
"Om akan kembali denganmu. Tunggulah sebentar!" ucap Bayu.
"Om tidak mau bertemu dengan besan dulu atau bertemu dengan Steven?" tanya Cakra kepada Bayu yang sudah bersiap untuk pergi dari ruangan itu.
"Tidak usah. Selama mereka mengurus Sulis dengan baik. Aku tidak ada masalah dengan mereka!" ucap Bayu kemudian dia meninggalkan ruangan untuk menuju ke dalam kamarnya mengambil barangnya dan bersiap untuk ikut pulang bersama dengan Cakra dan Andika bersama para Bodyguard mereka.
"Semoga kamu bisa hidup baik-baik di sini ya? Kalau ada apa-apa. Kamu bisa menghubungi Om. Sebisa mungkin Om akan membantumu!" ucap Andika kepada Sulis.
"Terima kasih Om atas semua kebaikan Om dan juga Cakra. Kalau tanpa kalian, mungkin tidak akan ada hari ini dalam hidup Sulis!" ucap Sulis sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah tidak apa-apa. Kita kan bukan orang lain. Om pasti akan bantuin kalau kamu memang dalam masalah. Om yakin, kalau Cakra bisa berpikir dengan baik dan juga bijak dalam bertindak!" ucap Andika sambil melirik kepada Cakra siang masih menundukkan kepalanya sejak tadi.
"Jangan khawatir tentang saya Sulis. Saya yakin, asalkan kau bahagia. Saya pasti juga akan berusaha untuk bahagia!" ucap Cakra sambil melirik sekilas kepada Sulis yang saat ini tengah menatapnya dengan Sendu.
"Sulis! Lebih baik kau nanti tinggal di sini bersama Steven. Supaya mansion ini tidak kosong. Daripada kau tinggal di sana tetapi bathinmu tersiksa karena Steven pasti akan selalu merasa lebih unggul kalau kau hidup dengannya di sana!" ucap Bayu sambil menggeret kopernya.
Cakra segera bangkit dan membantu Bayu untuk mengangkut koper milik Bayu ke dalam mobil, " Terima kasih Cakra atas bantuanmu!" ucap Bayu sambil menepuk bahu Cakra.
Kemudian dia melihat kepada Sulis.
"Papa kembali ke indonesia yah? Apapun itu. Kalau kau butuh bantuan kau tidak boleh sungkan untuk menghubungi Papah!" ucap Bayu berpamitan kepada Sulis dengan mencium kening putrinya yang paling dia sayangi selama hidungnya.
"Iya Pah! Papa jaga kesehatan ya? Nanti kalau Sulis melahirkan Papa harus datang ke sini!" ucap Sulis dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kita akan lihat nanti sayang! Karena Papa juga tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum pasti!" ucap Bayu sambil memeluk sang putri tercinta.
Setelah mereka semua berpamitan. Sulis mengantarkan ayahnya sampai ke bandara. Tampak bulir air matanya terus mengalir. Sulis sangat sedih, karena harus berpisah kembali dengan ayahnya.
"Selamat jalan Pah! Sulis berdoa semoga Papa mendapatkan jodoh yang akan mendampingi Papa di hari tua dan memberikan kehidupan yang bahagia!" doa terbaik Sulis untuk sang ayah yang sekarang harus hidup sendiri di Jakarta setelah dirinya menikah dengan Steven.
Tampak Cakra yang menatap Sulis dari kejauhan. Tampak matanya berkaca-kaca karena merasakan kesedihan. Sekarang dia benar-benar telah kehilangan Sulis tanpa ada harapan untuk bisa merengkuhnya kembali.
"Berbahagialah Sulis, maka aku pun akan bahagia untukmu!" doa Cakra untuk wanita yang pernah dia cintai selama beberapa tahun lamanya.
Andika menepuk bahu Cakra dan tersenyum kepadanya.
"Belajarlah dari Kyai Ilham yang dulu kehilangan Mamahmu karena mamamu menikah dengan Papa!" ucap Andika sambil tersenyum kepada Cakra.
"Pah apakah yang terjadi pada Cakra ini, bukan karena menerima Karma gara-gara Papa dulu mencuri Mama dari Om Ilham?" tanya Cakra sambil menatap kepada Andika yang sekarang melotot sempurna kepadanya.
"Entahlah Pah! Semua ini terlalu mendadak bagi Cakra. Kemarin Cakra masih dengan penuh harapan bahwa kami akan menikah setelah dia lulus kuliah. Tapi sekarang kenyataan yang ada Sulis ternyata sudah menikah dengan orang lain bahkan sebentar lagi menjadi ibu! Cakra butuh waktu pah, untuk bisa memahami semuanya. Cakra bukan malaikat yang bisa melupakan sakit hati begitu saja!" ucap Cakra sambil menundukkan kepalanya. Karena terasa sangat berat beban hatinya saat ini.
