
"Bi tolong jaga Ibuku, aku harus menghadiri sebuah pertemuan yang penting!" ucap Rasya sambil berlari ke arah luar.
"Tuan mau ke mana? Bagaimana dengan nyonya?" tanya pembantunya Rasya. Tetapi dia sudah terlambat karena Rasya sudah meninggalkan apartemen itu.
"Tuan Rasya pergi. Bagaimana kalau nanti Nyonya Syafa jadi mengamuk lagi? Aduh, ini benar-benar sangat menakutkan!" ucap pembantunya Rasya sambil melihat ke dalam kamar Syafa.
Pembantunya Rasya merasa sangat prihatin melihat ibunya Rasya, yang kini semakin kurus dan semakin terlihat menderita.
"Kasihan sekali Nyonya Syafa. Kapan dia bisa hidup bahagia ya?" ucapnya kemudian dia pun melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu Rasya yang sedang berburu waktu, kini dia sedang mengejar pertemuan antara keluarga Hutama dan keluarganya dalam rangka membicarakan rencana pernikahan antara Yuke dan Thomas.
"Semoga saja belum terlambat!" ucap Rasya sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Semoga saja, ini adalah keputusan yang terbaik!" ucap Rasya mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Begitu sampai di hotel yang dimaksud oleh ayahnya. Rasya kemudian langsung berlari, menuju kamar yang sudah dipesan oleh ayahnya untuk pertemuan itu.
"Aku harus menguatkan diriku dulu, jangan sampai, aku mempermalukan diriku sendiri di hadapan mereka!" ucap Rasya dibalik pintu.
Setelah merasa bahwa dirinya sudah siap, Rasya kemudian mengetuk pintu kamar hotel tersebut.
Laila membuka pintu kamar hotel dan merasa terkejut ketika mendapatkan Rasya ada di sana. "Maafkan saya, tante apakah saya terlambat?" ucap Rasya sambil melihat ke arah Laila, yang masih syock dengan kedatangan Rasya.
"Tidak terlambat, kok! Keluarga Hutama juga baru datang. Ayo masuklah!" ucap Laila mempersilahkan Rasya untuk masuk ke kamar hotel tersebut.
Ketima masuk kedalam kamar, mereka semua memperhatikan Rasya. Termasuk Yuke yang menatapnya dengan tajam.
"Bukankah, tadi kau mengatakan kalau kau tidak bisa datang Rasya?" tanya Firman kepada putranya.
"Kebetulan, tadi pembantuku tidak pulang ke rumahnya, jadi aku menitipkan Mama kepadanya!" ucap Rasya, menjawab pertanyaan ayahnya.
Firman tampak mengangguk paham, dengan apa yang dikatakan oleh Rasya.
__ADS_1
Rasya melirik ke arah Yuke yang tampak marah kepadanya.
Rasya menyalami semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Rasya mendekat ke arah Thomas, kemudian duduk di samping.
" Apa kabarmu bro lama kita tidak bertemu?" salam Thomas kepada Rasya.
"Aku rasa kita tidak seakrab itu!" jawab rasa sambil menolak tangan Thomas yang akan bersalaman dengannya.
Yuke terus memperhatikan interaksi antara Thomas dan Rasya yang menurutnya sangat aneh, sangat membuat hati penasaran.
"Baiklah kita lanjutkan pemikiran kita yang tadi terhenti karena kedatangan Rasya!" Firman kembali membuka percakapan di antara mereka semua.
"Pada dasarnya kami setuju dengan syarat apapun yang kalian ajukan!" ucap ayahnya Thomas.
Rasya masih belum nyambung dengan pembicaraan yang terjadi di ruangan itu tetapi dia hanya menyimak saja sambil menatap Yuke dengan dalam. Ada kerinduan yang sangat besar di hati rasa terhadap adiknya itu.
Seketika hati Rasya rasanya pilu sekali ketika memikirkan tentang pernikahan Yuke dan Thomas yang tampaknya akan berhasil malam ini.
Bagaimana tidak akan berhasil? Kedua belah pihak tampaknya sudah sepakat dengan perjanjian yang akan dilakukan untuk menunjang pernikahan bisnis itu.
Rasya terus memperhatikan juga hatinya saat ini benar-benar kalau takut mendengar jawaban Yuke.
"Terserah kalian saja, aku akan mengikuti apapun yang kalian atur. Karena percuma juga, saya menolak. Kalian pasti akan tetap memaksa!" ucap Yuke dengan nada pasrah.
