
Layla berdecak kesal membaca pesan dari temannya itu yang sejak tadi terus saja menggodanya dengan hal-hal yang membuat dia jengkel dan marah.
Visualisasi Laila, ibunya Yuke
"Tolong kau selidiki hubungan antara Rasya dan Yuke!" Laila kemudian mengirimkan pesan itu kepada temannya.
"Baiklah!" jawab temannya Laila.
Sementara itu, Yuke yang sedang bertugas di cafe, dia tampak sibuk melayani para pelanggan yang saat ini sedang ramai di cafe amoris milik Rasya.
Saat Yuke akan mengantarkan pesanan milik pelanggan. Tiba-tiba saja seseorang telah menabrak Yuke sehingga membuat makanan yang akan diantarkan Yuke tumpah seketika.
" Ya ampun! Apakah kau tidak punya mata? Lihatlah apa yang sudah kau lakukan!" teriak Yuke dengan penuh kekesalan karena saat ini pesanan yang diminta oleh pelanggan sudah jatuh semua ke lantai dan piringnya pun semuanya pecah.
"Maafkan saya! Saya tidak sengaja! Tenang saja saya akan membayar semuanya dan saya pasti akan bertanggung jawab dengan kejadian ini!" ucap pria muda yang sekarang berdiri di hadapan Yuke.
"Ini adalah kartu nama saya kok bisa mengantarkan tagihannya ke kantor saya Saya pasti akan membayarnya Saya permisi dulu ya Saya betul-betul sedang buru-buru!" ucap pria itu langsung meninggalkan Yuke sana yang masih kesal dan bingung.
"Kurang ajar sekali orang itu dia pikir segala hal bisa dibeli dengan uang Seenaknya saja main kabur-kabur!" ucap Yuke dengan kesal.
Kemudian membaca kartu nama yang diberikan oleh pemuda itu dan dia mengerutkan keningnya.
"Firly Hutama?" Yuke mengulang kembali nama yang tertulis di dalam kartu nama itu.
" Ya Tuhanku! Jangan bilang padaku kalau dia adalah anggota daripada keluarga Hutama Apakah dunia sesempit ini?" ucap Yuke dengan perasaan geram.
Visualisasi Firly Hutama
Akhirnya dengan kekesalan yang ada di dalam hatinya Yoke pun menyimpan kartu nama itu di saku pakaiannya.
Yuke kembali ke belakang untuk membuat pesanan yang tadi jatuh semuanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Firly yang sekarang sedang terburu-buru langsung masuk ke mobilnya dan langsung menuju ke kantor tempat dia bekerja saat ini.
Firly Hutama adalah adik daripada Thomas Hutama calon suami Yuke. Tetapi Firly lebih memilih untuk membangun sendiri kerajaan bisnisnya daripada meneruskan ke usaha milik keluarganya dia menyerahkan semua itu kepada kakaknya, Thomas.
Saat ini Firly sedang buru-buru karena kliennya yang berasal dari Korea, sedang menuju ke perusahaannya. Oleh karena itu dia saat ini sedang berburu waktu untuk mengejar itu.
"Jangan sampai Mr Lee menggagalkan apa yang sudah kami disepakati sebelumnya, gara-gara keterlambatanku!" Firly bermonolog dengan dirinya sendiri.
Dengan perasaan tidak tenang, Firly kini mengendarai mobilnya. Sehingga akhirnya dia sampai ke perusahaan dengan selamat.
"Bagaimana, Steven? Apakah Mr Lee masih menungguku?" tanya Firly kepada asistennya.
"Mr Lee sudah pergi 10 menit yang lalu. Dia sangat marah dengan keterlambatanmu!" ucap Steven memberikan laporan kepada Firly, atasannya.
Firly menggeram frustasi. Dia kesal sekali saat ini. Kalau bukan karena kejadian yang tidak disengaja di kafe itu, dia pasti tidak akan terlambat seperti ini.
"Ya sudahlah, lupakan saja! Mungkin memang bukan rezeki kita!" ucap Firly pada akhirnya kemudian dia pun langsung masuk ke kantornya.
Wanita itu adalah Martadinata Clarkson. Putri dari Elena dan Mark Clarkson, yang memiliki perusahaan di Jerman.
