
Sulis lalu mengetuk pintu ruangan Adrian.
"Masuk!" ucap Adrian.
ceklek
Suara pintu terbuka, Sulis lalu menyerahkan kopi yang dia beli untuk Adrian.
"Saya gak pesan kopi, loh!" ucap Adrian.
"Saya yang traktir, Pak! Anggap saja rasa syukur saya karena saya diterima kerja di perusahaan ini!" ucap Sulis sambil tersenyum.
"Oh, terima kasih! Lain kali gak usah repot-repot ya. Kan tadi kamu bilang, kamu kerja buat bantu mamah kamu yang ditinggalkan papahmu yang ga ada akhlak itu kan? jangan boros! Kasihan adik-adik kamu, nanti gak bisa sekolah!" ledek Adrian dengan senyum tengilnya.
'Fix, nih orang tahu sandiwara diriku!' bathin Sulis.
"Gak apa-apa, Pak! Mentraktir segelas kopi untuk bapak tidak akan membuat saya jatuh miskin. Bapak tenang saja!" ucap Sulis.
Adrian mengangguk dan menyuruh Sulis untuk kembali ke meja nya.
"Terima kasih, kembalilah ke meja kamu, kerja yang rajin ya. Biar kamu bisa bantu Mamah kamu menyekolahkan adik-adik kamu!" sindir Adrian lagi, masih dengan senyum tengilnya.
Sulis tersenyum kecut dengan ledakan dari Adrian. Sulis lalu kembali ke mejanya. Di sana Cakra sudah menyambut dirinya.
"Enak banget loh, kopinya. Kamu beli di mana?" tanya Cakra sambil mendekati Sulis.
"Hus, gak usah dekat-dekat! Jauh-jauh sana!" usir Sulis dengan kejamnya. Cakra otomatisasi merasa sedih dengan keketusan Sulis padanya.
"Kamu kenapa, sih? ketus amat! Aku hanya ingin kita bergaul dengan baik di sini. Agar kerjaan kita jadi nyaman kedepannya." Cakra lalu duduk di kursinya sambil misuh misuh.
"Bodo amat! Pokoknya, loe jauh-jauh dari gue!" Sulis memberikan ultimatum kepada Cakra.
__ADS_1
Cakra auto lemes ketika Sulis menunjukkan dua jarinya yang dia tunjukkan ke matanya dan mata Sulis. Yang berarti Face to face.
"Jangan terlalu jahat sama aku, nanti kalau kamu jatuh cinta kepadaku, kamu pasti menyesal!" Cakra memberikan ultimatum kepada Sulis, Sulis auto bergidik mendengarnya.
"Ogah gue naksir sama anak mami kaya loe!" Sulis lalu melihat mejanya. Mulai dengan pekerjaan pertamanya. Begitu banyak file yang menjadi tugas Sulis, di hari pertamanya.
Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan pukul 19.00, waktu jam kerja sudah selesai. Waktunya pulang! Sulis bersemangat sekali. Sulis membereskan semua file di atas mejanya, lalu mengambil tas dan ponselnya.
"Lets going on!" ucap Sulis dengan bahagia. Di parkiran, Sulis melihat ayahnya keluar juga dari perusahaan. Saat Sulis akan mendekati ayahnya, Sulis melihat ayahnya tampak bicara dengan seorang wanita yang asing di matanya.
"Mas, aku hanya ingin bertemu dengan Sulis, tolong kasih aku waktu sebentar saja. Aku mohon! Aku rindu dengan Sulis, anakku!" ucap wanita itu yang tak lain adalah Laura. Ibu kandung Sulis.
Deg
Tiba-tiba hati Sulis mencelos, mendengar pengakuan wanita tersebut. Wanita cantik berdandan seksi. Sulis sudah lupa dengan wajah mamahnya, karena dulu dia masih kecil saat sang mamah lebih memilih pergi bersama selingkuhannya dari pada ayahnya dan dirinya.
Auto air mata Sulis berderai tanpa di undang. Sulis sangat tahu penderitaan ayahnya saat ditinggal pergi oleh mamahnya.
"Ayah, ayo kita pulang ke rumah kita, gak usah ladenin perempuan itu! Gak penting!" sarkas Sulis dengan nada kebencian yang kental sekali.
"Sulis, ini mamah, sayang! Mamah sangat rindu sama kamu!" Laura mendekati Sulis dan berusaha memeluk tetapi Sulis menghindari mamahnya, dan langsung masuk ke mobil sang ayah.
