
"Papa dan Mama sudah sampai di apartemenku! Dan sekarang mereka sedang menunggu kita untuk makan malam bersama.
"Mereka pasti kecewa kepada kita berdua. Kalau sampai jam segini aku masih juga bersamamu!" ucap Syifa sendu.
"Mereka pasti ngerti kok, kalau kita sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan kita. Sudahlah, kau jangan terlalu memikirkan hal seperti itu. Yang penting kan, kita tidak melakukan hal yang dilarang oleh agama!" ucap Adrian sambil meremas jemari Syifa.
Syifa terhenyak sejenak, sejak Adrian selalu membuat sentuhan fisik terhadap dirinya, Syifa selalu merasa, bahwa jantungnya seakan hampir melomcat dari tempatnya.
"Kenapa?" tanya Adrian keheranan.
"Tidak apa-apa!" jawab Syifa sambil menarik jemarinya dari pengenggaman tangan Adrian.
Adrian tersenyum melihat calon istrinya yang kini wajahnya tampak merona dan semakin menambah kecantikan wajahnya.
"Apakah aku boleh, untuk meminta sesuatu padamu?" tanya Adrian yang membuat Syifa kaget. Takut kalau Adrian akan meminta yang aneh-aneh kepada dirinya.
"Apa?" tanya Syifa gugup.
"Aku mau, nanti setelah kita menikah, kamu kalau pergi keluar rumah, menggunakan niqab ya? Karena aku tidak mau ada laki-laki lain yang bisa melihat wajahmu. Aku ingin, hanya aku yang bisa melihatnya!" ucap Adrian sambil meraih jemari Syifa lagi dan kemudian menciumnya dengan lembut.
"Aku tidak bisa menjanjikan hal tersebut. Kita akan lihat nanti. Setelah pernikahan terjadi. Ayo cepatlah! Aku takut kalau kedua orang tuamu sudah menunggu kita!" ucap Syifa gugup. takut galau Adrian melakukan hal-hal yang lebih daripada itu terhadap dirinya.
"Nggak apa-apa, paling mereka sudah makan malam duluan. Aku kan, kenal dengan Ayahku, ayahku tuh, paling gak bisa nahan lapar. Maklumlah namanya juga orang sudah tua!" ucap Adrian tersenyum.
"Lah kamu tahu, kalau ayahmu tidak bisa menahan lapar. Lalu kenapa dari tadi kamu berlama-lama di sini? Bukannya bergegas pergi. Sehingga kita bisa makan malam bersama dengan kedua orang tuamu.
"Baiklah! Ayo kita segera meluncur ke apartemen. Semoga aja sih, mereka belum makan duluan!" ucap Adrian kemudian mulai melajukan kendaraan yang dia kendarai menuju apartemennya.
Begitu sampai di apartemen miliknya, Syifa langsung digenggam tangannya oleh Adrian. Untuk sama-sama masuk apartemen miliknya. Syifa sebenarnya menolak, tetapi Adrian tidak menerima bantahannya.
"Kenapa sih? Sejak aku memutuskan mau menikah denganmu. Kau jadi posesif seperti ini. Aku malu tahu di depan umum kita bertegangan tangan seperti ini. Sementara kita belum resmi menjadi suami istri!" protes Syifa, tetapi Adrian tampak acuh saja.
"Adrian!" panggil Syifa kesal.
"Kenapa?" tanyanya cuek.
__ADS_1
"Bisa melepaskan tanganku tidak? Aku malu tahu!" ucap Syifa cemberut.
"Udah nggak papa! Lagi pula, apartemenku juga sudah nyampe. Kenapa sih? Nggak ada juga yang ngeliatin kita!" ucap Adrian cuek.
"Allah dan para malaikat yang melihat kita!" ucap Syifa pelan.
"Allah pasti mengerti, bahwa aku hanya ingin melindungi apa yang menjadi milikku!" ucap Adrian malah semakin mengeratkan genggamannya, Syifa sampai meringis kesakitan, sangking kuatnya.
"Maaf, ya!" ucap Adrian sambil mencium telapak tangan calon istrinya itu.
"Kau tahu? Terkadang, sekarang aku merasa takut kalau berada di dekatmu!" ucap Syifa. Adrian hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Syifa.
Setelah mereka sampai di depan unit apartemen milik Adrian, Syifa langsung merenggut jemarinya dari genggaman tangan Adrian. Karena merasa takut, kalau nanti kedua orang tuanya Adrian melihat kelakuan mereka berdua yang terlalu intim.
Adrian tidak protes dengan apa yang dilakukan oleh Syifa, dia pun langsung memasukkan kode pintu apartemennya, dan masuk bersama Syifa.
Di dalam apartemen, ternyata sudah ramai dengan orang yang sudah menunggu mereka berdua. Ada Cakra bersama Sulis. Fathu bersama Amira. Ayah dan Ibunya beserta kedua orang tuanya Syifa juga sudah hadir.
"Wah, ramai sekali!" ucap Adrian senang.
"Kalau masuk ke dalam rumah itu, biasakan Ucapkan salam dulu baru mengatakan yang lain!" tegur Kesya.
"Assalamualaikum semuanya! Bagaimana kabar kalian semua? Syifa harap semuanya baik-baik saja!" ucap Syifa sambil menyalami semua orang yang ada di ruang tamu tersebut.
"Begitu dong! Itu baru namanya calon menantuku!" ucap Andika bangga. Syifa hanya tersipu, mendengar pujian calon ayah mertuanya.
