
Setelah menemui Rasya, Firman pun kembali ke rumah. Di sana, Firman menemukan Laila yang sedang menelpon Putri mereka, yang lebih memilih tinggal di luar rumah daripada bersama mereka.
"Kapan kamu pulang? Mama sudah merindukan kamu, sayang!" ucap Laila, Firman memberi ciuman di pipi Laila, kemudian dia pergi ke kamar mandi. Bebersih setelah di luar seharian. Firman ingin beristirahat setelah itu.
Setelah selesai mandi, Firman pun mendekati Laila, yang masih juga sibuk berbicara dengan Yuke, Putri mereka.
"Suruh anak kita itu, untuk pulang malam ini. Kalau tidak, Papah akan membekukan semua kartu yang dia miliki!" ancam Firman sambil berbaring di samping Laila, lalu memeluk pinggang sang istri yang masih sibuk bicara dengan Yuke di sebrang sana.
"Kau sudah dengar bukan itu? Apa yang ayahmu katakan. Pulanglah malam ini, atau dia akan membekukan semua kartu yang kau miliki. Ya udah Mama pergi dulu ya? Mama mau istirahat, Papamu sudah menunggu Mama!" Laila pun akhirnya menutup telepon dan berbaring di samping Firman. Firman langsung menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Laila, menghirup wangi tubuh sang istri.
"Kamu tahu? Sampai sekarang, aku menggilai wangi tubuhmu. Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa seperti ini. Selama bertahun-tahun kita bersama, perasaan ini masih belum juga berubah!" ucap Firman lembut, sambil mengecup leher Laila.
"Apakah Kau juga merayu Syafa dengan cara seperti ini?" tanya Laila sarkas. Firman mendesah frustasi.
"Ayolah! Tolong hentikan! Jangan mulai membahas masalah Syafa lagi. Hal itu hanya akan membuatmu jadi hilang mood! Seharian ini, aku sudah sangat kesal sekali karena memikirkan dia. Bisakah kita melupakannya? Aku janji, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku juga sudah mengusir dia dari rumah yang aku berikan dan sekarang rumah itu, telah aku sewakan kepada orang lain. Kau bisa tenang sekarang, sayang!" ucap Firman, masih asyik bergerilya di tubuh istrinya.
"Bukankah, akan datang Syafa Syafa yang lainnya dalam hidup kamu? Bukankah Mas, selama ini tidak pernah puas dengan satu perempuan dalam hidupmu?" tanya Laila, dia tampaknya tidak terpengaruh dengan rangsangan yang berusaha di berikan oleh Firman.
Hati Laila saat ini sedang tidak fokus terhadap hal seperti itu. Saat ini, pikiran Laila hanya ingin mengetahui. Sejauh manakah? Petualangan sang suami, selama berada di luar sana seharian, tanpa keberadaannya.
"Tidak akan ada Syafa yang lain. Hanya akan ada Laila dalam hidupku!" Firman kini sudah melepaskan semua pakaian Laila, dan sudah asyik mengekspresikan perasaan cintanya kepada sang istri.
Ya, semarah apapun, Laila pasti akan selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Suaminya. Jangan sampai nanti hal itu di jadikan alasan untuk selingkuh atau jajan di luar sana oleh Suaminya. Laila paling tidak suka hal-hal yang kotor dan tidak steril.
__ADS_1
"Sayang, walaupun usia pernikahan kita sudah puluhan tahun, Putri kita juga sudah berusia 25 tahun, tetapi, aahhhhh kamu masih nikmat sekali sayang!" rancau Firman di sela-sela aktifitas yang sedang dia lakukan.
"Walaupun nikmat, kau masih juga doyan, dengan daging busuk di luar sana!" sinis Laila. Tetapi Firman tidak menanggapi hal itu, karena dirinya sedang fokus mendapatkan kenikmatan untuk dirinya sendiri.
Setelah puas, Firman memeluk sang istri, dan memejamkan matanya. Malas untuk bertengkar dengan Laila. Karena akibatnya akan sangat fatal. Bisa-bisa nanti dia harus puasa sebulan penuh. Laila kalau sudah marah selalu begitu. Memboikot kesenangan dirinya di atas ranjang. Membuat dirinya frustasi sendiri.
Karena apa yang dikatakannya tidak ditanggapi oleh sang suami. Akhirnya Laila memilih untuk tidur juga dalam pelukan sang suami yang sudah terlelap duluan. Karena dia juga merasa lelah, setelah melayani sang suami yang tampaknya selalu bergairah terhadap dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Rasya yang kini sedang menemui ibunya di sebuah hotel, tampak marah kepada Syafa.
"Bisa-bisanya Mama mau melakukan hal seperti itu? Apakah mama tidak malu, menjilat ludah yang sudah mama keluarkan? Bukankah dulu mama yang bersikeras menginginkan perceraian dengan Papa? Kenapa sekarang Mama, malah berusaha untuk menarik Papa lagi ke dalam pelukan Mama? Tolong Mah! Di dunia ini, banyak laki-laki! Dan Mama ini masih cantik, kalau Mama mau, pasti akan ada laki-laki yang bisa membuat Mama jatuh cinta lagi!" sengit Rasya merasa jengkel terhadap kelakuan Mamanya itu. Yang masih berusaha untuk mendekati ayahnya yang sudah bercerai lebih dari 20 tahun.
"Mama hanya mencintai Papa kamu, Rasya! Mama sudah berusaha untuk membuka hati, tapi tidak bisa! Hanya Papa kamu yang Mama cintai, Rasya! Tolonglah kau mengerti. Mengertilah perasaan Mama saat ini!" ucap Syafa sambil terisak-isak. Rasya melirik sinis kepada ibunya.
