
Pagi ini, Fathu hanya ada jadwal satu mata kuliah, Fathu berniat akan datang ke Iswara Group, untuk bertemu dengan Adrian, Sabahat ketika dahulu dirinya mondok di pondok pesantren Kiai Ilham.
"Bagaimana kabar Adrian, ya? Apa dia masih ingat sama aku?" tanya Fathu pada dirinya sendiri.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dosen, Fathu langsung ke parkiran, tapi saat itu Fathu melihat Sulis tampak sedang berdebat dengan seorang wanita, yang dia kenal sebagai dosen juga di kampus ini.
"Sulis, Mamah cuma ingin kita makan siang bersama! Mamah rindu sama kamu, Nak!" Laura menarik tangan Sulis, berusaha agar putrinya tidak lari darinya.
"Anda seow dosen, orang berpendidikan dan pintar, tapi sayang, Anda tidak cukup cerdas untuk mengerti omongan saya! Satu kali lagi saya tekankan kepada Anda! Saya tidak mempunyai seorang Mamah! Camkan itu!" mata Sulis melotot kearah Laura yang sudah berkaca-kaca.
"Maafkan kesalahan Mamah, sayang! Mamah mohon!" Laura tidak menyerah juga.
"Kalau besok Anda masih mengganggu saya, maka saya akan meminta kepada Ayah saya untuk memecat Anda sebagai dosen di kampus ini. Kalau pihak dosen tidak menuruti, aku akan katakan kepada Ayahku, untuk menarik semua investasi iswara Group di kampus ini! Kita akan lihat, Anda bisa melawan kekuatan Iswara Group atau tidak!" Sulis tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Laura yang membeku di tempatnya.
Fathu mendengar semua percakapan anak dan ibu tersebut. Fathu sungguh bingung dengan kehidupan orang-orang kaya itu, bagaimana seorang anak berani mengancam ibunya sendiri, tanpa perasaan. Sulis merasa terkejut saat melihat Fathu menatap ke arahnya.
"Gus Fathu mau kemana?" tanya Sulis.
"Saya mau ke Iswara Group, kenapa?" tanya Fathu.
"Boleh saya ikut, gak?" tanya Sulis. Tampak wajah Sulis yang sedang menahan tangis.
"Bagaimana dengan mobil kamu?" tanya Fathu.
"Nanti suruh sopirnya Papah untuk ambil saja. Gak apa-apa! Saya sedang tidak sanggup untuk nyetir sendiri. Tolong, ya!" pinta Sulis.
"Baiklah, duduklah di belakang! Saya takut nanti jadi fitnah kalau kamu duduk di depan!" ucap Fathu. Sulis mengerti pemikiran Fathu.
__ADS_1
Setelah ada di mobil, Sulis langsung menangis sejadi-jadinya, sehingga membuat Fathu panik dan bingung. "Eh, kenapa kamu menangis?" tanya Fathu heran.
"Wanita jahat tadi adalah Mamahku, dia meninggalkan kami demi pria lain. Sekarang malah datang lagi, setelah hati kami sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Hiks hiks!" Sulis memang sangat sedih, ada rasa rindu dan takut dalam hatinya saat bertemu dengan Mamah nya yang selama ini dia rindukan.
"Jangan menangis lagi, aku takut, nanti Papah kamu mengira aku yang bikin kamu nangis!" pinta Fathu sambil menyodorkan kotak tissue.
"Aku sedih, Gus! Bertahun-tahun aku merindukan Mamahku, tapi dia ga pernah perduli denganku, sekarang dia tiba-tiba datang, entah kenapa rasanya hatiku malah sakit. Ingat segala hal yang pernah dia lakukan kepada ayahku! Hiks hiks!" Tangisan Sulis semakin kencang.
"Aduh, tolonglah! kamu nangisnya nanti lagi, kalau sudah di ruangan papah kamu! Aku gak mau disalahkan oleh ayah kamu!" Fathu yang tidak bisa menghibur orang lain jadi tambah panik.
"Oh ya, Gus! Gus mau ke kantor ayah ada perlu apa?" tanya Sulis dengan suara parau. Hilang sudah jeritan tangisnya tadi. Fathu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku mau bertemu dengan teman lamaku!" ucap Fathu mulai rileks, senang Sulis tidak menangis lagi. Sulis melihat ke jendela.
