
"Om Ilham bilang, katanya dia tidak punya waktu untuk mengunjung Dubai dan tinggal di apartemen yang kuberikan. Dia lebih berat untuk mengurus para santrinya!" ucap Adrian sambil memegang tangan Syifa.
Syifa terlihat menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu, Abi pasti melakukannya. Karena Abi memang sangat mencintai para santri yang ada di pondoknya!" ucap Syifa sambil menatap Adrian.
Syifa kemudian bangkit dari duduknya dan menetap keluar melalui jendela yang ada di kamarnya.
Sejak mereka memutuskan untuk bulan madu di Maldives. Mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Karena Syifa paling tidak senang pergi jalan-jalan keluar.
Adrian malah senang dengan hal itu karena dia memiliki banyak waktu untuk bermesraan dengan istrinya.
Mereka layaknya seperti pasangan yang sedang berpacaran sangat mesra dan penuh dengan cinta kasih.
Mereka berdua sedang menikmati indahnya pacaran setelah menikah betul-betul sangat indah dan getarannya sanggup membuat Adrian hilang kata-kata.
Adrian yang selama ini pembangkang. Kini begitu menurut kepada Syifa. Apapun yang diinginkan Syifa selalu dia usahakan untuk diberikan. Adrian benar-benar memanjakan Syifa. Sehingga Syifa merasa sangat senang sekali berada di tempat itu bersama Adrian.
Tiba-tiba telepon ada yang berdering dan ternyata itu adalah dari ibunya.
"Mamahku menelpon. Sebentar ya? Aku angkat dulu!" Adrian kemudian meninggalkan Syifa di atas sofa itu.
"Jangan pergi aku ingin mendengarkan percakapanmu bersama dengan Mama!" ucap Syifa sambil menarik tangan Adrian untuk tidak meninggalkannya.
Adrian akhirnya tidak jadi pergi. Dia kembali duduk di sisi istrinya dan menjawab panggilan dari ibunya.
"Assalamualaikum, Mah! Apa kabarnya?" shop Adrian ketika membuka percakapan dirinya dengan sang ibu.
"Tolong kau buka loudspeakernya! Aku ingin mendengarkannya juga!" ucap Syifa berbisik di telinga Adrian.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Bagaimana kabar kalian apakah kalian senang dengan honeymoon nya kapan kira-kira kalian pulang ke Indonesia?" tanya Kesya kepada putranya.
"Kami baik-baik saja, Mah! Rencananya kami akan pulang dua hari lagi karena Syifa masih ingin jalan-jalan di pantai!" ucap Adrian pelan sambil mengelus pipi sang istri.
__ADS_1
"Mana Syifa Mama ingin bicara dengannya?" tanya Kesya lagi.
Adrian kemudian menyerahkan ponselnya kepada istrinya agar bisa berbicara dengan ibunya.
"Iya Mah, ini Syifa. Bagaimana kabar Mama serta papa dan juga kedua orang tuaku?" tanya Syifa kepada Ibu mertuanya.
"Kabar Kami semuanya baik. Alhamdulillah! Oh ya, kedua orang tuamu. Rencananya hari ini akan kembali ke Jawa Timur. Karena mereka sudah terlalu lama meninggalkan pondok pesantren!" ucap Kesya memberikan kabar terbaru tentang kedua orang tuanya Syifa kepada pengantin baru itu.
Syifa tampak terdiam sejenak kemudian dia melirik kepada Adrian.
"Bagaimana kalau kita pulang ke Indonesia sekarang aku ingin bertemu dengan kedua orang tuaku sebelum mereka kembali ke Jawa Timur!" tanya Syifa sambil melirik kepada suaminya.
"Tidak apa-apa! Lagi pula kan, kita sudah lama berada di sini. Saya juga sudah bosan dan ingin sekali kembali ke Indonesia!" jawab Adrian sambil memegang Tangan Syifa.
"Bagaimana Syifa?" tanya Kesya.
"Mah, Syifa minta tolong. Tolong untuk sampaikan pada kedua orang tuaku. Untuk menunggu kami berdua, sebelum kembali ke Jawa Timur kami hari ini juga akan pulang ke Indonesia!" ucap Syifa dengan pelan.
"Adrian menyembunyikan ponselnya Syifa. Dia merasa cemburu gara-gara ada seorang teman pria Syifa yang menghubungiku waktu kami pertama kali datang ke Maldives!" ucap Syifa mengadukan perbuatan suaminya yang sudah merampas ponsel miliknya kepada ibu mertuanya.
Adrian tampak melotot mendengarkan Syifa yang melaporkan dirinya kepada ibunya.
