Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
117. Apa benar?


__ADS_3

Elena kemudian mendekati Sulis yang saat ini sedang menatap takjub kepada kedua mertuanya yang sedang mau marahi Steven.


"Coba Mama lihat hasil perbuatan dari Steven di tubuhmu!" ucap Elena sambil mulai membuka beberapa bagian tubuh tulis yang bisa atau mudah disingkap.


Mata Elena membulat sempurna. Ketika melihat lebam-lebam di kulit mulus Sulis yang begitu banyak dan lekat. Seketika matanya merah sambil menatap kepada Steven.


"Apa benar? Semua lebam-lebam itu adalah hasil perbuatan?" tanya Elena dengan mata melotot kepada Steven yang sekarang mulai menundukkan kepalanya tidak berani menatap ayah ibunya yang sekarang sedang marah besar kepada dirinya.


"Jawab Steven! Kau itu seorang laki-laki! Maka harus berani menanggung dan juga mengakui apa yang sudah pernah kau lakukan!" ucap Mark sambil menatap tajam kepada Steven yang semakin menundukkan kepalanya sudah ketakutan duluan mendengar suara ayah ibunya.


"Pantas saja Bayu mengamuk kepadamu seperti orang kesetanan. Sudah syukur kau tidak habis melayang nyawamu gara-gara ayahnya Sulis!" ucap Elena sambil mengkeplak kepala Steven. Karena sangking gemesnya dia dengan anaknya yang kurang ajar sudah memukuli istrinya.


" Sulis Mama minta maaf ya atas kelakuan Steven yang sudah memukulimu dan juga menyiksamu kau tenang saja Mama pasti akan menghukum dia kalau dia sudah sembuh nanti dan akan memastikan dia tidak akan mengulangi lagi!" ucap Elena sambil mengusap kedua pipi Sulis yang sekarang mulai berderai air mata.


Sulis merasa terharu karena kedua mertuanya ternyata peduli kepada dirinya Bahkan mereka sampai rela memukuli anaknya sendiri.


"Iya Mah! Terima kasih karena mama sudah peduli pada Sulis. Tapi mama tidak usah memukul Steven seperti itu kasihan dia mah!" ucap Sulis kepada Ibu mertuanya.


"Tidak apa-apa Sulis. Orang salah memang harus dipukul. Supaya dia tahu kalau dia telah berbuat kesalahan. Kalau orang salah selalu dibela itu bukanlah cara mendidik yang benar. Walaupun Steven adalah anak kami tetap harus kami berikan pelajaran apabila dia melakukan kesalahan!" ucap Elena sambil tersenyum kepada Sulis.


"Tidak perlu seperti itu mah! Apabila seseorang melakukan sebuah kesalahan. Kita bisa menegurnya dengan baik-baik. Mulai dengan memberitahunya. Bahwa dia salah. Tidak harus dengan menggunakan kekerasan fisik. Karena sebenarnya itu bukanlah sebuah pelajaran yang terbaik. Hanya dengan kesadaranlah maka dia bisa berubah secara nyata bukan berubah karena terpaksa!" ucap Sulis dengan suara lembut sambil menatap kepada Elena yang saat ini sedang melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Tuh sengarkan Steven! Kau mempunyai seorang istri yang begini baik. Masih juga kau berani bermain tangan terhadap istrimu dan tidak memuliakannya. Kau sungguh laki-laki yang bodoh!" ucap Elena dengan kesal.


"Aku heran, kau begini lembut dan juga baik budi. Kenapa bisa memiliki seorang ayah yang Barbar seperti Bayu?" tanya Elena sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dia terheran-heran.


"Papa juga heran kok bisa ya?" tanya Mark sambil menatap kepada Sulis.


"Papah itu sebenarnya adalah laki-laki yang baik. Dia selalu memperlakukan Sulis seperti sebuah permata yang begitu berharga. Oleh karena itu Papa marah ketika dia tahu bahwa Steven sudah menyiksa Sulis seperti ini dan juga meminta Sulis untuk melayani teman-temannya. Jadi wajar kalau Papa sampai mengamuk seperti itu. Hati seorang ayah pasti tidak akan menerima ketika Putri yang berharga baginya. Yang mereka rawat sepenuh hati diperlakukan sewenang-wenang oleh suaminya!" ucap Sulis dengan berderai air mata. Karena dia mengingat segala kasih sayang dan cinta yang sudah diberikan oleh ayahnya selama ini kepada dirinya.


