Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
22. Mencari Amira


__ADS_3

Setelah sholat Maghrib selesai, Fathu pergi ke rumah almarhum mertuanya. Tapi saat sampai di sana, Fathu mendapatkan kenyataan bahwa Amira sudah tidak di sana.


"Tadi memang Amira datang kesini, lalu kami menyelesaikan perjanjian kontrak rumah ini. Setelah itu dia pergi dengan barang-barang dia." ucap istri yang mengontrak rumah Qiara.


"Apa ibu tahu kemana kira-kira istri saya pergi?" tanya Fathu mulai cemas. Sekarang sudah mau malam, dan dirinya belum mendapatkan kabar tentang istrinya. Setelah sholat, hatinya mulai tenang. Ya, cemburu membuat dirinya lepas kontrol dan keluar dari logika. Kini Fathu merasa menyesal karena membuat Amira kabur.


"Kami tidak tahu, Gus! Tapi itu barang-barang nya masih banyak yang belum di bawa. Nanti saya hubungin Gus Fathu kalau istrinya kesini. Bisa minta nomor telepon nya?" ucap Suami wanita itu, yang pernah datang ke pondok pesantren Abynya.


"Baiklah," kemudian Fathu menyebutkan nomor telpon, dan berpamitan.


"Tolong langsung telpon saya kalau istri saya datang. Terima kasih, Pak!" Fathu langsung pergi dari sana. Dia mencari di setiap jalan di sana, berharap masih bisa menemukan sang istri. Hatinya menyesal sekali karena sudah menuruti hawa nafsu sehingga membuat istrinya tersinggung dan memilih pergi dari dirinya.


Saat sampai ke pondok pesantren, Aby dan Umy sudah menyambut dirinya. "Loh, kok pulang sendiri? Dimana menantu Umy?" Umy celingak-celinguk ke belakang Fathu, mencari sang menantu. Tapi nihil, Amira tidak ada.


"Menantu Aby dimana?" Aby mulai khawatir, sekarang sudah jam 23.00 dan menantu kesayangannya belum ada di rumah.


"Maafkan Fathu Aby dan Umy! Semuanya salah Fathu, Fathu yang membuat Amira kabur! Hiks hiks!" Fathu lalu bersimpuh di hadapan kedua orangtuanya. Umy seketika sedih hatinya.


"Kabur? Apa maksudnya?" Umy masih belum ngeh juga. Setahunya, hubungan anak dan menantunya selama ini baik-baik saja, malah terlihat mesra. Bagaimana menantunya sekarang bisa kabur?

__ADS_1


"Jelaskan Fathu!" Aby masih tenang, tidak mau gegabah dalam berspekulasi.


"Aby, tadi siang Fathu mencari Amira, ustadz Razak bilang dia pergi dengan kalian, tapi saat Fathu akan menyusul kalian, Amira pulang bersama ayahnya Sulis, Bayu Iswara. Aby ingat bukan? Waktu tahlilan ayahnya Amira, mereka berdua datang ke sini. Fathu tahu kalau Bayu ada hati dengan istri Fathu. Berkali-kali Fathu ingetin Amira untuk menjauhi pria itu. Tapi Amira gak perduli. Fathu kecewa sama Amira, Aby. Jadi Fathu marah dan mengatakan kalau Amira wanita murahan karena mau di antar oleh pria lain!" ucap Fathu dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu gegabah, Fathu!" sesal Umynya.


"Sudah kau cari kemana?" tanya Aby masih kalem.


"Tadi Fathu mencari ke rumah almarhum ayah. Tapi disana rumahnya sudah di kontrakan sama orang lain, selama tiga tahun. Fathu sudah mencari di sekitar daerah sana, tapi tidak ada jejak sama sekali." Fathu sudah lemas.


"Amira itu sudah di amanah kan kepada kita oleh almarhum ayahnya. Keselamatan dan hidup dia adalah tanggung jawab kita. Aby sungguh kecewa dengan kamu, Fathu. Sebagai seorang dosen dan lulusan S3 Mesir, kamu masih gagal mengontrol emosi kamu! Aby sungguh kecewa sekali!" Kiai Jamaluddin kemudian masuk ke kamarnya, namun.. Sebelum itu Pak Kiai memanggil Ustadz Rajak untuk menghadap beliau.


"Enggih ajengan, ada yang bisa saya bantu?" ucap ustadz Rajak dengan wajah ngantuk-ngantuk.


"Saya tadi siang memang melihat Gus Fathu sempat bersitegang dengan istrinya, tapi saya tidak mengira akan sebesar ini masalahnya. Baiklah, Pak Kiai. Besok pagi-pagi akan saya kerahkan team khusus untuk mencari keberadaan Istri Gua Fathu." Kiai Jamaluddin kemudian mempersilahkan ustadz rajak untuk kembali ke Rumah yang di huni oleh beliau dan keluarganya.


Ya, Kiai Jamaluddin menyediakan perumahan bagi dewan asatizh yang mengajar dan bertugas di pondok pesantren yang beliau pimpin, apabila mereka memiliki keluarga.


