
"Gimana persiapannya? Apakah sudah lancar semua? Katanya kalian kemarin seharian sibuk mempersiapkannya?" tanya Kyai Ilham.
"Alhamdulillah sudah 100% Abi! Hanya tinggal hari H saja!" ucap Syifa sambil bermanja di pelukan Uminya.
"Kapan hari yang dipilih oleh Kalian? Itu yang ingin kami tahu. Kan kalian masih belum memberitahukannya kepada kami!" Uminya Syifa juga ikut bertanya. Merasa penasaran mengenai pernikahan Adrian dan Syifa yang mereka atur sendiri. Karena katanya tidak ingin merepotkan lagi orang tuanya. Yang dulu sudah lelah mempersiapkan pernikahan mereka, tetapi tidak berguna karena dibatalkan tiba-tiba oleh Adrian. Dengan sebab yang tidak jelas.
"Dua hari dari sekarang!" ucap Adrian mantap.
"Yang penting, pernikahannya jadi! Jangan sampai nanti batal lagi. Jangan bikin malu kedua orang tua kalian!" tegas Andika sambil menatap tajam ke arah Adrian.
"Iya, Pah! Tenang saja. Kami pasti sekarang komitmen untuk melanjutkan rencana pernikahan kami!" ucap Adrian sambil menikmati kue yang tadi di bawa oleh Fathu.
"Cakra! Bagaimana denganmu? Kapan kau rencananya ingin menikah juga?" tanya Kesya sambil melirik kearah putranya yang gak mau menjauh dari Sulis.
Cakra yang sedang asyik berbincang dengan Sulis, tampak terkejut mendengarkan pertanyaan dari mama.
"Apa Mah? Mama tadi nanya apa?" tanya Cakra gugup sambil mringis.
"Kapan rencananya pernikahanmu? Pacaran mulu sih!" ucap Adrian sambil melemparkan kacang kepada adiknya.
"Siapa juga yang pacaran! Kami kan cuma ngobrol biasa aja!" kelit Cakra dengan wajah tak berdosanya.
Kesya dan Andika hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua putranya yang sejak kecil selalu saja berdebat
"Kalian ini sudah besar selalu saja seperti itu! Ini sedang pembicaraan serius, bisa berhenti nggak sih berdebatnya?" Andika tanpa kesal melihat mereka berdua.
"Maaf, pah!" ucap keduanya berbarengan.
"Udah Cakra, cepat jawab pertanyaannya Mama. Karena Mama penasaran!" ucap Kesya. Sulis tampak tersipu mendengar pertanyaan tentang pernikahan.
"Sulis masih ingin melanjutkan kuliahnya, Mah! jadi Cakra tidak akan mendesak dia masalah pernikahan!" ucap Cakra pada akhirnya.
"Jadi kalian akan terus berpacaran?" tanya Kesya dengan nada tinggi.
"Kenapa memangnya tante? Apakah kalian tidak setuju kalau kamu berdua memiliki berhubungan?" tanya Sulis agak gemetar.
__ADS_1
"Bukan itu maksudnya Tante! Tapi Tante tidak suka kalau kalian berpacaran. Tante inginnya kalian menikah segera untuk menghindari yang namanya zina!" ucap Kesya tegas.
"Nanti kalau ayahmu sudah datang dari luar negeri. Suruh dia untuk menemui kami. Kami ingin membicarakan tentang kalian berdua!" ucap Andika dengan tegas.
Suasana di ruangan itu mulai terasa mencekam, karena tidak ada yang berani bicara. Kiai Ilham dan istrinya tampak saling pandang dan akhirnya mengangguk satu sama lain.
"Baiklah karena pembicaraan tentang pernikahan Adrian dan Syifa sudah beres Kami bertiga mohon pamit!" ucap Kiai Ilham.
"Yah, nggak bisa gitu dong Om! Saya kan belum bicara dengan Syifa!" ucap Adrian protes kepada calon ayah mertuanya.
"Sudah seharian pergi keliling Jakarta hanya berduaan. Masih kurang juga Adrian?" tegur Fathu. Tampak Adrian tersenyum tanpa dosa.
"Ya sudah Kami bertiga pamit dulu ya. Terima kasih untuk makan malamnya dan kita akan bertemu pada hari pernikahan Adrian dan Syifa!" ucap Qonita. Kemudian mereka pun berpamitan untuk kembali ke kediaman mereka.
Saat ini Syifa tinggal di rumah milik neneknya yang sudah meninggal. Kiai Ilham dan Qonita sekarang menuju ke sana untuk beristirahat. Kemarin mereka buru-buru menuju Jakarta. Setelah dihubungi oleh Andika mengenai pernikahan Adrian dan Syifa.
