
Setelah mengantarkan Yuke ke kontrakannya, Rasyaa pun kembali ke apartemennya. Tetapi sebelumnya Rasya mampir ke sebuah cafe untuk membeli makanan untuk dirinya sendiri karena sejak tadi siang dia belum makan apapun. Keasyikan mengkbrol bersama Yuke sehingga membuatnya lupa dengan waktu dan juga perutnya yang kelaparan.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Rasya pun langsung melajukan kendaraannya menuju ke apartemen miliknya.
Setelah sampai Rasya langsung mandi dan juga membersihkan dirinya. Setelah itu Rasya pun berganti pakaian tidur favoritnya. Kemudian Rasya pun menyantap makanan yang tadi dia beli di kafe yang tidak jauh dari apartemennya.
Seharian ini Rasya memang tidak pergi bekerja karena pikirannya yang sangat kalut. Sehingga dia memilih untuk melarikan diri ke Dermaga sehingga akhirnya tanpa disengaja malah bertemu dengan Yuke di sana. Perempuan yang selama beberapa hari ini telah mengusik hatinya.
"Sebenarnya siapa Yuke itu? Kalau di lihat dari penampilannya dia. Dia tidak tampak seperti orang miskin. Bahkan tasnya saja bernilai ratusan juta. Tidak mungkin dia hanya seorang anak sederhana, walaupun kontrakannya terlihat seperti kontrakan biasa saja!" Ucap Rasya bermonolog sendiri, mempertanyakan identitas seorang Yuke yang sangat misterius baginya.
"Besok aku akan ke bagian HRD, mengambil data-data Yuke. Akan kupastikan identitas Yuke yang sebenarnya. Jangan sampai ada mata-mata di dalam kafe ku, sehingga memberikan kerugian terhadap cafe yang ku kelola!" ucap Rasya memutuskan. Kemudian setelah selesai makan, Rasya pun membuat sebuah kopi kesukaannya dan dia pun langsung pergi ke balkon tempat favoritnya di apartemennya tersebut.
Ya karena hanya di balkon itulah, Rasya bisa melihat bintang-bintang dan bulan bersinar terang di atas langit. Dan juga dirinya bisa menyaksikan kelap-kelip lampu-lampu kota yang begitu cantik serta kesunyian malam yang begitu mencengkeram hatinya.
Sejak perpisahan kedua orang tuanya, Rasya memang menjadi seorang pribadi yang pendiam dan nyaris menjauhkan dirinya dari publik dan memilih untuk hidup menyendiri seorang diri. Bahkan bisa dikatakan, Rasya tidak mempunyai seorang teman sama sekali. Kehidupan Rasya sehari-hari, hanya sibuk dengan belajar dan bekerja.
"Tapi sepanjang ingatanku, hanya Yuke yang bisa menyentuh hatiku seperti ini. Dia benar-benar, memang seorang perempuan yang luar biasa. Tapi aku harus memastikan dulu identitasnya, sebelum perasaanku ini menjadi berkembang lebih jauh. Aku tidak mau sampai terjatuh kepada seorang perempuan yang tidak baik!" Ucap Rasya kembali meyakinkan dirinya sendiri agar tidak sampai terperosok dalam pesona seorang Yuke.
__ADS_1
Entah apa yang akan dipikirkan dan dirasakan oleh Rasya, apabila Rasya mengetahui bahwa Yuke adalah anak tiri dari wanita yang sudah membuat kedua orang tuanya berpisah dan memberikan berjuta air mata ke dalam masa remajanya karena kehilangan seorang ayah.
"Dia seorang gadis yang manis, tapi kenapa ya? Aku merasa begitu merasa familiar dengan Yuke. Ada semacam perasaan kedekatan terhadapnya yang menarikku untuk dekat dengannya. Entah apa itu, aku jadi bingung sendiri!" Rasya seperti orang gila saja ya terus bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menyesap kopi yang telah dingin.
Yah, begitulah kehidupan Rasya setiap malam dan setiap harinya. Sendiri, sendiri dan selalu sendiri! Baru kali ini Rasya berbicara dengan seorang perempuan dengan interval waktu yang begitu panjang.
Bahkan sampai dia mengantarkan Yuke ke kontrakannya itu. Hal itu sungguh merupakan sebuah kejadian yang sangat langka dalam hidupnya. Oleh karena itu, sepanjang malam Rasya tidak bisa berhenti memikirkan tentang Yuke.
"Ah! Aku bisa-bisa gila karena perempuan itu! Sudahlah aku lebih baik tidur saja, daripada pikiranku tambah ruwet nggak jelas seperti ini. Besok aku harus bekerja lagi. Kalau tidak, karyawanku pasti pada protes mengetahui manajernya nggak becus seperti ini!" akhirnya Rasya pun memutuskan untuk tidur dan beristirahat agar besok bisa kembali fresh dan melanjutkan pekerjaannya di cafe.
