Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
99. Keputusan Adrian


__ADS_3

Adrian terlihat lesu. Setelah ibunya meninggal, Adrian seakan kehilangan semangat hidupnya. Setiap hari dia hanya melamun di pinggir jendela. Menatap kosong ke luar sana. Terkadang dia menitikan air matanya.


Syifa tidak berani mendekati Adrian karena dia masih merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi di saat-saat terakhir Ibu mertuanya meninggal.


"Aku akan pergi dari Apartemen ini, semoga kau bisa menjaga dirimu!" ucap Syifa berpamitan kepada Adrian.


Adrian hanya menatapnya sekilas, kemudian dia kembali menatap ke arah jendela.


"Kau bisa membatalkan pernikahan kita, kalau kau memang menginginkannya!" tiba-tiba saja Adrian mengatakan sebuah kata yang membuat Syifa membeku seketika.


"Apa kau yakin?" tanya Syifa dengan suara gemetar.


"Kau bisa lakukan ppapun yang kau mau. Aku tidak akan pernah menahanmu disisiku. Aku juga tidak akan pernah mengemis cinta padamu. Aku lelah!" ucap Adrian kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Syifa hanya menatap Adrian dari kejauhan kemudian dia meninggalkan Adrian sendiri di apartemennya.


Tampak bulir bening air mata menetes di pipi Syifa. Ada kesedihan dan juga penyesalan di hatinya. Tetapi untuk mengemis cinta terhadap Adrian pun, dia tidak sudi sama sekali. Jadi Syifa memilih untuk pergi meninggalkan kota Jakarta dan pergi ke kota lain tanpa memberitahukan siapapun.


Kedua orang tua Syifa sudah pergi dari Jakarta dan kembali ke Jawa Timur sejak dua hari yang lalu. Setelah acara 7 harian ibunya Adrian, Kesya yang meninggal.


Adrian hanya menatap kepergian Syifa dan Dia memutuskan untuk tidur saja. Karena dia sudah tidak sanggup lagi menahan derita yang ada di dalam hatinya saat ini.


Cakra yang kebetulan sedang berkunjung ke apartemen Adrian dia merasa heran kenapa apartemen begitu sepi.


"Ke mana Kak Adrian sama Kak Syifa Kenapa apartemen begini sunyi?" tanya Cakra heran.


Cakra kemudian langsung masuk ke dalam apartemen tersebut. Karena dia tahu kata sandi dari apartemen Adrian, jadi dia bisa masuk sesuka hatinya.

__ADS_1


"Kak Kak Adrian! Kak Syifa! Kalian ada di mana?" terus berteriak memanggil penghuni apartemen itu tetapi tidak ada yang menyangkut sama sekali.


"Aneh, padahal ini masih magrib. Kenapa sudah sangat sepi sekali, tidak mungkin kan kalau mereka sudah tidur pada jam segini?" Cakra bertanya-tanya dalam hatinya sendiri. Kemudian dengan hati-hati dia mendorong pintu kamar Adrian.


"Kak Adrian, Kak Adrian baik-baik saja kan?" tanya Cakra ketika dia melihat kakaknya sedang beringkuk di atas ranjang.


"Kenapa Kak Adrian tidur sendirian saja, kemana Kak Syifa?" Cakra bertanya terus di dalam hatinya merasa bingung dengan penghuni apartemen itu.


Cakra kemudian mendekati Adrian dan mengguncangkan tubuhnya berusaha untuk membangunkan Adrian yang masih lelap dalam tidurnya.


"Bangun Kak!" Cakra mengoncangkan bahu Adrian. Lalu dia duduk di samping kakaknya.


"Apa jangan-jangan Kak Adrian sakit ya? Kok tumben sekali dia tidur kayak gini dan tidak mau bergerak sama sekali?" seketika kecemasan hadir di dalam hati Cakra.


Cakra kemudian menaruh telapak tangannya di kening Adrian yang terasa begitu panas.


"Yah Cakra! Ada apa kau malam-malam menghubungi kakak?" tanya Syifa dengan suara yang lesu dan tampak sedih.


