
Sulis, Cakra dan Adrian kini ada di ruang makan Fathu dan Amira. Sebuah rumah sederhana, di kompleks para ustadz. Ya, rumah tersebut di bangun oleh Abynya Fathu untuk di tempati para dewan asatizh yang telah berkeluarga.
Fathu ingin memulai kehidupan yang mandiri. Makanya Fathu meminta rumah itu kepada Abinya. " Maaf ya rumah ini hanya kecil saja, tapi lumayanlah untuk Kami keluarga kecil!" ucap Fathu di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Jangan khawatir, nanti siang, kita bisa langsung cek rumah baru yang akan kau tempati. Aku serius Fathu! Aku sudah membeli sebuah rumah untuk kalian. Kau lihatlah ini!" Adrian lalu membuka galeri di ponselnya. Lalu membuka sebuah video, yang menunjukkan sebuah rumah yang siap huni. Hanya belum ada perabotan di sana.
"Rumah yang bagus!" puji Sulis.
"Adrian! Nanti kalau aku menikah, kamu harus kasih aku hadiah sebuah bengalau ya! Aku tidak akan menerima dibawah itu!" ucap Sulis penuh keirian.
"Ih, minta hadiah maksa!" cicit Adrian gemes.
"Iya, dong! Kan ada tuh haditsnya, berilah hadiah kepada seseorang sesuai dengan selera nya!" ucap Sulis berapi-api. "CK, baru nginep sehari di pondok aja, gayanya sudah seperti seorang ustadzah!" sindir Cakra.
Sulis menatap sinis ke arah Cakra, matanya melotot sehingga rasanya sanggup membelah lautan. Cakra merinding melihat tatapan Sulis yang menusuk jantungnya. "Ya Tuhan! Selamatkan hamba!" ucap Cakra seperti kehilangan kesadaran.
Semua orang yang hadir di ruangan itu tertawa terbahak-bahak. Amira sampai memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa sejak tadi.
"Ya Allah, kalian kocak banget!" ucap Amira sambil menatap Sulis dan Cakra bergantian. Sehingga membuat dua orang tersebut jadi salah tingkah.
"Udah, yuk! Sarapan aja! Aku ada kuliah jam 8 pagi!" ucap Fathu sambil mengelus tangan Amira. Amira menatap suaminya dengan lembut.
"Aduh, kalau ada pasangan itu, yang lain hanya jadi obat nyamuk!" timpal Sulis dengan mencebikkan bibirnya.
"Hahahaha, makanya cepat menikah, Jeng!" ucapan Amira membuat semua orang tertawa, khususnya Cakra.
"Siapa orang sial yang akan menikahi dia?" tanya Cakra sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kurang ajar! Gini-gini, di kampus banyak yang naksir tahu!" Sulis sampai menggeplak kepalanya Cakra sangking gemasnya. Cakra tidak bisa berhenti tertawa.
"Awas kau! Tertawa lagi, aku pastikan kamu akan menyesalinya!" ancam Sulis dengan amarah di matanya.
"Tidak takut, Wek..." Cakra memeletkan lidahnya.
"Sudah, ayo cepat sarapannya! Aku juga ada meeting jam 8!" ucap Adrian sudah mulai kesal melihat kelakuan bar-bar mereka berdua. Tom and Jerry masa kini.
Adrian tahu, kalau adiknya itu menyimpan rasa untuk Sulis. Hanya saja memang belum ada keberanian untuk mengakui perasaannya. Takut di tolak. Rencananya nanti setelah pernikahan Adrian, Cakra akan meminta Papah dan Mamahnya untuk menghitbah Sulis untuk dirinya.
Setelah sarapan, mereka berpamitan. Amira berpelukan dengan Sulis, "Sering-sering main, ya? Seru kalau kita kumpul kayak gini!" ucap Amira.
"Iya, nanti lain kali, kita ajak Kakak iparku juga!" ceplos Cakra, Adrian auto melotot mendengar ucapan Cakra yang tanpa rem tersebut. Otomatis semua mata kini tertuju kepada Adrian, yang mulai salah tingkah.
"Aku pulang dulu! Ada meeting! Kalian berdua, cepat! Atau aku tinggalkan!" Adrian dengan cepat masuk ke mobilnya.
