Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
64. Adrian oh Adrian


__ADS_3

Pagi itu jam 05.00 pagi telepon milik Syifa sudah berdering. Dengan malas-malasan Syifa mengangkat ponsel tersebut dan ternyata itu ada Adrian.


"Apa kau masih tidur?" tanyanya setelah mengucap salam.


"Tadi malam Kau tidak membiarkanku tidur, ngobrol sampai tengah malam. Jadilah sekarang aku masih mengantuk!" ucap Syifa sambil menguap. Syifa tidak sadar kalau panggilan itu adalah panggilan video call. Sehingga Adrian bisa melihat apapun yang dia lakukan di kamar tersebut.


Syifa mengangkat telepon sambil merem matanya. Dan meletakan telponnya di atas nakas yang ada di samping ranjangnya.


Shifa yang saat ini tidak menggunakan hijabnya dan hanya menggunakan pakaian tidur saja. Sontak membuat Adrian matanya mulai jalan-jalan. Terpesona dengan kecantikan calon istrinya, yang walaupun baru bangun tidur tetapi tetap cantik mempesona.


"Cepatlah bangun dan salat subuh. Setelah itu kamu olahraga supaya tubuhmu sehat." ucap Adrian. Syifa yang masih ngantuk, hanya memejamkan matanya sambil memeluk gulingnya.


"Kalau kita sudah menikah, aku pasti yang akan dipeluk kamu, kan? Kalau kita tidur bersama. Bukannya guling itu!" ucap Adrian.


"Dari mana kau tahu? Kalau aku sedang memeluk mengguling?" tanya Syifa keheranan. Kini dia duduk di dashboard ranjangnya. Adrian tersenyum melihat Syifa yang kembali menguap.


"Kau tutuplah mulutmu kalau menguap. Bagaimana kalau ada lalat masuk, huh?" ucap Adrian sambil terkekeh.


Syifa sontak terkejut, karena Adrian bisa mengetahui semua yang dilakukan dan refleks. Dia pun akhirnya melirik ke ponselnya yang ternyata adalah mode video call.


"Aaaaaaaaaaa..!" Sontak Syifa akhirnya berteriak lalu menutup panggilan dari Adrian.


Sementara Adrian di kamarnya kini tertawa terbahak-bahak. Merasa lucu dengan reaksi Syifa tadi. Yang kaget sekaligus malu.


"Ada apa Adrian, pagi-pagi kamu sudah terasa begitu?" tegur Andika.


"Tidak apa-apa, Pah! Hanya tadi melihat di televisi ada yang lucu saja!" dusta Adrian sambil tersenyum melihat ayahnya.


Kebiasaan Andika memang kalau pagi-pagi setelah salat subuh itu dia langsung ngegym untuk menjaga vitalitas tubuhnya.


"Adrian, kau cek lagi satu kali lagi. Tanya ke wo-nya. Apakah semuanya sudah siap?" tanya Andika lagi, hingga akhirnya kembali ke ruangan gym.

__ADS_1


"Siap, Pah!" Adrian pun kemudian turun dari kasurnya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia melaksanakan sholat shubuh.


"Pagi Mamaku, sayang! Apa kabarnya?" ucap Adrian sambil mencium pipi ibunya. Tapi kemudian ayahnya datang dan marah-marah.


"Jangan kau cium istriku!" ucap Andika sambil melotot ke arah putranya.


"Yaelah sama anaknya sendiri kayak gitu. Pelit banget!" protes Adrian kepada ayahnya.


"Bodo!" ucap Andika sambil memeluk Kesya dari belakang.


"Memangnya Kak Ardian baru tahu? Tentang kelakuan Papa kita seperti itu? Papa kan memang sudah bucin tingkat akut sama Mama kita! Cakra saja dimarahin terus kalau cium-cium mama!" ucap Cakra sambil duduk di kursi dan bersiap untuk sarapan.


"Eh kau tidak pulang ke apartemenmu, Cakra? Kenapa kau jadi hobby sekali nginep di sini?" protes Adrian tidak suka.


"Yaelah kakakku sayang! Apartemenku dari sini tuh jauh, tadi malam setelah nganterin Sulis, Aku udah capek banget. Jadi ya udah, aku pulang ke sini aja. Lagian di sini kan ada mama sama papa!" ucap Cakra tanpa dosa.


" Selalu saja kau punya banyak alasan!" sengit Adrian sambil melemparkan kacang fi tangannya.


"Adrian sudah cepet makannya! Nanti mau menjemput kakek sama nenek serta Amanda. Om Alvian dan Tante merry juga dalam perjalanan ke jakarta!" ucap Kesya.


