melihat Mama, rasanya tubuh ini lemas sekali. Tak sanggup untuk berdiri!" ucap Cakra lemah.


"Kamu harus kuat Dek! Saat ini Mama membutuhkan kita untuk memberikan doa terbaik untuk Mama. Kita harus kuat untuk bisa mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan yang terakhir, untuk menuju keharibaan ke sisi Allah! Ayo Kakak akan Memapahmu. Kau tidak usah khawatir Kakak akan selalu berada di sampingmu!" ucap Amanda sambil mengelus rambut Cakra memberikan kekuatan kepada adiknya yang saat ini hampir jatuh pingsan lagi.


"Kamu siapa?" tanya Amanda ketika melihat Sulis yang duduk di dekat Cakra.


"Saya tunangannya Cakra Kak Amanda!" ucap Sulis sambil menatap Amanda yang tampak mengerutkan keningnya.


"Tunangan Cakra? Kenapa saya tidak tahu tentang kamu?" tanya Amanda tampak keheranan sambil menatap Sulis.


Di depan pintu kamarnya Cakra, tampak Bayu yang sedang memperhatikan interaksi antara Amanda dengan Cakra dan juga putrinya.


"Ya Tuhan jadi gadis barbar itu benar-benar anaknya Kesya dan juga Andika? benar tidak percaya kalau Kesya bisa memiliki Putri seperti itu!" ucap Bayu pelan dan lirih, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya bahwa Amanda adalah putri dari Kesya dan Andika.

__ADS_1


Bayu kemudian meninggalkan kamar itu dan pergi menuju ruang tamu untuk bergabung dengan para pelayat yang lainnya yang sudah siap untuk berangkat ke pemakaman.


Karena Merry dan Alvian yang ditunggu sudah datang dan mereka saat ini sedang di hadapan jenazah Kesya. Menangis sedih dan juga mengirimkan doa untuk kakak iparnya yang sangat dia sayangi.


__ADS_2