"Selama ini, Papa hanya merawat Sulis sendiri sejak Sulis masih kecil karena mama lebih memilih selingkuhannya daripada keluarganya. Selama ini papa bahkan tidak pernah menikah lagi dan lebih memilih untuk mengabdikan seluruh hidupnya untuk mengurus Sulis. Karena Papa tidak ingin Sulis mengalami penderitaan dengan drama ibu tiri yang jahat!" ucap Sulis.


Sulis mengakhiri cerita tentang keluarganya yang membuat Mark dan Elena merasa terenyuh dengan nasib seorang gadis sebaik Sulis yang sudah menderita sejak kecil tanpa kehadiran seorang ibu.


Tampak Steven menitipkan air matanya dia merasa bersalah karena sudah berbuat jahat terhadap Sulis.


Selama ini dia hanya tahu bahwa kedua orang tuanya memiliki permusuhan dengan Abimana grup dan dia tahu bahwa Sulis adalah tunangan Cakra yang merupakan anak dari perusahaan Abimana Group.


Oleh karena itu Steven selalu merasa emosi setiap kali melihat Sulis. Karena dia ingin memperlihatkan kepada kedua orang tuanya bahwa dia pun bagian dari keluarga yang siap untuk melakukan apapun untuk membuat orang tuanya senang dengan mencari masalah pada Abimana grup.


"Apakah mama tahu kalau Sulis ini adalah tunangan dari Cakra? Anak dari Andika Abimana?" tanya Steven secara perlahan karena dia takut kalau hal itu adalah sesuatu yang sensitif bagi ibunya.


"Kau adalah tunangan dari Cakra? Lalu bagaimana caranya kau bisa menikah dengan Steven?" tanya Elena kepada Sulis coba buat Sulis terheran.

__ADS_1


"Apakah mama dan papa tidak tahu sejarah, bagaimana saya bisa menikah dengan Steven?" tanya Sulis dengan wajahnya yang terheranan.


Apalagi ketika melihat kedua mertuanya menggelengkan kepala.


Sulis melirik sekilas kepada Steven yang saat ini sedang menundukkan kepalanya tidak berani menatap siapapun.


"Steven menjebak saya menggunakan obat perangsang dan kemudian dia memperkosa saya sehingga akhirnya saya hamil dan dia juga mengambil foto-foto tidak senonoh saya dengan dia Dan Dia mengancam akan menyebarkan itu semua Apabila saya menolak lamaran dia!" ucap Sulis membeberkan semua kronologis kisah dirinya bersama Steven hingga akhirnya mereka berakhir di pelaminan.


Tampak Elena dan Mark sekarang mulai menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh putranya yang ternyata sangat brengsek dan sangat layak untuk dihajar sampai mati.


Bahkan terlihat Mark sejak tadi terus mengelus dadanya yang seperti sesak dan sulit bernafas. Badannya bahkan sekarang sudah limbung dan duduk di sofa yang tidak jauh dari Sulis duduk saat ini.


"Papa baik-baik saja?" tanya Sulis dengan lembut ketika dia melihat wajah Mark yang kini mulai pucat pasi.


"Maafkan keluarga kami Sulis yang sudah menganiaya kamu lahir dan batin. Papa sangat malu sekali untuk bisa menghadapimu maupun ayahmu. Setelah mengetahui semua perbuatan Steven yang sangat tidak manusiawi terhadap kamu! Papa menyerahkan semua keputusan kepadamu Sulis Apakah kau akan mengikuti keinginan ayahmu Untuk membatalkan pernikahan kalian ataukah kalian akan bercerai Papa tidak akan banyak protes lagi!" ucap Mark sambil menundukkan kepalanya merasa malu kepada Sulis Karena dia sudah gagal mendidik putranya sebagai laki-laki sejati yang tidak pernah menyakiti perempuan.


"Mama tidak menyangka Steven! Kalau kamu itu b******* sekali. Bahkan kau sudah berani memperkosa seorang perempuan. Apa kau tidak malu? Apa kau tidak mengingat, kalau Kakakmu juga seorang perempuan!" ucap Elena sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan sebuah fakta yang luar biasa. Bahwa putranya telah memperkosa anak gadis orang lain.


"Steven hanya ingin membuat Papa dan Mama bahagia dengan membuat Cakra menderita karena kehilangan tunangannya! Bukankah Papa dan Mama sangat membenci keluarga Abimana grup?" tanya Steven sambil melirik sekilas kepada ayahnya dan juga ibunya yang kini menatapnya dengan tajam.


"Kami memang selalu menyerang Abimana grup. Tetapi kami tidak pernah menyuruhmu untuk melakukan hal keji seperti itu kepada seorang perempuan, Steven!" teriak Mark dengan nada emosi tingkat tinggi kepada Steven, putranya.

__ADS_1


__ADS_2