Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai

Terpaksa Menikah Dengan Anak Kiai
118. Keputusan


__ADS_3

"Kami memang selalu menyerang Abimana grup. Tetapi kami tidak pernah menyuruhmu untuk melakukan hal keji seperti itu kepada seorang perempuan, Steven!" teriak Mark dengan nada emosi tingkat tinggi kepada Steven, putranya.


Steven tampak menundukkan kepalanya dia tidak berani menatap wajah ayahnya yang saat ini sedang marah karena mengetahui semua perbuatannya terhadap Sulis.


"Sudahlah ya? Kita istirahat saja. Kasihan juga Steven pasti tubuhnya lelah dan capek setelah dihajar habis-habisan oleh ayahnya Sulis!" ucap Elena mengakhiri ketegangan pada hari itu.


Tetapi Mark tampaknya masih belum puas melepaskan amarah yang ada di hatinya ketika dia mengetahui bahwa putranya telah memperkosa seorang gadis.


"Apakah papamu mendidik untukku menjadi seorang b******* Steven?" tanya Mark sambil menatap putranya yang masih menundukkan kepalanya.


"Tidak pah itu hanya Steven saja yang memang sedang khilaf!" ucap Steven dengan suara gemetar Dia paling tahu tabiat ayahnya kalau sudah marah seperti apa.


"Sudahlah yang penting kan sekarang Steven juga sudah menikahi Sulis. Besok kita akan datang ke rumah Bayu dan meminta maaf atas sikap Steven selama ini terhadap Sulis!" ucap Elena mengakhiri semua ketegangan yang terjadi antara suami dan putranya.


"Setelah apa yang dilakukan anak berandalan itu, apakah Mama pikir Papa masih punya muka untuk berhadapan dengan besan kita? Sudah syukur anakmu itu tidak dibunuh sampai mati kemarin!" ucap Mark sambil menatap tajam kepada Steven.


"Sudahlah! Ayo istirahat! Kasihan Sulis dia pasti kelelahan dari tadi mendengarkan pertengkaran kalian semua!" Elena kemudian membawa Sulis keluar dari ruangan perawatan Steven.


"Sulis kau harus bisa bicara dengan papamu. Mintakan maaf dari kami berdua kepadanya. Kau lihat sendirikan? Papa mertuamu tidak berani untuk bertemu dengan ayahmu karena terlalu malu dengan kelakuan Steven terhadapmu. Apakah kau bisa sayang?" tanya Elena kepada menantunya.


"Iya Mah besok Sulis akan temui papa dan meminta maaf atas semua perlakuan Steven selama ini. Sehingga Papa tidak usah marah-marah lagi!" ucap Sulis dengan pelan.


"Steven beruntung punya istri seperti kamu, berhati lembut dan juga baik. Semoga dengan pernikahan kalian akan bisa merubah perangai Steven yang selalu berbuat sesuka hatinya. Yah maklumlah dia kan anak laki-laki satu-satunya di keluarga kami. Jadi sudah biasa dimanja. Jadi kayak gitu deh kelakuannya, suka bikin pusing!" ucap Elena.


"Iya Mah Sulis bisa ngerti kok. Yang penting kan Steven ada keinginan untuk berubah dan dia juga sudah mengatakan akan menjaga Sulis dan juga anak kami!" ucap Sulis dengan tertunduk.


"Katakan sama mama. Jauh di lubuk hatimu. Apakah kamu sudah memaafkan Steven?" tanya Elena dengan serius.

__ADS_1


"Setiap manusia itu tidak akan lepas dari kesalahan. Selama Steven mau berubah, Sulis pasti akan selalu membuka pintu maaf untuknya. Apalagi Sulis tidak bisa membiarkan anak yang ada di dalam kandungan Sulis tidak mempunyai seorang ayah!" ucap Sulis pelan sambil menatap kepada Elena.


Sementara itu di mansion milik Bayu Iswara


Tampak Bayu, Cakra, dan juga Andika sedang bercakap-cakap.


"Bagaimana Apakah kau masih menginginkan untuk Sulis membatalkan pernikahannya dengan Steven?" tanya Andika kepada Bayu.


"Tampaknya Mark bukanlah orang yang terlalu jahat. Seperti yang selama ini kita pikirkan. Terlihat dari sorot matanya ketika dia menatap Sulis!" ucap Bayu kepada mereka.


"Jadi, sekarang apa yang akan menjadi keputusanmu?" tanya Andika menatap tajam kepada Bayu.


"Kita akan lihat saja nanti apa keputusan Sulis untuk pernikahannya. Bagaimanapun Sulis yang akan menanggung dan menjalaninya. Saya hanya mengikuti saja!" ucap Bayu sambil menatap kepada Andika yang saat ini sedang menatap dia dengan tajam.


"Bagaimana denganmu Cakra? Kalau seandainya Sulis ternyata ingin melanjutkan pernikahan ini. Apa pendapatmu?" tanya Andika kepada putranya yang sejak tadi terus diam tak bicara.


"Apakah kau sudah tidak mencintai Sulis? Sudah tidak ingin memperjuangkan dia?" tanya Andika ingin menyelami perasaan putranya saat ini.