Drama keluarga Iswara di saksikan oleh Adrian dan Cakra Abimana dari dalam mobilnya.
"Kenapa anak baru itu bisa masuk ke mobilnya Pak Bayu, ya?" tanya Cakra penasaran.
"Karena dia anaknya Om Bayu!" jawab Adrian.
Cakra terkejut dengan kenyataan tersebut.
"Kamu yakin, Kak?" tanyanya memastikan.
__ADS_1
"Yakin, lah! Wajah mereka berdua saja mirip banget! Kamu baca saja di sosmed, banyak kok foto mereka beredar di sosmed." Adrian sudah bersiap akan meluncur. Merasa tidak perlu lagi untuk melihat drama keluarga tersebut.
Adrian sudah mendengarkan sejarah keluarga Iswara Group yang bukan rahasia umum lagi. Bayu di tinggalkan oleh istrinya yang berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri. Jadi Adrian sangat mengerti kenapa Sulis dan Bayu begitu dingin dengan kehadiran mamahnya Sulis malam itu.
"Mas, tolong buka pintunya, Mas! Aku hanya ingin bicara dengan Sulis!" rengek Laura dengan mata yang berkaca-kaca. Sulis sebenarnya lumayan miris melihat mamahnya begitu berniat bertemu dirinya sekarang.
"Yah, tolong ijinkan Sulis bicara sama Mamah sebentar, siapa tahu ada yang ingin dia sampaikan!" Sulis melirik sang ayah yang kini matanya mulai berkaca-kaca.
"Papah tidak rela melihat kamu bersama dengan mamah kamu! Dia sudah membuang kita, selama ini hidup kita sudah cukup bahagia tanpa dia! Kenapa dia seenaknya datang lagi dalam hidup kita?" Ayah Sulis meraup wajahnya, lalu menangis.
"Ayah, Sulis tahu perasaan ayah. Jangan khawatir, Sulis hanya bicara saja. Lalu kembali ke sisi ayah!" Tanpa menanti jawaban ayahnya, Sulis lalu membuka pintu mobil dan menemui mamahnya.
"Mamah mau bicara apa? Cepat katakan! Waktu kita tidak banyak! Ayah sedang menungguku!" ucap Sulis dengan jutek dan dingin.
Mamahnya Sulis memeluk anaknya. Rasa rindu tidak bertemu dengan Sulis selama bertahun-tahun dia curahkan semua.
"Mamah sangat merindukan kamu, Sulis!" ucap Laura lalu memeluk dan mencium putrinya.
"Stop! Cepat katakan apa yang mau kamu katakan kepadaku! Gak usah banyak gaya! Aku gak butuh!" sarkas Sulis kini melotot matanya.
"Maafkan mamah Sulis, mamah khilaf dulu!" ucapan mamahnya langsung di potong Sulis dengan keras.
"Khilaf, tapi zinah dan tidur sekamar setiap hari!" sarkas Sulis dan menatap jijik melihat mamahnya.
Sulislah yang dahulu menjadi saksi kebinalan Mamahnya saat Papahnya pergi ke luar kota dan sibuk bekerja. Papahnya di kantor memang memiliki dua sekertaris, satu untuk urusan kantor, satu untuk mengurus urusan rumah tangganya.
Sekretaris yang di bayar ayahnya untuk menjaga Sulis dan Mamahnya, yang di percayakan memenuhi kebutuhan anak istrinya. Benar-benar di kerjakan dengan sempurna. Sampai kebutuhan ranjang juga dia penuhi. Benar-benar sekretaris yang luar biasa bukan?
Sulis sungguh muak mengingat masa terkelam dalam hidupnya. Dahulu saat dia masih kecil, hal tersebut tidak terlalu dia pahami. Tapi kini dia sudah dewasa, sudah paham perbuatan jahat mamahnya yang berselingkuh dengan sekretaris ayahnya sendiri.
Sulis langsung pergi dari hadapan mamahnya dan masuk ke mobil."Ayah, ayo kita pulang! Anggap saja dia mahluk tak kasat mata!" ucap Sulis yang di angguki oleh sang ayah.
__ADS_1
Mobil Bayu meninggalkan area parkir Perusahaan miliknya. Untung tadi Bayu pulang paling terakhir. Jadi tidak ada karyawan lain yang menyaksikan keributan tadi. Bayu sangat kalut, jadi tadi tidak terlalu memperhatikan saat mobil Adrian melintas di depannya.