Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
47. Perundingan Serius


__ADS_3

Setelah mereka sampai di gedung yang akan di sewa untuk acara resepsi, mereka semua masuk dan melihat kemegahan gedung tersebut. Asyifa terkesiap, "Wah, mewah sekali!" tanpa sengaja Asyifa mengatakannya.


"Tante akan buat pernikahan kalian menjadi sebuah pernikahan termegah di abad ini!" ucap Kesya sambil menggenggam tangan calon menantunya.


"Oh, Tante sama Om, serius akan menikahkan kami?" tanya Asyifa tampak terkejut. Andika mendekati Syifa, lalu menepuk bahunya.


"Om tahu, kamu sengaja mengarang cerita tentang kamu di perkosa kepada Adrian, agar kami membatalkan pernikahan bukan?" sontak Asyifa menatap wajah Adrian, yang Walaupun sudah tua, namun garis ketampanan masih nampak sekali di wajahnya.


"Om, Om tahu dari mana?" Asyifa sampai kesulitan menelan salivanya sendiri. Apalagi ketika menatap wajah Aby dan Umynya, yang menatap horor dan penuh pertanyaan kepada dirinya. Syifa sudah mati kutu di buatnya. Adrian itu pria polos, dan baik hati. Makanya dia bisa dengan mudah. Membodohi dia dengan cerita palsu soal perkosaan itu.


"Maksudnya apa Syifa? Apa yang dikatakan sama Om kamu?" tanya Qonita penasaran.


"Tidak ada maksud apapun, Umy!" ucap Syifa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Ah, sialan! Kenapa gue harus ketemu mereka disini? Sial benar nasib gue!' rutuk Asyifa dalam.hatinya.


"Jawab pertanyaan Umy kamu!" ucapan Ilham yang keras, mengembalikan Asyifa dari lamunannya.


"Aby, Syifa cuma sedang bercanda doang, dengan Adrian! Dia malam itu kelihatan sangat khawatir dengan keadaan Syifa yang pingsan, jadi iseng aja, Syifa mengarang cerita itu, agar Adrian mau membatalkan pernikahan itu!" akhirnya kejujuran keluar juga di mulutnya Syifa.


"Kenapa kamu menentang pernikahan ini?" tanya Andika.


"Syifa sudah jatuh cinta dengan pria lain, Om! Namanya Rasya, dia manager di tempat Syafa kerja!" semua yang ada di situ seketika membisu. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Asyifa.


"Kamu pacaran, huh?" tanya Ilham dengan murka.


"Tidak, Aby! Hanya Syifa yang mencintai dia! Dia tidak tahu, kalau Syifa mencintai dia!" ucap Syifa dengan tertunduk malu, membongkar rahasia perasaan dirinya kepada manager tampannya. Syifa sudah dua tahun, mengincar manager tampan itu. Tetapi tidak pernah berani mendekat ataupun membuat pengakuan cinta.

__ADS_1


"Apa pria yang bernama Rasya itu, dia mencintai kamu juga?" tanya Kesya penasaran.


"Syifa tidak tahu, Tante! Syifa tidak pernah bercakap-cakap dengan dia! Tampaknya dia sudah memiliki seorang kekasih!" ucap Syifa jujur.


"Lalu apa yang kamu harapkan, dari seorang pria yang sudah memiliki seorang kekasih, huh?" tanya Ilham kesal.


"Kamu mau jadi pelakor, seperti mantan istri Papah kamu?" tiba-tiba saja Qonita kelepasan bicara. "Maaf, Pah! Kelepasan!" Qonita langsung menutup mulutnya. Merasa takut dengan sang suami yang sudah menatapnya dengan horor. Asyifa auto melotot, dia baru tahu kenyataan ini.


"Jadi, Tante Laila itu pelakor?" tanya Syifa tidak percaya.


"Kenapa? Mau kau teladani, dengan merebut pacar orang lain?" sengit Ilham mulai jengah karena pembicaraan mengenai Laila dan Firman.


Ilham masih ingat kejadian ketika mereka bertemu saat di Maldives, saat mereka melakukan honeymoon di sana. Kelakuan Firman yang membuatnya merasa sangat marah, hingga saat ini masih belum bisa melupakan kejadian tersebut. Kenangan buruk yang terjadi dalam hidupnya. Dipermalukan oleh suami mantan istrinya.


Kejadian itu bisa di baca di novel "Assalamualaikum ustadz ku" kalau kalian penasaran ya. reader ku!


Yuk lanjut lagi dengan cerita di novel ini.


"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan ini?" tanya Kesya mulai panik. Persiapan pernikahan sudah hampir 90%, bahkan undangan sudah di sebarkan.


