Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
57. Curahan hati Sulis


__ADS_3

"Apa? Ayo katakan kepadaku. Kenapa kamu ada di sini?" tanya Amira semakin penasaran. Sulis hanya tersenyum.


"Aku mau melakukan cek kesehatan alat reproduksi. Ini, aku lakukan, untuk mempersiapkan rencana pernikahanku dengan Cakra. Jadi, aku harus memastikan bahwa alat reproduksiku dalam keadaan sehat dan sama sekali tidak ada masalah. Jadi, nanti saat melakukan pernikahan, tidak ada penyesalan di antara kami. Dan tidak ada masalah yang tidak perlu. Tentang istri yang mandul atau suami yang mandul. Jadi, kami akan melakukan pemeriksaan itu untuk berjaga-jaga!" ucap Sulis panjang kali lebar kali tinggi. Yang membuat Amira manggut-manggut.


"Jadi, itu artinya kamu dan Cakra sudah siap untuk menikah? Oh ya, Kok aku tidak mendengarkan tentang pernikahannya Adrian dan Syifa? Bukankah waktu itu kalian bilang, kalau Adrian akan menikah ya? Menikah bersama putrinya Kyai Ilham. Kok kami nggak menerima undangannya sih?" protes Amira kesal.


Saat ini, Fathu sedang mendaftarkan sang istri di loket administrasi. Sementara kedua orang tuanya Fathu, diminta oleh Fathu, untuk melakukan cek kesehatan. Sekalian datang ke rumah sakit, biar bisa mengetahui kesehatan kedua orang tuanya saat ini.


"Kami berdua itu baik-baik saja, Fathu! Enggak usah buang-buang uang nggak jelas kayak gini. Udah, sekarang sebaiknya kamu urus istrimu. Nggak usah pikirin kami berdu. Cucu kami itu, sekarang jauh lebih penting saat ini!" ucap Abynya Fathu.


"Abi apaan sih? Kesehatan Abi dan Umi itu sangat penting. Jadi, ini bukan buang-buang uang nggak jelas. Sudah, sebaiknya Aby sama Umi itu nurut sama Fathu. Untuk kontrol kesehatan kalian. Biar kalau ada apa-apa, kita bisa antisipasi. Jngan sampai, nanti menyesal dan kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi!" ucap Fathu berusaha meyakinkan keduanya.


"Baiklah, kau antarkan kami dulu, setelah pendaftaran Amira selesai." akhirnya Aby menurut juga. Fathu senang sekali. Ketika Fathu kembali ke tempat tadi, ketika dia meninggalkan istrinya, tampak Amira sedang bicara serius dengan Sulis. Sahabatnya, masih belum selesai juga.


"Mereka berdua itu, kalau sudah ketemu satu sama lain, orang lain, terasa ngontrak saja. Benar-benar, Istriku kalau sudah bertemu dengan sahabatnya, pasti dia melupakan aku!" monolog Fathu merasa cemburu dengan Sulis.


"Ayah dan anak, paling pintar mencuri perhatian istriku!" sengit Fathu mulia kesal.


"Sayang, ayo masuk! Nama kita sudah di panggil ini!" ucap Fathu, sambil memapah Amira ke dalam ruangan Dokter yang bertugas memeriksa kesehatan istri dan anaknya.


"Ya, padahal aku masih penasaran, soal Adrian dan Syifa!" keluh Amira, Sulis tampak tersenyum.

__ADS_1


"Nanti, aku hubungin lagi di telpon. Kamu masuk, gih! Itu laki loe, kayak mau bunuh gue, matanya! Kayaknya dia masih dendam sama gue, Gara-gara waktu itu, gue kerjain dia! Hahahaha!" kedua sahabat itu tertawa lepas.


Fathu merasa terganggu dengan mereka yang tertawa kencang di area publik. "Perempuan kalau tertawa, jangan kayak gitu! Tidak sopan!" tegur Fathu. Seketika Amira dan Sulis, menutup mulutnya.


"Ya udah Amira! Aku pulang dulu ya? Sudah sana, kamu periksa kehamilan kamu! Nanti kita sambung lagi ya? Aku nanti menelpon kamu, kalau pekerjaanku di kantor sudah beres, oke? Udah, aku pulang dulu ya? bye! Ingat jaga kesehatan kamu ya, jangan sampai nanti keponakanku kenapa-napa lagi kayak kemarin!" ucap Sulis.


"Ya ampun! Kalian berdua ini lebay sekali. Seperti mau melakukan apa saja. Udah sana, pulang! Istriku sudah dipanggil dari tadi, bisa-bisa kami nanti di suruh ngantri lagi nanti, gara-gara kamu!" usir Fathu dengan sengit.


" Yaelah Gus! Nggak usah terlalu galak kali, ya udah! Gue titip sahabat gue ya? bye!" Sulis laku cipika-cipiki bersama Amira. Fathu sampai cemberut, melihat kelebayan mereka berdua. Kesal setengah mati.


"Kamu sebetulnya mau pergi nggak sih? Dari tadi ya lama banget! Itu suster dari tadi nungguin istriku, buat periksa! Udah sana pulang!" usir Fathu kasar.


