Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
77. Debat


__ADS_3

"Bisa kita duduk sebentar? Karena tidak enak bicara sambil berdiri lama-lama seperti ini!" pinta Thomas kepada Rasya.


Rasya pun kemudian mengajak Thomas menuju ke kantornya. Rasya mempersilahkan Thomas untuk duduk di sofa yang sudah dipersiapkan untuk tamu.


"Cepat katakan apa yang kau butuhkan jangan bertele-tele!" perintah Rasya kepada Thomas.


"Apa kau sudah mengetahui perihal tentang perjodohanku dengan adikmu?" tanya Thomas kepada Rasya.


Rasya mengerutkan rekeningnya, karena dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Thomas.


"Apa maksudmu? Bukankah tadi pagi, kau bilang, kalau kau tidak tertarik dengan itu? Makanya aku sedang berusaha untuk mencari kandidat lain!" ucap Rasya kepada Thomas.


Thomas terdiam sejenak, kemudian dia pun menghela nafasnya dengan berat. Sekarang nampaknya dia mengerti, kejadian apa yang sedang terjadi saat ini.


"Aku bisa paham sekarang. Jadi, tampaknya kedua orang tuamu berusaha untuk menjodohkanku dengan adikmu, tanpa berdiskusi denganmu. Dan kamu pun, berniat untuk menjodohkanku tanpa berdiskusi dulu dengan kedua orang tuamu. Apakah itu benar?" tanya Thomas sambil menatap tajam ke arah Rasya.


"Orang tuaku berniat untuk menjodohkan mu dengan adikku? Apa yang sedang kau bicarakan ini?" tanya Rasya masih tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Thomas saat ini.


Rasya tampak terdiam sejenak, berfikir dan mencerna informasi yang baru saja dia terima dari Thomas.


"Sebentar! Sku akan bertanya dulu kepada Ayahku mengenai apa yang kau katakan tadi!" akhirnya Thomas pun hanya bisa diam saja melihat Rasya yang mulai sibuk menelpon ayahnya di hadapannya.


Mode Telpon on


"Halo, assalamualaikum, papa! Rasya mau bertanya sama Papa." Rasya dengan suara yang terdengar sangat pelan.


"Bertanya tantang apa Rasya! Cepat kau katakan kepada Papa, karena Papa saat ini sedang sibuk!" ucap ayahnya Rasya.


"Apakah benar, kalau Papa sedang berusaha mempersiapkan perjodohan antara Yuke dengan Thomas Hutama?" tanya Rasya dengan suara serak, suaranya agak tersekat di tenggorokannya.

__ADS_1


Thomas mengurutkan keningnya, ketika melihat Rasya seperti yang sedang tertekan saat membicarakan pelihara perjodohannya bersama Yuke bersama ayahnya.


"Memang tadi malam, Papa sudah menghubungi keluarga Hutama. Untuk mempersiapkan rencana perjodohan mereka berdua. Sesuai rencana yang sudah di buat, rencananya, nanti malam sudah kami jadwalkan untuk pertemuan itu. Memangnya kenapa Rasya? Apakah ada masalah?" tanya ayahnya Rasya merasa penasaran.


Rasya terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya kemudian dia menatap Thomas dengan lekat. Thomas merasa bingung melihat Rasya seperti itu.


"Acara pertemuan mereka, di mana Pah? Rasya ingin hadir juga!" tanya Rasya kepada ayahnya.


"Di Hotel Horison kamar 305 Kalau kau ingin datang datanglah kami akan menunggumu!" ayahnya Rasya Kemudian untuk panggilan tersebut karena dia masih harus mengurus pekerjaan yang lain.


Rasya langsung lemas seketika kemudian dia pun duduk di sofa sementara itu Thomas tampak aneh melihat Rasya semacam itu.


" Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Thomas kepada Rasya.


Rasya seperti orang linglung saat ini. Dia terus menatap Thomas tanpa mengatakan apapun. Hanya sinar matanya yang begitu misterius tertangkap oleh Thomas, sehingga Thomas merasa tidak nyaman karenanya.


" Katakanlah! Ada apa? Kau benar-benar membuatku takut!" Thomas menyadarkan rahasia yang masih dalam keadaan tidak jelas.


"Silakan kau kembali lagi ke mejamu. Karena aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kita bertemu nanti malam saja!" ucap Rasya dengan suara gemetar sehingga membuat Thomas jadi sangat-sangat curiga dengan reaksi Rasya itu.


