
Sementara itu sekarang Yuke tengah berada di kamarnya, di rumah kediaman orang tuanya. Dia sedang pusing memikirkan nanti malam, tentang pertemuan bersama dengan calon suami yang sudah dipilih oleh kedua orang tuanya.
"Semua ini gara-gara Kak Rasya! Jadinya sekarang aku dipaksa untuk menikah seperti ini, awas kamu, Kak! Kalau ketemu, akan aku pastikan untuk memukul kepala milikmu itu!" sengit Yuke dengan mengepalkan tangannya.
Yuke sangat marah sejak tadi pagi, ketika ayahnya mengatakan bahwa dia akan dinikahkan dengan anak dari rekan bisnis ayahnya. PERNIKAHAN BISNIS. itu bunyi dan judul di dalam acara pernikahan dirinya dengan calon suami yang akan dia temui nanti malam.
"Kamu tidak usah khawatir. Papa tidak akan memilihkan calon yang mengecewakan untukmu. Percayalah pada papamu!" ucap Papanya sebelum berangkat ke kantor tadi pagi, hati Yuke sudah dibuat kebab-kebit sejak itu.
"Kak Rasya itu laki-laki yang keterlaluan. Baru tahu aku adiknya cuma sehari saja. Dia sudah memberikan bencana sebegini besar untukku!" maki Yuke di hadapan ibunya.
Laila terus menatap Yuke yang mukanya sedang marah-marah saat ini. Kemudian Laila mengelus tangan Yuke dengan lembut.
"Dngarkan Mama, Nak! Rasya melakukan itu, pastu karena dia peduli padamu. Kau harus merasa beruntung, kalau Rasya sekarang menganggapku sebagai adiknya!" ucap Laila.
"Beruntung apanya? Dalam semalam dia menjungkir balikkan seluruh hidupku. Apa Mama pikir saya gila, harus merasa bersyukur punya kakak seperti dia?" ucap Yuke dengan penuh amarah dan kekesalan.
Kemudian Yuke pun pergi meninggalkan ibunya di meja makan. Laila hanya menatap kepergian putrinya, yang sedang marah.
"Yuke! Sebaiknya kita berdua pergi ke salon dulu, untuk mempersiapkan dirimu nanti malam!" teriak Laila sebelum ikut benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Yuke tidak sudi untuk pergi ke sana. Mama saja sana pergi sendiri!" Yuke pun kemudian membanting pintu kamarnya dengan keras.
__ADS_1
Laila pun sampai terkejut, melihat sikap putrinya yang begitu barbar, seperti yang tidak bisa diatur oleh mereka, sebagai kedua orang tuanya.
"Yuke! Cepat kau buka pintunya. Mama ingin bicara denganmu!" ucap Laila, berusaha sabar menyikapi perilaku putrinya yang selalu membuat dia harus mengelus dada.
"Yuke, cepat buka atau Mama minta kepada sopir untuk membukanya dengan paksa!" ancam Laila kepada sang putri.
Tidak lama kemudian, Yuke pun membuka pintu kamarnya. Tetapi wajahnya ditekuk, cemberut! Sehingga membuat Laila merasa tidak suka melihatnya.
"Dengarkan Mama Yuke. Setiap anak gadis itu adalah tamu di rumah kedua orang tuanya. Sampai tiba waktunya nanti, ketika dia menikah dan mempunyai seorang suami! Maka dia akan menjadi seluruh hak tanggung jawab suaminya. Ayahmu pasti memiliki jodoh yang terbaik untukmu!" Laila berusaha melembutkan hati putrinya, agar tidak menolak perjodohan tersebut.
Akan sangat memalukan kalau sampai putrinya nanti berbuat ulah di acara pertemuan itu. Oleh karena itu, Laila berusaha sangat keras untuk membuat pikiran putrinya menjadi terbuka dan mau menerimanya dengan lapang dada.
"Sudah berapa lama kau mengenal Rasya?" tanya Laila merasa penasaran.
Soalnya selama ini Rasya selalu menolak, apabila akan diadakan pertemuan keluarga. Rasya selalu tidak pernah hadir di sana. Sehingga mereka tidak pernah bertemu sebagai sesama saudara satu sama lain.