"Cakra memang mencintai Sulis. Hanya saja sekarang Sulis sudah mempunyai seorang suami dan calon anak. Kalau memang Sulis hidup bahagia dan suaminya bisa berubah menjadi lebih baik dan memperlakukan Sulis layaknya seorang suami yang bertanggung jawab, Cakra harus siap untuk melepaskan Sulis, Pah!" ucap Cakra dengan wajah tertunduk.


Bagaimanapun saat ini perasanya benar-benar kalang kabut. Cakra tidak tahu harus berbuat apa. Fakta tentang Sulis yang diperkosa dan mempunyai anak dari peristiwa perkosaan itu benar-benar tidak bisa diterima olehnya dengan akal sehatnya.


”Bagaimanapun jodoh memang hanya ada di tangan Tuhan!" ucap Andika.


"Cakra! Om berharap kalau misalkan Sulis memutuskan untuk melanjutkan pernikahannya bersama Steven. Om berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada Sulis dan Kau bisa menemukan kebahagiaanmu!" doa tulus diberikan oleh Bayu untuk Cakra.


"Kita memang tidak bisa memaksakan yang namanya jodoh. Karena itu semua di tangan Tuhan!" ucap Andika dengan wajah seriusnya.

__ADS_1


Saat mereka sedang asyik berdiskusi, tiba-tiba saja pembantu yang bekerja di Mansion datang menghampiri mereka.


"Maafkan Tuan Non Sulis datang bersama dengan sopir dari keluarga Clarkson!" ucap pembantu tersebut menginformasikan tentang kedatangan Sulis kepada mereka yang ada di dalam ruangan itu.


Tampak Andika memandang kepada Cakra yang saat ini masih menundukkan kepalanya. Andika bisa merasakan kesedihan putranya yang harus merelakan wanita yang dia cintai selama bertahun-tahun.


"Sabarlah! Papa percaya bahwa ada wanita solehah yang lain yang sudah menunggumu untuk kau pinang menjadi istrimu!" ucap Andika sambil mengelus telapak tangan Cakra menepuknya berkali-kali berusaha memberikan kekuatan kepada putranya yang saat ini sedang lemah karena patah hati.


"Iya Pah! Cakra percaya bahwa Allah pasti akan menyediakan jodoh untuk Cakra yang lebih baik daripada Sulis!" ucap Cakra dengan suara gemetar. Andika tahu bahwa putranya sedang bersedih. Dia hanya bisa tersenyum berusaha menguatkan hati putranya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ucap Sulis ketika dia pertama kali masuk ke dalam ruang tamu sang ayah. Sambil menyelami semua orang yang ada di dalamnya. Termasuk Cakra yang sampai saat ini masih belum mau untuk melihat Sulis secara langsung.


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" jawab mereka semua serentak dan membuat sulit memberikan senyum manisnya kepada sang ayah yang tampak masih kalut pikirannya.


"Apa yang sedang kalian diskusikan? Kenapa kalian berhenti begitu aku datang?" tanya Sulis sambil melirik sekilas kepada Cakra yang masih belum mampu untuk menatapnya secara langsung.


"Bagaimana dengan keputusanmu? Apakah kau akan melanjutkan pernikahanmu dengan Steven? Ataukah akan membatalkannya?" tanya Bayu sambil menatap kepada putrinya.


"Pah mereka meminta maaf kepada papa untuk semua yang sudah dilakukan oleh Steven terhadap Sulis. Tadi sebetulnya Mama Elena sudah menyarankan untuk papa Mark datang ke sini untuk meminta maaf secara langsung. Hanya saja, dia terlalu malu untuk bertemu dengan papa. Karena dia sudah tahu tentang semua yang dilakukan oleh Steven terhadap Sulis. Dia sangat marah, bahkan sampai memukul Steven hingga hampir pingsan!" ucap Sulis memintakan Maaf mewakili kedua mertuanya dan juga suaminya yang saat ini tidak berani untuk bertemu dengan ayahnya secara langsung.


"Berarti Mark dan Elena memperlakukanmu dengan baik?" tanya Bayu mencoba untuk mengkonfirmasi tentang apa yang dikatakan oleh putrinya.


"Awalnya Mama Elena memang marah. Dan hampir saja memukul Sulis untuk membalaskan dendam karena Steven telah dipukuli oleh papa. Hanya saja, setelah dijelaskan semuanya oleh Papa Mark. Mama Elena kemudian meminta maaf dan dia berjanji akan berbicara dengan Steven agar Steven bisa berubah sifat dan kelakuannya!" ucap Sulis menjawab pertanyaan ayahnya.


"Syukurlah kalau kedua mertuamu baik padamu. Setidaknya Papa bisa bernafas dengan lega. Bahwa masih akan ada yang melindungimu di keluarga itu. Apabila suamimu berbuat macam-macam terhadapmu maupun anakmu!" ucap Bayu dengan lega.


"Aku berdoa semoga pernikahanmu dengan Steven akan selalu bahagia. Percayalah! Aku akan selalu berdoa untuk kalian! Pah, ayo kita kembali! Karena masalah di sini sudah selesai. Tidak ada gunanya lagi untuk kita berlama-lama di sini. Di Indonesia Cakra juga dibutuhkan!" Cakra kemudian langsung meninggalkan Sulis dan Bayu dengan diikuti oleh Andika yang menepuk bahu Bayu sebagai tanda perpisahan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2