
Rasya langsung menarik tangan ibunya ke mobil kemudian melajukan kendaraannya menuju rumah tanpa kemarahan di wajahnya sehingga membuat Syafa merasa ketakutan.
Begitu sampai di rumah mereka Rasya langsung menarik tangan ibunya untuk masuk ke dalam rumah.
"Mama bisa nggak sih? Untuk berhenti membuat Rasya malu di mana-mana. Apa Mama tahu? Mama sudah mempermalukan diri Mama sendiri?" ucap Rasya sambil bertolak pinggang di hadapan ibunya.
"Jadi, kamu lebih memilih mereka, daripada ibumu sendiri? Ibu yang sudah melahirkan kamu, merawat kamu, dan besarkanmu. Dan sekarang kau merasa malu dengan ibumu? Kau sungguh anak yang luar biasa!" ucap siapa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Rasya menggeram frustasi menatap ibunya yang kini sudah mulai mengamuk lagi.
Selama beberapa hari ini, kondisi psikologis Syafa memang sangat terganggu. Dia sering sekali menghabiskan waktunya dengan minum beralkohol, sudah tingkat Kecanduan. Sehingga kesadaran Syafa kadang suka hilang begitu saja.
"Bukan itu maksudnya, Rasya, Mah! Mama bisa tidak sih? Untuk melupakan rasa sakit hati Mama dengan masa lalu yang sudah begitu lama berlalu. Cobalah untuk berdamai, berdamai, maka Mama bisa menemukan kebahagiaan mama!" ucap Rasya sambil menggenggam tangan ibunya yang kini menangis terisak.
"Dengarkan Rasya, Mah! Mama harus nurut sama Rasya. Kita harus ke psikiater, kita harus mengobati penyakit Mama ini. Kita tidak bisa memberikannya lebih lama lagi. Kesehatan mental Mama harus diperbaiki, agar Mama tidak menyakiti hati orang lain lagi!" ucap Rasya sambil memeluk ibunya.
"Apakah kamu berpikir, bahwa Mama ini telah menjadi perempuan gila, Rasya? Sampai kau ingin membawa Mama ke seorang psikiater?" tanya Syafa saya akan tidak percaya kepada putranya sendiri.
"Bukan itu maksudnya Rasya, Mah. Rasya hanya ingin, agar mama bisa menemukan ketenangan hidup dan bisa melupakan masa lalu Mama yang menyakitkan itu!" ucap Rasya sambil mengelus pipi ibunya untuk menghapus air matanya.
"Tapi mama tidak sakit, Rasya! Mama tidak perlu pergi ke orang psikiater, Mama tidak gila!" Syafa terus memberontak dalam pelukan Rasya, sehingga rasa kesulitan untuk memegang tangan ibunya.
"Mah, Tenanglah! Tenang, Ma! Tolonglah!" ucap Rasya berusaha untuk menenangkan ibunya saat ini.
"Rasya tidak bilang kalau mama gila, Rasya hanya ingin mengobati emosi Mama yang meledak-ledak ini. Itu tidak baik, Mah! Mama akan hidup terus menderita kalau seperti ini, kita harus mengobati penyakit ini mah!" Rasya berusaha untuk meyakinkan ibunya agar mau dibawa ke psikiater.
__ADS_1
"Ketergantungan Mama terhadap alkohol juga harus diobati. Itu bisa bisa menggerogoti kesehatan mama, perlahan-lahan! Kesadaran mama jadi terganggu karena mama lebih banyak mabuk dan minum alkohol setiap hari!" Rasya sambil menggenggam tangan ibunya. Syafa tampak berderai air matanya.
Keadaan Syafa saat ini benar-benar sangat mengenaskan. Rasya bahkan tidak bisa meninggalkan ibunya barang sejenak. Dia khawatir kalau ibunya melakukan sesuatu yang bodoh.
Rasya kemudian mengambil ponselnya, memberitahukan kepada karyawannya, bahwa hari ini dia tidak akan masuk bekerja karena dia harus menjaga ibunya.
"Tolong kamu handle dulu pekerjaanku. Karena aku tidak bisa meninggalkan ibuku di rumah. Ya, sudah terima kasih ya!" ucap Rasya di panggilan telepon dan kemudian menutupnya dengan tergesa-gesa.
Rasya langsung pergi ke kamar Ibunya dan memeriksa Apakah Ibunya sudah benar-benar tidur. Tadi Rasya memberikan obat tidur kepada ibunya, agar Ibunya bisa istirahat dengan tenang.
