Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
115. Baiklah!


__ADS_3

Bayu merasa jengkel sekali ketika mendengarkan Mark mengatakan bahwa dia adalah anak buah Andika.


"Lancang sekali kau mengatakan kalau aku adalah anak buahnya Andika! Apa kau tidak melihat mantion ini? Ini adalah milikku!" ucap Bayu dengan meradang sambil menatap tajam ke arah Mark yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan keheranan.


"Sayang, apakah benar laki-laki itu adalah ayahmu?" tanya Mark dengan menatap lembut Sulis sehingga membuat Sulis menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Iya Pah dia adalah ayahku. Tolong jangan berbuat kasar terhadapnya. Karena hanya dia yang kumiliki saat ini!" ucap Sulis sambil menundukkan kepalanya. Bagaimanapun dia merasa risih melihat tatapan Mark yang begitu memujanya.


"Baiklah! Kami akan pergi ke rumah sakit. Cepat kalian bawa tuan muda. Aku akan mengurus sedikit masalah di sini!" ucap Mark memberikan perintah ke salah satu anak buah yang tadi mengikutinya.


Setelah Steven diangkut dan dibawa ke rumah sakit. Kemudian Mark langsung menggamit lengan Sulis untuk mengikutinya pergi ke rumah sakit.


"Ayo Sayang! Kamu ikut sama Papa. Kita harus menemani Steven di rumah sakit!" ucap Mark sambil tersenyum kepada Sulis.


"Tinggalkan putriku di sini. Aku tidak rela kalau putriku harus menunggu putramu yang bejat itu!" ucap Bayu dengan suara lantang sehingga membuat Mark menoleh kepadanya dengan senyum sinis tercetak di wajahnya.


"Setelah kau menikahkan Sulis dengan putraku. Maka sekarang dia adalah tanggung jawab keluargaku. Kau sudah tidak memiliki hak apapun terhadapnya. Ayo sayang! Kau harus mengikuti Papa untuk mengurus suamimu di rumah sakit!" ucap Mark lalu dia melangkahkan kakinya keluar dari Mansion milik Bayu. Dia sama sekali acuh ketika dia mendengarkan semua teriakan dan makian yang diberikan oleh Bayu terhadap dirinya.


"Papa heran sayang! Kau merupakan seorang gadis yang begitu lembut dan halus. Kenapa kau bisa memiliki seorang ayah dengan perangai yang begitu jelek?" ucap Mark terheran-heran sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Hingga saat ini, Mark masih tetap betah untuk menggenggam lengan Sulis dalam genggamannya.


"Maafkan Sulis Pah! Apakah Papa bisa melepaskan lengan Sulis dari genggaman papa?" tanya Sulis sambil menundukkan kepalanya. Merasa malu dan risih.

__ADS_1


"Maafkan Papa sayang! Papa melakukan ini karena tanganmu begini dingin. Papa takut kalau cucu papa kenapa-napa. Kalau ibunya kedinginan dan kemudian sakit!" ucap Mark sambil menaruh tangan Sulis di depan mulutnya. Mark kemudian menghembuskan hawa panas dari mulutnya ke dalam tangan Sulis agar terasa lebih hangat.


Sulis sudah memerah wajahnya. Ketika melihat perlakuan yang begitu manis yang diberikan oleh Mark terhadap dirinya.


Bahkan Steven suaminya tidak pernah memperlakukan dia seperti itu. "Tolong Pah jangan lakukan hal seperti ini. Kalau orang lain melihat, pasti akan salah paham dengan kita berdua!" Sulis kemudian langsung menarik tangannya dari genggaman Mark.


Tetapi sekarang gantinya, Mark malah meraih kepala Sulis untuk berada di dalam pelukannya. Lalu mengelus kepala Sulis dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Jantung Sulis berdebar begitu kencang. Ketika dia mendapatkan perlakuan yang tidak biasa dari ayah mertuanya yang baru pertama kali dia temui hari ini.


"Pah tolong jangan melakukan hal-hal seperti ini. Ini sangat berbahaya bisa menjadi fitnah untuk kita berdua!" ucap Sulis berusaha untuk melepaskan dirinya dari rengkuhan Mark.


Berbeda budaya mungkin menjadi perbedaan pola pikir keduanya. Bagi Mark yang asal Jerman melakukan hal-hal seperti itu terhadap seorang wanita adalah hal yang biasa. Apalagi dia merasa sayang sekali kepada Sulis yang begitu lembut wajahnya bahkan sekarang sedang hamil cucunya.