"Mana ponselnya? Coba mama biar bicara dengan Adrian. Kasihan kedua orang tuamu selalu menunggu kabar darimu!" ucap Kesya meminta kepada Syifa untuk bisa bicara dengan anaknya.
Syifa kemudian memberikan ponsel tersebut kepada Adrian.
Tampak Adrian yang cemberut kepada Syifa, karena perbuatannya yang merampas ponsel Syifa sudah diketahui oleh ibunya.
"Ya, Mah?" tanya Adrian dengan lesu.
"Apa benar apa yang dikatakan istrimu bahwa kamu sudah merampas ponsel istrimu?" tanya Kesya mengkonfirmasi informasi yang diberikan oleh menantunya.
"Benar Mah! Kemarin waktu pertama kami datang ke sini Rasya menghubungi Syifa ada yang tidak senang mah kalau Rasya berbicara dengan Syifa!" jawab Adrian sambil menatap ke arah Syifa.
__ADS_1
Syifa terkejut dengan alasan yang diucapkan oleh Adrian itu. Bahwa dia merasa cemburu dengan Rasya atasannya di kafe.
"Rasya yang anaknya suaminya tante Laila dari istri pertamanya itu? tante Laila yang mantan istrinya ayah mertua kamu?" tanya Kesya kepada Adrian.
Syifa yang baru mengetahui kejadian itu Kini dia menatap tajam kepada Adrian. Syif kemudian mengambil ponsel dari tangan Adrian.
"Apakah itu benar Mah? Kalau Pak Raysa itu adalah Kakaknya Yuke?" tanya Syifa mengkonfirmasi apa yang dia dengar, seakan tidak percaya dengan informasi yang baru dia dengar itu, tentang Rasya yang ternyata adalah kakak dari Syifa.
"Benar, sayang! Kami juga baru tahu kemarin. Yuke yang memberitahukannya. Oh ya, kamu belum tahu kabar terbaru tentang sahabat kamu ya? Yuke rencananya akan menikah dalam waktu 1 bulan ini. Kemarin dia yang memberitahukannya kepada kami!" ucap kepada Syifa.
Syifa seketika limbung, ketika mendengarkan berita tersebut. Bahwa sahabatnya Yuke akan menikah.
"Baiklah, Mah! Kami akhiri telepon ya karena kami harus bersiap untuk segera kembali ke Indonesia!" Syifa kemudian berpamitan kepada Ibu mertuanya. Kemudian dia dan Adrian pun bersiap-siap untuk kembali pulang ke Indonesia.
Sepanjang perjalanan ke Indonesia Syifa lebih banyak diam. Banyak hal yang dia pikirkan saat ini. Adrian tampak mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan istrinya yang lebih banyak diam sekarang.
"Sayang, bisa kau jelaskan kepadaku? Kenapa sejak kita berangkat dari Maldives hingga sebentar lagi kita sampai ke Indonesia. Aku perhatikan, kau tetap saja diam? Apakah kau sudah memikirkan sesuatu?" tanya Adrian merasa penasaran dengan sikap istrinya yang berubah menjadi pendiam.
"Aku hanya sedang merasa prihatin dengan sahabatku Yuke!" ucap Syifa sambil menatap kepada Adrian, suaminya.
"Kenapa? Emangnya dia adalah masalah?" tanya Adrian sambil mengerutkan keningnya.
"Aku kasihan sama Pak Rasya. Aku tahu kalau sebenarnya Pak Rasya itu mencintai Yuke. Siapa yang menyangka, ternyata mereka malah bersaudara. Dan sekarang, Yuke malahan akan menikah dengan laki-laki lain. Saat ini Pak Rasya pasti sedang bingung dan sedih tentang keadaan itu!" ucap Syifa sambil melihat kepada Adrian.
Adrian mengerutkan keningnya tampak kalau dia tidak senang dengan apa yang dikatakan oleh Syifa saat ini.
Adrian memalingkan wajahnya dan tidak mau melihat Syifa. Sehingga membuat Syifa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Ada apa dengan sikapmu ini? Toling jangan berperilaku aneh!" ucap Syifa.
"Bagaimana Aku tidak marah? Dari tadi kau diam dan melamun. Ternyata kau sedang memikirkan Rasya? Apa kau sama sekali tidak menghargaiku sebagai suamimu!" tanya Adrian sambil menatap tajam kepada Syifa.
"Kau sungguh aneh sekali. Kau bertanya dan aku menjawabnya dengan jujur. Kenapa kau sekarang marah-marah padaku? Aku jadi bingung denganmu sebenarnya maumu apa?" tanya Syifa sambil menatap kepada Adrian. Yang sekarang malah pergi meninggalkannya dan berpindah ke kursi yang lain di jet pribadi milik Abimana grup.
__ADS_1