
Adrian dan Syifa sekarang duduk berdua di taman. Adrian masih diam, begitu juga dengan Syifa.
"Semua gara-gara kamu! Kalau kamu gak usah rese ngurus hidup aku, masih kita gak kayak gini!" sungut Syifa masih dengan bibir manyunnya.
Adrian melirik sekilas Putri Kiainya yang selalu di panggil Om Ilham olehnya. Gadis manis yang urakan dan tampak aura pembangkangan dari raut wajahnya.
"Kalau kamu nurut sama aku, gak akan ada insiden seperti itu! Kalau mau nyari siapa yang salah, kita berdua sama-sama salah!" ucap Adrian sambil melihat pasangan lain yang juga sedang menghabiskan waktu bersama di taman seperti dia dan Syifa. Tapi, apakah mereka berdua layak disebut pasangan?
"Udah nggak usah buang-buang waktu dengan berantem! Lebih baik sekarang kita pikirkan solusi apa yang kita lakukan, agar pernikahan ini tidak terjadi! Aku nggak mau ya, sampai menikah dengan kamu, dasar Om Om!" Adrian auto melotot mendengar dirinya disebut om-om oleh Asyifa. "Kenapa? Marah koh, di panggil Om Om?" decih Asyifa kesal melihat reaksi Adrian.
"Eh anak kecil, kamu sebagai anak seorang Kyai nggak punya sopan santun sama sekali dengan orang yang lebih tua dari kamu! Apa kamu nggak malu dengan kelakuan kamu? Aku kasihan ya sama Om Ilham punya anak seperti kamu, anak bandel, urakan, nggak punya sopan santun sama sekali!" Adrian Adrian marah sekali kepada Asyifa.
Biasanya Adrian adalah tipe orang yang sabar dan bisa menahan emosi. Tidak tidak tahu kenapa, berhadapan dengan Asyifa membuat dirinya hilang kendali, dan hilang kesabaran. Melihat Asyifa yang cuek dengan dirinya, membuat Adrian jadi gemes.
"Sebaiknya kamu mulai bersiap untuk menjadi seorang istri yang baik! Kalau tidak aku tidak akan sudi untuk memberikan kamu nafkah apapun, paham itu!" ancam Adrian dengan wajah garangnya.
__ADS_1
"Ih PD amat! Emang siapa yang mau jadi istri Loe? Gue juga nggak ngarep ya, dapat nafkahdari loe, dasar om jelek!" Mendengar makian Asyifa Adrian merasa marah. Adrian mendekati Syifa dengan tatapan horornya, Asyifa yang merasa ketakutan mau tidak mau bergeser terus dari tempat duduknya, tanpa dia sadari kalau dia telah duduk di ujung kursi. Hampir saja dia terjatuh kalau Adrian tidak memegang bahunya. Selama beberapa detik Adrian dan Syifa saling memandang terpesona satu sama lain.
Asyifa langsung bangun dari tempat duduknya ketika sadar bahwa tubuhnya kini berada dalam pelukan Adrian.
"Gak usah pegang-pegang ya! Dasar om jelek! Kerjanya cari kesempatan aja! Awas loh, nanti aku laporan kau sama Aby kalau kau sudah berbuat tidak sopan padaku!" kancan Asyifa sambil bertolak pinggang.
Adrian hanya tersenyum mendengar ancaman Assyifa.
" Heh anak kecil! Kalau dilihat-lihat, kok manis juga ya? Oke deh, aku akan pertimbangkan untuk melamar kamu! Kamu siap-siap ya, aku pasti akan bikin kamu teriak-teriak di malam pernikahan kita! hahaha!" Adrian tertawa terbahak-bahak. Asyifa sudah merah padam mukanya karena malu.
"Ih, siapa juga yang mau menikah sama kamu? Dasar om om jelek, wajah mesum! Awas kau ya!" Asyifa langsung lari terbirit-birit ketika melihat Adrian menatapnya dengan horor dan berusaha untuk mendekatinya. Adrian tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kesakitan merasa lucu melihat reaksi Syifa yang menggemaskan.
