
Begitu sampai di Bandara Kesya dan Andika langsung menjemput Adrian dan Syifa. Kedua pasangan suami istri yang baru pulang bulan madu dari Maldives.
Andika mengerutkan keningnya, ketika mendapatkan kenyataan bahwa ternyata putranya tampak tidak bahagia. Ketika Adrian turun dari pesawat. Tampak Adrian cemberut dan cuek terhadap istrinya.
"Marahan?" tanya Andika kepada Adrian.
Adrian hanya menarik nafas dengan dalam, kemudian dia langsung naik ke dalam mobil. Adrian tidak mau mengatakan apapun kepada ayahnya. 'Biarlah kekesalan hatiku, hanya aku yang tahu!' bathin Adrian.
Kesya tampak bahagia melihat Syifa yang kini sudah ada di hadapannya dan tersenyum kepadanya. Kesya pun merasa heran melihat Adrian yang tampak cuek terhadap istrinya.
"Apa dengan suamimu Syifa?" tanya Kesya berbisik di telinga menantunya.
"Adrian sedang cemburu Mah, sama Pak Rasya!" ucap Syifa sambil melirik sinis ke arah Adrian. Bagaimanapun Syifa merasa kesal karena Adrian sejak di pesawat selalu mendiamkannya. Bahkan merekapun duduk secara terpisah.
"Kau harus sabar menghadapi Adrian, sayang! Dia itu memang pencemburu buta, sama seperti ayahnya! Kau harus memiliki ekstra kesabaran!" ucap Kesya berbisik di telinga Syifa.
"Kalian sedang membicarakan Papa?" tanya Andika sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak, Pah! Kami tidak membicarakanmu, Pah! Tapi, kami sedang membicarakan Adrian yang sedang cemburu buta!" ucap Kesya sambil terkekeh.
Adrian melirik kesal kepada ibunya, yang sekarang sepertinya sudah berpihak kepada Syifa istrinya.
"Mentang-mentang sesama perempuan dengan Syifa. Mama sekarang sudah tidak peduli lagi dengan Adrian!" cicit Adrian sambil cemberut kepada ibunya.
Kesya tertawa mendengarkan Adrian yang kini sedang misuh-misuh terhadap dirinya yang terlihat lebih membela Syifa.
__ADS_1
"Mama kan seorang perempuan, Adrian! Jadi Mama paham perasaannya Syifa saat ini. Sebagai seorang suami, kamu yang terlalu pencemburu dan tidak mau mendengarkan penjelasan dari istrimu!" ucap Kesya sambil menepuk bahu putranya.
"Sepertinya, Mama lebih menyayangi Syifa daripada Adrian!" ucap Adrian mulai kesal.
"Sudah! Adrian, kamu baru juga datang dari honey moon, sudah cari ribut dengan ibumu!" tegur Andika tidak senang.
Adrian paling takut dengan ayahnya makanya sekarang dia langsung diam. Ketika Adrian mendapatkan teguran dari ayahnya.
"Kedua orang tuamu, sekarang menunggumu di rumah mereka. Kita akan langsung ke sana atau bagaimana?" tanya Kesya sambil mengelus tangan Syifa, menantunya.
Kesya sangat senang sekali. Karena sekarang dia sudah mempunyai seorang menantu yang sangat cantik seperti Syifa. Oleh karena itu, dia sangat menyayangi Syifa.
"Kalau Papa dan Mama tidak keberatan, Syifa ingin menemui mereka!" ucap Syifa dengan suara yang pelan.
Bagaimanapun sekarang perasaan Syifa sedang tidak enak. Karena melihat Adrian yang sampai sekarang masih cemberut kepadanya. Adrian tampaknya masih marah kepadanya gara-gara dia yang memikirkan Rasya ketika tadi di pesawat.
"Tapi Adrian lelah, Mah! Apa Adrian tidak bisa ke rumah dulu saja? Biar nanti Syifa ke sana sendiri saja bersama mama!" ucap Adrian masih terdengar ketus.
'Apakah dia segitu marahnya kepadaku? Bahkan untuk bertemu dengan kedua orang tuaku, dia tidak mau. Apakah segitu tidak berharganya diriku di matanya? Sampai orang tuaku pun tidak mau dia hargai?' bathin Syifa saat ini sedang merintih kesakitan ketika melihat Adrian yang berprilaku seperti itu.
"Temuilah sebentar kedua mertuamu, Adrian! Sebelum mereka kembali ke Jawa Timur entah kapan lagi kalian akan bertemu dengan mereka!" ucap Andika dengan tegas dan tidak mau dibantah oleh Adrian.
