
"Apa kau yakin kalau mereka baik-baik saja?" tanya Bayu kepada Andika yang masih asyik dengan makanan yang ada di hadapannya.
Sejak Kesya meninggal, Andika lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Bayu. Mereka seperti mengenang kembali masa-masa ketika mereka dulu masih remaja. Masa-masa di mana mereka begitu dekat sebagai sahabat yang selalu berdiskusi tentang apapun bersama.
"Aku yakin kalau mereka itu baik-baik saja. Mereka mungkin hanya menemui kejenuhan saja dalam hubungan mereka. Kadi putrimu meminta untuk perpisahan ini. Untuk dapat saling menyelami perasaan mereka masing-masing!" ucap Andika serius.
"Aku berharap analisismu benar karena aku tidak mau kalau hubungan mereka berakhir begitu saja!" ucap Bayu pelan.
Kemudian Bayu mulai fokus dengan makanannya yang sejak tadi tidak disentuh sama sekali karena terlalu sibuk memikirkan tentang Cakra dan Sulis. Makanan Bayu bahkan sampai terasa dingin karena terlalu lama dia diamkan.
"Kenapa makananmu sudah tidak enak lagi? Dari tadi juga Aku kan sudah bilang makan saja makananmu!" ucap Andika sambil melirik kepada Bayu yang tampaknya tidak senang dengan makanannya yang sudah menjadi dingin dan hambar.
"Kau pesan lagi saja makanan baru, kalau tidak menyukainya jangan dipaksakan nanti kau malah jadi sakit!" ucap Andika.
"Nggak apa-apa kok, Ini kan cuma makanan dingin. Aku bisa menahannya, kalau hati yang sudah dingin baru itu sangat menyakitkan!" Kenapa Bayu mengatakan kata-kata semacam itu membuat Andika mengurutkan keningnya.
"Apakah kau pikir, bahwa Cakra hatinya sudah mendingin kepada Sulis? Oleh sebab itu Sulis mengajukan perpisahan semacam ini?" tanya Andika menyelidiki maksud dari perkataan Bayu barusan.
"Selama beberapa waktu ini, kan memang saya perhatikan bahwa Cakra terlalu sibuk dengan pekerjaan dan dia hampir tidak pernah punya waktu untuk Sulis. Mungkin Sulis merasa tidak suka tentang hal itu!" ucap Bayu memberikan analisisnya tentang hubungan putrinya dengan Cakra.
"Cakra baru saja mengalami musibah yang sangat berat. Kau tahu bukan? Bahwa Cakra itu sangat dekat sekali dengan ibunya. Jadi wajar kalau Cakra melarikan kesedihannya melalui pekerjaan. Seharusnya putrimu bisa mengerti dan seharusnya dia yang datang kepada Cakra dan memberikan semangat kepadanya bukannya meninggalkan Putraku!" ucap Andika lalu mendorong makanan yang ada di habadapannya, karena seketika dia merasa tidak selera lagi.
Bayu menatap tajam kepada Andika yang saat ini menatapnya. Kemudian dia menarik nafasnya kembali dengan dalam-dalam.
"Mungkin putriku memang masih butuh waktu untuk menyelami perasaannya terhadap putramu!" ucap Bayu.
__ADS_1
"Seharusnya Sulis merasa bersyukur dalam kesedihannya Cakra melarikan diri ke dalam pekerjaan bukan melarikan diri ke hal-hal yang negatif!" ucap Andika pelan.
"Aku mengerti!" ucap Bayu pelan kemudian dia meninggalkan Andika sendirian di restoran. Sehingga membuat Andika merasa heran dengan tingkah sahabatnya yang aneh.
"Ada apa dengan dia apakah sudah mulai masuk menopause? Perasaan, perasaan dia sangat Sensitif sekali! Percis seperti seorang perempuan yang masuk masa menopause!" ucap Andika.
Akhirnya Andika juga memilih meninggalkan restoran juga setelah ditinggalkan oleh Bayu tanpa sepatah kata pun kata pamit darinya.
Pada saat Andika sudah bersiap untuk pergi dari restoran. Tiba-tiba saja seorang perempuan menabraknya.
"Maafkan saya Tuan saya tidak sengaja menabrak anda!" ucap perempuan itu yang bekerja sebagai waiters di restoran.
"Maria? Bagaimana kau bisa ada di Indonesia bukankah kau seharusnya masih berada di penjara?" Andika sangat terkejut ketika mendapatkan seorang wanita yang pernah memberikan hari terburuk dalam hidupnya. Karena telah berani menganiaya putranya yang tercinta.
"Minggir! Jangan menghalangi jalan saya! Karena saya tidak suka melihat wajahmu!" ucap Andika kemudian dia mendorong tubuh Maria agar menjauh dari hadapannya.
