Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
96. Pemakaman Kesya


__ADS_3

"Tunangan Cakra? Kenapa saya tidak tahu tentang kamu?" tanya Amanda tampak keheranan sambil menatap Sulis.


"Waktu kami bertunangan, Kak Amanda ada Dubai jadi tidak tahu tentang pertunangan kami berdua!" ucap Sulis sambil menatap tajam kepada Amanda yang saat ini terus memperhatikannya.


"Cakra! Apakah benar kalau dia adalah tunanganmu?" Amanda kemudian melirik kepada Cakra yang saat ini sedang menangis di pelukannya.


"Ya, Kak! Rencananya 2 bulan lagi, kami akan menikah. Tetapi kalau mama meninggal seperti ini. Entahlah! Cakra mungkin tidak akan mampu untuk melakukannya, Kak! Bagaimana mungkin Cakra bisa menikah di saat kita sedang berduka seperti ini?" ucap Cakra lirih dan bergetar suaranya.


"Tidak apa-apa, Cakra? Aku bersedih Aku menunggu kamu untuk melewati masa berkabung ini!" ucap Sulis sambil berusaha menggenggam tangan Cakra.


"Kau belum menjadi istrinya! Jadi jangan terlalu intim seperti itu!" ucap Amanda sambil merenggut tangan Cakra yang saat ini sedang digenggam oleh Sulis.


Amanda udah seperti mertua galak ya Reader? Bikin Sulis jadi kebat kebit hatinya.


"Kau pergilah keluar! Tidak baik seorang perempuan berada di kamar seorang laki-laki yang belum mahramnya! Apalagi di saat keadaan seperti ini kau jangan membuat fitnah untuk keluarga kami!" ucap Amanda dengan nada tegas dan keras.


Sulis kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Karena sudah merasa jengkel dengan kelakuan Amanda yang sejak tadi seperti yang memusuhinya.


"Baik, kak! Saya keluar dulu tolong titip Cakra!" ucap Sulis kemudian dia pun meninggalkan kamar Cakra dan pergi ke sisi ayahnya.


"Ayo Cakra, kita harus mengantarkan kepergian Mama kita atau suatu saat nanti kau akan menyesalinya!" Amanda kemudian membimbing Cakra untuk bisa bangkit dan ikut menghadiri pemakaman ibunya di pemakaman keluarga Abimana.


Di sana, tampak Merrt dan Alvian tampak sedang menangis di samping jenazah Ibu mereka. Merry langsung bangkit ketika melihat Cakra dan Amanda.

__ADS_1


"Cakra, ibumu kenapa meninggal secepat ini?" ucap Merry sambil memeluk tubuh Cakra, keponakannya.


Tubuh Cakra sudah akan hampir melorot dan tumbang lagi, karena sudah lemas ketika Cakra melihat tubuh ibunya yang sudah terbungkus kain kafan dan siap di bawa ke pemakaman keluarga Abimana.


Saat ini kain penutup kepala Kesya memang sedang terbuka. Karena tadi Merry dan Alvian yang membukanya dan belum sempat ditutup sehingga Cakra menatap wajah ibunya secara langsung dan dia langsung menangis dan memeluk tubuh ibunya.


"Mama,kenapa Mama meninggalkan Cakra begitu cepat? Bukankah Mama janji akan mendampingi Cakra selalu dan akan mempersiapkan pernikahan Cakra mah?" ucap Cakra sambil memeluk ibunya.


Tubuh Cakra langsung diambil oleh Rasyid dan menariknya agar menjauh dari Kesya. Karena dia khawatir air mata Cakra akan menempel di tubuh Kesya.


Karena itu sangat berbahaya bagi Kesya saat ini. Air mata itu bisa menjadi petir dan badai untuk Kesya dalam perjalanannya menuju keharibaan Allah.


Jika kita menghadapi kematian orang yang kita cintai. Sebaiknya jangan ditangisi secara berlebihan. Ikhlas dan tawakal harus selalu dijaga saat melepaskan kepergian orang yang kita kasihi. Karena pada hakekatnya, manusia itu adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepadanya. Kita semua pasti suaru saat akan mendapatkan giliran itu. Kematian! Hanya saja menunggu waktu yang tepat yang sudah digariskan oleh Allah terhadap nyawa kita.


"Cakra berhati-hatilah, Nak! Jangan sampai air matamu menempel ke tubuh ibumu. Kasihan ibumu Nak! Ayo kau duduklah di sini dan kirimkanlah doamu untuk Ibumu. Agar perjalanan ibumu ke sisi Allah lancar dan tiada menemui halangan!" ucap Rasyid pelan.


