Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
72. Bimbang


__ADS_3

Alhamdulillah novel ini telah sampai di angka bab 72 pada bulan ini. Level karya juga naik jadi angka 5 dari angka 3. Semoga Author diberikan inspirasi dan kesehatan untuk terus bisa update dan mulai mengambil bulan pertama untuk Jumkat 60.000 kata perbulan di novel ini. Mohon dukungan kalian semua ya readerku tersayang, dengan like, favorite, vote, gift semampu kalian dan komen agar menjadi semangat untuk Author update novel ini setiap harinya. Terimakasih semuanya, tanpa kalian semua, Author bukan apa-apa dan tidak akan sampai ke mana-mana.


Yuk kita lanjutkan dengan novel kita, happy reading for all my reader.. love you all..


Rasya langsung meninggalkan lokasi pesta pernikahan Adrian dan Syifa setelah berpamitan kepada mempelai pengantin.


"Benar-benar tidak sopan sekali ada, Adrian itu. Seenaknya saja dia memperingatiku. Memangnya kapan aku menggoda istrinya?" ucap Rasya dengan penuh emosi di dadanya.


"Semenjak aku mengenal Syifa, tidak pernah aku menggodanya maupun bicara hal pribadi dengan perempuan itu. Bagaimana mungkin Adrian mengira bahwa aku memiliki hubungan dengan istrinya itu, sungguh sangat konyol sekali!" ucap serasah sambil tetap fokus melajukan kendaraannya membelah jalanan ibukota.


Rasya yang sedang menghentikan mobilnya, di lampu merah. Tidak sengaja melihat Yuke yang sedang duduk di trotoar. Entah apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu di tengah malam seperti itu.


Rasya pun kemudian menepikan mobilnya dan mendekati Yuke yang tampaknya sedang melamun di sana sehingga tidak menyadari kedatangan Rasya.


Setelah mobilnya berhenti sempurna di hadapan Yuke, Rasya pun turun dari sana dan kemudian menemui Yuke yang masih belum sadar dengan kehadirannya di dekatnya.


"Apa yang sedang kau lakukan di pinggir jalan seperti ini? Kau sudah seperti seorang wanita panggilan saja!" tanya Rasya dengan Ketus.


Saat ini pikiran Rasya memang sedang galau, ketika menerima kenyataan bahwa ternyata gadis yang dia kagumi selama ini, ternyata adalah adiknya sendiri.


Adik yang ketika masih di dalam kandungan Ibunya, sudah pernah dicoba untuk dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri. Karena sang ibu yang merasa cemburu kepada ibunya Yuke, yang lebih dicintai oleh ayahnya.

__ADS_1


Yuke menatap Rasya secara lekat, tampak ada pertanyaan dalam dirinya. Mengapa tiba-tiba Rasya bersikap begitu ketus kepadanya. Padahal selama ini Rasya selalu bersikap hangat kepadanya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Pergilah Aku tidak membutuhkanmu!" ucap Yuke merasa terganggu dengan nada suara Rasya ketika menyapanya tadi.


"Kau ini benar-benar gadis yang tidak sopan. Aku tadi bertanya padamu, kau sedang apa di pinggir jalan seperti ini? Kau malah balik bertanya padaku!" ucap Rasya sambil menatap tajam ke arah Yuke.


"Aku tidak suka dengan caramu bertanya. Apakah kau bisa bertanya dengan cara yang baik? Maka aku pun akan dengan senang hati menjawabnya!" jawab Yuke menimpali ucapan Rasya.


Rasya memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya tidak memperdulikan Yuke yang menatapnya dengan keheranan.


Sejurus kemudian tampak Rasya hendak meninggalkan Yuke. Tapi entah apa yang menjadi penghalangnya, tiba-tiba saja Rasya kembali turun dari mobilnya dan menarik tangan Yuke untuk masuk ke dalam mobil.


