
Setelah 7 hari melaksanakan tahlilan untuk Kesya. Kemudian mereka berfokus untuk menangkap pelaku pembunuhan yang sudah tega memberikan racun kepada Kesya sehingga dia meninggal secara tiba-tiba.
Saat ini Amanda sedang berhadapan dengan ibunya. Dia penuh dengan rasa penasaran ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Apakah benar kalau mama yang sudah merencanakan untuk membunuh Mama Kesya?" tanya Amanda dengan suara yang tersekat di tenggorokannya karena dia sangat sedih memikirkan bahwa itu adalah sebuah kebenaran.
"Amanda! Apakah penting Mama membunuh ibu angkatmu atau tidak?" tanya Manda seperti yang tidak memperdulikan perasaan anaknya sendiri.
"Setidaknya! Berikan alasan untuk Amanda agar Amanda mengerti apa yang saat ini Mama lakukan!" ucap Amanda dengan berderai air mata penuh kesedihan.
"Mama hanya membenci dia saja. Dia sok suci, sok baik! Seharusnya Mama yang berada di posisinya. Seharusnya Mama yang menjadi istri papamu bukan dia!" ucap ibunya Amanda dengan mata nyalang.
Amanda bergidik melihat tatapan ibunya yang seperti tidak waras.
"Apakah mama tidak salah? Bukankah Mama sudah mempunyai suami dan memiliki kehidupan yang bahagia? Kenapa Mama masih memimpikan Papa Andika dalam hidup mama?" tanya Amanda dengan penuh rasa penasaran.
"Mama hidup dengan laki-laki itu hanya terpaksa. Mama tidak mencintai dia yang Mama cinta itu adalah papamu. Tetapi dia selalu menolak mama. Hanya gara-gara perempuan bernama Kesya itu!" teriak ibunya Amanda sambil menatap tajam kepada putrinya yang semakin terisak sedih.
"Mama betul betul sakit jiwa! Amanda sangat kecewa dengan mama!" Amanda kemudian meninggalkan ibunya di dalam penjara.
Andika yang melihat Amanda keluar dari ruangan besuk Manda langsung memeluk putrinya yang saat ini sedang menangis.
"Mama sudah sakit jiwa Pah mama mengakui bahwa dia yang sudah membunuh Mama Kesya!" Isak Amanda dari dalam pelukan Andika yang saat ini mengelus punggungnya dengan penuh kasih sayang.
"Sejak dulu Papa tahu kalau Ibumu itu sakit jiwa. Oleh karena itu Papa tidak pernah menerima dia dalam hidup papa!" ucap Andika sambil mengelus kepala putrinya yang masih menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya.
__ADS_1
"Walaupun kamu putrinya, Papa bersyukur kau tidak memiliki karakter seperti ibumu!" Andika memeluk erat Amanda yang masih terus menangis dengan pilu.
"Kamu jangan khawatir. Kami tidak akan menyalahkanmu atas kesalahan ibumu. Kau tidak bersalah. Jadi kami tidak akan pernah menyalahkan kamu juga!" ucap Andika berbisik di telinga putrinya.
Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian dia menatap kepada ayahnya dengan sendu.
"Tidak Pah! Amanda sudah merasa malu untuk tinggal bersama dengan kalian. Tolong izinkan Amanda untuk meninggalkan keluarga Abimana!" isak Amanda.
"Sengarkan Papa Amanda! Kami tidak pernah membencimu. Kau adalah bagian dari keluarga kami. Sejak kecil kami merawatmu dengan penuh kasih sayang! Mama Kesya pasti akan sedih, kalau melihat kamu meninggalkan keluarga Abimana! Bukankah kamu tahu sendiri, kalau Mama Kesya paling menyayangimu?" punya Andika sampai menatap mata Amanda yang semakin mengalir air matanya.
Demi mendengarkan kata-kata ayahnya. Seketika hati Amanda terasa begitu sakit. Ketika dia mengenang kembali betapa Kesya selama ini selalu menyayangi dia dan selalu memberikan yang terbaik untuknya tidak pernah membedakan dirinya dengan Cakra.
"Justru karena itu Pah! Amanda merasa sangat bersalah dan malu untuk berkumpul dengan kalian! Selama ini Mama Kesya selalu menyayangi saya. Tetapi bagaimana mungkin Pah, ternyata, ibu kandungku sendiri, ternyata yang telah membunuhnya. Itu sungguh sangat menyakitkan bagi Amanda Pah!" siap Amanda dengan suara terbata-bata dan terus terisak dalam tangis kesedihan.