Adrian mengambil ponselnya kemudian mencari kontak Om Ilhamnya kemudian Adrian menelpon.
" Assalamualaikum Om, ini Adrian Om! Iya Adrian udah memutuskan kalau Adrian mau menikah dengan Syifa! Kalian bisa menyiapkan semuanya, insyaallah dalam 2 hari Adrian dan kedua orang tua Adrian akan datang untuk melamar Asyifa secara resmi!" ucap Adrian, setelah itu dia menutup telponnya.
__ADS_1
Adrian berniat ingin menemui Fathu, Adrian ingin mengenal istrinya Fathu lebih dekat. Sejak Fathu menikah Adrian belum pernah mengunjungi pondok Fathu. Adrian sengaja tidak menghubungi Fathu dahulu, karena ingin memberikan kejutan dengan datang ke pondok tanpa pemberitahuan. Adrian tersenyum karena membayangkan wajah syock Fathu ketika melihat dirinya yang datang.
"Pasti Fathu bakalan kaget, dengan kedatanganku! Aku mau beli apa ya? Untuk hadiah Abah dan Umynya Fathu? Sepertinya aku juga butuh membeli sebuah hadiah untuk istrinya sebagai kado pernikahan mereka. Oke deh aku mau belanja dulu. Semoga aja mereka menyukai hadiah yang aku berikan!" Adrian lalu mengarahkan mobilnya ke pusat perbelanjaan di kota. Adrian memilih beberapa hadiah sebagai kado pernikahan untuk Fathu dan istrinya. Kemudian Adrian juga membeli beberapa hadiah untuk Abah dan Umy Fathu.
Adrian tersenyum puas dengan hadiah yang sudah dia pilih. Kemudian Adrian berpesan kepada penjaga toko tersebut untuk mengirimkan hadiah-hadiah itu ke alamat yang sudah dia berikan. "Hati-hati ya, awas jangan sampai ada yang rusak!" pesan Adrian.
Penjaga toko yang melayani Adrian merasa kebingungan dengan hadiah yang dikirimkan oleh Adrian ke alamat tersebut karena sungguh di luar kewajaran. Penjaga toko masih menatap aneh ke arah Adrian.
" Kenapa kau menatapku seperti itu apakah ada yang aneh?" tanya Adrian heran.
"Ini benar Pak? Ini semua untuk hadiah? Bapak bukan mau pindahan kan?" tanya penjaga toko itu masih ragu-ragu.
"Memang untuk hadiah, emang apa anehnya? Temanku itu menikah, jadi aku memberikan semua ini untuk mengisi rumah baru buat mereka. Aku juga akan menyediakan sebuah rumah untuk mereka. Jadi perabot-perabot ini adalah untuk mengisi rumah tersebut Apakah ada yang aneh?" tanya Adrian. Penjaga toko tersebut geleng-geleng.
"Wah Pak teman Anda sungguh beruntung sekali punya teman Sultan seperti anda! Bahkan memberikan hadiah pernikahan saja nilainya sampai ratusan juta seperti ini! Anda sungguh luar biasa Pak! Saya adalah penggemar Anda!" ucapan jaga toko itu sambil memberikan dua jempolnya. Adrian merasa geli melihat reaksi penjaga toko tersebut. Setelah selesai membayar semua pesanannya, Adrian akhirnya memutuskan untuk segera berangkat ke pondok Fathu dengan senyum terlukis di bibirnya.
__ADS_1
Adrian merasa bahagia sekali setelah memilih semua hadiah yang akan diberikan kepada sahabatnya tersebut. Ini adalah sebuah prestasi besar bagi dirinya karena dia sendiri yang telah memilih barang-barang tersebut.
Sebagai pewaris Abimana grup, sepanjang hidup Adrian hidupnya adalah dilayani. Segala kebutuhannya sudah tersedia. Jadi selama ini Adrian tidak pernah benar-benar berbelanja. Ini adalah kali pertama Adrian memilih perabotan rumah tangga sendiri dan itu adalah hadiah yang akan dia berikan kepada sahabatnya Fathu.