Tetapi Sulis yang sejak kecil diajarkan tentang norma-norma dan juga Tata Susila di Indonesia. Merasa bahwa apa yang dilakukan oleh ayah mertuanya saat ini benar-benar tidak betul. Karena akan menimbulkan fitnah apabila orang lain melihatnya.


Oleh karena itu saat ini Sulis berusaha sangat keras. Untuk bisa melepaskan diri dari rengkuhan Mark yang saat ini semakin memeluknya dengan erat. Mart takut kalau Sulis saat ini kedinginan.


Karena di luar sedang turun salju. Sementara Sulis hanya menggunakan pakaian yang tipis. Oleh karena itu, Mark saat ini berinisiatif untuk memeluk tubuh menantunya itu agar tidak kedinginan lagi.


"Tenanglah! Sayang kau jangan terlalu banyak bergerak. Kasihan bayi yang ada di perutmu. Dia pasti kedinginan. Apa kau tidak melihat kalau salju di luar begitu deras? Lihatlah pakaianmu begini tipis. Papa tidak tega kalau membiarkan cucu Papa sampai kedinginan di dalam perutmu!" ucap Mark kepada Sulis agar dia tidak terlalu banyak bergerak di dalam pelukannya.

__ADS_1


Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mark. Sulis akhirnya menurut juga. Dia malah sekarang memejamkan matanya. Karena sangking mengantuknya. Apalagi kehangatan yang diberikan oleh Mark membuat dia merasa nyaman dan lelap.


Melihat Sulis Yang Sudah terlelap akhirnya Mart menyuruh kepada sopirnya untuk membawa mereka ke Mansion Milik Steven agar menantunya bisa beristirahat di sana.


Begitu sampai di Mansion. Mark langsung menggendong Sulis ala bridal style. Mark langsung meletakkan tubuh Sulis di atas ranjang di dalam kamar Steven. Kemudian dia langsung memberikan selimut untuk Sulis agar tidak kedinginan.


Sebelum meninggalkan kamar itu. Mark juga mengatur suhu AC agar tidak terlalu kedinginan bagi Sulis.


Setelah memastikan semuanya aman dan terkendali Mark langsung meninggalkan kamar tersebut dan dia menuju ke rumah sakit untuk menemui putranya.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, tiba-tiba saja Elena meneleponnya.


"Ya Sayang ada apa?" tanya Mart ketika dia mengangkat telepon dari istrinya.


"Kau di mana sekarang sayang? Bagaimana keadaan Steven saat ini? Anak buahmu tadi menelponku. Katanya Steven dalam keadaan kritis?" tanya Elena membombardir Mark dengan segala pertanyaan yang membuat dia gelisah tentang Putra kesayangannya.


"Tenanglah sayang! Papa sudah berhasil menyelamatkannya. Saat ini dia sudah ada di rumah sakit. Papa sedang dalam perjalanan ke sana setelah mengantarkan menantu kita ke Mansion milik Steven!" ucap Mark berusaha menenangkan Elena yang tampak khawatir dengan Steven.


"Kenapa kau lebih memperhatikan menantu kamu itu? Daripada putramu sendiri huh? Apa kau tahu kalau ayahnya yang sudah membuat Steven menjadi seperti itu?" ucap Elena mengamuk ketika mengetahui suaminya lebih memperdulikan Sulis daripada putranya.


"Ayolah sayangku jangan meradang seperti itu. Bagaimanapun Sulis saat ini sedang mengandung cucu kita. Apakah salah kalau Papa memperhatikannya? Sudahlah Mama jangan khawatirkan apapun semua urusan di sini sudah Papa handle baik-baik. Mama lebih baik fokus dengan usaha Mama untuk menghancurkan Abimana grup!" ucap Mark kemudian dia menutup panggilan telepon dari istrinya Karena dia sudah lelah mendengarkan segala caci maki dari istrinya.

__ADS_1


"Entah berapa lama perjuangan yang harus dilewati untuk bisa menghancurkan Abimana grup. Ternyata Andika sangat luar biasa auranya. Pantas saja selama bertahun-tahun ini kami selalu saja menemui kegagalan dalam usaha untuk menghancurkannya!" ucap Mark bermonolog kepada dirinya sendiri merasa takjub dengan Aura seorang Andika Abimana yang begitu luar biasa menyilaukan matanya sebagai orang bisnis.


"Aku sekarang mengerti. Kenapa Abimana grup begitu berkembang pesat di bawah kepemimpinan seorang Andika Abimana. Hal itu pasti karena auranya yang sangat membunuh. Sehingga para rekan bisnisnya tidak ada yang berani macam-macam dengan dia!" ucap Mark menganalisis kondisi seorang Andika Abimana yang membuat silau matanya saat pertama kali melihat Andika.


__ADS_2