"Yaelah Amira, laki lu galak bener! Lue rukyah sana, siapa tahu tuh ada jin ifrit yang ngintilin dia!" ledek Sulis, sambil menjulurkan lidah ke arah Fathu.


"Ih, gue ogah yah, di suruh ngintilin laki modelan elu! Mendingan gue ngintilin Ayang Bebeb gue, yang super zuper! Udah ya, Amira! Males gue layanin laki lu, Bye!" Sulis langsung berlari ketika Fathu hendak memukul kepalanya.


" Udah dong Mas! Nggak usah berlebihan kayak gitu. Masa sih, sama cewek kamu kayak gitu? Kalian kenapa sih? Kalau ketemu kayak kucing sama anjing!" ucap Amira.


"Udah, ayo masuk! Gedeg aku kalau ingat teman kamunitu. Yang usil ngerjain aku!" sengit Fathu.


"Ya ampun Mas! Itu kan cuma keusilan Sulis aja! Jangan diambil hati. Sulis itu emang anaknya kayak gitu! Suka usil, tapi dia anak baik kok. Aepanjang perjalananku menjadi sahabatnya, dia nggak pernah tuh jahat sama aku! Dia itu, selalu baik dan selalu mendukung aku dalam keadaan suka mau pun duka! Aku cuma punya Sulis yang selalu ada di sampingku!" ucap Amira membela sahabatnya.

__ADS_1


"Udah, ayo kita masuk! Itu susternya dari tadi nungguin kita, loh! Kamu ini keterlaluan banget, lebih mentingin temanmu. Daripada bayi kita!" Fathu Protes kepada Amira.


Mereka berdua, akhirnya masuk ke ruang pemeriksaan dan bertemu dengan dokter yang bertugas di sana.


"Selamat siang ayah dan bunda, gimana kabarnya hari ini? Bagaimana? Apakah ada keluhan?" tanya Dokter berjilbab itu. Fathu hanya mengangguk saja, sementara Amira menyalami Dokter yang bertugas.


"Alhamdulillah kami baik, Dok! Oh ya, saya kemarin sudah periksa dan tes dan hasilnya positif. Jadi, saat ini, kami ingin memeriksa kondisi bayi kami, apakah sehat atau gimana gitu dokter!" ucap Amira.


"Ya udah, ayo Bunda! Bunda sekarang berbaring di ranjang, biar kita lihat ya, kondisi adik bayinya. Apakah sehat atau apa mungkin ada keluhan yang lainnya, Bunda? Sehingga bisa kita atasi secara dini." ucap Dokter tersebut.


"Sejauh ini sih, semuanya baik-baik aja. Nafsu makan juga baik dan saya juga banyak istirahat. Jadi, bisa saya simpulkan, semuanya baik-baik aja. Tanpa keluhan yang terlalu berarti!" jawab Amira dengan santai.


"Oke Baik! Ayah Bunda! Mari kita lihat kondisi adik bayi. Yuk kita lihat ke monitor. Di sini, terlihat bahwa adik bayi berumur sekitar 2 bulan, ya? Ini terlihat bayinya sehat, Alhamdulillah! Terus jaga pola makan sehat, dan istirahat yang cukup, ya?" ucap Dokter tersebut.


"Itu anak kami, Dokter?" Fathu tampak exciting melihat ke arah monitor, yang memperlihatkan bayinya yang masih belum sempurna bentuknya. Tanpa.terasa, matanya berkaca-kaca, merasa terharu, ada kehidupan di dalam rahim istrinya saat ini.


"Kamu harus jaga baik-baik anak kita ya? Jangan sampai terulang lagi kejadian yang lalu. Mas sampai saat ini masih belum bisa melupakannya. Pokoknya, kalau kamu merasakan apa-apa, kamu harus bilang sama Mas, Oke?" ucap Fathu sambil mengelus perutnya Amira yang masih rata. Amira mengangguk, terharu dengan perhatian suaminya yang selalu menjaganya.


"Maklum ya, dokter! Suamiku ini agak posesif dengan calon anak kami. Maklum saja, dulu kami pernah sempat kehilangan bayi pertama kami. Karena kecelakaan yang tidak terduga. Jadi, gini deh, dia jadi posesif sekali terhadap anak kami!" ucap Delia.


"Iya Bunda! Nggak apa-apa! Saya mengerti! Pasti memang sangat berat, kehilangan calon bayi kita. Dan, memang sudah seharusnya seperti itu. Seorang suami harus selalu waspada dan Siaga terhadap kehamilan istrinya!" setelah mendapatkan beberapa wejangan dari dokter, Fathu dan Amira, akhirnya memutuskan untuk berpamitan.

__ADS_1


Setelah mereka menunggu, hasil pemeriksaan kedua orang tuanya Fathu, yang sedang kontrol kesehatan mereka. Mereka pun pulang kembali ke rumah mereka. Setelah mengantarkan kedua orang tuanya ke pondok, Fathu kembali ke rumahnya sendiri bersama Amira.


__ADS_2