Hilang sudah sosok seorang Amanda yang selalu menatap dengan percaya diri seorang CEO wanita muda yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia sekarang jatuh terpuruk karena perbuatan ibunya yang sudah membuat dia malu untuk berhadapan dengan keluarga besarnya yang selama ini selalu merawatnya dengan baik dan penuh kasih sayang.
Andika tampak menarik nafasnya dengan dalam-dalam merasa berat kehilangan putrinya satu-satunya.
"Kau adalah Putri Papah satu-satunya. Bagaimana papa akan tega? Melepaskanmu hidup di luar sendirian bagaimana nanti kau akan menikah?" ucap Andika sambil memeluk Amanda. Tampak Cakra dan Adrian hanya mendengarkan percakapan keduanya.
"Kak Amanda kami tahu Kak Manda tidak bersalah dengan meninggalnya mama. Itu adalah kesalahan ibunya Kak Amanda! Kakak tidak usah merasa bersalah Kami tidak akan menyalahkanmu!" ucap Cakra sambil memegang tangan Amanda yang terasa begitu dingin.
"Kamu adalah adik kesayangan kakak! Walaupun kakak tidak tinggal di keluarga Abimana lagi. Tapi Kakak tetaplah kakakmu kau tidak usah takut Cakra!" ucap Amanda sambil memeluk Cakra yang kini ikut menangis bersamanya.
"Percayalah Kak Amanda, kami adalah keluargamu dan kami tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun!" Adrian ikut bersama Cakra untuk memeluk Amanda.
__ADS_1
"Kakak pergi dulu ya! Kalian harus ingat untuk jaga Papah kita!" pesan Amanda sebelum meninggalkan keluarga Abimana untuk selamanya.
"Amanda dengarkan Papa! Untuk sementara kau pergilah ke Paris. Kelolalah Perusahaan kita di sana. Nanti papa akan menghubungi pihak manajemen di sana agar membantumu.
Papa menyerahkan perusahaan itu untuk menjadi milikmu!" ucap Andika sebelum Amanda meninggalkannya.
"Tidak Pah! Amanda tidak bisa menerimanya! Kalian sudah terlalu banyak memberikan kebaikan dalam hidup saya. Saya tidak bisa menerimanya lagi. Setelah kejahatan yang diberikan oleh ibuku kepada Mama Kesya, orang yang paling kalian cintai!" Amanda menolak pemberian Andika untuk dirinya.
Tetapi Adrian menggenggam tangan kakaknya dengan penuh rasa cinta dan kasih seorang adik terhadap kakaknya.
"Terimalah perusahaan itu, Kak! Untuk kakak kelola. Aku tidak akan sanggup untuk mengelola perusahaan Abimana grup yang begitu banyak dan begitu luas. Kalau kakak menyayangiku, terimalah dan bantulah aku untuk mengelola nya!" ucap Adrian sambil tersenyum kepada Amanda.
"Dasar kau Adik nakal! Dalam keadaan seperti ini pun kau masih bisa menggoda kakakmu!" ucap Amanda sambil tersenyum namun air matanya terus mengalir deras.
Karena begitu sedihnya hati dia. Karena harus meninggalkan keluarga yang selama ini sangat menyayanginya.
"Kakak tidak boleh melupakan kami. Setiap tahun. Pulanglah dan datanglah untuk menengok Mama. Mama pasti akan merindukan kakak!" ucap Cakra sambil memeluk Amanda yang sudah bersiap untuk pergi meninggalkan mereka.
"Akan kakak usahakan untuk kembali dan menengok Mama Kesya! Tolong kalian berdua jaga papa dan juga kakek dan nenek. Sampaikan salam Amanda untuk mereka berdua!" ucap Amanda kemudian dia langsung pergi meninggalkan penjara.
Penjara, di mana tempat ibu kandungnya sekarang mendekam menerima hukuman atas perbuatannya yang telah keji membunuh ibu sambungnya.
Pengadilan telah membuktikan bahwa memang Manda yang telah membunuh Kesya. Dengan bukti-bukti yang jelas dan meyakinkan dan Manda dihukum selama 20 tahun atas kejahatannya tersebut.
Apakah benar bahwa Kesya memang benar-benar dibunuh oleh Manda? ataukah masih ada rahasia lain di balik kematian Kesya? Tetap ikutin novel ini ya, jangan sampai kalian ketinggalan kelanjutannya!
__ADS_1
Tolong tinggalkan jejak kalian ya, dengan like, komentar, vote dan gift semampu kalian.
Banyak Love buat reader semua 😂 😘 ❤