Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
25.Amira Sadar


__ADS_3

Setelah pengaruh obat bius hilang, Amira sadarkan diri. Amira tampak bingung, kenapa dirinya ada di rumah sakit. Amira juga kaget saat mendapatkan suaminya yang tengah tertidur di samping nya sambil memegang tangannya.


"Apa kamu gak marah lagi sama aku, Mas?" tanya Amira pelan, tubuhnya masih lemas. Sehingga belum kuat untuk bangun. Amira mengelus rambut sang suami yang telah dia rindukan.


"Berpisah selama satu bulan saja rasanya terlalu berat, bagaimana kalau kita berpisah selamanya?" Amira merasa sedih, bulir demi bulir, air matanya menggenang di pipinya. Fathu yang merasakan ada pergerakan dari sang istri, akhirnya terbangun juga. Fathu merasa bahagia karena Amira sudah sadar. Fathu kemudian mencium kening sang istri penuh dengan kerinduan.


"Maafkan, Mas! Mas sungguh gegabah dengan marah gak jelas sama kamu! Tolong jangan pernah meninggalkan Mas lagi! Mas sungguh tidak sanggup untuk berpisah dengan kamu!" Fathu mencium telapak tangan Amira.


Amira merasa terharu mendengar permohonan maaf Suaminya, tidak ada yang dia butuhkan, dia hanya ingin bersama sang suami.


"Kenapa aku ada di rumah sakit?" tanya Amira.


"Kamu jatuh, karena di dorong oleh istrinya Erik, apa kamu tidak ingat kejadian itu?" tanya Fathu.


Amira menggelengkan kepalanya,"Aku hanya ingat, Seorang wanita menjambak rambutku, lalu aku tidak ingat apa-apa lagi!" jawab Amira tampak bingung. Fathu menatap sendu Amira.


"Sayang, apakah ada yang sakit?" tanya Fathu.


Amira menggerakkan kepalanya, Fathu merasa bersyukur, kalau istrinya baik-baik saja.

__ADS_1


Fathu ingin bertanya perihal kehamilan pada Amira, tapi dirinya khawatir Amira merasa syock tentang keguguran yang telah di alami oleh Amira.


'Biarlah, itu menjadi rahasia kecilku, aku rasa tidak perlu untuk mengatakan tentang itu, Amira pasti akan sedih kalau tahu anak kami telah meninggal bahkan sebelum lahir ke dunia ini.' bathin Fathu.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu tampaknya resah sekali, kalau kau punya masalah, katakan padaku, aku juga ingin menjadi bagian dari hidupmu!" ucap Amira pelan. Fathu mengulas senyum termanis untuk istrinya, agar Amira tidak curiga dengan perasaan sedihnya saat ini.


"Tidak, sayang! Mas hanya senang, kita bertemu lagi. Mas sudah ketakutan kita tidak akan bertemu untuk selamanya. Kamu tidak tahu, sayang! Mas mencari-cari kamu kemana saja, tapi selalu gagal. Bahkan Aby membentuk team khusus tapi gagal juga. Untung saja, saat kamu kecelakaan, Erik ingat untuk datang ke rumah ayahmu. Jadi penghuni baru rumah ayah, menghubungi Mas, sehingga kita bisa bertemu kembali!" cerita Fathu.


"Maafkan, Mas! Saat itu, aku hanya malas untuk bertengkar. Aku paling tidak suka ribut-ribut. Aku pergi untuk menenangkan diri. Tapi pas aku ke rumah ayah, ternyata yang mau ngontrak udah bawa barang-barang mereka dan siap pindah. Aku jadi gak enak untuk membatalkan. Maafkan aku ya, Mas! Aku gak berniat kabur darimu. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berkomunikasi denganmu. Untuk datang ke pondok pesantren, aku rasa gengsi. Aku takut kalau kamu masih marah sama aku! Hiks hiks!" Amira sudah menitikkan air mata, perasaan sedih sekali terasa setiap ingat malam-malam sapinya, saat merindukan sang suami.


"Mas, apa kamu masih marah sama aku? Aku sungguh tidak ada hubungan apa-apa sama Om Bayu. Dia hanya ayah dari Sulis, sahabat aku! Tidak lebih, Mas!" ucap Amira pelan.