" Abi sama Umi. Bagaimana kabarnya?" Syifa langsung memeluk uminya dan duduk di sampingnya. Adrian tampak protes, tapi tidak bisa melakukannya. Karena di sana banyak orang yang memperhatikannya.
Maunya Adrian, Syifa duduk di sampingnya. Bukannya berjauhan seperti itu. Membuat dia rasanya sudah rindu lagi. Ah, Adrian sudah bucin tingkat dewa ternyata terhadap calon istrinya itu.
"Ayo kita mulai makan malamnya, kebetulan peran utamanya sudah datang! Yang sejak tadi kita tunggu, sampai kita kelaparan seperti ini!" ucap Cakra sambil melirik kakaknya yang kini menatap dirinya dengan tajam. Cakra hanya bisa meringis, karena takut melihat kakaknya yang hampir menghajarnya lagi.
"Kalau kau kelaparan, kau tinggal makan saja!Emangnya siapa juga yang mau makan bersamamu!" sengit Adrian sambil menatap adiknya tersebut.
"Adrian kamu itu, sudah mau menikah masih saja begitu dengan adikmu. Apa tidak bisa kau akur, huh?" tegur Andika kepada kedua putranya. Adrian dan Cakra langsung ciut nyalinya.
__ADS_1
"Apa kabar, brother?" sapa Adrian kepada Fathu yang sejak tadi tampaknya terus memperhatikan istrinya, Amira.
"Kabar baik, Alhamdulillah!" ucap Fathu.
"Tampaknya Kak Amira sedang hamil ya?" tanya Syifa tampak takjub.
"Ya, Alhamdulillah, sudah masuk jalan 3 bulan!" ucap Amira tersenyum bahagia.
"Tenang! Nanti kita berdua juga akan segera menyusul mereka berdua. Nanti kita tanding, anaknya siapa yang jauh lebih tampan!" ucap Adrian dengan wajah sumringah.
"Kalau kemarin kau tidak menggagalkan rencana pernikahan yang sudah kami susun, mungkin sekarang kalian sudah dalam posisi yang sama!" ucap Kiai Ilham yang Sejak tadi diam saja. Adrian hanya merisingis saja. Menyadari kesalahan dirinya yang terlalu terbawa emosi dan rasa cemburunya.
"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting kan, mereka berdua kini sudah sadar dan mau melanjutkan rencana pernikahan mereka berdua!" ucap Kesya.
"Ya udah, ayo kita semua ke meja makan saja. Biar kita makan dulu. Setelah itu kita bisa berbincang bebas!" ajak Kesya.
Sejak tadi Kesya dan Qonita serta Sulis, sibuk di dapur. Menyiapkan makan malam untuk mereka semuanya. Sulis tampaknya sudah bisa beradaptasi dengan orang tuanya Cakra dan sudah siap menjadi menantu mereka.
"Mas, kamu mau makan apa?" tanya Sulis kepada Cakra. Sehingga semua orang memperhatikan keduanya yang selalu harmonis dan rukun.
Sulis sudah memperlakukan Cakra selayaknya suaminya. Malam ini, Bayu tidak bisa hadir karena sedang ada di luar negeri sedang mengurus bisnisnya di sana.
Kalau hadir, mungkin saja akan dibicarakan juga rencana pernikahan untuk Sulis dan Cakra. Karena melihat keintiman mereka yang sudah terlalu dekat.
"Sulis kau juga makan! Sudah biarkan saja Cakra. Dia sudah besar, sebelum menikah, kau tidak mempunyai kewajiban untuk melayani dia. Biarkan dia melakukannya sendiri. Kau makanlah, Nak!" ucap Andika.
Sulis pun kemudian mengikuti apa yang diucapkan oleh ayahnya Cakra. Dia pun fokus dengan makanannya sendiri. Sementara Cakra tampak misuh-misuh karena ayahnya melarang calon istrinya untuk melayani dirinya di meja makan.
"Amira makan yang banyak ya? Biarkan bayinya sehat. Ini semua tante masak, khusus untuk kamu dan juga untuk sang bayi supaya sehat dan kuat!" ucap Kesya. Amira tersenyum.
" Terima kasih Tante atas perhatiannya!" ucap Amira sambil tersenyum. Akhirnya mereka pun semua fokus untuk makan.
Setelah selesai makan malam. Semuanya kembali ke ruang tamu dan mereka kembali membicarakan hal serius tentang rencana pernikahan Adrian dan Syifa.
"Alhamdulillah semua persiapan sudah lengkap. Kita hanya tinggal menunggu hari H saja. Kemarin kami berdua sudah seharian berkeliling. Untuk mempersiapkan segalanya. Betul kan sayang?" hanya Adrian sambil melemparkan senyum manisnya kepada Syifa. Syifa tersipu demi mendengar Adrian memanggilnya sayang di depan semua orang.
__ADS_1
"Iu...." ledek Cakra kepada kakaknya. Yang akhirnya menghadiahkan satu bantal ke arah kepalanya dari Adrian. Sehingga membuat Cakra pun akhirnya berlindung di belakang punggung ibunya.
"Mah! Lihatlah! Kak Adrian menganiayaku!" rajut Cakra manja. sehingga mengundang gelak tawa semua orang yang hadir di ruang tamu tersebut. Tidak terkecuali dengan Sulis, sang calon istri. Melihat kemanjaan Cakra terhadap ibunya.