Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
49. Pertemuan Yuke dan Rasya


__ADS_3

Walaupun bekerja di satu tempat, tetapi Yuke dan Rasya hampir bisa dikatakan jarang bertemu. Karena posisi mereka yang berbeda. Rasya yang bekerja sebagai manajer di tempat itu, lebih sibuk menjalankan tugasnya di bagian manajerial, daripada melayani para customernya.


Rasya sebenarnya adalah pemilik dari kafe tersebut, karena Rasya mewarisinya dari Kakeknya, yang sudah meninggal dua tahun lalu, yaitu ayahnya Firman.


Awalnya Rasya hanya ingin membantu mengelola saja, tetapi karena Kakeknya yang meninggal. Akhirnya Rasya pun mengambil alih manajemen cafe itu. Hanya saja, Rasya menyamarkan posisinya sebagai pemilik dengan tetap bekerja sebagai manajer di tempat itu. Hanya para petinggi dan dewan direksi yang mengetahui bahwa Rasya adalah pemilik tempat tersebut.


"Maafkan saya, Pak Rasya, itu di depan ada masalah dengan seorang waiters yang tanpa sengaja menumpahkan makanan yang dia bawa. Dan customer marah-marah, dia ingin bertemu dengan Pak Rasya!" ucap salah seorang waiters yang tampak panik. Rasya pun akhirnya pergi ke depan, memenuhi panggilan tersebut.


"Ada apa ini ya kenapa ribut-ribut?" tanya Rasya dengan bersikap tenang. Customernya lalu bangun dan menunjuk-nunjuk seorang waiters wanita yang kini tertunduk, tampaknya menahan diri untuk marah.


"Kau lihatlah pegawaimu yang tidak becus bekerja Ini! Dia sudah menumpahkan makanannya ke pakaian istri saya! Bagaimana tanggung jawab Anda sebagai manajer tempat ini?" ucap suami dari wanita yang menjadi korban tersebut. Rasya tampak memandang waitresnya, yang masih saja menunduk, tidak mau mengangkat wajahnya. Tampak kedua tangannya yang mengepal. Rasya dapat melihat, bahwa Waiters itu sedang menahan emosi.


"Yuke, bisakah kamu menjelaskan apa yang sedang terjadi ini?" tanya Rasya dengan suara pelan. Berusaha tetap tenang dan tidak membuat keributan.


"Begini, Pak! Tadi itu, Saya berjalan dari arah sana, akan membawa makanan itu ke meja ini, tetapi Nyonya ini, tiba-tiba saja bangun, pas saya sedang meletakkan makanan ini di mejanya. Jadi, tanpa sengaja makanan itu tumpah ke pakaiannya, Pak!" jawab Yuke masih menunduk.

__ADS_1


"Udah bekerja tidak becus, kau juga pakai menyalahkan orang lain! Benar-benar tidak profesional kau dalam bekerja!" ucap wanita itu kesal.


"Maafkan saya Ibu! Bagaimana kalau kita bersama pergi ke ruang CCTV? Untuk kita bisa melihat kejadian yang sebenarnya. Jadi, di sini kita tidak bisa hanya menyalahkan salah satu pihak saja. Semuanya harus berdasarkan bukti yang nyata, baru kita bisa menjatuhkan hukuman secara tepat, kepada orang yang memang bersalah dalam masalah ini!" ucap Rasya mantap dan tegas.


Yuke mengangkat kepalanya sekilas, menatap laki-laki yang berdiri di depannya. Laki-laki berparas tampan yang seketika mencuri hatinya.Ah, Yuke! Kau begitu mudah jatuh cinta terhadap pria tampan! Apa yang akan kau lakukan, ketika tahu bahwa pria tampan yang saat ini membuatmu terpesona adalah kakakmu sendiri.



Visualisasi Rasya


Mendengar Rasya mengatakan bahwa mereka akan pergi ke ruang CCTV, tiba-tiba saja wanita yang tadi marah-marah tanpa alasan terhadap Yuke, langsung tersenyum canggung dan meminta maaf kepada Rasya.


"Tidak bisa begitu dong, ibu! Kita kan perlu bukti, siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita tidak bisa hanya menyimpulkan permasalahan ini dengan mulut saja. Tapi kita juga perlu bukti yang nyata dan konkret. Apalagi tadi ibu sudah menghina karyawan saya seenak perut Ibu. Apa Ibu pernah berpikir? Karyawan Saya juga manusia, Bu! Punya perasaan!" tegas Rasya tidak mau kalah.


