Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
43. Cinta Kasih Orang Tua


__ADS_3

Hati Adrian tiba-tiba merasa pilu, entah karena apa. Calon istrinya, yang akan menikah 5 hari lagi dengannya, kini mengaku bahwa dirinya telah di perkosa oleh temannya. Ah, apa ada hal yang lebih menyakitkan daripada hal ini?


Adrian segera kembali ke apartemennya dan bertemu dengan kedua orang tuanya yang ternyata menunggu dirinya semalaman. Papa dan Mamanya sedang tertidur di sofa, menunggu kepulangan Adrian. Sementara Cakra tampak terlelap di kamar tamu.


"Pah, Mah! Kenapa tidak tidur di kamar?" tanya Adrian ketika membangunkan kedua orangtuanya.


"Oh, kamu sudah pulang? Mamah khawatir dengan kamu, Nak!" ucap Kesya sambil mengelus wajah Adrian dengan penuh kasih sayang. Adrian terharu, walaupun dia sudah dewasa, tetapi Mamahnya selalu memperlakukan dirinya seperti masih kecil dahulu.


"Maaf ya, Mah, Pah, sudah bikin Mama sama Papa jadi tidur di sofa gara-gara Adrian!" ucap Adrian sedih.


"Tidak apa-apa, sayang! Kalau bukan menunggu kamu, terus siapa lagi yang perlu Mama sama Papa tunggu? Kan, Kamu anaknya Mama sama Papa!" ucap Kesya, tampaknya masih mengantuk.


"Ayo kita salat subuh berjamaah panggilkan Cakra, supaya bisa sholat bersama!" ucap Andika, lalu merangkul Kesya ke kamarnya, mau mandi di kamar mandi di kamar mereka. Sementara Adrian membangunkan Cakra yang tampaknya masih terlihat mengantuk dan kelelahan.


"Cakra! Ayo, bangun! Kita salat subuh bersama, yuk! Itu Mama sama Papa sudah nungguin kita!" Adrian membangunkan adiknya satu-satunya itu.


" Masih ngantuk, Mas!" rengek Cakra.


"Ay bangun! Nanti jodohmu di patok sama ayam loh!" ucap Adrian sambil menarik selimut.


"Mas ini, ada-ada saja! Mana ada jodoh di patok ayam? Ada juga rejeki yang di patok ayam, Mas!" protes Cakra, sambil berjalan ke kamar mandi. Matanya masih setengah terpejam, ngantuk berat.


"Kau tidur jam berapa memangnya? Ko masih ngantuk sih?" tanya Adrian penasaran.

__ADS_1


"Semalam ada acara di sekolahnya Sulis, dia minta aku menemani dia ke acara itu, kami pulang jam 12 malam, sudah gitu, Sulis pakai acara nangis gitu, saat mau pindahan dengan teman-teman dia. OMG! Aduh! Kepalaku sampai pening, Mas! Tu cewek benar-benar biang keributan!" ucap Cakra frustasi.


"Makanya, nggak usah kau buang-buang waktu pakai acara pacar-pacaran! Kau tahu sendiri bukan? Dalam Islam itu tidak boleh adanya namanya pacar-pacaran! Haram hukumnya! Itu sama artinya kamu dengan mendekati Zina! Masuk neraka hukumannya!" ucap Adrian sambil melempar bantal ke pada adiknya yang masih senewen gara-gara acara semalam, Sulis baru tenang setelah di ajak keliling Jakarta sampai jam dua shubuh. Jadilah, Cakra sekarang mengantuk berat, sampai hampir nabrak pintu kamar mandi.


"Aduh, Mas! Tolonglah! Ini masih pagi, nggak usah ceramah dulu, oke? Aku benar-benar masih ngantuk ini! Nggak sanggup untuk berjalan!" ujar Cakra, malahan berbaring di depan pintu kamar mandi.


"Bangun! Atau nanti Mas adukan ke Mama dan Papa! Soal kamu pacaran dengan Sulis!" ancam Adrian dengan tatapan horornya, namun Cakra tidak mendengarkan ancaman Adrian, karena dia sudah lelap kembali.


Adrian menarik nafas dalam-dalam, merasa kesal melihat adiknya walaupun sudah besar tetapi kelakuannya masih seperti anak kecil. Sulit diatur dan hidup seenaknya sendiri. Adrian akhirnya memilih keluar saja. Pergi ke kamarnya sendiri dan bersiap-siap untuk sholat bersama kedua orang tuanya.


"Mana adikmu?" tanya Andika.


"Masih tidur, Pah! Ngantuk katanya!" ucap Adrian.


