
Amira dan Fathu sedang duduk santai di teras rumahnya. Beberapa santri tengah asyik berolahraga, kalau sore memang para santri dibolehkan untuk melakukan hal bebas, sampai Maghrib tiba. Saat mereka asyik mengobrol, tiba-tiba datang beberapa mobil pick up, membawa sangat banyak perabotan rumah tangga.
"Maaf, apakah benar, di sini adalah rumah Fathu Al Ghazali?" tanya sopir mobil tersebut.
"Ya, benar. Ada apa?" tanya Fathu lalu berdiri menyambut tamu yang mereka tidak tahu siapa.
"Kami dari toko xxxxx, Tuan Adrian Abimana meminta kami untuk mengirim semua ini kepada Anda, katanya sebagai hadiah pernikahan Anda!" ucap sopir tersebut.
Aby dan Umy juga sudah ikut keluar. Melihat ribut-ribut di luar. "Ada apa, Fathu?" tanya Aby terheran-heran melihat ada tiga mobil yang datang dengan barang-barang mewah.
"Tuan Adrian tadinya mau langsung ke sini, tapi mendadak dia di panggil sama bosnya, katanya ada meeting, nanti kalau sudah selesai dari sana, dia akan kesini!" ucap sopir itu lagi. Fathu manggut-manggut mendengarkan penjelasan sopir. Amira mendekati Suaminya.
"Adrian itu siapa, sayang? Apa dia gak salah? Kenapa kirim hadiah pernikahan seperti ini? Dia bukan sedang mau pindahan ke sini, bukan?" tanya Amira heran juga.
"Ini bukan barang murah, loh!" Umy ikut berkomentar.
"Memang bukan barang murah, Pak! Dia belanja di toko kami, ini semua nilainya 250juta. Tuan Adrian bilang barang-barang ini untuk mengisi rumah baru kalian. Dia juga akan mempersiapkan sebuah rumah untuk kalian. Nanti akan dia bicarakan sendiri, kalau sudah di sini. Ini bagaimana, di mana mau diletakkan barang-barang ini?" tanya sopir yang merangkap sebagai penjaga toko.
"Gimana Aby?" tanya Fathu bingung.
"Itu Adrian yang pernah kamu ceritakan dulu, bukan sih?" tanya Abynya Fathu, kini beliau duduk di kursi.
"Umy, minta santri untuk menyuguhkan minuman dan beberapa camilan untuk mereka." perintah Aby.
__ADS_1
"Ya, Aby!" Umy lalu masuk ke dalam rumah.
"Taruh saja dulu di gudang, nanti kalau Adrian sudah kesini. Baru kita diskusi, bagaimana nasib barang-barang ini!" putus Pak Kiai Jamaluddin.
"Aduh, Pak! Ini barang mahal loh, masa di taruh di gudang?" protes penjaga toko, tidak terima barang dari tokonya di perlakukan tidak hormat.
"Hanya sementara, Pak! Karena kami masih ragu akan menerima barang-barang itu atau tidak!" jawab Fathu.
"Terima saja atuh, Pak! Pamali menolak rejeki! Kalau Bapak menolak, nanti kami yang rugi, Pak! Barang sudah jauh-jauh kami bawa tapi malah dikembalikan lagi.
"Sudah Pak, taruh aja dulu di gudang! Urusan yang lain-lain itu menjadi urusan kami! Tugas Bapak selesai hanya sampai meletakkan barang itu di gudang!" perintah Pak Kiai tidak mau di bantah.
Akhirnya penjaga toko itu menurut juga karena malas dia berdebat dengan konsumennya. Urusan dirinya dengan Adrian bukan dengan mereka, bagaimanapun Adrian yang membayar barang-barang itu dan menugaskan mereka untuk membawanya ke sana.
"Adrian itu siapa sih Mas? Kok ngasih hadiah pernikahan seperti ini? Bikin serem aja!" ucap Amira. Sejak keguguran, Amira menghabiskan waktunya di rumah. Bedrest total demi memulihkan kesehatannya lagi.