"Ah gawat! Sepertinya aku benar-benar gila gara-gara perempuan itu! Aku harus segera mencari info, siapa Yuke yang sebenarnya. Jangan sampai aku terperosok semakin dalam dalam pesonanya. Ini sungguh sangat berbahaya!" Rasya terus mondar-mandir di balkon tersebut. Dia tidak memperdulikan lagi kopi yang sudah dingin yang sejak tadi memanggil-manggil dirinya untuk disantap.
"Tapi, Yuke gadis yang manis dan juga dia sangat asik untuk diajak ngobrol. Baru kali ini aku bisa cocok dengan seorang perempuan" kembali suara hati yang lain dari Rasya pun memberikan argumennya sendiri. Tanpa Rasya sadari dirinya tersenyum dengan begitu bahagia.
"Tapi tetap aku harus berhati-hati! Jangan sampai ternyata dia adalah perempuan yang jahat yang hanya menggunakan topeng untuk menjebakmu!" sisi lain dari diri Rasya pun memberikan peringatan keras untuk Rasya agar selalu berhati-hati. Ya! Suara itulah yang selama ini selalu membuat Rasya selalu menjauhi siapapun yang berusaha untuk mendekatinya.
"Sudahlah aku lebih baik tidur saja. Bisa-bisa aku betul-betul gila dibuatnya. Besok aku harus fresh dan akan kupastikan siapa identitas Yuke yang sebenarnya!" akhirnya dengan mantap Rasya pun langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkonnya.
__ADS_1
Setelah mencuci gelas bekas kopinya, Rasya langsung bergegas untuk tidur. Karena sebenarnya memang dia sudah mengantuk. Hanya saja pikirannya yang terus saja berkelana memikirkan seorang gadis bernama Yuke. Yang selama seharian ini telah menemaninya. Menemaninya dalam kegundahan gara-gara bertemu dengan ayahnya yang telah membuatnya merasa sangat marah.
Selama ini,memang hanya permasalahan ayahnya, yang selalu berhasil membuat Rasya menjadi kehilangan akal dan tidak bisa berpikir jernih. Kebenciannya terhadap ayahnya telah mendarah daging sehingga membuat Rasya selalu drop seketika apabila telah bertemu dengan ayahnya tersebut.
"Sepanjang hidupku baru kali ini aku bertemu dengan perempuan yang bisa membuat perasaanku menjadi begini baik. Setelah mengalami hari yang begitu berat!" kembali Rasya bermonolog. Walaupun berusaha sekuatnya untuk tidur, tetap saja matanya tidak bisa terpejam.
Kejadian selama sehari penuh bersama dengan Yuke di Dermaga telah memenuhi otaknya. Bagaikan film-film rusak yang terus berputar tanpa henti sehingga membuat Rasya frustasi pada akhirnya.
"Aku benar-benar telah jadi gila dibuatnya! Gara-gara perempuan itu!" geram hati Rasya di buatnya. "Sialan! Aku tidak boleh terus seperti ini. Aku harus segera mengidentifikasi identitas dia yang sesungguhnya. Jangan sampai aku semakin terperosok lagi!" Rasya semakin tersiksa dengan perasaannya saat ini.
Akhirnya pada jam 03.00 pagi Rasya pun tepar kelelahan dengan pikirannya sendiri dengan tubuhnya yang selama seharian ini berada di luar.
Sementara itu, Yuke di dalam kamarnya pun memiliki hal yang sama dengan Rasya. Yuke juga tidak bisa tidur. Yuke juga sedang sibuk memikirkan Kakak tirinya tersebut. Yang telah membuatnya menjadi salah tingkah dan merasa ketakutan.
"Apa yang akan Rasya lakukan kalau dia mengetahui kalau saya adalah adik tirinya?Kalau saya yang telah membuat Dia kehilangan kasih sayang seorang ayah. Aduh aku jadi bingung sendiri nih! Aku takut kehilangan dia sebagai teman maupun sebagai seorang kakak ataupun sebagai atasanku. Aku suka dengan pekerjaanku sekarang. Aku nggak mau kehilangannya. Aduh gimana ini!" semalaman Yuke terus berteriak nggak jelas. Sehingga membuat dirinya frustasi sendiri.
Akhirnya tertidur lelap tanpa dia sadari karena saking lelahnya pikiran dan badannya yang memikirkan hal-hal yang tidak jelas tentang Rasya sang kakak tiri.
__ADS_1