"Maafkan Om ya Cakra. Kalau sekarang kamu merasa sakit hati terhadap pernikahanmu yang batal dengan Sulis. Kalau kau mau, kau bisa melampiaskannya kepada Om!" ucap Bayu sambil menatap Cakra yang saat ini sedang menatapnya dengan mata sayu.
Cakra tersenyum kecut kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Om tidak salah apa-apa. Sulis mungkin memang bukan jodoh Cakra. 0asti akan ada jodoh lain yang lebih baik daripada Sulis!" ucap Cakra sambil tersenyum kepada Bayu.
__ADS_1
"Kalau kau mau tahu Om pun merasa sangat sedih. Jujur ini adalah cita-cita Om bersama dengan ayahmu. Untuk bisa menikahkan kalian berdua. Tetapi nasib dan jodoh Mungkin tidak berpihak kepada kita untuk terikat dalam pernikahan. Om berharap silaturahmi kita tidak akan berakhir dengan terputusnya pertunangan kalian." ucap Bayu dengan suara yang perlahan bisa didengarkan bahwa Bayu saat ini sedang tertekan hatinya sedih, pedih dan kalut.
"Tenanglah Bayu! Kita ini bukan anak kecil lagi. Masa karena pertunangan anak-anak tidak jadi, lantas kita menjadi bermusuhan? Tidaklah! Jangan khawatir. Kami tetap akan menjadi sahabat dan bagiku kau tetap sahabat terbaikku selamanya!" ucap Andika sambil menepuk bahu Bayu dan sekarang memeluknya memberikan kekuatan kepada Bayu yang saat ini tampak menderita.
Andika mengingat bahwa dulu, Bayu begitu keukueh menginginkan putra-putri mereka untuk bisa menikah. Sehingga mereka berdua tidak akan berpisah selamanya.
Andika bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Di mana dia harus kehilangan impiannya dan juga harus berjauhan dengan putrinya satu-satunya.
"Bagaimana kalau kita mampir ke Paris? Sudah lama saya tidak bertemu dengan Amanda!" ucap Andika menawarkan sebuah liburan untuk mereka bertiga dan juga para Bodyguard yang masih mendampingi mereka.
Bodyguard yang berjumlah 50 yang mengikuti Andika sudah kembali ke Dubai. Sekarang mereka hanya membawa 20 orang Bodyguard yang dibawa oleh Cakra dan juga Bayu ketika pertama kali mereka datang ke Inggris.
"Boleh Pah! Cakra juga rindu dengan Kak Amanda. Bagaimana Om? Apakah Om mau ikut bersama dengan kami, untuk pergi ke Prancis? Sekalian kita bisa Healing dan mencari kebahagiaan di sana!" tanya Cakra dengan wajah yang berbinar-binar tampak bergairah kembali sinar hidup di matanya.
"Tapi Om dan kakakmu itu tidak pernah akur. Setiap bertemu, selalu seperti kucing dan anjing. Selalu berantem dan ribut. Tidak tahu kenapa dia selalu sentimen sama Om!" ucap Bayu sambil menatap kepada Andika.
"Tampaknya putrimu tidak menyukaiku. Pasti selalu saja, kalau bertemu denganku dia selalu bersikap ketus dan sangat sombong. Aku tidak menyukai tipe wanita seperti itu!" ucap Bayu sambil menatap kepada Andika yang saat ini sedang tersenyum menatapnya.
"Hati-hati Om! Nanti dari benci jadi Cinta loh! Soalnya kan cinta dan benci itu bedanya cuman tipis banget! Ibaratnya, bedanya itu hanya seripis kulit ari. Hahaha!" ucap Cakra Sambil tertawa terbahak-bahak. Cakra saat ini sedang membayangkan apabila kakaknya Amanda akan jatuh cinta kepada Bayu.
"Kau jangan sembarang bicara Cakra. Bagaimana mungkin Om jatuh cinta kepada gadis Barbar itu? Ais dia itu benar-benar selalu bikin Om pusing setiap kali melihatnya!" ucap Bayu menolak pernyataan Cakra tentang dirinya akan jatuh cinta dengan Amanda.
"Aku tidak keberatan kok. Kalau Amanda sampai jatuh cinta padamu, Bayu. Kan aku tahu, kalau kau ini laki-laki yang baik dan setia. Walaupun sudah agak karatan. Haha!" ucap Andika Sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hah sialan lu! Aelalu saja kayak gitu. Memuji setinggi langit, ujung-ujungnya malah menjatuhkan!" ucap Bayu sambil misuh-misuh kemudian dia lebih memilih untuk tidur daripada harus berpadu argumen dengan Cakra dan Andika.
'Ah mereka mungkin sedang lelah dalam perjalanan. Sehingga melindur seperti itu!' batin Bayu.