"Iya! Pak Manager! Oleh karena itu, saya minta maaf! Ya, mbak? Saya mohon nggak usah kita perpanjang masalah ini lagi!" ibu itu memohon, takut kena hukuman dari Rasya.

__ADS_1


"Apakah Ibu benar, menyesali perbuatan Ibu?" tanya Yuke.


"Bener Mbak! Saya menyesalalinya. Saya berjanji, saya tidak akan mengulangi lagi. Maafkan saya ya, Mbak! Sudah membuat Mbak malu, di depan teman-temannya Mbak. Di depan para customer Cafe ini!" ucap Ibu itu tampak menyesali perbuatannya.


"Giimana Yuke? Apakah kamu bisa menerima permohonan maaf Ibu ini? Karena di sini adalah kamu yang dirugikan. Jadi, hanya kamu yang bisa memutuskan. Apakah akan memaafkannya atau melanjutkan perkara ini ke kantor polisi!" ucap Rasya lantang, sengaja untuk menakut-nakuti ibu tersebut dan juga suaminya yang tadi sudah marah.


"Ke, ke, kantor polisi? Ya Allah! Kenapa sampai di bawa ke kantor polisi? Ini kan, hanya masalah sepele saja! Saya juga sudah minta maaf dan saya juga sudah mengatakan kalau saya akan membayar semua makanan ini. Kenapa sampai harus membawa polisi segala? Ini kan hanya masalah sepele saja!" ucap Ibu itu ketakutan.


"Hal seperti ini bukan masalah sepele, Bu! Ibu sudah marah-marah terhadap karyawan saya. Itu secara tidak langsung, Ibu sudah merusak Citra cafe kami. Merusak Citra pelayan-pelayan kami. Apa yang ibu lakukan ini, sudah benar-benar mempengaruhi kami juga. Ibu bisa dituntut atas perbuatan tidak menyenangkan dan juga fitnah! Itu hukumannya bisa 10 tahun, loh bu!" ucap Rasya hanya bermain-main saja. Niatnya hanya untuk membuat ibu itu takut dan Jera, agar kedepannya tidak berlaku sembarangan lagi. Memaki orang lain ataupun berusaha untuk menyalahkan orang lain, atas kesalahan yang sudah dia perbuat sendiri.


"Sudah Pak Manager! Maafkan kami! Kami tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi! Sudah! Kalian pergi sana! Kami ingin makan ini makanannya sudah dingin!" ucap suami wanita yang tadi sudah maki-maki Yuke. Rasya seketika menelan salivanya, Rasya menahan emosi di dadanya, atas perilaku Bapak tersebut, yang tampaknya menyepelekan permasalahan ini.


"Pak! Kalau kami melepaskan masalah ini begitu saja! Tidak akan menjamin, kalau Bapak maupun Istri Bapak, suatu saat tidak akan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Di tempat lain ataupun di cafe kami. Udah! Begini aja! Mulai sekarang, kami akan mem-blacklist kalian berdua, untuk tidak bisa lagi masuk ke cafe kami! Karena kami tidak menerima customer yang hanya membuat keributan dan merusak Citra cafe kami!" Ucap Rasya mengambil keputusan dari permasalahan itu. Karena dia sudah merasa lelah, menghadapi kengeyelan ibu dan bapak tersebut.


"Udah Yuke! Kamu kembali ke sana! Kamu kembali ke belakang! Lanjutkan pekerjaan kamu! Biarkan saya yang akan menyelesaikan masalah ini!" ucap Rasya dengan matanya yang teduh dan menenangkan.

__ADS_1


Yuke telah jatuh dalam pesona seorang Rasya. Hanya dalam hitungan detik, Yuke sudah lupa dengan sosok seorang Adrian. Ya! Karena memang sejujurnya juga, Yuke tidak ingin mencari masalah dengan menyukai tunangan dari sahabatnya sendiri. Apalagi mereka berdua akan menikah dua hari lagi.


'Aku nggak mau, kehilangan sahabatku! Hanya karena cinta ini! Lebih baik aku melupakan Adrian dan aku akan menjaga perasaan sebagai sahabatku!' ucap Yuke dalam hatinya.


__ADS_2