Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
70. Ya Tuhanku!


__ADS_3

Kebetulan saat ini adalah waktu istirahat untuk makan siang. Ketika melihat Syifa pergi meninggalkannya di pelaminan, Adrian pun kemudian menyusul sang istri yang sudah resmi baginya, sejak beberapa jam yang lalu.


Begitu sampai di kamar pengantin, yang sudah dipersiapkan oleh pihak hotel untuk kedua mempelai. Adrian pun mendekati sang istri yang tampak cemberut.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Adrian bingung dengan kemarahan Syifa saat ini.


"Kalau kau memang menyukai Yuke. Kenapa kau malah menikah denganku? Apakah kau ini pria bodoh?" sengit Syifa sambil menatap tajam karena Adrian.


"Siapa yang mengatakan, Aku menyukai Yuke? Aku kan cuma bilang, kalau dia Lucu. Kenapa sih sayang, kamu kok sensitif sekali?" tanya Adrian sambil berusaha mendekati Syifa yang kini malah semakin marah kepada dirinya. Adrian mendesah frustasi.


"Jadi apa maumu, sayang?" tanya Adrian pada akhirnya.


'Lebih baik aku mengalah untuk saat ini. Kalau istriku marah, bisa-bisa gagal, rencana malam pertamaku malam ini! Bisa gawat 13 nanti!' bathin Adrian sambil menatap Syifa.


"Aku tidak mau apa-apa! Aku hanya mau, kamu tuh jelas dengan perasaan kamu sendiri! Kalau kamu lebih mencintai Yuke, kita bisa membatalkan pernikahan ini!" ucap Syifa dengan nada bergetar. Tampak bahwa Syifa saat ini sedang menahan tangisnya.


"Kau ini bicara apa, Sayang? Bagaimana mungkin kita membatalkan pernikahan kita? Bahkan itu baru beberapa jam yang lalu. Apa kau pikir pernikahan itu sebuah permainan?" ucap Adrian sengit, dia merasa kesal dengan pemikiran sang istri yang menurutnya begitu kekanak-kanakan.


Tapi siapa yang menyangka, Syifa malah menangis tersedu-sedu ketika itu. Sehingga membuat Adrian jadi hilang akal.


"Sayang, kenapa kau malah menangis? Emangnya aku berbuat apa padamu?" tanya Adrian dengan panik.


Tetapi bukannya diam, Syifa malah menangis semakin histeris. Sehingga make up nya pun menjadi rusak dikarenakan air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.


"Oh, Ayolah, sayang! Kau jangan begini. Kau sungguh membuatku frustasi!" keluh Adrian.


"Kalau kau memang mencintaiku, seharusnya kau menjaga perasaanku, untuk tidak genit-genit di hadapan perempuan lain!" ucap Syifa di sela-sela tangisnya.


"Ya Tuhanku! Kapan aku genit-genit terhadap perempuan lain, sayangku? Jangan asal menuduh!" ucap Adrian sambil mendekati Syifa yang masih menangis tersedu-sedu.


"Di depan mataku kau berani senyum-senyum di depan Yuke. Apa kau tahu? Yuke itu adalah sahabatku! Kau jangan membuat celah diantara kami dengan perilakumu yang amoral itu!" sengit Syifa sambil terisak.

__ADS_1


"Sayang, dengarkan! Aku sama sekali tidak tertarik dengan Yuke. Selama ini, aku hanya menganggap dia sebagai sahabatmu dan kami tidak pernah melakukan hal-hal yang menyinggung Syariat agama!" ucap Adrian berusaha meyakinkan istrinya.


"Pokoknya kalau suatu saat, aku mengetahui kamu bermain gila dengan Yuke. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Lebih baik kau langsung pergi saja dari hidupku!" teriak Syifa sambil menatap tajam ke arah Adrian.


"Ya Tuhanku! Percayalah, Sayang! Aku hanya mencintai kamu. Bagiku Yuke bukan apa-apa." ucap Adrian drngan lembut, sambil berusaha untuk mendekati Syifa dan kemudian menggenggam kedua tangannya.


Tiba-tiba suara pintu diketuk terdengar, dan di sana, ibunya Syifa memanggil keduanya.


"Syifa, Adrian! Cepatlah kalian salat zuhur, karena tamu-tamu masih menunggu kalian!" ucap Qonita di luar pintu.