"Siapa teman Gus Fathu yang bekerja di Iswara Group?" Fathu merasa bingung harus memberikan jawaban atau tidak. Fathu tahu, terkadang orang-orang kaya itu memiliki privasi dan kadang tidak suka kalau masa lalunya di ketahui oleh publik.
"Hanya seorang teman, gak penting kok!" ucap Fathu gugup. Saat mereka sudah sampai di gedung Iswara Group, Fathu langsung turun dan menuju loby, baru juga sampai ke pintu masuk tiba-tiba ada suara seorang pria yang memanggil namanya, "Fathu!" seorang pria tampan datang berlari dari kejauhan.
"Adrian!" Fathu sangat bahagia bertemu dengan sahabat yang lama tidak bertemu dengan dirinya.
"Apa kabar, bro? Ya ampun tambah tampan saja! Ucap Fathu memuji sahabatnya.
" Kamu juga lebih tampan, Ayi kita ke ruangan ku! Biar aku kenalan dengan adikku, Cakra! Dia juga kerja disini!" ucap Adrian lalu menggandeng tangan sahabatnya. Sulis yang baru tahu kalau Adrian adalah teman yang di maksud oleh Fathu jadi merasa bersalah ketika kemarin di rumah sakit, berniat untuk mengenalkan Amira dengan Adrian. Padahal Amira sudah mempunyai suami.
"Dasar Sulis bodoh!" rutuknya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Sulis memilih masuk ke lift yang berbeda dengan kedua laki-laki tampan tadi. Keduanya memang sama-sama tampan. Apalagi Adrian, yang masih single. Hehehe. Sulis merasa lucu sendiri kalau ingat dengan sultan dari Abimana Group itu.
"Bayangkan saja! Seorang sultan Abimana, rela bekerja di perusahaan ayahnya sebagai direktur personalia! Apa ada yang lebih membagongkan dari hal ini?" Sulis terus bermonolog sendiri selama perjalanan ke ruangannya.
Disana, kedua pria tampan tadi tampak asyik bernostalgia mengenang masa lalu mereka.
"Cakra, ini Mas kenalin sama sahabat Mas sewaktu mondom dulu di pondok pesantren milik Om Ilham!" Fathu dan Cakra lalu saling bersalaman. Ketika Adrian melihat Sulis masuk ke ruangan juga, Adrian mengulas senyum.
"Sulis, sini! Kenalin sahabat saya!" Sulis mendekati Fathu sambil tersenyum manis.
"Hallo Gus Fathu!" ah, sial! Sulis ketakutan kalau rahasianya sebagai putri ayahnya akan terbongkar. Bisa bahaya!
Dengan nskat, Sulis menarik tangan Fathu keluar dari ruangan. "Sebentar saya pinjam dulu!" Sulis membawa Fathu ke lorong yang sepi.
"Gus, saya mohon dengan sangat! Tolong jangan katakan kalau saya ini Putri dari ayah Bayu!" Sulis menangkupkan tangannya di depan dada.
"Kenapa? Apa kamu malu sebagai anak dari ayahmu?" Fathu sudah suudzon saja.
"Bukan, Gus! Tapi saya memang menyembunyikan identitas saya di kantor sebagai putri ayabku. Aku ingin memiliki teman yang tulus padaku. Bukan karena aku anak dari Seorang Bayu Iswara!" Sulis menerangkan alasan dirinya.
"Jadi orang kaya, ribet amat hidupnya!" cicit Fathu.
"Tolong, Gus!" pinta Sulis lagi.
"Kalau yang aku lihat, tampaknya Adrian sudah tahu identitas kamu! Gak perlu repot akting lagi!" ucap Fathu, yang sukses bikin Sulis ketakutan.
"Apa benar begitu?" tanya Sulis tak percaya.
__ADS_1
"Aku kenal Adrian sejak dia masih SD! aku tahu geture dia, aku sangat yakin, kalau Adrian tahu identitas kamu yang sebenarnya!" Fathu lalu kembali ke ruangan di mana Adrian dan Cakra sudah menunggunya.
"Ayo kita makan siang bersama!" ajak Adrian yang di setujui oleh mereka berempat. Sulis menjadi satu-satunya wanita di sana.