"Ya Allah! Itu anak! Setiap hari rasanya kok semakin nggak karuan saja! Pulang tidak teratur, bangun subuh terlalu terlambat! Ah, lama-lama Papa jadi tidak suka melihat dia berhubungan dengan Sulis! Membawa pengaruh buruk untuk anak kita!" ujar Andika kesal.


"Itulah, makanya Papa bilang, mulai tidak suka kalau Cakra berhubungan dengan Sulis. Sekarang jadwal hidupnya jadi kacau balau. Pulang nggak pernah tepat waktu lagi. Bahkan akhir pekan pun, dia sibuk memanjakan pacarnya itu. Papa tidak bisa lagi membiarkan hal ini lama-lama terjadi. Kita harus segera membicarakan hal ini dengan Bayu, jangan sampai nanti ada kejadian yang membuat kita menyesal selamanya!" ucap Andika serius.


"Ya udah,ayo kita sholat shubuh berjamaah dulu! Itu Adrian juga sudah turun dari kamarnya!" ucap Kesya.


Mereka bertiga akhirnya salat subuh berjamaah bersama, meninggalkan Cakra yang masih tertidur lelap di depan pintu kamar mandinya.


Setelah selesai salat dan berzikir serta membaca ayat suci Alquran, Kesya bergegas pergi ke kamar Cakra untuk membangunkan Putra kesayangannya itu, yang masih terlelap juga, padahal sudah jam 6 lagi.

__ADS_1


"Astagfirullah!" Kesya terkejut saat mendapatkan anaknya tidur di depan pintu kamar mandinya. Kesya sampai geleng-geleng, menarik nafas dalam-dalam.


"Bener kata Papa! Ah, sekarang Cakra benar-benar hidupnya kacau balau. Lihatlah! Dia sampai tertidur di depan pintu kamar mandi. Kalau Papanya melihat ini, sudah pasti dia bakalan langsung disuruh putus sama Sulis!" ucap Kesya, lalu mendekati putranya, duduk berjongkok, mengguncang tubuh Cakra, agar terbangun.


"Cakra, sayang! Ayo bangun! Sudah jam 6, loh!" ucap Kesya, namun Cakra tidak bergeming juga.


"Apa belum bangun juga, Mah?" tanya Andika, tiba-tiba nonggol di depan pintu kamar.


"Astagfirullah! Anak ini benar-benar keterlaluan!" dengan geram, Andika masuk ke kamar mandi, lalu menyiramkan satu gayung air ke wajah Cakra. Cakra yang terlelap, langsung gelagapan, meloncat dari tidurnya.


"Banjir! Tolong!" teriak Cakra, Kesya dan Andika malah tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan putranya.


"Ya, banjir! Cepat kau mengungsi! Nanti bisa-bisa kau terbawa banjir bandang!" ejek Andika masih tersenyum.


"Papa ini, ada-ada aja!" Kesya lalu membimbing putranya yang masih belum kumpul nyawanya. Menepuk pundak Cakra, lalu bicara dengan pelan.


"Ayo, shubuh dulu!" ucap Kesya.


Cakra yang mulai kembali kesadarannya, mukanya tambah ketakutan, apalagi melihat Papanya yang kini menatapnya dengan tajam, sambil bertolak pinggang. Cakra auto lari ke kamar mandi. Cakra bergegas mandi dengan kilat kemudian melaksanakan salat subuh di hari itu.


"Papa ini! Bangunin orang pakai air segayung! Gimana coba, kalau sampai aku keselek, terus mati tiba-tiba gara-gara Papa. Apa Papa siap kehilangan anak ganteng seperti aku?" protes Cakra ketika mereka sudah duduk bersama di meja makan.


"Papa belum pernah tuh, denger atau melihat berita di televisi, ada yang mengatakan bahwa ada seorang anak yang meninggal gara-gara di banjur air segayung! Coba kasih lihat Papah, nanti Papa pasti kasih hadiah yang banyak kalau memang benar-benar ada!" ucap Andika masih kesal dengan putranya.

__ADS_1


"Papah, kapan bisa menang, berdebat dengan Papah?" cicit Cakra sambil misuh misuh. Ya, begitulah kehidupan mereka sehari-hari, berdebat dan ribut, tapi disitulah, seninya memiliki sebuah keluarga.


Bagi mereka yang tidak tahu apa itu keluarga, pasti akan merindukan saat-saat seperti itu. Merindukan saat-saat orang tua kita ngomel-ngomel, karena kesalahan kita. Saat itu adalah saat yang indah. Itu artinya kita di sayangi oleh mereka, mereka tidak inginkit terjatuh dalam kesalahan.


__ADS_2