"Syifa! Apakah sekarang kamu sudah mantap untuk menikah dengan Adrian?" tanya Qonita sambil menggenggam tangan putrinya.
"Insya Allah Umi Syifa sudah siap!" jawab Syifa dengan mantap. Sehingga membuat mereka berdua pun lega.
"Tidak Abi! kami berdua sudah sama-sama mantap dengan pernikahan ini. Abi bisa tenang mulai sekarang!" ucap Syifa sambil memainkan jari jemarinya.
"Ingat ya, sampai hari pernikahan nanti. Kalian tidak boleh bertemu lagi. Ingat ini! Ini pesan Umi!" ucapkan Qonita dengan tegas.
"Ya, Umi. Jangan khawatir Syifa juga ngerti kok!" jawab Syifa.
Begitu mereka sampai di kediaman. Mereka pun memutuskan untuk langsung pergi istirahat.
Sementara itu Adrian di kamarnya. Sudah mulai gelisah karena sejak tadi teleponnya tidak juga diangkat oleh Syifa.
"Kenapa sih Syifa nggak mau angkat telepon ya?" tanya Adrian mulai cemas.
Sementara itu Syifa yang kini sedang bersiap untuk tidur. Setelah selesai mandi tentu saja.
Syifa baru teringat dengan ponselnya yang sejak tadi dia silent.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Syifa ketika membuka ponselnya. Ternyata banyak sekali panggilan telepon dan SMS dari Adrian.
Syifa mengurutkan keningnya karena tidak mengerti. Kenapa Adrian melakukan hal seperti itu. Padahal mereka sudah bertemu seharian. Tapi kenapa masih juga harus berhubungan lewat telepon seperti itu.
Syifa membaca satu persatu pesan dari Adrian. Saat sibuk membaca pesan tersebut, tiba-tiba saja teleponnya berdering kembali mode panggilan video call.
Syifa yang tidak memakai hijabnya, akhirnya memilih untuk mereject panggilan tersebut.
Adrian di kamarnya tampak mondar-mandir. Merasa jengkel karena Syifa menolak panggilan yang dia lakukan.
"Kenapa kau menolak panggilanku?" akhirnya Adrian mengetikkan pesan singkat dan mengirimkannya kepada Syifa.
"Maaf ini sudah malam. Aku ngantuk!" jawab Syifa. Kemudian Syifa meletakkan ponselnya kembali di atas nakas dan bersiap untuk tidur.
Ponselnya Syifa kembali berdering dan nama Adrian tertera di atasnya. Syifa menarik nafas dalam-dalam merasa bingung dengan kelakuan Adrian tersebut.
Akhirnya dengan berat hati Syifa mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa lagi Adrian? Bukankah kita sudah seharian bersama. Aku ingin istirahat tahu!" protes Syifa begitu panggilan mereka tersambung.
"Aku hanya Rindu denganmu!" jawab Adrian sambil tersenyum. Padahal Syifa tidak akan melihat senyumannya saat ini.
Seketika hati Syifa merasa berdebar-debar mendengarkan pengakuan Adrian tersebut.
"Kau jangan bercanda. Masa baru saja Kita bertemu. Masa kau sudah rindu lagi?" tanya Syifa dengan gugup. Saat ini jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku juga tidak mengerti, kenapa sekarang rasanya aku sangat merindukanmu. Seandainya saja kamu dekat, aku pasti akan memelukmu. Besok pagi-pagi aku kan ke rumahmu ya?" tanya Adrian.
"Jangan! Abi dan Umi sudah mewanti-wanti padaku untuk tidak bertemu denganmu sampai hari H!" ucap Syifa dengan suara bergetar karena takut Adrian marah.
"Rasanya akan sangat berat sekali untuk tidak bertemu denganmu. Sehari rasanya seabad!" ucap Adrian sambil menerawang menatap dinding-dinding kamarnya.
"Bersabarlah! Hanya dua hari lagi dan kita akan resmi menjadi suami istri ketika itu." ucap Syifa dengan lemah lembut.
"Baiklah kau tidurlah. Istirahat. Besok pagi aku akan menelpon lagi ya? Ingat kau harus mengangkat teleponku kalau tidak ingin aku datang ke sana!" ancam Adrian dengan tegas.
__ADS_1
"Iya aku janji akan mengangkat panggilanmu. Ya udah aku tidur dulu ya!" ucap Syifa kemudian menutup telepon tersebut dan pergi tidur.