
Setelah selesai mandi, Adrian dan Cakra kemudian sarapan dan pergi ke kantor bersama-sama. Adrian tampaknya masih marah dengan Cakra yang sudah membuka perihal pernikahannya dengan Asyifa Latief putri dari Om Ilhamnya yang tersayang.
"Yaelah Mas! kayak gitu aja ngambeknya lama banget kayak cewek lagi PMS aja sih lu!" sindir Cakra.
"Diam loe atau gue turunin lu di tengah jalan! Baru nyaho loe!" sengit Adrian masih fokus ke jalanan. Seperti biasa jalanan tampak ramai dan merayap. Orang-orang pada sibuk untuk pergi bekerja. Adrian yang memang dalam keadaan bad mood jadi tambah kesal saja, ketika melirik adiknya Cakra yang malah cengengesan, hati Adrian tambah kesal jadinya. Adrian mendengus sebal.
"Loe bisa diam nggak? Gak usah cengengesan kayak gitu! Eneg tahu nggak, lihatinnya!" Adrian tambah kesal.
"Udah Mas, jangan marah-marah terus! Nanti cepet tua loh! Kalau cepet tua itu nanti cepat jelek, keriputan, gigi ompong, hah, nasib yang sungguh malang!" ucap Cakra.
Tiba-tiba saja Adrian mengerem kendaraannya, " Keluar Loh dari mobil gue! Berisik aja dari tadi! Gak mau diem mulutnya! Kayak cewek aja sih lu berisik terus!" Adrian membuka pintu mobilnya, lalu menarik tangan Cakra, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Woi... dasar Kakak durhaka! Seenaknya aja, ninggalin adiknya yang tampan di tengah jalan! Aduh, mana panas lagi!" Cakra lalu mencari taksi yang lewat. Tapi sial baginya, jalanan yang macet membuat Cakra kesulitan mendapatkan taksi.
"Ya elah gue punya kakak Barbar banget! Tega banget ninggalin gue yang tampan ini, di jalanan kayak gini! Mana panas lagi, di mana lagi ini taksi? Dari tadi kok nggak ada yang lewat ya!" Cakra sampai frustasi.
Tiba-tiba di belakang Cakra ada mobil yang mengklakson dirinya. Cakra yang saat itu sedang gundah gulana karena tidak mendapatkan taksi, auto melirik ke mobil yang tadi mengklakson dirinya. Ternyata mobilnya Sulis.
" Woi anaknya orang kaya lagi ngapa lu di jalan kayak gembel aja! Hahahaha!" Sulis menertawakan Cakra yang kusut penampilannya. Cakra jadi kesal karena di ejek oleh Sulis.
__ADS_1
"Ah, minggir deh loe, kalau nggak mau nolongin! Nggak usah bikin tambah jengkel aja. Wus wus..... wus.. sana pergi!" usir Cakra tambah kesel.
"Hahaha lucu banget sih lu anak orang kaya! Berdiri di pinggir jalan, udah kaya gembel aja! Hahahaha!" Sulis tertawa makin kenceng melihat Cakra yang senewen.
"Awas aja ini nanti Mas Adrian! Gue laporin nih sama Mama Papa, sudah menistakan Adiknya sendiri kayak gini. Bikin malu aja!" Cakra komat Kamit gak jelas.
"Udah sini masuk mobil gue! Mumpung gue lagi baik hati nih, mau nampung gembel kaya loe! Hahahaha!" tawa Sulis makin kenceng.
Dengan terpaksa Cakra masuk ke mobilnya Sulis. Walaupun dengan raut muka mengkerut kesal, sangking jengkelnya menerima ejekan dari Sulis yang tidak mau berhenti juga. Karena kesal, Cakra auto menarik tengkuk Sulis dan mencium bibir Sulis yang dari tadi menertawakan dirinya. Sulis diam terpaku.
Dunia seakan berhenti, Sulis auto ngerem mobilnya. Terkejut, terpana dengan tindakan Cakra yang tiba-tiba tanpa aba-aba! Ketika sadar, Sulis langsung memukul lengan Cakra yang kini malah cengengesan menatap ke arahnya. " Makanya jangan suka ngeledekin orang! Baru tahu deh, rasanya!" kini Cakra yang tertawa terbahak-bahak, Sulis masih membeku di tempatnya.
"Dasar mesum! Seenaknya aja, Loe curi-curi ciuman pertama gue!" Sulis gemes bukan kepalang, untung mereka sudah ada di parkiran perusahaan ayahnya, jadi perkelahian mereka tidak mengganggu jalanan.