Adrian dan Syifa saling menatap satu sama lain. " Iya, Mah! Kami sebentar lagi keluar!" ucap Adrian pada akhirnya.


Ardian kemudian masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Sekilas kemudian Adrian mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian sholatnya.


"Cepatlah kau Wudhu! Kita salat berjamaah!" ucap Adrian. Tetapi Syifa hanya menggelang.


"Aku sedang halangan! Aku tidak salat!" ucap Syifa sambil menatap Adrian.


Syifa hanya mengangguk pelan, kemudian dia pun membereskan make up yang tadi hancur gara-gara air matanya.


"Ya Tuhanku!" ucap Adrian ketika mengetahui kenyataan itu. Adrian tampak menarik nafas dalam-dalam, tampak jelas kekecewaan di matanya.


Adrian kemudian melanjutkan salatnya dan berdzikir selama beberapa saat lamanya. Adrian berusaha menenangkan perasaan yang saat ini tidak karuan rasanya.


Setelah selesai melakukan kewajibannya, Adrian kemudian mengenakan kembali pakaian pengantinnya.


"Apakah kau marah?" tanya Syifa tampak ragu-ragu sambil menatap Adrian yang membelakanginya.


"Sudahlah! Ayo kita kembali keluar. Tidak ada pentingnya juga membicarakan hal itu!" ucap Adrian dengan suara ketus. Kemudian dia pun keluar dari kamar tersebut menuju kursi pelaminannya kembali.


'Wah, sial sekali! Malam pertama yang aku impikan harus gagal total gara-gara Syifa yang halangan!' gerutu Adrian dalam hatinya.

__ADS_1


Sebagai laki-laki normal, Adrian telah membangun impian yang begitu indah untuk malam pertamanya bersama sang istri. Tetapi apalah daya, semuanya hancur seketika karena tamu bulanan itu.


Adrian menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha menenangkan perasaannya saat ini. Ketika Adrian melihat Syifa sudah kembali ke sampingnya Adrian hanya meliriknya sekilas.


"Maafkan aku, karena aku sudah membuatmu kecewa!" ucap Syifa dengan suara gemetar.


"Sudahlah, tidak apa-apa! Itu bukan kesalahan kamu. Aku yang bodoh! Tidak menanyakan siklus haid kamu! Sebelum memutuskan tanggal ini untuk pernikahan kita." ucap Adrian sambil tersenyum ke arah Syifa.


"Betul kau tidak marah padaku? Maafkan Aku!" ucap Syifa sambil menunjukkan penyesalan di wajahnya.


"Sudahlah, lupakan saja! Kita sekarang fokus menyelesaikan acara resepsi ini. Agar kedua orang tua kita tidak merasa kecewa." ucap Adrian kemudian meremas telapak tangan Syifa yang sangat dingin sekali.


"Telapak tanganmu dingin sekali. Apakah kau sakit?" tanya Adrian khawatir.


Syifa hanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak aku hanya gugup saja. Aku takut kau marah padaku!" ucap Syifa kemudian menundukkan kepalanya.


"Gadis bodoh! Bagaimana aku bisa marah hanya karena masalah itu?" ucap Adrian sambil tersenyum ke arah Syifa.


"Syukurlah kalau kau tidak marah. Aju jadi lega sekarang!" ucap Syifa kemudian tersenyum kearag Adrian. Adrian mengecup jemari tangan Syifa.


Fotografer yang melihat kejadian itu, dengan sigap langsung mengabadikan momen manis keduanya. 'Sungguh romantis dan sungguh mengharukan!' jetrit Yuke, yang merasa terpesona dengan pasangan pengantin itu.


Seketika Yuke matanya melotot, ketika mendapatkan Rasya berada di antara para tamu-tamu yang diundang.


"Aduh, gawat! Kenapa aku tidak berpikir, kalau Rasya juga akan diundang oleh Syifa? Ya Tuhanku! Apa yang harus kulakukan sekarang?" ucap Yuke dengan panik.


"Ada apa kamu, Sayang? Kenapa mukamu begitu? Apakah ada yang mengganggumu?" tanya Laila kepada Yuke.


"Tidak apa-apa, Mah! Tiba-tiba saja perutku rasanya sangat sakit. Yuke pergi dulu ya Mah!" Yuke pun langsung berlari ke arah pintu dan berusaha untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2