"Sejak dulu, Mama mencintai Papamu. Hanya saja, Papa kamu yang lebih mencintai Laila daripada Mama. Itu yang membuat Mama dulu kalap dan gelap mata. Sehingga akhirnya meminta untuk bercerai dari Papa kamu. Mama nggak bisa bohongin perasaan Mama, Rasya! Mama sendiri tidak tahu, kenapa Mama begitu mencintai Ayah kamu!" ucap Syafa dengan suara parau.
Rasya terdiam sejenak, menatap ibunya yang saat ini masih berderai air mata. Bahkan sampai sekarang, Rasya tidak mengerti kenapa ibunya yang sudah disakiti oleh ayahnya itu, masih belum bisa melepaskan ayahnya yang sekarang sudah hidup bahagia bersama istri yang dulu lebih dia cintai daripada ibunya.
"Stop bicara masalah cinta! Rasya muak sekali, Mah!" Rasya kemudian meninggalkan Mamanya di hotel itu.
"Rasya, kamu mau kemana? Bukankah kamu belum makan malam, Nak?" Syafa mengejar Rasya.
__ADS_1
"Rasya gak lapar, Mah! Mama makan sendiri saja!" Rasya langsung pergi dan tidak mempedulikan Mamanya lagi.
Sepanjang perjalanan, Rasya terus menerus merutuki nasib keluarganya yang tidak pernah beres. Ibunya yang masih belum bisa move on dari ayahnya. Sungguh membuat Rasya merasa frustasi.
Rasya ingin menenangkan diri di sebuah dermaga kecil. Di sana Rasya menemukan seorang perempuan yang juga sedang termenung seorang diri di sana. Awalnya Rasya ketakutan, barangkali itu adalah hantu yang sedang menyendiri di sana. Tapi semakin dekat, Rasya akhirnya mendapatkan kenyataan, ternyata itu adalah Yuke. Karyawan yang bekerja di cafe miliknya.
"Yuke? Sedang apa kau malam-malam di dermaga? Apa kau tidak takut dibawa oleh hantu?" sapa Rasya pada Yuke. Yuke yang terkejut, akhirnya mendongakkan kepalanya. Lalu tersenyum.
"Pak Rasya? Kenapa Anda juga bisa berada di sini?"tanya Yuke, terkejut, melihat kakak tirinya juga ada di situ.
"Aku sedang suntuk, banyak pikiran yang membuat aku tidak bisa tidur. Oleh karena itu, aku memilih pergi ke sini, untuk menyendiri dan mencari ketenangan. Tidak disangka malah bertemu dengan kamu. Kamu sendiri, kenapa? Kenapa seorang gadis berani menyendiri di dermaga sepi seperti ini. Apa kamu tidak takut hantu gitu?? Atau preman usil atau apa itu? Kamu nggak takut?" tanya Rasya.
"Aku nggak takut sama hantu. Aku lebih takut kepada hati manusia. Yang kita nggak tahu, apa isinya. Apakah dia orang baik, ataukah orang munafik. Yang hanya ingin memanfaatkan kita!" ucap Yuke sambil melihat ke dermaga yang gelap dan tenang.
"Aku juga kalau nggak enak perasaannya, pasti selalu datang ke sini. Ini aneh banget, karena kita berdua bisa memiliki tempat yang sama, untuk mencari ketenangan. Ya? Tapi setelah begitu lamanya, kita baru bertemu kali ini. Sungguh aneh!" ucap Rasya sambil menatap Yuke dengan dalam. Yuke memalingkan wajahnya dari tatapan mata Rasya. Merasa takut sendiri. Tatapan Rasya yang begitu dalam, Yuke takut tenggelam di sana. Dan tidak mampu untuk keluar lagi.
"Sudah berapa lama? Kamu menemukan tempat ini untuk menyendiri?" tanya Rasya dengan tenang.
"Sejak SMA, aku selalu datang ke sini. Kalau sedang gundah atau sedang ingin sendiri. Atau sedang ingin merenungkan tentang arti kehidupan. Hahahaha, aku seperti orang tua banget ya? Mengatakan hal seperti ini!" akhirnya mereka berdua pun tertawa bersama. Melewati malam itu dengan lebih mengakrabkan diri sebagai sahabat. Rasya tampaknya merasa nyaman dengan Yuke.
"Ayo kita pulang! Ini semakin larut saja. Saya takut, nanti ada hal-hal yang tidak diinginkan di sekitar sini. Itu akan sangat berbahaya bagi kamu. Seorang gadis. Apakah kau membawa mobil?" tanya Raya. Yuke hanya menggeleng.
"Aku tadi naik taksi ke sini. Bagaimana mungkin? Seorang karyawan biasa seperti aku, bisa memiliki mobil? Anda bisa saja bercanda Pak Rasya!" Mereka pun lalu tertawa bersama. Tampaknya Rasya memang sudah benar-benar nyaman bersama dengan Yuke. Tidak seperti biasanya, Rasya bisa bicara begitu bebas dengan seorang gadis dalam interval waktu yang begitu lama dan begitu dekat.
__ADS_1
Selama ini Rasya adalah pribadi yang introver dan tertutup. Rasya tidak menyukai keramaian. Kisah masa lalunya bersama dengan kedua orang tuanya. Yang telah membentuk pribadi seorang Rasya yang menutup diri dari keramaian maupun berhubungan dengan orang lain.
"Mari saya antar kamu ke rumah kamu!" ucap Rasya. Yuke hanya menggaguk saja. Tidak ada salahnya, kalau dirinya mencoba untuk mendekati sang kakak tirinya itu. Itu pikiran Yuke saat ini.