"Cantik juga tidak akan naksir kamu Kak!" sengit Cakra, masih kesal karena tadi di lempari kacang sama Adrian.


"Iyalah orang dia kakaknya kita. Kamu itu bicara sembarangan sekali!" ucap Adrian.


"Kakak kamu itu sudah menjadi seorang wanita yang hebat. Dia sudah bisa memimpin perusahaan dan membantu papa di Dubai. Sementara kalian berdua masih saja senang bermain-main!" ucap Andika.


"Kan Papa yang nyuruh kita belajar dulu di perusahaannya Om Bayu!" ucap Adrian sambil cemberut.


"Setelah kamu menikah, Papa akan memberikan satu anak cabang perusahaan kita. Untuk kamu kelola kalau kamu berhasil, kamu akan diangkat menjadi CEO grup untuk menggantikan posisi papa!" ucap Andika.


"Kenapa bukan Kak Manda aja sih, Pah? Kan Kak Manda dia lebih baik dan lebih punya pengalaman daripada Adrian!" ucap Adrian keberatan dengan keputusan ayahnya.

__ADS_1


"Amanda itu perempuan. Kalau dia sudah menikah maka dia akan fokus mengurus keluarganya. Kalau dia diberikan tanggung jawab untuk memimpin grup, bisa-bisa dia tidak akan mau menikah dan melupakan kodratnya sebagai perempuan!" ucap Andika dan mulai sarapan bersama.


"Tapi pasti Amanda kecewa kalau ternyata pimpinan grup diberikannya kepada Adrian. Sementara ini kan, Dia selalu menghabiskan seluruh energinya untuk perkembangan grup!" ucap Kesya agak khawatir.


"Tanpa Amanda di grup pun, grup sudah besar dan berkembang. Dia hanyalah membantuku bekerja. Tidak usah berlebihan menanggapinya!" ucap Andika dengan suara tegas dan lugas.


"Lalu, Bagaimana denganku Pah?" tanya Cakra penasaran.


"Kerjaanmu cuma main-main dan pacaran. Kau tidak serius bekerja. Bagaimana Papa bisa mempercayakan perusahaan padamu Cakra?" sengit Andika melirik ke arah Cakra.


"Namanya anak muda, Pah! Kita harus bersenang-senang, kan? Emangnya Papa dulu nggak kayak gitu?" tanya Cakra dengan senyum secerah mentari.


"Tanya mamamu. Apakah papa Waktu dulu masa muda seperti kamu? Papa bekerja keras untuk mendapatkan posisi saat ini. Bukan asal mendapatkannya dari kakekmu!" ucap Andika dengan suara tegasnya.


"Sudah pada makan! Nggak usah ngomongin pekerjaan. Nanti sulit dicerna makanannya. Udah cepat makannya selesaikan. Sebentar lagi nenekmu sudah sampai pesawat nya!" ucap Kesya.


"Biarkan Cakra saja yang menjemput, Mah! Adrian harus dipingit sebagai calon pengantin tidak boleh keluar rumah. Hal itu untuk menjaga hal-hal yang tidak inginkan!" perintah Andika dengan tegas.


Setelah mereka selesai bersarapan. Cakra akhirnya menjemput nenek dan kakeknya di bandara. Mereka datang ke Indonesia dalam rangka menghadiri pernikahan Adrian.


Sementara itu di bandara, Amanda, Kakek dan Neneknya sudah menunggu kedatangan Cakra yang akan menjemput mereka bertiga.


"Nek, Amanda ke toilet dulu ya!" dengan buru-buru Amanda pun langsung meninggalkan neneknya dan pergi ke toilet.


Ketika Amanda kembali dari toilet, tiba-tiba saja Amanda menabrak seseorang yang keluar dari toilet pria dengan buru-buru juga.


"Ya Tuhan! Apakah kau tidak punya mata, huh?" tanya Amanda kesal, dompet kecil yang dia pegang, isinya berhamburan.


"Maaf Nona, saya tidak sengaja. Tadi saya buru-buru sekali keluar dari sana. Apakah ada yang terluka?" tanya pria tampan tersebut.


"Lain kali kalau jalan tuh hati-hati, Om!" ucap Amanda dengan kesal.

__ADS_1


"Tunggu sebentar aku kau panggil apa? Om katamu? Apakah aku setua itu?" tanya pria itu yang tidak lain adalah Bayu Iswara. Ayahnya Sulis, calon mertuanya Cakra.


"Anda memang Om, Om kan? Masa iya saya harus memanggil anda kakek?" sengit Amanda kesal lalu meninggalkan Bayu yang kini malahan jadi kesal di buatnya.


__ADS_2