"Jangan Katakan padaku, kalau kau jatuh cinta dengan adikmu?" ucap Thomas ambil menatap Rasya dengan intens.


"Apa maksud perkataanmu itu? Jangan mengada-ada!" ucap Rasya sengit.


Reaksi Rasya yang berlebihan seperti itu, semakin membuat Thomas merasa sangat curiga kepada Rival masa kecilnya itu.


"Ya sudah aku pergi ke mejaku lagi. Aku harap dugaanku itu salah, kalau kamu memang tidak mencintai adikmu!" Thomas pun kemudian meninggalkan Rasya seorang diri di ruangannya.


Rasya terdiam. Dia merasa heran dan juga bingung dengan pertanyaan Thomas tadi.

__ADS_1


"Apakah benar? Kalau aku telah jatuh cinta terhadap adikku sendiri?" ucap Rasya dengan suara yang bergetar.


Rasya terus menatap keluar jendela ruangan nya, yang transparan. Di sana terlihat Thomas sedang makan siang bersama dengan ibundanya. Rasya terus menatap Thomas tanpa berkedip sama sekali.


" Apakah Thomas sanggup membuat Yuke jatuh cinta padanya? Dan apakah aku juga sanggup melihat mereka berdua menikah?" berbagai pertanyaan banyak masuk ke dalam pikiran Rasya saat ini.


"Aku yang telah mencetuskan ide pernikahan ini. Tetapi rasanya, kenapa hatiku yang merasa tidak rela? Ya Tuhan! Apa yang harus kau lakukan saat ini?" tiba-tiba Rasya merasakan ada air mata yang mengalir di pipinya Rasya langsung menepis air mata tersebut dan berusaha tegar untuk dirinya sendiri. Rasya tidak ingin menangis karena masalah pernikahan adiknya dengan Thomas.


Thomas dan ibunya kemudian meninggalkan Cafe, karena dia tidak bisa menemui Yuke saat ini. Karena memang bukan shift kerjanya Yuke siang ini.


"Bagaimana pembicaraanmu dengan Rasya tadi?" tanya ibunya Thomas ketika mereka sudah berada di mobil.


Thomas terdiam sejenak kembali memikirkan apa yang tadi dia saksikan ketika melihat reaksi Rasya yang dinilai terlalu berlebihan untuknya. Reaksi Rasya begitu aneh baginya.


"Thomas jawab pertanyaan ibumu!" ucap ibunya Thomas dengan jengkel sambil menepuk bahu putranya yang tampaknya malah melamun saat ini.


"Kami tidak banyak berbicara. Mama kan tahu kalau sejak dulu aku tidak memiliki hubungan yang baik dengan Rasya!" ucap Thomas kepada ibunya sambil tersenyum.


"Mama itu kadang heran dengan Rasya, dia punya wajah setampan itu, tetapi dia memiliki hati yang begitu dingin. Bahkan melebihi dinginnya kutub utara. Entah wanita mana yang sanggup menjadi istrinya!" ucap ibunya Thomas sambil menatap kepada putranya.


Thomas hanya tersenyum mendengarkan ucapan ibunya. Karena saat ini Thomas pun sedang penasaran tentang Rasya.


"Mama langsung saya antar ke rumah ya? Atau mau pergi ke mana lagi setelah ini?" tanya Thomas kepada ibunya.


"Mama mau pergi ke salon untuk acara nanti malam. Jangan sampai nanti malam, Mama membuatmu malu, kalau tidak tampil maksimal!" ucap ibunya Thomas sambil terkekeh menatap putranya yang kini malah geleng-geleng kepadanya.


"Kenapa kau seperti itu, Thomas? Memang, ada yang salah dengan ucapan Mamamu?" tanya ibunya tampak tidak senang melihat putranya melakukan hal seperti itu padanya.


"Tidak apa-apa Mah! Ya udah saya akan antarkan mama ke salon. Tapi nanti mama jangan terlalu lama di sana ya? Kasihan kalau sopir Mama harus menunggu lama!" ucap Thomas mencoba untuk menasehati ibunya.

__ADS_1


"Nanti menghubungi sopir Mama, setelah perawatan selesai. Jadi dia tidak perlu menunggu Mama!" ucap ibunya Thomas kepada Sang putra. Thomas pun hanya tersenyum saja.


__ADS_2