"Yuke, bekerja di cafe milik Kak Rasya lebih dari 5 tahun, Mah. Tetapi baru beberapa bulan ini kami dekat secara pribadi!" ucap Yuke menceritakan tentang hubungannya bersama dengan Rasya, sang kakak.
Laila mengelus lembut rambut putrinya, Laila terus mendengar apa saja yang di sampaikan oleh Yuke, tentang Rasya. Sehingga membuat Laila sekarang mulai mengerti apa yang terjadi di antara keduanya.
"Yuke dan Kak Rasya, bisa mengenal lebih dekat satu sama lain, karena Kak Rasya yang membantu Yuke. Ketika Yuke dapat komplain dari pelanggan. Dan dia juga yang membantu agar pelanggan itu tidak menuntut Yuke." ucap Yuke menyelesaikan keterangannya.
__ADS_1
"Dari semua cerita yang kamu sampaikan, Mama bisa menarik kesimpulan. Bahwa Rasya peduli denganmu. Mungkin juga, ada rasa ketarikan di hatinya terhadapmu. Tetapi dia merasa kecewa, karena mendapatkan kenyataan bahwa kamu adalah adiknya!" ucap Laila mengucapkan hasil analisisnya ketika mendengarkan semua cerita Rasya dari Sang Putri tercinta.
"Mama nggak usah ngawur deh, mengarang cerita seperti itu. Ngak mungkin Kak Rasya menyukaiku. Dia itu seorang kutub utara, dingin dan mengenaskan pokoknya. Dia itu jarang tersenyum dan juga dia sangat galak pada karyawannya!" ucap Yuke sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan ibunya.
"Tapi selama beberapa bulan ini, Rasya mulai berubah kan? Dia menjadi lebih ceria dan dia juga banyak berbicara denganmu?" tanya Laila sambil tersenyum kepada Yuke.
"Iya Mama benar, selama beberapa bulan ini, dia sering mengantarku ke cafe dan dia juga sangat rajin sekali memperhatikan segalanya, makananku dan kesehatanku, selama bekerja di cafe." ucap Yuke sambil mengingat kembali hari-hari ketika dia bersama dengan Rasya.
"Mama merasa kasihan kepada Rasya. Di sepanjang hidupnya, dia selalu tertekan dan tidak bahagia. Karena permasalahan antara kedua orang tuanya. Sekarang dia mulai jatuh cinta. Malah terhadap Adiknya sendiri. Dua pasti sekarang sangat menderita sekali!" ucap Laila kembali mengelus rambut yoga yang masih ada dalam pelukannya.
"Rapi rasanya tidak mungkin Mah! Kalau Kak Rasya mencintai saya. Karena Kak Rasya itu tipe laki-laki yang sangat introvert dan dia tidak suka bergaul, sangat tertutup!" ucap Yuke menggambarkan karakteristik seorang Rasya yang selama ini dia kenal.
"Sudah ayo kita ke salon dulu mempersiapkan untuk acara nanti malam. Jangan sampai kamu membuat malu keluarga kita!" ucap Laila kembali membujuk putrinya untuk pergi ke salon bersama dirinya.
"Yuke paling males Mah, ke salon. Sudahlah kita tinggal dandan sendiri aja di rumah, Mama sudah cantik sekali kok, walau tanpa perawatan juga!" ucap Yuke sambil tersenyum memuji ibunya.
"Tapi dengan kita melakukan persiapan yang maksimal, itu artinya kita menghargai mereka, menghargai undangan mereka!" Laila kembali tersenyum menatap putrinya.
"Ribet banget sih, jadi perempuan. Orang cuma mau pertemuan makan malam saja, harus ke salon segala. Kayak nggak ada kerjaan yang lain saja!" ucap Yuke dengan sangat kesal.
"Kamu memang seorang perempuan yang berbeda. Ketika perempuan lain berusaha mati-matian untuk cantik dab menghabiskan waktu lama-lama perawatan di salon. Kamu malah lebih memilih untuk bekerja dan membanting tulang, menolak semua fasilitas kedua orang tuamu. Kamu adalah seorang perempuan yang hebat, putriku!" ucap Laila sambil mengelus kening putrinya.
__ADS_1