Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
54. Adrian bersama Syifa


__ADS_3

Setelah sampai di tempat tujuan, Adrian kemudian membawa Syifa menuju rumah tersebut. Syifa tampak ketakutan ketika berada di tempat itu. Sepi dan sunyi tidak ada siapapun di sana, hanya ada mereka berdua.


"Apa yang akan kau lakukan? Dengan membawaku ke tempat seperti ini? Jangan bertindak gegabah, Adrian! Aku pasti akan melaporkan kelakuanmu ini kepada Abi dan juga ayahmu!" ancam Syifa dalam ketakutan.


"Laporkan saja! Aku tidak takut kok! Paling juga, mereka akan langsung menikahkan kita berdua. Kau kira aku takut, huh? Bukankah mereka memang menginginkan kita untuk segera menikah? Lebih cepat, lebih baik, bukan? Gara-gara kamu waktu itu, berduaan dengan pria itu, aku terpaksa membatalkan pernikahan kita. Dan sekarang, aku rasa akan sangat bagus. Kalau sekarang aku mempercepat pernikahan kita. Pasti orang tua kita akan sangat bahagia!" ucap Adrian seperti orang kehilangan akal sehatnya.


Syifa sudah ketakutan melihat gelagat tidak baik yang ditunjukkan oleh Adrian saat ini. Syifa berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Adrian.


Adrian tertawa melihat ketakutan yang tergambar jelas di wajah Syifa saat ini. Adrian bahkan semakin mendekat ke arahnya, sehingga membuat Syifa tambah gemetar dan kini malah menangis tersedu-sedu.


"Kenapa kau ketakutan? Apakah kalau pria itu yang sekarang melakukannya, kau akan tertawa bahagia, huh? Seperti tadi, kau tampak sangat manja terhadapnya. Tetapi kenapa? Kau selalu ketus dan kasar apabila terhadapku, huh? Padahal aku adalah calon suami kamu!" ucap Adrian, kini Adrian malah menangis.


"Apa kamu tahu, betapa kedua orang tua kita sangat menginginkan kita berdua untuk menikah. Tetapi sikap dan kelakuan kamu selama ini, selalu membuat aku berpikir. Apakah aku ada harganya di mata kamu? Tetapi ketika kamu bersama dengan laki-laki itu, Kamu tampak begitu bahagia. Tampak begitu menikmati kebersamaan kalian. Apakah segitu bencinya kamu terhadapku? Emangnya apa yang sudah aku lakukan padamu? Sehingga kau selalu saja melakukan hal seperti itu padaku? Apa? Apa yang sudah aku lakukan terhadapmu? Sehingga kamu selalu membuat dinding pembatas yang tinggi terhadapku? Sehingga aku tidak mampu untuk memanjatnya. Katakan padaku! Katakan!" jerit Adrian frustasi.


Syifa kini mulai tenang, ketika melihat Adrian mulai terdiam. Tampaknya Adrian sedang berpikir, tetapi Syifa melihat mata Adrian yang berkaca-kaca. Seketika hati Syifa merasa mencelos.'Apakah segitunya, aku telah membuat seorang Adrian merasakan penderitaan?' bathin Syifa, mulai merasakan sakit melihat Adrian saat ini.

__ADS_1


"Maafkan aku! Kalau aku sudah membuat luka di hatimu! Aku, Aku hanya tidak ingin dijodohkan! Hanya itu saja! Aku hanya ingin melanjutkan kuliahku! Aku ingin mewujudkan impianku. Aku tidak mau menikah muda! Hanya itu saja!" Syifa berusaha menjelaskan apa yang dia lakukan beberapa saat lalu.


"Kau bisa tetap melanjutkan kuliahmu. Aku tidak akan melarangmu. Aku bahkan bisa menemani kamu. Aku bisa ambil S3 ku, sambil menemani kuliahmu. Kalau kau memang ingin kuliah aku tidak akan melarangmu! Aku hanya minta, agar kita menikah! Agar kita mewujudkan impian orang tua kita. Apa kau tahu? Mereka saat ini sangat bersedih. Bahkan Om Ilham kini sedang sakit. Semua itu gara-gara kita berdua! Apa kau tega melihat ayahmu sakit, hah? Kau sungguh benar-benar anak yang tidak berbakti!" ucap Adrian dengan penuh emosi.


Syifa seketika berderai air matanya. Ketika mendengarkan suatu fakta, bahwa kini ayahnya sedang sakit. Ya, sejak peristiwa pembatalan pernikahan tersebut, kedua orang tua Syifa memang telah kembali ke Jawa Timur. Begitu pula dengan kedua orangtuanya Adrian, telah kembali ke Dubai. Karena rasa kecewa mereka atas keputusan Adrian dan Syifa. Untuk membatalkan pernikahan mereka berdua untuk waktu yang tidak ditentukan.


"Dari mana kamu mengetahui kalau Abyku sakit? Kemarin aku meneleponnya, tapi kedua orang tuaku tidak ada mengatakan perihal itu?" ucap Syifa tampaknya tidak percaya. Adrian lalu mengambil ponselnya, lalu menunjukkan sebuah foto kepada Syifa.


"Foto itu dikirimkan oleh Tante Qonita, tadi siang. Lihatlah betapa ayahmu saat ini sangat menderita di rumah sakit. Semua itu adalah karena memikirkan anak bengal seperti kamu! Yang selalu memberikan beban pikiran untuknya. Apakah kau tidak bisa, memberikan sedikit ketenangan saja kepada kedua orang tuamu, huh? Jangan selalu kau membuat mereka menderita dengan kelakuan kamu yang ugal-ugalan itu!" sengit Adrian.