"Itu juga ciuman pertama gue! Stop! Loe tinggal ambil balik, ciumannya! Kenapa main pukul-pukul segala?" Sulis auto terdiam, demi mendengar ucapannya Cakra.
" Gimana caranya ambil balik?" tanya Sulis dengan polos.
"Loe cium balik gue!" Cakra seketika tersenyum simpul.
__ADS_1
Sulis langsung memerah pipinya, "Itu mah, enak di loe!" cicit Sulis kesal. "Bener, gue gak keberatan ko, kalau loe ambil balik ciuman pertama loe, yang udah gue curi!" Sulis melotot melihat Cakra yang tertawa penuh kemenangan.
Tanpa pikir panjang, Sulis langsung menarik tubuh Cakra agar mendekat ke arahnya, tanpa banyak cakap, Sulis langsung ******* bibir Cakra dengan penuh emosi. Di akhir ciumannya, Sulis memberikan gigitan kecil, sehingga bibir Cakra jadi bengkak. Cakra lemas di tempat.
"Jangan di kira gue takut dengan tantangan loe! Loe salah cari lawan, bung!" Sulis lalu keluar dari mobilnya dengan santai tanpa memperdulikan Cakra, yang kini masih bengong terlongong menerima perlakuan Sulis. Percis seperti orang bego saja.
"Apa gue lagi mimpi ya? Tapi bibir gue sakit, tadi di gigit dia. Aduh, ini namanya bencana bawa berkah!" ucap Cakra masih senyum-senyum gak jelas. Sulis yang sudah di luar, langsung berbalik lagi, melihat Cakra yang masih kayak orang hilang itu. Hati Sulis sebenarnya deg-degan bukan kepalang, tapi Sulis memang pandai menutupi perasaannya yang kini sedang blingsatan. Hanya dalam waktu 10 menit, dia dan Cakra sudah berciuman sampai dua kali! OMG! Apa ada hal yang lebih membagongkan dari hal ini? Hati Sulis dari tadi sudah merutuki dirinya.
"Eh, loe! Mau Berapa lama lagi bengong di mobil gue?Cepat turun! Ini sudah terlambat tahu? Loe memangnya mau kena skor dari Pak Adrian apa?" teriakan Sulis menyadarkan Cakra dari lamunannya.
Cakra kemudian keluar dari mobilnya Sulis dan berjalan ke arah Sulis dengan mata yang berbinar-binar. Senyum masih berkembang di bibirnya yang kini bengkak gara-gara tadi di gigit oleh Sulis. Tangannya masih memegang bibirnya, masih tidak percaya sepagi ini sudah dapat ciuman sebanyak dua kali, dari gadis yang selama ini selalu menjadi kembang tidurnya.
"Udah biasa aja kali! Nggak usah kayak orang kesambet kayak gitu! Jadi lucu tahu muka loe!" Sulis yang masih malu, menutupinya dengan makian. Cakra mengulurkan tangannya, Sulis diam sesaat.
"Genggam tangan gue! Dan gue gak akan pernah melepaskan loe seumur hidup gue!" ucap Cakra dengan suara bergetar. Sulis yang pada dasarnya juga tertarik dengan Cakra, tanpa banyak pikir, langsung meraih tangan Cakra dan menggenggamnya dengan senyum terhias di bibirnya. Tambah cantik saja.
"Aku mencintai kamu!" tiba-tiba saja Cakra berbisik di telinga Sulis, Sulis diam membeku di tempatnya. Untung saja mereka berdua datang terlambat, jadi adegan itu tidak ada yang melihat, parkiran kantor sudah sepi, karyawan yang lain sudah pada sibuk bekerja.
"Jawab, dong! Kok malah bengong?" tanya Cakra lagi.
__ADS_1
Sulis terkesiap, saat tiba-tiba Cakra sudah menciumnya lagi. Kecupan singkat! Ya Tuhan! Cakra tampaknya sudah bertekad akan meluluh lantakkan hati Sulis hingga menjadi serpihan. Sulis lemas di tempat, seperti kena setrum rasanya. Otot dan syaraf Sulis seperti tak bekerja. Pikiran Sulis hilang entah kemana. Cakra menarik Sulis dalam pelukannya. Menyeret Sulis untuk masuk ke ruangan mereka. Para karyawan yang lain sedang fokus dengan pekerjaannya, jadi tidak ada yang memperhatikan mereka berdua. Hanya seseorang yang dari tadi memperhatikan layar CCTV di ruangan, kini dia malah tersenyum bahagia.