"Ya sudah deh, terserah kalian! Tapi jangan minta Adrian untuk bersandiwara kalau semuanya baik-baik saja antara saya dengan Syifa!" ucap Adrian kesal sambil melirik ke belakang. Saat ini memang Syifa duduk di belakang bersama kedua orang tuanya.
"Dengarkan Papa Adrian! Sebagai seorang laki-laki kamu harus bijaksana dan harus bisa menempatkan segala sesuatu itu pada tempatnya. Kau harus menghormati kedua mertuamu. Semarah apapun kau pada istrimu! Apa kau paham itu Adrian? Jangan kau buat malu kedua orang tuamu, dengan perilakumu yang tidak sopan itu!" tegur Andika sambil menatap tajam kepada Adrian yang kini mulai menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maafkan Pa! Cuman Adrian memang saat ini sedang sakit hati dengan Syifa. Bagaimana bisa di depan saya, dia masih memikirkan orang lain yang jelas-jelas dia tahu. Kalau saya tidak senang dia memikirkan laki-laki itu!" ucap Adrian mengatakan apa yang sedang dia rasakan saat ini terhadap istrinya.
"Aku kan tidak memikirkan dia sebagai kekasihku atau sesuatu semacam itu. Aku memikirkan Pak Rasya hanya sebagai temanku, sebagai atasanku di tempat kerja. Karena aku merasa prihatin kepadanya, karena ternyata dia telah jatuh cinta terhadap Adiknya sendiri. Apakah itu salah? Memang di mana letak salahnya? Kau saja yang terlalu berlebihan!" ucap Syifa dengan lantang. Tidak peduli lagi bahwa disitu ada kedua mertuanya. Itu karena sangking kesalnya dia melihat kelakuan Adrian yang dari tadi terus memojokkan dirinya.
"Sabar, Syifa! Jangan terlalu terbawa emosi!" Kesya berusaha menenangkan Syifa sambil mengelus punggung Syifa dengan penuh kasih sayang.
Kini Syifa mulai terisak dalam pelukan Kesya. Syifa merasa sedih dan kesal dengan kelakuan Adrian yang kekanakan.
"Memangnya apa salahnya kalau istrimu memikirkan harus seperti itu? Syifa hanya merasa prihatin saja dengan keadaan Rasya saat ini. Kenapa kau tidak berusaha untuk mengerti istrimu, Adrian?" tanya Kesya sambil menggelengkan kepalanya.
"Entahlah Mah! Yang jelas sekarang Adrian masih kesal dan jengkel! Seharusnya syifa mengerti bahwa Adrian itu sangat sensitif kalau masalah Rasya. Karena dahulu, rencana pernikahan kami batal gara-gara Rasya itu!" ucap Adrian berusaha untuk menjelaskan perasaannya saat ini kepada kedua orang.
"Kau selalu saja hidup dengan masa lalu yang tidak penting! Bukankah sekarang aku sudah menikah dengan kamu? Pak Rasya saat ini sedang sedih, karena wanita yang dia cintai, ternyata adalah Adiknya sendiri!" ucap Syifa.
"Kalian menikah baru beberapa hari, masuk hitungan bulan saja belum genap satu angka. Masa sudah mau ribut seperti ini? Apa tidak malu dengan pesta kalian yang kemarin dibuat begitu heboh dan begitu meriah?" tanya Andika sambil menepuk bahu Adrian dari belakang.
"Adrian! Dengarkan Papa! Kamu sekarang itu adalah seorang suami. Kamu harus belajar untuk bisa memahami dan berempati dengan perasaan istrimu. Jangan hanya egomu saja yang kau ikuti!" ucap Andika.
Andika terus berusaha untuk menasehati putranya. Agar jangan terlalu menekan istrinya untuk perasaan yang seperti itu. Perasaan cemburu jangan terlalu diikuti. Kalau tidak, nanti bukannya memberikan kebaikan. Tetapi malah memberikan keburukan di dalam rumah tangga yang baru saja dibangun oleh mereka.
Memang begitulah sebaiknya orang tua ketika menghadapi anak-anak mereka bermasalah dengan pasangannya.
Sebaiknya orang tua bersikap bijaksana dan berusaha untuk menasehati mereka.
Bukannya malah ngompor-ngompori ataupun membuat suasana makin kisruh. Sehingga rumah tangga anak mereka menjadi tidak baik dan pada akhirnya menjadi merusak cinta kasih diantara mereka.
__ADS_1
Pasangan muda, ibaratnya mereka itu masih dalam tahap belajar, masih dalam tahap saling mengenal satu sama lain.
"Sangat wajar kalau terjadi permasalahan di dalam sebuah rumah tangga. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi masalah itu, agar tidak semakin meruncing dan tanpa penyelesaian yang baik. Kalau kita salah menyikapi, penyesalan selalu datang terlambat." ucap Andika sambil menepuk bahu putranya.