Begitu baiknya Kiai Jamaluddin sehingga dia memberikan beasiswa untuk semua anak dewan asatizh apabila ingin sekolah atau nyantri di pondok pesantren beliau. Tapi kalau mereka memilih sekolah di luar, Kiai memberikan beasiswa 50% dari biaya pendidikan mereka.

__ADS_1


Fathu kembali ke kamarnya, di lihatnya foto pernikahan dirinya bersama Amira. Hanya itu kenang-kenangan yang dimiliki oleh Fathu tentang istrinya. Rasanya seperti mimpi. Dia menikah sebulan yang lalu, dan kini istrinya pergi meninggalkan dirinya karena emosinya yang tidak terkendali. Sungguh penyesalan itu tidak berguna sama sekali. Ya iyalah Gus, kalau penyesalan datangnya di awal, itu namanya pendaftaran. Nyesel kenapa gak daftar dari dulu? Intermezo bentar ya reader, biar gak ikut sedih bersama Fathu yang kini merasa kehilangan Istrinya.


"Maafkan Mas, Mas sungguh bodoh dan ceroboh! Maafkan, Mas! Tolong kembali sama Mas, Mas rindu sama kamu! Hiks hiks!" air mata Fathu sudah menetes, tak mampu di bendung lagi.


Fathu tertidur saat shubuh hampir datang. Matanya sampai sembab, badannya sampai demam. Semalaman Fathu berkeliling sekitar jalan rumah ayahnya Amira sampai menuju rumahnya. Hujan angin sama sekali tidak dia hiraukan. Kini Fathu demam dan mengigau terus memanggil Amira. Kedua orangtuanya menjadi risau dan cemas. Ini kali pertama Fathu berhubungan dengan wanita, makanya Fathu tidak kuat ketika mendapatkan tekanan bathin tersebut.


"Aby, apakah santri sudah dikerahkan?" tanya Umy mulai khawatir dengan keadaan anaknya.


"Tadi malam sudah Aby perintah kan, pagi ini akan di bentuk team khusus untuk mencari Amira!" mereka kemudian keluar kamar Fathu. Setelah menyuruh anaknya untuk sholat shubuh dulu, lalu mereka membiarkan anaknya untuk kembali tidur setelah makan dan minum obat.


Sementara itu, Amira di mess baru nya, memulai pekerjaannya hari ini bersama teman-teman yang juga tinggal di mess karyawan. Restoran keluarga Erik ini termasuk besar dan mewah. Memiliki banyak karyawan dan tempat yang luar.


Amira bekerja di sana bagian waiters karena Amira hanya memiliki izasah SMA. Tapi Amira merasa bahagia dengan pekerjaan yang dia miliki saat ini, setidaknya dia tidak pusing memikirkan tempat tinggal dan makanan. Semua di tanggung oleh restoran. Uang gajinya bisa dia tabung untuk daftar kuliah. Nanti kalau ada sempat, Amira akan mencari informasi tentang kampus yang dekat dengan tempat dia bekerja.


"Ah, aku harus mengambil motorku di rumah ayah. Aku bisa bebas beraktivitas kalau ada motorku." ucap Amira sambil melakukan pekerjaan pagi ini. Amira sedang menyapu dan mengelap meja-meja. Di kejauhan, Erik terus memperhatikan mantan kekasihnya tersebut dengan intens.


Saat ini Erik sudah menikah dan istrinya sedang hamil anak pertama mereka, walaupun pernikahan bisnis, mereka di tuntut oleh orang tua masing-masing untuk memiliki anak, jadilah Erik mengabulkan keinginan mereka. Jengah juga rasanya selalu di tanyakan hal yang sama setiap hari. Akhirnya mereka membuat keputusan untuk memiliki anak bersama. Istrinya Erik sebenarnya wanita yang cantik dan berpendidikan. Lulusan Amerika. Tapi memang pergaulan yang terlalu bebas, membuat Sella sudah kehilangan keperawanan saat malam pertama bersama Erik. Hal itulah yang membuat Erik merasa kecewa dan marah kepada istrinya tersebut.


"Aku akan menjalani pernikahan ini. Setidaknya selama orang tuaku masih hidup, apabila mereka sudah meninggal, aku tidak akan menjamin masih bisa bertahan dalam pernikahan ini!" itulah perjanjian yang di tawarkan oleh Erik sebelum keduanya berjanji akan memiliki anak bersama.

__ADS_1


"Kau boleh membawa anak kita, apabila kita bercerai nanti. Aku tidak mau berhubungan dengan kamu lagi kalau nanti kita berpisah. Kita hidup masing-masing, aku tetap akan memberikan biaya hidup untuk anak itu. Tapi jangan berharap aku akan mencintaimu!" lalu Erik pergi meninggalkan Sella begitu saja di rumah mereka yang di hadiahkan oleh kedua orangtuanya.


Erik lebih memilih tinggal di restoran dan fokus dengan bisnis keluarga yang di percayakan kepada dirinya.


__ADS_2