Bagaikan hatiku tertusuk sebuah sembilu, hatiku rasanya sangat sakit sekali, ketika aku mendengarkan jawaban Yuke tadi.
Thomas tampak tersenyum bangga setelah berhasil menggoldkan rencana pernikahan itu. Kemudian Thomas tersenyum sinis ke arah Rasya.
Setelah semua pertemuan beres. Mereka pun kemudian bubar dari kamar hotel ini. Kini tinggal keluargaku saja yang tersisa.
"Emangnya mereka menawarkan apa untuk pernikahan ini?" tanya Rasya kepada Firman, ayahnya.
Firman tampak menarik nafas dengan dalam kemudian dia menatap Yuke yang masih tertunduk.
__ADS_1
"Mereka akan memberikan 20% saham untuk Yuke di perusahaan keluarga mereka. Apabila Yuke menerima untuk melakukan pernikahan itu!" jawab Firman dengan pelan.
"Bukankah itu sama saja dengan menjual Yuke kepada mereka?" tanya Rasya sambil menyorot tajam kepada ayahnya.
"Katakan padaku Pah, sejujurnya aku tidak mengerti dengan rencana pernikahan ini. Siapa yang pertama kali mencetuskannya?" tanya Rasya seperti sangat Penasaran sekali dengan cerita dibalik rencana pernikahan antara Thomas dan Yuke.
"Mereka yang menghubungi Papa tadi malam. Meminta diadakannya pernikahan bisnis ini. Memangnya kenapa Rasya?" tanya ayah Rasya merasa penasaran kepada putranya.
"Tidak apa-apa! Rasya hanya bertanya saja!" Rasya kemudian langsung meninggalkan Hotel itu, karena dia merasa sangat khawatir dengan keadaan ibunya yang dia titipkan kepada pembantunya tadi.
"Baiklah, Papa, tante dan Yuke. Saya permisi dulu, karena saya khawatir dengan keadaan Mama saya yang saya titipkan kepada pembantu saya!" ucap Rasya.
Setelah berpamitan, Rasya pun kemudian langsung meninggalkan Hotel itu. Dia tidak memperdulikan Yuke yang terus saja mengikutinya.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau mengikutiku?" hanya Rasya menghentikan langkahnya sejenak menunggu Yuke yang sedang berlari untuk mendekatinya.
"Cepat katakan apa yang kau butuhkan saat ini? Karena aku sedang buru-buru, aku khawatir ada apa-apa dengan mamaku!" ucap Rasya sambil berjalan menjauhi Yuke.
"Cepat katakan yang jujur! Kenapa mas Rasya tiba-tiba saja mencetuskan ide tentang pernikahan paksa ini?" tanya Yuke dengan suara dinginnya sehingga membuat Rasya merasa sangat sedih.
Sejujurnya Rasya sangat merindukan Yuke, yang seperti dulu. Yuke yang begitu ceria dan begitu dekat dengannya yang selalu berhasil memberikan kebahagiaan untuknya.
"Apakah Kak Rasya mencintaiku?" Rasya terdiam sejenak kemudian memalingkan tubuhnya dan menatap muka Yuke dengan sangat tajam.
"Dari mana, kau memiliki pemikiran kotor seperti itu? Bagaimana mungkin aku mencintai adikku sendiri? Kau jangan bicara ngawur?" ucap Rasya sambil pergi dari hadapan Yuke, yang kini menatapnya dengan nyalang. Rasa sedih dan kecewa dirasakan oleh Yuke saat ini.
"Yuke, Ayo kita pulang sudah malam!" ucap Laila yang tiba-tiba sudah ada di belakang Yuke, sambil menggamit tangan putrinya.
Tetapi Yuke menggelengkan kepalanya, kemudian menatap ibunya.
"Mama sama papa, pulang saja! Yuke ingin tidur di kamar ini, sayang kan? Sudah disewa tapi tidak dipakai?" ucap Yuke sambil tersenyum ke arah kedua orang tuanya.
"Lakukanlah apa yang kau mau, tapi ingat! Kau tidak boleh melakukan yang aneh-aneh, ok sayang? Kami akan percaya padamu!" Laila sambil mengelus pipi Yuke.
__ADS_1
"Ya sudah mama sama papa pulang dulu ya?Kamu kalau mau menikmati kamar ini, silakan saja. Tapi kau harus menjaga dirimu sendiri dan pulanglah besok pagi ke rumah!" ucap Firman kemudian pergi bersama Laila dari hotel itu.