"Aku tidak mau menikah hanya karena alasan seperti itu! Aku ingin menikah dengan laki-laki yang kucintai dan mencintaiku! Aku tidak mau menghabiskan hidupku hanya karena alasan seperti itu. Aku tidak mau! Apa kau dengar?" ucap Syifa lebih keras lagi.


"Apakah kamu akan bahagia, kalau laki-laki yang kamu nikahi itu, adalah pria yang bernama, Rasya itu? Ya? Benar begitu? Kau sungguh tidak tahu malu! Dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu, di depan calon suami kamu sendiri!" Adrian matanya berkilat, emosi sudah menguasai hatinya saat ini. Syifa mulai ketakutan lagi.


"Aku tidak mengatakan hal seperti itu! Aku hanya bilang, Aku ingin menikah dengan laki-laki yang aku cintai dan mencintai aku! Aku nggak bilang, kalau aku ingin menikah dengan Pak Rasya. Kapan kau dengar aku mengatakan akan menikah dengan Pak Rasya? Jangan kau asal menari kesimpulan!" sengit Syifa mulai kesal.

__ADS_1


"Cih! Kau bahkan memanggilnya, Pak! Apa dia Begitu berharga di Matamu, hah?" sengit Adrian murka.


"Aku memanggilnya, Pak, karena dia memang adalah atasanku di tempat bekerja. Please deh, hentikan semua kegilaan kamu ini! Aku malah jadi muak terhadap Kamu tahu nggak?" ucap Syifa mulai kesal juga terhadap Adrian.


"Kau muak terhadapku, tetapi kau bahagia dengan laki-laki yang bernama Rasya itu, ya? Kau benar-benar wanita yang luar biasa!" Adrian lalu menarik tengkuk Syifa lalu ******* bibir yang gemetar ketakutan itu.


Awalnya, Syifa berontak dan terus memukuli tubuh Adrian, tapi lama kelamaan, Syifa malah membalas ciuman Adrian yang semakin menuntut dan memabukkan. Dalam satu hari ini, Adrian telah mencium dirinya tanpa permisi. Syifa sampai lemas karenanya. Adrian matanya semakin berkabut, tampak ada gairah di matanya. Tetapi Syifa menghentikan semua sebelum terlambat.


"Please! Tolong jangan lakukan hal seperti itu! Sebelum kita menikah. Jangan menghancurkan kepercayaan kedua orang tua kita. Kumohon padamu, Adrian! Tolonglah, untuk kendalikan dirimu. Tolong kendalikan hawa setan itu di dalam tubuhmu. Aku mohon Adrian! Hentikan semua ini! Aku janji aku bersedia untuk menikah dengan kamu! Asal kamu hentikan semua kegilaan ini. Aku tidak mau membuat kedua orang tua kita kecewa dengan kita! Aku mohon, Adrian!" ucap Syifa di sela-sela aktivitas ciuman mereka. Hampir saja, Adrian membuka pakaiannya. Kalau Syifa tidak mengingatkan Adrian.


"Astaghfirullahaladzim, Ya Allah, ya Robb! Ampunkanlah hambaMu, yang sudah gelap mata. Hampir saja hamba berbuat yang tidak-tidak terhadap calon istri hamba. Ampunilah hamba, ya Allah! Ampunilah hamba! Maafkan aku, Syifa karena sudah membuat kamu ketakutan tadi! Maafkan Aku!" ucap Adrian dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan aku juga, Adrian! Karena sudah membuat kamu menderita selama ini. Maafkan aku! Mulai sekarang, Aku janji aku pasti akan menerima pernikahan kita dengan ikhlas. Aku janji! Ya? Dan tolonglah! Hentikan semua kegilaan ini! Ok? Ayo kita pulang dan tinggalkan rumah ini! Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal yang haram itu, Adrian! Jangan perbah merusak keturunan kita dengan perbuatan setan seperti itu!" ucap Syifa sambil menatap mata Adrian dengan kelembutan.


"Maafkan Aku! Ayo kita pulang! Dan aku berjanji aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi kepadamu. Tetapi kau harus tepati janjimu, bahwa kita akan menikah secepatnya oke?" tanya Adrian kembali, ketika Syifa mengangguk, Adrian langsung mencium bibir Syifa lagi, tapi sekarang penuh dengan kelembutan. Sehingga Syifa menyambutnya dengan gembira, hanya sekedar ciuman.

__ADS_1


Setelah itu, Adrian Langsung kembali ke Jakarta dan mengembalikan Syifa ke kediamannya. Adian tampak bahagia. Sepanjangan perjalanan, dia terus menggenggam tangan Syifa. Syifa pun tampaknya merasakan getaran cinta yang dikirimkan oleh Adrian terhadapnya. Dan tanpa terasa, hatinya merasa berbunga-bunga. Ya, tanpa disadari Syifa pun telah jatuh cinta terhadap Adrian.


Ciuman itu, telah mengkonfirmasi perasaan mereka berdua terhadap satu sama lain. Adrian kini yakin, bahwa dirinya memang telah mencintai calon istrinya itu, dan berjanji akan segera mengurus pernikahan mereka berdua secepatnya, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


__ADS_2