Elena adalah mantan kekasih Dari Andika Abimana. ( bagi Reader yang penasaran tentang Elena, Andika dan Mark di masa muda mereka, bisa membaca kisahnya di novel saya yang berjudul "Assalamualaikum ustad ku"
Visualisasi Marthadinata Clarkson
" Apa yang sedang kau lakukan di ruanganku Martha?" tanya Firly dengan sengit tidak menyukai keberadaan perempuan itu di dalam ruangannya.
" Aku baru saja sampai dari Jerman dan aku merasa rindu padamu makanya aku datang ke sini!" ucap Martha sambil tersenyum ke arah Firly yang menatapnya dengan tajam.
" Oh Ayolah Martha berhentilah kau menteror hidupku!" ucap Firly dengan geram. Ketika Firly melihat kelakuan Marta yang selalu saja mengejarnya kemanapun dia pergi.
Ketika dirinya melanjutkan study di Jerman, di sanalah dia bertemu dengan Martha yang juga kuliah di satu kampus dengannya.
__ADS_1
"Ayolah, Firly! Kau jangan terlalu kejam seperti itu padaku! Kita berdua sudab lama kan tidak bertemu? Apa kau tidak rindu padaku?" tanya Martha sambil mendekat ke arah Firly yang langsung menghindari dirinya.
"Kau duduk saja di situ! Tidak usah mendekat ke sini!" ucap Firly dengan tegas memberikan perintah kepada Martha.
" Apa kau tahu Firly? Kalau sifat dingin dan introvertmu ini yang membuat aku jadi penasaran untuk bisa menaklukkanmu!" ucap Martha sambil tersenyum kepada Firly.
kesulitan menelan salivanya sendiri ketika mendengarkan pengakuan Marta yang luar biasa itu.
Bagaimana mungkin ada seorang wanita yang begitu tidak tahu malu mengungkapkan perasaannya sendiri terhadap seorang laki-laki yang jelas-jelas sudah menunjukkan ketidaksukaan terhadap dirinya.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain? Selain mengganggu hidupku?" tanya Firly dengan Ketus kepada Martha.
Martha tersenyum ketika melihat kemarahan di mata Firly saat ini.
" Pekerjaanku adalah untuk mendapatkanmu sebagai calon suamiku!" ucap Martha sambil terkekeh bahagia.
Demi mendengar apa yang dikatakan oleh Martha saat ini, seketika bulu Roma Firly seakan merinding.
" Apakah orang tuamu tidak mencarimu? Kenapa kau bisa ada di Indonesia?" tanya Firly merasa penasaran dengan perempuan yang ada di hadapannya itu.
Martha kini duduk di depan meja Firly sambil menatap tajam ke arah Firly yang tampak kesal dengan dirinya. Semakin pilih kesal Martha makin senang rasanya.
karena dengan kemarahan Itu sudah pasti Firly akan selalu memikirkannya itulah yang membuat Martha senang sekali.
Walaupun Firly selalu ketus dan menolak kehadirannya. Tetapi minimal dirinya bisa hidup dalam pikiran Firly.
"Kau tenang saja! Ayahku yang sengaja mengirimku ke Indonesia, untuk melakukan bisnis bersama dengan perusahaanmu!" ucap Martha sambil tersenyum ke arah Firly yang saat ini sedang kebingungan memikirkan apa yang dia katakan.
"Kau jangan bicara sembarangan! Aku tidak merasa melakukan hubungan bisnis dengan ayahmu!" ucap Firly sambil mencoba untuk menghindari tatapan Martha yang seperti ingin menelanjanginya. Firly merasa risih dengan tatapan itu.
"Ayahmu sudah membuat kesepakatan dengan perusahaan Ayahku untuk membuat pernikahan bisnis antara kita berdua!" Firly sangat terkejut.
Rasanya bagaikan terkena sambaran petir di siang bolong. Firly sampai terperanjat ketika dia mendengarkan pengakuan dari Martha saat ini.
"Pernikahan bisnis? Apa maksudmu?" tanya Firly terperanjat kaget.
__ADS_1
Martha tertawa terbahak-bahak, ketika melihat keterkejutan di wajah Firly saat ini. Yang baginya tampak begitu tampan dan semakin membuatnya tergila-gila.