"Kakak di mana sekarang? Kak Ardian sakit Kak dan dari tadi dia mengigau nama kakak terus! Cepat pulang kak kasihan Kak Adrian!" Cakra menaruh ponsel itu di dekat mulut Adrian yang terus mengigau memanggil nama Syifa.


"Syifa, kamu di mana sayang? Aku rindu sama kamu!" ucap Adrian dalam igauannya seketika Syifa menangis di seberang sana ketika mendengarkan apa yang diucapkan oleh Ardian saat ini.


"Cepatlah pulang Kak! Kasihan Kak Adrian. Badannya panas sekali. Saya akan segera membawanya ke rumah sakit. Kakak nanti langsung menemui kami di sana aja ya?" tanya Cakra kepada Syifa yang masih menangis di seberang sana.


Syifa yang dari tadi hanya terdiam mendengarkan perkataan Cakra dia tidak menyadari bahwa mobil yang dia tumpangi saat ini sudah mulai melaju.


Ketika dia sadar, dia langsung berteriak kepada sopir untuk menghentikan mobilnya. Karena dia ingin turun dan tidak jadi pergi ke luar kota.

__ADS_1


"Tolong berhenti Pak! Karena saya tidak jadi pergi!" Syifa kemudian mengambil tasnya dan langsung turun dari mobil bus itu yang Untung saja baru melaju sekitar 10 menit Jadi belum terlalu jauh dari terminal.


"Aku harus berusaha untuk lebih mengerti lagi perasaan Adrian. Aku tidak boleh terlalu egois mulai sekarang. Karena bagaimanapun pernikahan ini adalah milik kami berdua dan kami harus bertahan bersama-sama!" dengan penuh kemantapan Syifa kemudian segera menghentikan taksi yang sedang melintas di hadapannya.


"Rumah Sakit xxxx Pak!" ucap Syifa kemudian dia pun tersenyum karena dia akan kembali bertemu dengan suaminya yang dia cintai.


Setelah sampai di rumah sakit Syifa langsung menghubungi Cakra untuk menanyakan di mana ruangan Adrian saat ini.


"Iya Kak Kakak masuk saja kami ada di ruang bougenville nomor 5 kak!" ucap Cakra kemudian langsung menutup panggilan telepon tersebut.


"Kak Syifa sudah berada di sini. Harus ingat Kak Adrian tidak boleh lagi berperilaku sombong terhadap istrimu. Kak Adrian harus bisa mengikuti rencana Cakra tadi, supaya Kak Syifa tidak jadi membatalkan pernikahan kalian! Paham tidak?" ucap Cakra serius.


Adrian hanya memutar bola matanya dengan malas. Adrian hanya diam saja. Terserah Cakra mau melakukan apa dia sama sekali tidak peduli.


'Aku tidak peduli Syifa akan membatalkan pernikahan itu atau tidak. Kalau dia memang mencintaiku dia pasti akan datang untukku. Kalau dia memang tidak mencintaiku. Aku tidak akan menghabiskan waktuku untuk mempertahankan dia!' bathin Adrian sambil menatap ke pintu.


Secara tidak sadar, Ardian memang sedang menunggu Syifa. Tetapi dia merasa gengsi untuk mengakui hal tersebut.


Tidak kemudian, pintu terbuka dan Syifa langsung menghambur ke dalam ruangan dan langsung memeluk Adrian dengan air mata yang mengalir.


"Maafkan aku! Atas semua keegoisanku selama ini yang tidak pernah mencoba mengerti perasaanmu!" ucap Syifa sambil memeluk tubuh Adrian dengan erat.


Cakra yang melihat adegan romantis itu pun akhirnya memilih untuk meninggalkan mereka berdua. Agar mereka bisa berbicara lebih leluasa mengenai hubungan mereka berdua, tanpa dirinya di dalam ruangan itu.


"Kau kenapa membawa tas dari manakah?" tanya Adrian bingung.


"Tadinya, aku telah memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Tetapi akhirnya aku menyadari bahwa aku memang tidak bisa hidup tanpamu!" ucap Syifa kemudian dia langsung mencium bibir Adrian yang terkejut dengan aksi sang istri yang agresif.

__ADS_1


"Aku benar-benar sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu!" ucap Syifa di antara aktifitas ciuman panasnya bersama Adrian.


__ADS_2