"Maafkan Cakra, Paman! Cakra tadi lepas kontrol, sehingga melakukan kesalahan semacam ini!" Cakra kemudian mengikuti pamannya untuk duduk di samping Adrian dan mulai berusaha untuk membaca surat Yasin dan dikirimkan kepada ibunya.


Tampak Adrian yang terus membaca surat Yasin. Entah sudah berapa kali dia mengulang dan mengulangnya terus. Mengirimkan doa dan al-fatihah untuk sang ibu, hadiah terakhirnya kepada ibunya yang dia cintai.


Fathu dan Amira beserta kedua orang tuanya pun hadir di dalam acara pemakaman Kesya. Ibunya Kesya sejak tadi terus menangis di pelukan Qonita. Yang sejak datang dari Indramayu tidak mau meninggalkan ibu mertuanya yang selalu jatuh pingsan itu.


Tampak Zaki kecil terus memeluk ibunya. Dia belum paham dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, jenazah Kesya sudah diangkat oleh beberapa orang menuju mobil untuk ke tempat pemakaman keluarga Abimana. Tampak Farhan dan istrinya terus menitikkan air mata, ketika melihat menantu yang sangat mereka cintai di masukan ke dalam liang lahat.


Andika hampir saja terjatuh, kalau tidak segera ditangkap oleh Adrian. Dapat di pastikan dia pun ikut masuk ke dalam liang lahat tersebut. Karena badannya tiba-tiba lemas dan kakinya seakan tidak bertulang.


"Pah, ayo kita duduk di sana!" ucap Adrian kemudian memapah ayahnya untuk duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari pemakaman Ibunya. Tetapi Andika menggeleng, dia menolak saran Adrian.


"Papa ingin melihat, saat-saat terakhir mamamu! Adrian, papa pasti akan kuat! Kau tenanglah!" ucap Andika berusaha untuk bangkit kembali dan berdiri di samping makam Kesya yang sudah mulai 80% tertutup tanah. Air mata kembali luruh di mata Andika.


Tampak Kiai Ilham yang memimpin doa dan tahlil untuk Kesya saat ini. Suaranya gemetar ( Sama kaya tangan author saat ini, gemetar menulis part paling sedih ini)


Selamat jalan Kesya, semoga arwahmu tenang di sana dan semua amal sholeh mu selama kamu hidup di novel ini, di terima oleh Allah. Banyak yang mendoakan kamu Kesya, semua keluarga kamu mencintai kamu.


Tenang saja, author dan suami kamu akan mencari penjahat yang sudah tega membunuh kamu. Pasti akan di kasih hukuman yang setimpal dan layak dengan perbuatan jahatnya.


Satu persatu para pelayan itu meninggalkan pemakaman. Dekarang hanya tinggal beberapa keluarga inti yang masih bertahan di sana. Mereka memberikan doa terakhir untuk Kesya. Wanita hebat dan luar biasa, yang selalu memberikan dan menebarkan kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya.


"Beristirahatlah dengan tenang, Sayang! Kamu jangan khawatir. Papa pasti akan menemukan dan menghukum pelaku yang telah membunuhmu!" ucap Andika dengan lirih sambil berderai air mata.


Air matanya tidak mau berhenti. Sejak tadi matanya sudah sembab karena terlalu banyak menangis sejak semalam.


" Apakah Mamah dibunuh oleh seseorang, Pah?" tiba-tiba saja Cakra bertanya hal itu kepada Andika. Sehingga membuat Andika merasa terkejut karena dia lupa, bahwa hal itu masih menjadi rahasia.


"Tenanglah, Cakra! Nanti papa akan menjelaskan semuanya padamu. Tapi saat ini, tolong kau diam dulu! Karena kita tidak bisa untuk mengekspos hasil ini secara sembarangan. Kalau tidak rencana papa akan gagal!" ucap Andika dengan pelan karena dia khawatir kalau suaranya akan didengarkan oleh orang yang dia curigai.

__ADS_1


Memang di dalam hati Andika ada sebuah nama yang sedang dia curigai. Tetapi dia belum berani untuk mengungkapkan itu ke publik. Masih dia simpan secara rapat di dalam hatinya.


Siapa kira-kira ya? Tunggu episode berikutnya ya? Jangan lupa for like, komentar, vote, favorite dan gift semampu kalian ya..


__ADS_2