Maria membuat sebuah drama dia pura-pura terjatuh dan meringis kesakitan sehingga membuat Andika seketika menoleh sesaat.
"Kau seharusnya mati di dalam penjara!" ucap Andika kesal. Kemudian dia pun pergi meninggalkan Maria yang seperti marah dengan apa yang dikatakan oleh Andika tadi.
"Jangan panggil aku Maria kalau aku tidak bisa menaklukanmu! Aku sudah berhasil menyingkirkan istrimu maka aku juga pasti akan berhasil mendapatkanmu! Hahahaha!" ucap Maria dengan senyumnya yang menakutkan. Senyum Maria persis seperti seorang psikopat yang berhasil membunuh orang lain dengan kekejamannya.
Tunggu!!
Maria tadi mengatakan "bahwa dia telah berhasil menyingkirkan istrimu, maka aku juga pasti akan berhasil mendapatkanmu?" Ya Tuhan! Apa maksud dari perkataan Maria ini? Mari kita cari tahu ya reader.
__ADS_1
Dengan perasaan kesal, Maria kemudian meninggalkan restoran itu. Dia segera pergi ke apartemen yang sudah disewakan oleh Elena. Wanita yang selama dia bebas dari penjara selalu memberikan segala kemewahan dan juga fasilitas kepadanya.
Tampak Maria menghubungi seseorang melalui teleponnya. " Nyonya Elena tadi aku sudah bertemu dengan Tuan Andika. Apa yang harus aku lakukan padanya?" tanya Maria dengan sorot mata yang sangat tajam seakan menyemburkan perasaan dendam di dalam hatinya.
"Kau hanya tinggal mendekati Andika saja dan dapatkan dia untuk menjadi suamimu maka misi kita akan berhasil!" ucap Elena yang ada di seberang sana.
"Akan sangat sulit untuk saya bisa mendekati dia. Apalagi Tuan Andika itu, tampaknya sangat membenci saya gara-gara Saya telah menganiaya putranya. Itu gara-gara anda Nyonya! Anda yang menyuruh saya untuk menganiaya Cakra. Kalau tidak, mungkin akan sangat mudah untuk saya menaklukkan dia!" ucap Maria seperti menyesali kejadian yang sudah berlalu puluhan tahun lamanya.
"Sudahlah jangan kau sesali yang sudah berlalu. Sekarang kau fokus saja untuk mendapatkan Andika dan aku akan memberikan apa yang kujanjikan padamu!" ucap Elena dengan tertawa terbahak-bahak di seberang sana.
"Saya merasa heran kepada Anda Nyonya! Anda kenapa tidak menghadapi mereka secara langsung? Malah menggunakan saya untuk menyakiti mereka! Anda benar-benar membuat saya sangat penasaran!" tanya Maria kepada Elena yang sekarang sudah diam dari tertawanya.
"Itu karena perjanjian yang sudah kutanda tangani bersama ibunya Andika yang mengatakan bahwa aku tidak boleh mendekati Andika lagi. Kalau tidak maka aku akan dijebloskan ke dalam penjara untuk selamanya!" ucap Elena dengan perasaan penuh kebencian dan geram bukan main.
"Jadi, karena perjanjian itu, makanya anda selalu berada di balik layar untuk membuat mereka menemui kesialan dalam hidup mereka?" tanya Maria keheranan.
"Bahkan Anda sudah meminta kepada Nyonya Manda untuk mengakui kalau dialah yang sudah membunuh Nyonya Kesya. Padahal anda adalah dalang dari semua itu! Anda benar-benar seorang psikopat handal Nyonya! Saya angkat topi untuk anda!" ucap Maria sambil tersenyum puas karena sakit hatinya telah dibalaskan oleh Elena.
"Bukan hanya kamu yang membenci Kesya! Aku juga membenci dia. Dialah yang sudah membuat Andika jadi menjauhiku dan menolak untuk hidup bersamaku!" ucap Elena dengan penuh kebencian.
"Aku juga sangat membencinya. Karena dia yang sudah membuat Tuan Andika untuk memasukkan saya ke dalam penjara lebih dari 20 tahun! Wanita yang sok suci itu, dia memang benar-benar menyebalkan!" ucap Maria penuh amarah dan dendam.
Seandainya Maria waktu itu tahu, bahwa Kesya sudah berusaha sangat keras untuk membujuk Andika untuk mencabut tuntutannya, tetapi andika bersikeras untuk memberikan hukuman yang setimpal kepada Maria yang sudah menyakiti Cakra, putra mereka.
Memang yang namanya orang jahat itu hanya bisa menyalahkan orang lain. Tanpa pernah mau introspeksi dengan kesalahan yang dia buat. Mereka hanya terus mencari alasan untuk melanjutkan kejahatan mereka.
__ADS_1