"Ini sudah larut malam, sedang apa kau di pinggir jalan? Itu sangat berbahaya sekali untuk seorang gadis sepertimu!" ucap Rasya mencoba untuk menjelaskan apa yang sedang dia lakukan saat ini terhadap Yuke adiknya.


"Bukan urusanmu, aku sedang melakukan apa. Sudah cepat hentikan mobilnya. Aku ingin segera pergi dari sini!" Yuke benar-benar tidak suka dengan perlakuan Rasya yang kasar. Tampak sekali, sepertinya Rasya tidak suka dengan dirinya.


Tetapi Rasya hanya diam saja dan terus melajukan kendaraannya menuju kediaman ayahnya. Yuke sudah gemetar, merinding, dan darahnya berdesir begitu cepat. Ketika melihat mobil Rasya yang kini sudah mulai masuk menuju gerbang rumah ayahnya.


"Apa yang kau lakukan? Aku tidak mau pulang ke sini. Aku ingin pulang ke kontrakanku sendiri!" ucap Yuke dengan menatap Rasya.


"Kamu seorang anak gadis, begitu beraninya hidup di luar sana. Mengandalkan apa? Mengandalkan dirimu sendiri? Sementara kau memiliki orang tua yang mencintaimu!" ucap Rasya dengan mata berkilat, menatap Yuke yang kini menatapnya dengan sendu dan tampak ketakutan kepadanya.

__ADS_1


Begitu sampai di depan gerbang ayahnya, Rasya turun dari mobilnya dan menarik juga untuk masuk ke dalam rumah itu.


"Aku tidak mau! Cepat lepaskan aku. Lenapa kau suka memaksakan kehendakmu? Lepaskan aku!" Yuke terus pemberontak dari cekalan tangan Rasya yang memaksanya untuk masuk ke dalam rumah ayahnya.


Firman dan Laila yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga. Tampak terkejut melihat keributan yang ada di depan rumah mereka.


Firman dan Laila pun, dengan langkah malas, kemudian meninggalkan aktivitas mereka dan pergi menuju depan rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.


"Apa yang sedang terjadi di sini Rasya?" tanya Firman ketika melihat putranya bersama putrinya tampak sedang gaduh saling menarik tangan satu sama lain.


"Ini Pah, saya membawa Yuke untuk kembali ke rumah ini. Tadi saya menemukan dia berada di pinggiran jalan seorang diri! Tampak sedang melamun entah apa yang sedang dia pikirkan!" ucap Rasya sambil menatap kepada ayahnya dan juga ibu tirinya.


"Terus kamu kenapa Yuke, berteriak-teriak seperti ini. Bukannya kau masuk ke dalam kamarmu?" tanya Laila menatap tajam putrinya. Yuke hanya menatap kedua orang tuanya dengan mata sendu.


"Yuke tidak mau tinggal di sini, Mah! Yuke punya rumah sendiri, kenapa Yuke harus tidur di sini?" jawab Yuke sambil menatap kedua orang tuanya kemudian menatap rasa yang menatapnya dengan begitu tajam.


"Apa yang kau cari di luar sana, hah? Kau itu seorang gadis, harusnya kau diam di rumah kedua orang tuamu. Setelah kau menikah, baru kau boleh melangkahkan kakimu dari rumah kedua orang tuamu. Itulah kodrat seorang wanita!" ucap Rasya dengan suara nada tinggi kepada Yuke.


Yuke tampak terkesiap, terpesona dengan apa yang dikatakan oleh Rasya. Kakaknya yang baru dia ketahui selama berapa minggu ini. Yuke kesulitan menelan ludahnya sendiri.


"Bagi seorang gadis itu lebih baik tinggal bersama kedua orang tuanya sebelum dia menikah. Agar martabat dan harkatnya terjaga. Apa yang kau lakukan berkeliaran di luar sana, huh? Apa yang kau banggakan dan apa yang kau andalkan, huh? Kemandirian?Kemandirian apa yang sedang kau kejar?" tanya Rasya sambil menatap tajam ke arah Yuke, yang tampak terkesiap dan terpesona dengan pesona sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2