Syafa terus berteriak histeris sehingga membuat Rasya merasa kesulitan untuk mengendalikannya. Akhirnya dengan terpaksa, Rasya memberikan obat tidur tersebut kepada ibunya. Agar Ibunya bisa tidur dan bisa melupakan rasa sakitnya untuk sementara.
"Bagaimana dengan pertemuan nanti malam? Aku tidak bisa meninggalkan Mama seperti ini!" ucap Rasya kepada dirinya sendiri.
"Sebaiknya Aku menelpon papa, supaya Papa tidak menungguku nanti!" kemudian Rasya pun mencari nomor telepon ayahnya yang ada di ponselnya.
"Kenapa lagi kali ini dengan ibumu? Kenapa dia tidak juga berhenti membuat masalah?" Firman menggeram kesal.
"Tadi Mama bertemu dengan tante Laila dan Yuke di salon. Dan terjadi pertengkaran hebat. Setelah itu, mama langsung mengamuk di rumah. Sekarang kondisi Mama sangat memprihatinkan, Pah!" ucap Rasya lesu.
"Kau harus membawa ibumu ke psikiater! Dia harus diobati! Supaya mentalnya kembali sehat, tidak seperti orang gila seperti itu!" Firman kesal kemudian dia langsung menutup teleponnya.
Rasya sebenarnya merasa sakit hati mendengarkan apa yang diucapkan oleh ayahnya tadi tentang ibunya.
Ayahnya lah yang telah merubah ibunya menjadi seperti itu. Karena dulu, ibunya adalah seorang wanita yang cerah dan ceria. Wanita yang hidup dengan optimis dan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
Ayahnya yang tiba-tiba menikah lagi dengan Laila, yang membuat Syafa berubah kepribadian menjadi seorang yang sangat pemarah dan juga tidak bisa mengendalikan emosinya. Bahkan kini telah menjadi seorang pecandu alkohol.
Rasya menarik nafasnya dalam-dalam, melihat kembali kondisi ibunya yang sedang terlidur lelap karena pengaruh obat tidur yang tadi dia berikan.
Rasya duduk di samping Ibunya dan mengelus pipi ibunya, yang kini terlihat semakin keriput. Tampak sekali banyak penderitaan di sana yang membuat Rasya merasa sangat sedih dan terus merasa iba kepada ibunya.
"Rasya harus bagaimana, Mah? Bagaimana caranya menanggapi semua ini? Rasya hanya ingin melihat Mama bahagia. Tetapi kenapa Rasanya sangat sulit sekali?" ucap Rasya sambil mengelus wajah ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Maafkan Rasya, Mah. Kalau Rasya sudah membuat Mama semakin menderita. Rasya sendiri tidak tahu, harus melakukan apalagi, untuk bisa membuat Mama bahagia!" ucap Rasya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Rasya sangat menyayangi ibunya. Dia menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengurusi ibunya. Bahkan dia tidak memiliki kehidupan pribadi sama sekali. Rasya tidak pernah mengenal seorang perempuan sama sekali. Karena hidupnya hanya sibuk untuk mengurus ibunya, yang mentalnya sekarang sedang terganggu.
Rasya kemudian meminta ke pembantu yang bekerja di rumahnya untuk segera Menyiapkan makan malam untuk dirinya dan ibunya.
" Tolong segera siapkan makan malam untuk kami sebentar lagi Ibuku mungkin bangun dan dia pasti akan merasakan lapar!" Rasya memberikan perintah kepada pembantunya tersebut.
Sejak ibunya tinggal bersama dirinya di apartemen. Rasya memang mencari seorang pembantu untuk bisa menolong ibunya. Kalau sedang mabuk dan tidak sadarkan diri.
Sehingga Rasya pun bisa bekerja dengan tenang di luar. Ketika dia meninggalkan ibunya, bersama pembantu yang selalu siap sedia membantu ibunya.
" Baik tuan saya akan segera laksanakan!" ucap pembantu itu sambil tersenyum ke arah Rasya. Rasya hanya mengangguk, kemudian dia masuk ke kamar ibunya lagi.
Rasya memastikan, bahwa keadaan ibunya baik-baik saja. Sejujurnya, saat ini pikiran Rasya sedang tertuju kepada pertemuan antara Yuke dan calon suaminya. Rasya sangat penasaran tentang pertemuan itu.
"Apakah aku pergi saja ya? Biar mama dijaga oleh si mbok saja. Rasanya aku juga tidak bisa tenang di sini!" ucap Rasya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Rasya kembali melirik kepada ibunya yang masih lelap dalam tidur.