"Kita tetap akan melanjutkan pernikahan itu!" putusan Ilham tanpa mau di ganggu gugat lagi. Syifa juga sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ya udah Aby! Syifa nurut sama Aby! Tapi Aby nggak boleh ingkar janji ya, kalau Syifa boleh belajar fashion di Perancis!" ucap Syifa mencoba membuat kita kesepakatan bersama orang tuanya.


"Kalau masalah itu, bisa kau rundingan dengan suami kamu! Setelah kamu menikah nanti, dia yang akan bertanggungjawab atas hidup kamu!" ucap Qonita.


Shifa menelan ludah nya kasar, merasa hilang harapan.

__ADS_1


"Kamu gak usah khawatir, Abimana Group memiliki sebuah butik di Paris. Nanti Om bisa menugaskan Adrian untuk mengurus butik tersebut, sehingga kalian suami istri tidak akan berpisah!" ucap Andika yakin.


"Om punya butik di sana?" tanya Syifa antusias.


Ya! kelemahan Shifa adalah cita-citanya menjadi seorang desainer ternama. Andika mulai mengetahui kelemahan calon menantunya tersebut. Sehingga dia menggunakan itu untuk bisa membujuk Syifa agar mau menerima pernikahannya dengan Adrian.


Tidak lama kemudian, Adrian sudah datang menyusul. Tampak kekhawatiran di wajahnya.


"Maafkan Adrian, Pah! Ponsel Adrian hilang, apa bisa Papa mencoba untuk menghubungi ponselku? Tampaknya tadi tertinggal di sekitar sini, waktu Adrian pergi ke kantor!" ucap Adrian, Asyifa melirik calon suaminya sekilas, Adrian hanya mengerutkan keningnya, melihat Syifa ada di sana.


"Sebentar, Papa ambilkan ponselnya dulu!" Andika lalu mengambil ponsel miliknya di tas sang istri. Lalu menyerahkan ke pada putranya.


"Adrian kesana dulu, Pah! Kalian bisa melanjutkan diskusinya!" Adrian kemudian menjauh dari tempat kedua orang tuanya dan calon mertuanya, yang sedang melakukan perundingan serius, masalah masa depannya bersama Syifa, gadis bengal yang sudah mengerjai dirinya.


Adrian masih sibuk menghubungi nomor teleponnya yang dapat diperkirakan jatuh di sekitar tempat itu. Agak lama, panggilan tersebut tidak di angkat.


"Assalamualaikum, apakah Anda yang menemukan ponsel saya? Perkenalan nama saya Adrian! Dimana kita bisa bertemu untuk saya mengambil ponselnya?" Adrian to the point. Karena dirinya sedang di tunggu kedua orangtuanya.


"Baiklah, saya tunggu di cafe sekitar sini!" Adrian lalu menutup panggilan teleponnya. Lalu Adrian mencari sebuah meja kosong di cafe, yang tidak jauh lokasinya dari tempat perundingan kedua orang tuanya mengenai pernikahannya. Asyifa bisa melihat dari kursinya, bahwa Adrian sedang melakukan perbincangan dengan seorang wanita. Entah kenapa,hatinya merasa panas.


"Lihatlah! Belum menikah saja sudah seperti itu kelakuan dia!" Asyifa lalu bangkit dari duduknya, berniat akan melabrak Adrian dan membuat dia malu.


"Syifa! Jangan berbuat gegabah!" Abynya berusaha memperingatkan. Tapi Syifa sudah berdiri di hadapan Adrian dengan berkacak pinggang.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Adrian bingung.


"Belum menikah saja, kelakuan kamu udah minus kayak gini! Gimana kalau kita udah nikah?" sengit Asyifa dengan mata merah, menahan amarah yang dia sendiri tidak paham, kenapa hatinya kesal sekali melihat Adrian duduk berhadapan dengan seorang wanita.

__ADS_1


"Syifa? Jadi dia ini yang akan menikah dengan kamu?" tanya Yuke yang langsung berdiri ketika sadar, bahwa Wanita yang sedang bicara dengan Adrian adalah Syifa, sahabatnya. Syifa terbelalak melihat Yuke yang kini sedang memegang tangan Adrian. Tadi saat memberikan ponselnya Adrian, tanpa sengaja, tangan keduanya bersentuhan. Syifa menatap nyalang sahabatnya.


"Aku nggak nyangka ya? Kalau kamu tuh munafik tau! Kamu selalu menasehatin aku buat nerima perjodohan ini, tetapi ini apa coba? Apa yang kulihat? Disini kamu malah berpegangan tangan dengan tunanganku! Kamu sahabat yang jahat! Aku benci kamu!" Syifa langsung pergi kemeja kedua orang tuanya dan calon Mertuanya.


__ADS_2