"Adrian itu temannya Mas waktu dulu Mas mondok di Jawa Timur. Dia itu memang anaknya orang kaya raya, pantes kalau dia ngasih barang-barang ini. Aku sih nggak heran, dari dulu dia memang selalu Royal terhadap teman-temannya." Fathu lalu membimbing Amira untuk kembali ke kamar mereka. Waktu Maghrib sebentar lagi, jadi Amira tidak boleh berlama-lama berada di luar.
"Sayang bersiaplah untuk salat magrib! Mas mau mengawasi orang-orang yang membawa barang-barang dari Adrian itu!" Fathul lalu keluar dan Amira pergi ke kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya untuk melakukan shalat Maghrib.
Setelah setelah salat Isya Adrian datang ke rumah bersama Cakra dan Sulis. Sulis sampai berteriak heboh melihat barang-barang yang dibawa oleh Adrian yang katanya untuk hadiah pernikahan Fathu dan Amira.
"Emang ya, kelasnya Sultan tuh beda! Ngasih hadiah aja ratusan juta! Wah wah wah kamu beruntung banget punya teman seorang Adrian!" Sulis sangat takjub dengan pilihan Adrian yang bagus dan berkualitas tinggi.
__ADS_1
"Udah ah biasa aja lah! Nggak usah bersikap norak kayak gitu! Kamu ini bertingkah seperti orang miskin aja nggak pernah lihat barang mewah!" Cakra menegur Sulis yang bersikap konyol dan norak.
"Ih biarin aja sih, suka-suka gue! Lagian Apa sih lu, ikut campur aja urusan orang!" sungut Sulis sambil manyun.
" Terserah lu deh!" Cakra akhirnya menyerah.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam rumah setelah dipersilakan oleh Abi dan Uminya Fathu.
"Terima kasih loh, Nak Adrian atas hadiahnya, kami suka banget! Tapi rasanya kok kurang pantas ya kalau kami nerima itu. Terlalu mewah gitu loh, kami merasa sungkan untuk menerimanya!" ucap Aby.
"Gak apa-apa Aby. Besok saya ajak Fathu dan Amira untuk melihat rumah baru yang akan mereka tempati. Saya gak bisa memutuskan sendiri. Karena nanti mereka yang akan menempati. Jadi lebih bagus kalau mereka yang pilih sendiri!" Aby dan Umynya Fathu merasa terkejut ketika mendengarkan bahwa Adrian juga telah mempersiapkan sebuah rumah untuk anak dan menantu mereka.
"Adrian! Gak usah berlebihan jadi orang! Kami yang menerimanya yang tidak enak!" Fathu sudah pasang wajah horornya. Adrian hanya tersenyum simpul.
"Terima aja Mas, nggak apa-apa! Anggap aja Ini hadiah dari Abimana grup untuk Mas yang sudah bersedia menjadi teman, jadi sahabat bagi kakakku yang paling ganteng ini! Tau nggak sih, Mas? Mas itu satu-satunya orang yang mau menerima keangkuhan, egoisan, dan sifat dingin kakakku yang satu ini!" Cakra menistakan kakaknya sendiri di hadapan mereka.
"Dasar adik durhaka! Bisa-bisanya kau menjelekkan kakakmu di depan semua orang. Awas kau nanti kalau kau menikah aku nggak mau kasih hadiah buat kamu!" Ancam Adrian dengan pasang muka marah.
"Ampun Mas! Jangan Mas! Jangan lakukan itu! Nanti kalau aku menikah aku ingin Mas memberikan aku sebuah mention yang sangat mewah beserta semua isinya! Oh ya Mas, jangan lupa kakak juga harus memberikan aku sebuah mobil yang mewah!" ucap Cakra tidak tahu diri.
"Adik durhaka macam kau, Siapa juga yang mau ngasih hadiah buat kamu! Gak sudi!" Adrian sudah bersiap akan menggeplak kepala adiknya, tetapi Cakra malah bersembunyi di belakang punggung Sulis.
"Ih laki-laki pengecut! Sembunyi di belakang punggung perempuan!" ucap Adrian yang malah bikin semua yang hadir tertawa-tawa. Tingkah kedua Sultan dari Abimana Group tersebut sungguh kocak dan lucu.
__ADS_1