"Bro, betul loe bakal menikah dengan Putrinya Kiai Ilham?" tanya Fathu penasaran.
"Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai!" ucap Adrian raut wajah pasrahnya. Fathu langsung memeluk sahabatnya tersebut, merasakan kebahagiaan karena Adrian bukan jomblo abadi lagi. Calon pengantin ternyata.
"Selamat, ya! Gue pasti akan bantuin pernikahan loe!" janji Fathu dengan mata berbinar-binar.
"Loe gak usah ngapa-ngapain! Nyokap ama bokap gue sudah handle semua itu! Mereka begitu bersemangat dengan pernikahan itu!" ucap Adrian mulai bete.
"Ya elqh, Bro! Elo mau menikah, udah kayak mau di jagal aja, muka loe!" Fathu memukul dada Adrian karena gemes.
" Udah, ah! Pusing gue, kalau udah bahas pernikahan konyol ini! Apalagi memikirkan gadis bar-bar itu!" Adrian auto bergidik ngeri. Fathu terbahak-bahak melihat sahabatnya yang tampak hilang akal itu.
__ADS_1
"Loe udah jatuh cinta, Bro!" ucap Fathu tergelak.
"Gak udah bicara sembarangan, deh! Gak lucu tahu, gak?" Adrian udah mulai kesal dengan ucapan Fathu.
"Gue yakin 100% kalau loe udah jatuh cinta dengan gadis yang sejak kecil udah loe cebokin itu!" Fathu tergelak tanpa bisa di cegah lagi. Adrian kesal bukan main.
"Sahabat gak ada akhlak loe ah, gak asyik! Udahz gue cabut aja dari sini! Eh, kalian berdua! Mau pulang atau tidak? Kalau masih betah, gue pulang duluan!" Teriak aadrian kehilangan kesadaran.
"Ya bentar, pamitan dulu dengan Pak Kiai sama Bu Nyai!" sahut Cakra yang disambut senyum kecut Adrian. Ya, karena kesal, Adrian jadi lupa untuk berpamitan kepada kedua orangtuanya Fathu.
Adrian lalu keluar lagi dari mobilnya, bersalaman dengan Kedua orangtuanya Fathu, lalu berpamitan. Mereka bertiga mengantarkan Sulis dahulu. Setelah itu Adrian pergi ke apartemennya, mau mandi dan ganti pakaian. Tadi di pondok Adrian tidak mau mandi. Hatinya tidak sanggup harus mengantri bersama dengan para santri yang lain.
"Mas, pernikahanmu udah fix bukan?" tanya Cakra.
"Ah, diam loe! Dasar adik durhaka! Tadinya gue mau merahasiakan pernikahan absurd itu dari mereka, loe malah main ekspos saja!" Adrian melemparkan bantal di dekatnya ke arah Cakra sangking gemasnya kesalnya dengan sang adik. Cakra yang langsung repleks menangkap bantal tersebut.
"Ya, maaf, Mas! Kan aku gak tahu!" ucap Cakra dengan Puppy eyesnya. Adrian malah tambah jengkel rasanya.
"Udah, enyah dari pandangan gue! Kenapa sih. Loe ga balik aja ke apartemen elo? Numpang Mulu hidup loe!" sengit Adrian yang kesal setengah mati dengan adiknya.
"Ya, elah! Mas! Gak usah pelit sama adik sendiri!" Cakra lalu masuk ke kamar mandi kakaknya, Adrian langsung mengejar adiknya.
"Eh, gue duluan!" Tapi Adrian terlambat, Cakra sudah mengunci pintu kamar mandi tersebut.
"Dasar tamu gak tahu diri!" maki Adrian kesal bukan main.
Adrian lalu membawa pakaian ganti yang sudah disiapkan dari tadi oleh dirinya. Lalu Adrian turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Adrian memutuskan untuk mandi di kamar tamu saja. Adrian sangat tahu kebiasaan Cakra yang suka berlama-lama di kamar mandi. Adrian tidak mau terlambat sampai ke kantor. Hari ini ada rapat penting yang harus dia hadiri. Ada Papahnya juga di sana, akan menghadiri rapat pemegang saham di Iswara Group.