"Iya, sayang! Mas tahu, sudah, jangan bicara lagi. Ayo kita tidur, pasti kamu sudah lelah bukan?" Fathu mengulas senyum dan membelai rambut istrinya tercinta. Amira bahagia karena kini telah berkumpul kembali dengan suaminya.


"Dokter, istri saya sudah sadar, dia mengeluhkan kalau perutnya sakit. Apa itu berbahaya?" Fathu tampak cemas dan panik.


"Kita akan tahu setelah saya memeriksa istri Anda!" jawab dokter sambil bangkit dan menuju ke ruangan Amira. Dokter berhenti saat Fathu mengatakan sesuatu.


"Dokter, saya ada permintaan kecil, tolong jangan katakan kepada istri saya, perihal keguguran itu. saya tidak mau, kalau istri saya nanti jadi terbebani, dan menghambat pemulihan dirinya." ucap Fathu penuh dengan ke khawatiran.

__ADS_1


"Kita akan lihat nanti, Pak! Karena kami juga tidak bisa menutupi sebuah fakta apabila pasien bertanya. Kalau ada apa-apa nanti pasti kami yang akan di salahkan. Kalau menurut pendapat saya, ada bagusnya kalau istri Anda diberitahukan masalah keguguran itu, agar kedepannya lebih berhati-hati lagi Biasanya, seorang wanita apabila pernah mengalami keguguran, itu rentan mengalami nya kembali. Jadi istri Anda harus ekstra hati-hati. Apakah Anda paham?" tanya Dokter. Fathu mengangguk paham.


"Ayo kita periksa istri Anda, semoga tidak apa-apa, kalau kondisinya membaik, dua hari lagi sudah bisa pulang. Tapi ingat, Pak! Jangan melakukan aktivitas *** dulu. Fisik istri Anda masih lemah, rahimnya juga masih menyelesaikan dan masih proses pemulihan. Nanti tunggu setelah 40 hari, baru aman untuk melakukan aktivitas itu!" Fathu jadi malu karena dokter begitu gamlang menjelaskan ibadah paling indah tersebut.


"Jangan khawatirkan itu, Dokter! Saya bisa bersabar menunggu istri saya sehat!" ucap Fathu malu-malu. Dokter sampai tersenyum simpul melihat reaksi Fathu yang malu-malu.


"Bapak dan ibu masih pengantin baru, ya?" tanya Pak dokter kepo. Fathu hanya mengangguk.


Setelah sampai di ruangan Amira, dokter langsung memeriksa kesehatan Amira, "Ibu, ini hanya proses penyembuhan, semuanya baik-baik saja. Jangan lupa obatnya di minum. Perbanyak istirahat, jangan terlalu stress!" setelah memeriksa dokter lalu kembali ke ruangannya.


Tidak lama kemudian, Sulis dan Bayu datang untuk menjenguk Amira. "Bestie! Aku kangen!" Sulis langsung memeluk Amira dengan erat.


"Ih, kamu jahat! Masa kabur gak ajak-ajak aku! Kabur sendiri aja! Tidak asyik, deh!" Sulis cemberut dan membuat Amira jadi gemes.


"Ukhti, masa iya, kabur ajak-ajak, sih? Nanti ayah kamu bisa-bisa memasukan aku ke dalam daftar buronan. Karena menculik Putri kesayangan beliau. Pewaris Iswara Group! Aku masih ingin hidup, Ukhti!" cicit Amira gemes.


"Ih, kamu gak asyik!" protes Sulis


"Kamu udah baik-baik aja, kan? Yang sabar, ya bestie! Kamu masih muda, pasti mudah buat kamu punya anak lagi. Ikhlas ya, sayang!" Sulis memeluk Amira dengan erat, memberikan kekuatan kepada sahabatnya yang baru saja kehilangan anak pertamanya. Fathu menarik nafas dalam-dalam. 'Terlambat!' rutuk dirinya.

__ADS_1


"Apa maksudnya? Siapa yang kehilangan anak?" Amira tampak bingung, matanya memberi kode kepada suaminya. Agar menjelaskan ada apa sebenarnya, karena Amira merasa bingung.


"Iya, sayang! Anak kita sudah meninggal, gara-gara kamu di dorong oleh istrinya Erik, kamu tenang saja, sayang! Mas sudah memenjarakan perempuan keji itu!" ucap Fathu sambil menggenggam tangan istrinya yang mulai gemetar ketakutan. Amira auto menangis.


__ADS_2